
Bulan kian berlalu. Tak terasa sudah menginjak bulan Maret. Begitu pun musim dingin berganti ke musim semi. Aspal jalan mulai terselimuti ribuan kelopak bunga. Sama seperti warnanya merah muda, aura para sepasang kekasih terlihat lebih merah muda dengan senyum yang merekah di bibir para remaja tengah mabuk cinta.
Sore ini sangat indah. Serasa Dewi Fortuna mendukung hariku lebih beruntung. Beberapa hari ini kafe sangatlah ramai, itu semua berkat ideku dan Felix. Ah, kalau Jordan sebenarnya tak benar-benar membantu. Ia hanya sibuk mengangguk-angguk setuju saat kubicara. Selain itu, ternyata aku dapat menemukan kelebihanku yang selama ini terselubung. Tidak terduga, aku andal dalam memasak, setidaknya sebagai balas budi untuk bantuan sang pria dermawan, Matthew.
Lalu posisiku sebagai pramusaji, telah diambil alih oleh Matthew sendiri. Katanya, ia memutuskan bekerja agar tidak larut dalam pikiran yang berujung depresi. Sempat kupikir hal tersebut akan membuat ia semakin tertekan, tetapi setelah melihatnya ceria saat berinteraksi dengan para pelanggan, aku jadi yakin bahwa ia akan baik-baik saja.
Waktu berdetak, sampai jam menunjukkan pukul delapan malam. Di saat bersamaan, kafe masih dibuka. Karena hari ini malam Minggu, pasangan remaja sampai orangtua tampak betah menghabiskan kencan mereka di kafe ini.
Masih seperti biasa, Jordan semakin banyak penggemar dadakan. Tidak hanya itu! Bahkan ada beberapa agensi menawarinya untuk menjadi aktor. Kalau saja aku berada di posisi pria itu, tanpa banyak berpikir aku akan menerima pekerjaan tersebut. Dengar-dengar sih, gajinya besar, lumayan untuk memenuhi kebutuhan hidup. Namun lagi-lagi itu khayalanku saja.
Cara Jordan menanggapi penggemar dadakannya juga masih sama. Masih acuh tak acuh, terlalu dingin, hingga terkadang menjatuhkan harga diri mereka dengan deretan kalimat sarkastis mematikan.
"Aku heran ada pria setampan itu."
"Hei! Memangnya aku tidak tampan?"
"Apa kabar? Udah lama ga ketemu!"
"Mau pesan apa? Biar aku yang traktir."
"Sayang, kafe ini bagus sekali."
Alunan musik juga suara percakapan pelanggan ikut meramaikan suasana.
Malam semakin larut, secara paksa Matthew harus menutup kafe karena tidak bisa melayani 24 jam.
Sementara di dalam kafe, masih ada Matthew, Jordan, Felix dan aku. Kami tengah membagi tugas untuk membersihkan kafe. Felix mencuci piring dan gelas kotor, Jordan mengepel lantai yang sebelumnya sudah disapu Matthew, sementara aku membersihkan meja kotor dengan waslap.
Kali ini Jordan sudah andal mengepel. Ia tampak cepat memahami ajaranku bulan lalu. Bahkan ia hampir selesai menyelesaikan tugasnya. Senang sekali melihat mereka kompak bekerja sama.
Usai membersihkan meja, aku hendak menuju toilet. Dengan percaya diri aku melangkah, hingga secara tidak terduga aku terpeleset disebabkan lantai yang terlalu basah. Tepat di depanku ada Jordan, kupikir ia akan menolong, tetapi harapanku sirna ketika ia malah menghindar.
Bruukk!
Seluruh tubuhku sempurna mencium lantai basah. Aku merasa sangat malu dan ingin menghilang sekarang juga. Aku mengerjap pelan, dalam hati bertanya-tanya mengapa pria itu tidak ada inisiatif menolongku? Apakah ia buta? Dengan sengaja aku menunjukkan tatapan sinis kepada Jordan di belakangku yang hanya berdiri menatapku tanpa rasa bersalah.
Kakiku sedikit sakit, tetapi tetap saja rasa malu lebih membumbung tinggi. Aku masih menatap sinis Jordan, sungguh, biar bagaimanapun ini kesalahannya.
"Hei! Kau baru saja membuatku terjatuh!"
Jordan mengedarkan pandangan ke Matthew dan Felix yang menatap tidak menyangka sekaligus menyudutkan Jordan telah bersalah. Sedangkan si pelaku hanya merasa heran, kemudian ia beralih lagi menatapku yang masih tersungkur di lantai. Beruntung Matthew segera membantuku berdiri. Aku pun melangkah menujunya pelan-pelan, karena tidak mungkin aku membiarkan tubuhku terhempas lagi.
"Hei! Kenapa kau menghindar?! Apa kau tidak memiliki hati?!" tanyaku dengan sedikit berteriak.
"Sarah terjatuh karena ulah Sarah sendiri," ucapnya tanpa nada juga ekspresi.
"Tapi, 'kan, kamu ada di depanku. Seharusnya kamu menangkapku, bukan menghindar! Apakah itu sulit?!"
"Tidak usah berteriak. Sarah jadi membuatku takut."
Memang benar adanya, ini pertama kali kuberteriak pada sang pria. Aku sadar ini tidaklah benar, emosi benar-benar menguasaiku sekarang. Lagi-lagi aku mendengus kasar dan memijat pelipisku. Kemudian meninggalkan mereka, menuju toilet.
Sementara aku di toilet, kedua sejoli itu kembali menyudutkan si pelaku.
"Jo, kau jahat sekali," tukas Felix.
