NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[0.3 : Hanya Seorang Tamu]


__ADS_3

"Happy birthday to you~


Happy birthday to you~


Happy birthday happy birthday~


Happy birthday Cayla~"


Prok-prok-prok!


Semua tamu undangan pesta, dengan senang hati meyanyikan lagu Happy Birthday untuk Cayla. Dimeriahkan dengan tepuk tangan yang seiring.


Malam ini gadis cantik bak bidadari tampil sangat berbeda dari biasanya. Atensi semua orang berhasil terjebah pada dirinya termasuk Joseph yang berdiri di samping Haeya, tentu saja jaraknya agak jauh dari tempat Cayla berdiri sekarang.


Cayla berdiri di depan para hadirin yang kini sedang memotong kue bertingkat miliknya. Semua wajah kagum para tamu tak bisa dipungkiri, termasuk pria yang sejak awal menatap Cayla lekat-lekat.


Gadis itu memakai gaun merah hati, rambut yang biasa dia urai digulung, pergelangan tangan juga telinganya dilengkapi perhiasan serta wajahnya yang dipoles riasan wajah terlihat cocok dan natural.


Tanpa sadar, pria yang terus memperhatikannya, ternyata sedang dihampiri oleh Cayla dengan membawa potongan kue ulang tahun warna cokelat di atas piring.


"Ternyata potongan ketiga Cayla diberikan pada pemuda tampan itu! Wah! Siapakah ia?" seru seorang wanita yang menjadi pranatacara.


"Hai!" sapa Cayla hanya sekedar basa-basi membuat pria itu sadar dari lamunannya.


"Ah, selamat ulang tahun, ya!" ucap Joseph seraya menggaruk lehernya yang tak gatal.


"Makasih. Nih, potongan ketiga, spesial untuk kamu," kata Cayla lalu memberikan kue yang segera diraih Joseph.


Saling bertatapan, itulah yang mereka lakukan sekarang. Senyum Joseph terlihat tulus, membuat Cayla tertular senyum. Cayla bahkan tak segan-segan memuji Joseph. "Kenapa kamu selalu tampan, sih?"


Sontak para tamu terkejut mendengar hal itu, termasuk kedua orangtua Cayla. Sedangkan, Joseph tersipu malu dan merasa pipinya sudah semerah kepiting rebus.


"Kamu juga ca—"


Belum selesai melengkapi kalimatnya, ibu Cayla segera memanggil dan menghampiri gadis itu, "Cayla!"


Setelah lihat pemuda di depannya dari ujung kaki sampai ujung kepala, dia berbisik sesuatu pada Cayla dengan nada tegas, "Jangan buat papa sama mama malu!"


Entah bagaimana, tetapi Joseph tetap bisa mendengar kalimat itu. Tidak, lebih tepatnya sebuah penghinaan.


Lantas, raut wajah mereka berdua pun berubah drastis. Joseph merasa terhina dan Cayla merasa bersalah. Namun tetap saja, Cayla hanya bisa mengikuti perkataan sang ibu dan meninggalkan Joseph.


"Baiklah! Acara selanjutnya, para tamu bisa menikmati hidangan yang sudah tuan rumah sajikan," lanjut si pranatacara memecahkan suasana tegang.


Sesuai arahan, para tamu menyantap makanan yang disediakan. Semua lengkap, dari makanan berat, makanan ringan, pencuci mulut, bahkan ada beberapa jenis roti yang dibeli langsung dari tempat kerja Joseph sesuai permintaan putri kesayangan.


"Selamat makan, Jo," ujar Haeya yang tengah menikmati makanannya setelah antrean panjang.


Joseph memperhatikan piring gadis bergaun biru itu. "Hae, apakah porsi makanannya tidak terlalu sedikit?" tanyanya sedikit hati-hati.

__ADS_1


Haeya tidak langsung menjawab. Beberapa detik kemudian, "Sebenarnya aku masih kenyang," jawabnya.


Pria itu hanya mengangguk, padahal sesungguhnya ia tak percaya dengan jawaban Haeya. Melihatnya seperti sedang menyembunyikan sesuatu, Joseph merasa itu tidak penting.


"Kamu sendiri, kenapa ga makan?"


Namun Joseph tidak merespon. Haeya meneguk segelas air setelah usai makan. Lalu kembali bicara, "Soal tadi, ga usah terlalu dipikirin."


Tentu saja, yang dimaksud adalah perihal kelakuan mama Cayla.


