NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[0.2 : Adaptasi karena Asing]


__ADS_3

Cekrek-cekrek-cekrek!


Jepretan kamera menjadi satu-satunya suara yang terdengar dari dalam studio. Seorang pria berkumis tengah memotret seorang gadis cantik yang merupakan model. Pria itu merubah posisinya secara intens, guna menemukan angle yang tepat.


Sedangkan gadis itu terus-menerus mencoba berbagai pose. Beberapa menit kemudian, kameramen itu berseru, "Oke! Pemotretan sudah selesai."


Para staff lainnya, segera mengemas barang-barangnya juga membersihkan studio.


Gadis berambut panjang yang diyakini seorang model itu membungkuk karena niatnya menghormati para staff, tetapi sang ibu yang sejak awal menunggu, segera memanggilnya, "Cayla!"


Ya, nama gadis itu Cayla. Bekerja di studio milik ayahnya sendiri sebagai model yang mencapai popularitas tinggi.


Menjelang ulang tahunnya yang jatuh pada 1 Agustus, gadis itu diminta sang ibu untuk melakukan pemotretan. Katanya, untuk foto di kartu undangan dan poster penyambutan tamu.


"Cepat ganti gaunmu dengan pakaian ini!" suruh sang ibu sambil menyodorkan setelan pakaian terlipat.


Cayla memanggut-manggut dan segera melaksanakan perintah ibunya. Lalu, saat berada di mobil mahalnya yang hendak menuju kediamannya, Cayla mencuri tanya, "Ma, ingat Joseph ga?"


Seketika wanita yang duduk di sampingnya dengan beberapa benda berkilauan di telinga, leher juga lengan, mengalihkan pandangannya dari ponsel.


"Ingat. Anak panti asuhan itu, 'kan?"


"Iya! Boleh ga, aku ajak dia ke pesta ulang tahunku?" tanyanya dengan senyum sumringah.


Wanita di hadapannya mendengus kasar. "Dia ga selevel sama kamu, La."


Dengan cepat, Cayla mengubah posisi duduknya jadi serong untuk lebih nyaman berbicara dengan sang ibu. "Ayolah mam! Ini, kan, spesial ulang tahun aku, please?" bujuk Cayla.


Melihat putri kesayangannya memelas, membuat sang ibu tak tega hati untuk menolak. "Baiklah. Tapi dia harus pakai pakaian yang layak!" tegas ibunya, lalu kembali terpaku pada layar ponsel.


Tentu saja rasa senang membumbung tinggi dalam benak Cayla. "Thank you, mom! I love you so much!"


_________________________________________


Setelah sampai di kediamannya yang seperti istana, Cayla segera masuk ke kamar lalu membanting tubuhnya di ranjang yang empuk. Dia menelepon seseorang dengan posisi rebahan.


"Halo, Jo?"


Tentu saja yang ditelepon gadis itu adalah Joseph. Lelaki yang akan ia undang ke pesta ulang tahunnya.


"Oh Cayla? Ada apa? Tumben banget telepon? Biasanya juga kalau aku telepon, kamu ga angkat," ungkap Joseph tanpa memberikan jeda waktu.


"Heh! Aku jadi kayak penjahat rasanya," bantah gadis itu.


Joseph terkekeh geli. "Oke, oke. Kali ini serius. Kenapa kamu telepon?"


Cayla mengangkat tubuhnya lalu duduk di sisi ranjang. "Aku ingin mengajakmu jalan-jalan."


Sejenak Joseph diam. "Buat?"


"Ya temenin aku aja." Cayla berbohong, niat sebenarnya adalah membelikan Joseph baju bagus untuk pergi ke pesta ulang tahunnya.


"Tapi, aku harus bekerja."


"Memang selesainya jam berapa, sih?"


"Jam 3 sore."


"Baiklah. Kebetulan besok aku libur, jadi aku akan ke tempat kerjamu jam 10 dengan temanku. Lalu setelah jam 3, kita akan ke mall. Oke?" ujar Cayla sambil menunjukkan deretan gigi putihnya yang terawat, meski tidak dilihat Joseph.


"Oke!"


_________________________________________


Keesokkan harinya...


Kafe bernuansa cokelat dihiasi tanaman bunga Mandevilla yang merambat pada salah satu sisi tembok. Perpaduan warna merah muda ini membuat interior kafe tidak monoton juga beberapa lampu hias yang mempercantik langit-langit kafe.


Itulah kafe milik Matthew. Ia mengajak Jordan ke sana. Mereka duduk berhadapan dengan meja bulat kecil yang jadi pemisah.


Sesekali Matthew melirik ke arah si pemuda keren yang menggunakan kemeja miliknya. Lalu pandangannya beralih ke para pelanggan wanita yang terus berdesas-desus tentang Jordan yang juga tengah mengamati es amerikano di atas meja.


