
Jordan baru saja selesai mandi. Namun, ia sudah disambut dengan situasi yang kacau. Ia juga melihat bahwa kafe tiba-tiba sepi, setidaknya masih tersisa beberapa pelanggan.
Kuriositasnya menciptakan banyak pertanyaan dalam kepala akan peristiwa yang terjadi selama ia mandi. Persetan dengan itu semua. Tangan Jordan langsung terkesiap menangkap tubuh mungil Sarah yang hampir pingsan. Beruntung dia kembali sadar, sementara Joseph menyuruh pemuda itu membawa Sarah keluar, guna mencari udara segar dan menjernihkan pikiran.
Matthew termenung. Ia memijit pelipis seraya mengacak rambutnya frustasi. Cayla tak bisa tinggal diam. Dia berusaha memberi penjelasan kepada pelanggan yang tersisa untuk mengubah suasana lebih kondusif. Ini juga dibantu oleh Joseph, agar memperbaiki pandangan buruk orang terhadap Matthew dan Sarah, apalagi kafe baru saja buka di hari pertama.
_________________________________________
Salah satu taman terdapat bangku kosong di sana. Yang menjadi tempat mereka bersinggah sejenak.
Tidak ada sepatah kata pun terlontar dari kedua pihak. Malah terdengar alunan suara dari ponsel Jordan. Ya, baru saja ia menyetel sebuah lagu yang mendukung suasana sedu Sarah hari ini. Mungkin niat murni Jordan sekadar menghibur.
Lagu yang diputar pun bukan yang populer. Ia memutar lagu-lagu lama, sekitar tahun 90-an. Mungkin saja Jordan memiliki selera kuno, tetapi tidak diragukan lagi, lagu zaman dulu lebih enak dibanding sekarang.
Bisa dibilang, usaha Jordan berhasil menghibur gadis itu. Lihat saja, sekarang Sarah menikmati alunan musik, bahkan sesekali bergumam mengikuti nada.
Ah, sepertinya Jordan juga memiliki selera lagu yang bagus, selain menggunakan ponsel untuk mengambil gambar dan mencari informasi di internet, ia juga bisa menaikan mood euforia orang lain dengan menyetel lagu.
Jujur saja, melihat kondisi Sarah, menimbulkan rasa simpati sekaligus sesal dalam benak Jordan. Tentu ia menyesal, karena malah meninggalkan gadis itu sekadar untuk mandi. Padahal kalau dipikir-pikir, mandi cukup dua kali dalam sehari, tetapi ia sendiri tak bisa meninggalkan slogan ‘rajin mandi’. Bukannya kecanduan air, hanya saja ia tidak kuat bersahabat dengan keringat.
Setelah dirasa cukup gadis itu merasa tenang, Jordan mulai memberanikan diri bertanya perihal apa yang terjadi.
"Apa gadis itu mengganggu kamu lagi?" Ia sangat to the point dan langsung tepat pada sasaran.
"Selama kamu mandi, dia datang mengunjungi kafe," ucapnya menggantungkan kalimat, "sedikit masalah. Tapi aku baik-baik saja."
"Hatimu begitu baik, Sarah. Bahkan terlalu baik untuk situasi dunia sekarang."
"Jika aku berubah maka tidak ada lagi kata tulus." Sarah mendongak untuk melihat wajah Jordan dan setia tersenyum. "Kamu tahu? Ketika seseorang memiliki pemikiran yang sama seperti itu, dia akan mencoba untuk terus berhati-hati dan bagaimana jika setiap orang berpikir seperti itu?"
Dia terdiam sejenak. "Hanya akan ada rasa curiga dalam hidup ini."
Pemuda itu tersenyum simpul mendengar jawaban Sarah. Antara benar-benar rendah hati atau naif. Namun sontak senyuman itu berubah ke ekspresi datar.
__ADS_1
"K-kenapa? Kau membuatku takut tiba-tiba mengubah ekspresi wajah begitu drastis," ucap Sarah menuntut penjelasan. Keningnya mengerut bahkan matanya ikut terbuka lebar.
"Aku hanya melaksanakan larangan Sarah agar tidak tersenyum," jawabnya dengan ekspresi datar andalan.
Sarah mengerjap pelan. Dia menggelengkan kepala, lalu mendengus kasar. Sebelum akhirnya mengembang senyum dan salah satu tangan Sarah mengusak rambut pemuda yang tengah duduk di sebelahnya.