Joseph menghela napas panjang. "Apa? Aku tidak memikirkan soal itu, tuh!" ketusnya.


Setelah berkata demikian, mereka berdua tak lagi berbincang, sampai pesta berakhir, Cayla juga tidak menghampiri Joseph. Cayla sibuk tertawa lepas dengan seorang pria berambut ikal yang terlihat lebih keren dan kaya darinya.


"Memang tidak pernah berjalan mulus," gerutunya dalam hati. Kemudian, ia pulang dengan jalan kaki, menjadikan kekesalannya sebuah sambutan dari orangtua Cayla.


Ia benar-benar putus asa. Tak habis pikir saja, masih ada orang yang sulit memanusiakan satu sama lainnya.


_________________________________________


"Halo Cayla! Udah lama ga ketemu!" seru pemuda ikal yang menghampiri Cayla.


"Kak Matthew?! Makasih banget udah dateng. Padahal dari Texas ke California jauh banget," balas Cayla.


"Hei! Mana mungkin perempuan bak bidadari ini aku lewatkan!" gurau pemuda itu.


"By the way, di Texas panas sekali ya?"


"Tidak papa. Kakak jadi tambah manis, kok," puji Cayla sambil terkekeh.


Tiba-tiba Haeya datang, dia sempat kaget akan kedatangan Matthew, tetapi dia berusaha acuh dan berbisik sesuatu tepat di rungu Cayla.


"Cay, si Joseph pulang, tuh."


Cayla mengernyitkan dahi, lalu mengedarkan pandangannya guna mencari Joseph. "Beneran?"


"Iya. Udah agak lama, sih. Pas liat kamu ngobrol sama kak Matthew," jelas Haeya.


Matthew berusaha tak menguping pembicaraan mereka yang rahasia. Meski, rasa penasaran melanda benaknya.


Kemudian, setelah kedua gadis itu menyelesaikan kegiatan berbisiknya, Matthew mulai mencuri topik.


"Hei! Kamu Haeya, 'kan?" tanya Matthew sambil menunjuk.


Haeya merasa jantungnya berdetak lebih kencang, ketika dia diajak bicara oleh pemuda yang pernah diam-diam dia dambakan. "Ah, iya," jawabnya singkat.


"Kamu masih ingat aku, 'kan?"


"Iyalah! Kak Matthew, 'kan?"

__ADS_1


"Hehe. Iya."


Cayla berdehem juga batuk berulang kali. Tentunya, itu dibuat-buat, sekadar menggoda Haeya dan Matthew.


"Emangnya kakak ga tau? Kalo Haeya pernah suka sama kakak?" celetuk Cayla.


Haeya membulatkan mata pada Cayla, seakan memberi ancaman lewat sorot matanya. Pipinya pun mulai merona karena malu, sehingga dia menundukkan kepala.


"Oh ya? Aku ga pernah tau, tuh?"


Respon Matthew hanya sekadarnya. Lantas, Haeya tak segan-segan mengakuinya. "Haha. Itu dulu doang! Sekarang mah udah expired!" selanya.


"Beneran? Bohong kali!" tuduh Cayla berniat menggoda.


Ketawa geli Cayla, membuat Haeya mendecak kesal. Dia takut Kak Matthew ilfeel dengannya. "Apaan sih?!"


"Tidak papa, kok. Santai aja sama aku," ucap Matthew.


"Kak, setahu aku, kakak punya kafe, ya?" tanya Cayla.


"Iya. Kamu tau dari mana?"


"Entahlah. Anak-anak alumni selalu membicarakannya," jawab Cayla.


"Kapan-kapan bisa mampir gratis, dong!" sambungnya lagi.


Sekilas pemuda dengan style rambut yang ikal itu melihat jam tangan mewahnya. Lalu berpamitan, "Guys, aku harus segera pulang!"


"Eh? Cepet banget, kak," timpa keduanya.


"Maaf ya. Soalnya ada sesuatu yang harus aku urus di apartemen."


Sesuatu yang dimaksud, tak lain adalah Jordan.


"Oh gitu."


"Hati-hati ya, kak," seru Haeya sambil melambai tangan kanannya pada Matthew yang sudah beranjak pergi.


"Shut. Masih ada rasa, 'kan?"


Mendengar temannya terus menggoda, Haeya tak segan-segan menyikut tangan Cayla hingga gadis itu meringis. Ya, hanya sekadar bercanda.


.


.


.


to be continued...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2