Jordan tidak meminum hanya menatap lekat-lekat es amerikano yang dibuat sendiri oleh Matthew untuknya, sekaligus bertanya-tanya alasan gelas itu bisa berembun dan berubah menjadi genangan air di atas meja.

__ADS_1


Sebenarnya, hampir seisi wanita di kafe menjadikan Jordan sebagai sorotan. Karena wajahnya begitu tampan juga fisiknya yang indah.


"Ayo bertaruh, orang sepertinya tidak akan memberi nomor telepon," seru salah satu pelanggan perempuan.


"Mustahil ia menolak wanita secantik aku!" bantah temannya.


"Kalau begitu, cobalah!"


Salah satu wanita berambut pirang dengan sebuah dress selutut, beranjak dari kursi kemudian menghampiri Jordan yang tanpa jengah memperhatikan es amerikano-nya.


"Hai!" sapa wanita itu seraya menyelipkan rambut ke belakang daun telinganya.


Sekilas Jordan menengadah untuk melihat wanita yang berdiri di sampingnya, tetapi ia kembali berpaling.


Tentu saja, wanita itu merasa harga dirinya jatuh, karena biasanya tak ada satu pun pria yang bisa mengacuhkannya. Dilihat temannya dari kejauhan yang sedang menertawainya bersamaan dengan wanita lain yang diam-diam mengaggumi Jordan.


Wanita itu segera kembali ke mejanya guna mengambil tas selempang miliknya dan segera keluar, diekori temannya dari belakang.


Matthew yang juga menyaksikan kejadian itu, bisa menebak bahwa Jordan memang tidak tertarik dengan wanita, bahkan cantik sekalipun.


Namun mau bagaimana lagi, jika wajahnya yang tampan bisa menarik banyak perhatian wanita. Ia merenung dan berpikir kalau hal ini harus dimanfaatkan menjadi uang.


"Jordan!" Pandangannya teralih dari es amerikano yang tidak lagi dingin.


"Bekerjalah di kafeku," pinta pria berkulit agak gelap.


"Bekerja?" tanya Jordan dengan wajah polos.


"Kau tidak tahu bekerja?" balas Matthew beraut kaget.


"Pekerjaanku mengitari Bumi."


Matthew berdecak kesal lalu memijat pelipisnya yang dirasa penat.


"Orang-orang itu bekerja untuk diupah. Nah, dari hasil upah itu, orang bisa memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari. Seperti membeli makanan, minuman, rumah, mobil dan lainnya. Upah yang dimaksud itu uang," jelasnya sedikit emosi.


"Tapi benda langit tidak melakukan hal itu. Dewa dan para De—" Belum selesai berbicara, Matthew segera menimpa.


"Tapi kau harus melakukan itu saat berada di Bumi!" Teriakkan Matthew sukses menjadi pusat perhatian seisi kafe.


Pria ikal dengan pakaian kaos putih, mulai beranjak dari kursinya menuju meja bar kafe. "Ayo! Ikuti aku!"


Jordan terdiam sejenak. Menit selanjutnya, ia mengikuti ajakkan Matthew. Di meja bar kafe, terdapat dua laki-laki barista mengenakan celemek berbahan kulit warna cokelat.


Di samping kesibukkan para barista melayani beberapa pelanggan, Matthew mencuri waktu untuk mengajarkan hal-hal dasar jadi barista kepada Jordan.


Dari mulai memperkenalkan kopi. Ia menjelaskan secara detail pengertian kopi, sejarah kopi, proses panen, proses setelah panen serta menunjukkan bentuk kopi biji dan bubuk.


Tenang saja, ternyata pria bulan itu tidak mengeluh bosan, ia hanya mengangguk-angguk paham.


Semua yang diajarkan Matthew hari ini belum selesai sampai di sini. Karena itu hanya materi dasar dan besok ia akan melanjutkan profesi sampingannya menjadi guru.


_________________________________________


Tepat jam sepuluh pagi, Cayla datang ke sebuah kedai roti yang bernuansa pancarona. Ia mengajak seorang teman perempuan. Kelihatannya mereka sangat akrab.


Dalam kedai roti, terdapat jejeran roti serta cake yang dipamerkan dalam lemari kaca.


"Selamat dat—" Joseph sedikit tercengang ketika melihat seorang gadis cantik yang baru saja datang ke tempat kerjanya.


"Eh? Kamu beneran ke sini?"


Cayla juga temannya menghampiri Joseph yang menggunakan Toque atau topi koki ke meja kasir.


"Heh! Setidaknya kamu menyambutku 'Silahkan kak, mau pesan apa?'" gurau Cayla berhasil kedua temannya tertawa.


"Dia siapa?" tanya Joseph sambil mengangkat dagu.