Dasar ga peka! Aku tidak melarangmu tersenyum. Aku hanya menyuruhmu agar tidak tersenyum pada orang lain, batin Sarah.
"Sarah cemburu ya?"
Entah datang badai dari mana Jordan bisa berspekulasi demikian. Sedangkan mata Sarah sukses membulat sempurna dan kedua pipinya ikut memerah, bak kepiting rebus.
Berbeda dari biasanya, untuk pertama kali Sarah tidak menganggap bahwa ini adalah pertanyaan bodoh sekaligus konyol khas Jordan. Namun ini adalah pernyataan bukan pertanyaan.
"Ba ... bagaimana kamu bisa memberi pernyataan seperti itu?"
"Jadi, Sarah menganggap ini pernyataan?"
Kali ini dia mendesah malas. Perasaannya menjamah tanpa bisa diterjemahkan. Sarah sendiri bahkan bingung, atau mungkin lebih tepatnya tidak mau mengaku perihal apa yang dirasakannya sekarang bersama Jordan.
_________________________________________
Sesekali Chris melirik ke arah Haeya. Gadis itu masih menutup kelopak mata seolah dikuasai rasa kantuk.
"Honey, barusan kamu keren sekali!" puji Chris sambil menunjukan senyum smirk.
Meski yang dimaksud perbuatan jahat, tampaknya mereka menganggap ini sebuah kemenangan. Tanpa mereka tahu, di posisi Sarah dan Matthew saat ini begitu malu hingga kecewa. Bagaimana tidak? Gadis yang dari awal memiliki relasi cukup baik, akrab sampai menjalin hubungan serius pun, bisa tanpa segan memutuskan dengan cara keterlaluan.
Gadis berstatus kekasihnya tersebut hanya bergeming. "Kamu kenapa? Kamu kurang puas, ya?" tanya Chris memasang raut wajah risau.
Beberapa kali kalimat terlontarkan, sang gadis yang sebenarnya tidak terlelap, akhirnya membuka mata seraya melihat pemandangan dari jendela, menghela napas, lalu berkata, "Aku terlalu puas, sampai merasa lelah."
Pemuda itu melebarkan senyum. Sesekali terkekeh, seakan terselip rencana untuk onar selanjutnya.
__ADS_1
"Makan siang kita terganggu, mau mencari restoran yang lain?"
Sedari tadi Haeya memangku tas kecilnya yang terkesan mahal. Dia membuka barang itu sambil merogoh isi dalam untuk menemukan ponselnya. Dilihat deretan notifikasi muncul saat layar ponsel menyala. Tampak dia hanya acuh tak acuh, walaupun pesan tersebut dikirim oleh sahabatnya sendiri.
Lagi-lagi Haeya mendengus pelan, "Aku mau pulang," jawabnya malas.
"Chris ...." Haeya mengalihkan pandangan pada pemuda di sampingnya. Sontak sang pemilik nama bertatapan dengan gadis yang memanggilnya barusan.
"Yes?"
"Bisakah kamu tidak menceritakan masalah tadi ke orang lain?" tanya Haeya penuh harap akan jawaban dan kesanggupan Chris.
"Kamu takut sama Appa?" Rupanya Chris sudah bisa menebak pikiran Haeya dan pertanyaannya dijawab anggukan kecil.
Chris tersenyum simpul. "Tenang saja."
Raut wajah Haeya yang mulanya khawatir, mulai merekahkan senyum sembari mengumandangkan kata terima kasih kepada sang kekasih. Sampai kontak mata mereka teralihkan ketika rungunya mendapati sebuah pesan masuk dari grup chat dalam ponsel Haeya.
Senyum pada bibir Haeya masih bertengger setia, bahkan semakin lebar saat jari-jemarinya menari di keyword ponsel, guna membalas pesan isi chat tersebut.
"Ada kabar gembira apa?" tanya Chris di sela waktu mengemudi.
"Chagiya, minggu depan aku mau jalan sama temen-temen aku. Boleh, ya?" Haeya memasang wajah melas terbaiknya. Mana mungkin Chris tidak luluh hingga bersedia memberi izin.
"Thank you, Chris!"
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
*Chagiya: sayang dalam bahasa Korea.
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