
"Eh? Kau kenapa mengajakku ke tempat makan?" Napasku tersengal. Jordan dari tadi mengajakku jalan jauh-jauh ke sebuah restoran cukup tersohor hanya untuk makan makanan cepat saji Amerika. Padahal, ia tidak bisa makan, lantas aku bingung atas perbuatannya. Kuyakini ia memiliki niat terselubung.
Kami tidak langsung masuk ke dalam restoran. Sebab, Jordan masih sibuk bergeming di tempat, seolah menimbang-nimbang keputusan selanjutnya. "Benar, kan, ini tempatnya?" gumam Jordan memastikan. Lalu ia mengedarkan matanya pada bangunan restoran, sembari mengecek gambar pada ponselnya.
"Jordan! Jawab dulu pertanyaanku!" seruku sambil tak segan memukulnya.
Mata pria itu beralih dari layar ponsel ke netraku. Ia memasang wajah polos dan berujar, "Aku lihat di internet kalau ini tempat makan yang digemari banyak orang. Jadi, kupikir akan bagus kalau mengajak Sarah ke tempat ini."
Aku mengerjap pelan, merasa terkejut dengan ucapannya barusan. Tanpa banyak bicara, lagi-lagi ia menarik tanganku untuk masuk ke dalam. Kami mengambil langkah menuju kasir, sebelum kemudian ia menyebut beberapa menu yang terdiri sejenis burger dan teh lemon.
Sejujurnya aku ingin bertanya latar belakang dari Jordan mengajakku ke sini. Namun ia tidak menatapku sedetik pun, ia bahkan tak lantas melonggarkan genggamannya dan sibuk mengedarkan mata untuk mencari kursi kosong. Meski restoran ini padat, beruntung kami bisa menemukannya lalu duduk berhadapan.
"Kau dapat uang dari mana memangnya?" tanyaku, memasang wajah sangat heran. Terlebih tatkala Jordan terus mengukir senyumnya sampai terbentuk lesung pipi yang meninggalkan kesan manis.
Ia menatapku. "Semenjak jadi barista, aku tidak pernah menggunakan gajiku. Jadi, aku ingin menghabiskannya untuk Sarah," lugasnya.
Pikiranku semakin melayang ke mana-mana, mencoba menerka alasan di balik perlakuan Jordan kepadaku hari ini, tetapi tampaknya otakku tersesat sehingga tidak bisa bermain tebakan.
Beberapa saat kemudian, seorang pramusaji datang dengan membawa beberapa menu yang Jordan pesan. Terlihat di atas nampan, sudah ada es krim cup cokelat, burger, es teh lemon, dan kentang goreng sekaligus saus dan mayonais.
Perutku berbunyi sekilas ketika melihat makanan itu terasa menggiurkan. Akan tetapi, niatku mengambil burger langsung ditepis oleh pria di hadapanku. Ia lebih dulu mengambil alih burgernya, bukan untuk ia makan, ternyata ia sengaja agar bisa menyuapiku.
Kedua tangannya memasukkan burger ke mulutku begitu ramah, tidak mendorong paksa bahkan sangat hati-hati. Aku masih tak berkutik, dan membiarkan mulutku mengunyah intens sembari otakku mencerna tingkah laku aneh Jordan yang bisa terbilang manis.
Tak sampai di burger, ia pun menyodorkan gelas plastik es teh lemon yang menyisakan embun-embun air. Target berikutnya adalah es krim. Ia masih saja bertengger senyum, tetapi segera kutolak suapan itu. "Ada apa denganmu hari ini?" tanyaku menuntut dijawab.
__ADS_1
Ia kembali meletakkan cup es krim di meja, dan tak luput dari kontak mata. "Aku memang tidak bisa makan, tapi aku ingin bisa menyuapi Sarah," ungkapnya. Sontak keningku menyerngit. Aku yakin bahwa ia tengah mengungkit pasal adeganku bersama Theo di piknik tadi.
"Aku merasa kesal melihat kalian terlalu dekat. Theo bisa melakukan semuanya, dan aku? Aku malah merepotkan Sarah saat menginap. Bahkan, aku tidak jujur kalau kipas waktu itu, aku yang rusakin," ungkap Jordan tanpa menatapku. Ia menunduk sambil melihat ubin dan mengerucutkan bibirnya.
Aku mengusak sebentar pucuk rambut Jordan bak anak kecil. "Bulan ... aku tidak pernah merasa direpotkan, kok. Tenang saja."
Deg!
Sekilas jantung Jordan berdetak lebih kencang. Ia memegang dadanya dengan ekspresi datar. "Apa ... rasa ini memiliki nama?"
"Rasa apa? Bukannya kamu sudah mengetahui semua rasa?" tanyaku balik karena tak paham. Sepertinya yang ia pertanyakan bukan perihal rasa lidah, melainkan perasaan.
"Rasa sakit, bahagia, sedih, marah, jenuh. Tapi yang ini berbeda. Semuanya seolah bercampur aduk. Aku sendiri pun sulit menjelaskannya. Rasa ini hanya terjadi bila bersama Sarah."
Entah mengapa, mendadak pipiku memanas. Mungkin sekarang semburat warna merah sudah membalut di kedua pipiku. Aku bahkan kehilangan kata untuk membalas kata-kata konyol Jordan. Sampai semenit berlalu, aku menatap pria itu menjadi serius. "Hah? Memangnya aku dukun? Yang bisa tahu semua isi hatimu?" kataku cepat guna menutupi rasa gugup.
"Lupakan saja! Aku malas meladenimu yang banyak bertanya," ketusku sembari melipat tangan di depan dada.
Tak lama Jordan terkekeh pelan. "Kenapa pipi Sarah jadi bersemu gitu? Aku, kan, hanya bercanda!" ujarnya yang mendadak membuatku ingin memukulnya kuat-kuat.
Apa maksudnya bercanda? Jadi, ucapannya barusan mengenai perasaan itu hanya dialog dusta? Sial! Aku tertipu!
Jordan menyukai macam-macam film dari berbagai belahan dunia teristimewa India. Dan rupanya ia memiliki kemampuan berakting seperti aktor hebat, Shahrukh Khan. Lantas aku menyindir halus, "Tapi Jordan ... kamu menyebalkan."
"Benarkah?" tanya Jordan.
__ADS_1
"Tapi aku menyukaimu."
Jordan melebarkan senyumannya. Bahkan matanya menyipit karena kalah dengan pipinya yang terangkat.
"Itu harus," pungkas Jordan merasa bangga.
.
.
.
Aku bersamamu.
Untuk hari ini, aku telah mempersiapkan banyak hal.
Ini tentang kamu, kita, dan Semesta.
Sekarang pergi bersamaku.
Pegang tanganku.
Aku akan menulis di halaman baru.
Sepenggal memori indah bersamamu.
__ADS_1
Sarah, 25 Agustus 2017
(Day6 — Time of Our Life♪)