"Ini temanku, kenalin namanya Haeya. Dan Haeya, pria ini Joseph," jelasnya.


Haeya memberi senyum pada Joseph yang segera dibalas hangat. "Baiklah, kau mau pesan apa?" tanya Joseph.


Cayla mendongak tepat pada papan yang tertulis berbagai macam menu. Sangat beragam hingga dia sulit menentukan pilihannya.

__ADS_1


"Aku pesan Croissants, Cream pies, Bierocks dan Coffee cakes," jawabnya lalu mengangkat satu alis ke hadapan temannya.


"Ah, aku mau Matcha Macaroons yang regular sama Sandwich Reuben."


"Itu aja?" timpa Cayla.


"Kau, kan, tahu aku sedang diet."


Cayla mengangguk paham. "Ada minuman juga, 'kan?"


"Tidak. Namanya juga kedai roti, kamu harus menyiapkan minum sendiri," sahut Joseph.


"Oh gitu," pungkas Cayla seraya memberi kartu kreditnya untuk bayar pesanan mereka. Kemudian, mereka duduk di tempat kosong.


"Haeya!"


"Hm?"


"Gimana hubungan kamu sama Matthew?" tanya Cayla yang sebenarnya tidak terlalu kepo. Hanya saja, dia suka sekali membicarakan orang lain alias gosip.


"Astaga! Itu, kan, udah lama banget. Bahkan, aku hampir melupakannya," sahut gadis berponi itu agak kencang.


Cayla mengernyit. "Loh? Memangnya kamu ga suka lagi sama dia?"


"Dulu. Sekarang sih, enggak. Lagi pula, untuk apa cinta bertepuk sebelah tangan diperjuangkan?" ungkap Haeya memasang ekspresi datar.


Pesanan datang. Membuat pembicaraan mereka terhenti sebentar karena sibuk menyantap makanannya, sebelum kemudian Cayla mencuri tanya lagi.


"Aku masih simpan nomornya. Kamu mau?"


Sebenarnya, Haeya adalah gadis asal Korea Selatan yang besar di Amerika. Dia menyukai Matthew saat masa SMA. Namun, mungkin pria yang dia idamkan tidak mengenal dirinya, karena Haeya tidak cukup berani untuk mengungkapkannya bahkan hanya sekedar mendekatinya. Cayla sendiri juga berteman dengan Matthew.


"Heh!" Cayla membuyarkan lamunannya.


"Entahlah," ucap Haeya sekedarnya.


"Si Matthew diundang sama mamaku ke pesta ulang tahun."


Haeya mengangguk sambil ber-oh ria. "Berarti aku harus dandan cantik, dong?"


Mereka sontak terkekeh. "Tuh, 'kan! Kamu belum move-on!" tuduh Cayla.


_________________________________________


Akhirnya, waktu menunjukkan pukul tiga sore. Jam kerja Joseph telah usai dan diganti oleh temannya, Mark yang juga bekerja di sana.


Haeya? Gadis itu ada jadwal syuting iklan sebagai ambassador. Kebetulan, Haeya bekerja menjadi model di perusahaan yang sama dengan Cayla. Hanya saja, dia belum sepopuler sahabatnya.


Sesuai janji, Cayla mengajak Joseph ke mall untuk membeli setelan jas. Namun sebelum itu, Cayla memberitahukan perihal undangannya.


"Nih." Dia memberi secarik undangan yang setelah dibuka terdapat foto Cayla di dalamnya.


"Kartu undangan ulang tahun? Tiba-tiba banget. Biasanya kamu ga pernah undang aku."


Joseph tidak berniat menyinggung, tetapi mendengar itu Cayla sedikit tertohok. Karena memang benar, selama ini dia tak pernah mengundang Joseph ke pesta ulang tahunnya. Bukan karena dia tidak mau, orangtuanya lah yang melarang.


Cayla menelan saliva dan segera menarik pergelangan tangan Joseph ke sebuah toko pakaian. "Sebenarnya aku sekalian mau beliin kamu jas buat dipakai saat pesta."


Joseph hanya terdiam. Ia memperhatikan dengan serius gadis itu yang setiap bergerak membuat geraian rambutnya mengudara.


"Ayo, kita pulang. Aku sudah membeli setelan jas yang cocok untukmu," seru Cayla meruntuhkan lamunannya.


"Cay, orangtua kamu masih ga suka sama aku, ya?" Terlontar pertanyaan dari benak Joseph selama ini.


"Ya, begitulah. Aku juga tidak mengerti pikiran dangkal mereka. Tapi, kamu tenang aja. Meski begitu, aku tetap memihakmu, kok."


Sebetulnya, pria yang kini menatap dingin itu masih ingin menyahut, tetapi ia memilih mengalah agar tidak berakhir jadi prahara.


.


.


.

__ADS_1


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2