"Padahal menangkap tubuh mungil Sarah, tidak sesulit itu, 'kan?" sergap Matthew.
Keduanya kompak menggelengkan kepala, tak luput memasang tatapan intimidasi untuk Jordan. Sementara yang ditatap, lebih memilih melanjutkan kegiatan mengepelnya.
o0o
Author POV
__ADS_1
Tidak ada tanda-tanda kabar Haeya di California. Rindu mengobrak-abrik hati Matthew, bahkan seringkali ia menangis jika terbesit ingatan mengenai prahara bulan lalu yang tak serta-merta hilang. Ia merasa itu kekeliruannya hingga menyebabkan kepergian gadis pujaannya.
Drrtt-drrtt-drrtt!
Dering ponsel terdengar. Lamunan berhasil diruntuhkan untuk mengangkat telepon yang masuk. Bisa terlihat dari layar ponsel, sang penelepon adalah Cayla.
"Halo?"
"Halo Matth? Gimana? Udah baikkan?"
"Ketemu aja belom," jawab Matthew santai.
"Akhir-akhir ini di studio, dia sering ga fokus. Tapi giliran ditanya, dia seolah hindarin aku dan bilang baik-baik aja," terang Cayla.
"Apa ga sebaiknya kamu ke California? Siapa tahu, Dewi Fortuna mendukungmu untuk baikkan di sana," sambungnya lagi.
Matthew mengangguk, meski tahu Cayla tidak melihatnya. "Semoga saja. Aku akan ke sana," jawabnya.
"Besok aja pagi aja, Matt. Kalo sekarang udah kemaleman."
Matthew menghela napas. Dari dalam kamar, ia mengalihkan pandangan ke luar pintu, tepat pada sosok pria bulan yang sedang duduk di sofa sembari menutup mata dengan melipat tangan. Ia hanya memastikan agar pria itu tak mendengar percakapannya, sebab seperti yang kita ketahui, Jordan tidak bisa tidur, sekadar istirahat saja.
"Baiklah. Makasih, ya."
Pip!
Telepon dimatikan. Pemuda Julian merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sebenarnya akhir-akhir ini, ia tak bisa tertidur pulas, secara seluruh kuriositasnya dijajah penuh oleh gadis yang ia cintai.
o0o
Kebetulan hari ini Minggu. Kafe tidak dibuka, dan Matthew sudah pergi dari matahari masih sembunyi. Mungkin sekitar jam setengah 6 pagi. Di saat itu juga, Matthew sudah siap menggunakan pakaian khusus cuaca panas. Karena di musim semi, matahari sudah mulai berani menampakkan dirinya.
Ting-tong-ting-tong!
Ting-tong-ting-tong!
Tok-tok-tok!
Tok-tok-tok!
Namun, sudah berulang kali menekan bel, sampai cara manual dengan mengetuk pintu, tetap saja pintu tidak dibukakan. Entah rasa geram, entah risau, Jordan mengetuknya lebih kencang sembari memanggil nama si pemilik flat.
Tok-tok-tok!
"Sarah! Sarah? Apa kau di dalam?"
Tampaknya Jordan tak juga jengah. Ia merogoh sesuatu di saku celana, setelah menemukan barang yang dicari, ia mengeluarkan barang pipih dan mengusap layar ponsel sebelum akhirnya menempel barang itu tepat di rungunya.
"Halo? Halo? Sarah tidak sedang berada di apartemen?"
"Masih tidur," jawab singkat Sarah dengan nada malas.
Jordan mengernyit, lalu kembali bertanya, "Kalau masih tidur, siapa yang angkat telepon ini?"
Beberapa menit kedua insan terdiam. Mungkin akan memakan satu jam, kalau saja Jordan tidak kembali bersuara.
"Halo? Apakah Sarah kelelahan? Kita tidak jadi jalan-jalan? Padahal Sarah bilang, kita akan melihat bunga di luar saat musim semi, 'kan? Sarah sudah janji, 'kan? Sarah mengapa terdiam?"
Sarah POV on.
Tepat di menit selanjutnya, pintu terbuka, menampakkan diriku yang sudah siap untuk mengajaknya jalan. Alasanku lama membuka pintu, karena aku masih menyimpan amarah atas kejadian semalam. Ya, saat aku terpeleset di kafe. Tetapi, biar bagaimanapun juga aku tidak bisa mengingkari janji untuk sekadar menunjukkan bunga kepada Jordan di musim semi.
Ckrek-Cekrek-Cekrek!
__ADS_1
Sepanjang perjalanan Jordan sibuk berkutat pada ponselnya, tentu saja ia memotret seluruh pemandangan musim semi di sekitar.
Suasana kami berdua saat di luar pun amat hening. Bukan karena canggung, tetapi aku masih memilih bungkam sebagai bentuk kekesalan kepada Jordan. Meskipun ia juga tidak peka dengan perasaanku.
Bahkan dia tidak meminta maaf dan sibuk memotret, batinku merasa geram.
Tatapan sinis selalu kutujukan kepada Jordan. Kedua mataku terus menyipit sempurna, sekaligus sinis setiap kali memandang pemuda di sampingku. Entah tidak paham, entah memang tidak peka, pemuda itu bertanya, "K-kenapa Sarah menatapku seperti itu?"
Namun aku tetap memilih acuh tak acuh. Sudah seharusnya pemuda itu paham apa yang aku rasakan tanpa harus banyak bertanya. Namun tetap saja, mau sampai aku nangis darah pun, kepekaan Jordan adalah hal yang fana.
"Sarah marah sama aku?"
Hingga pertanyaan kalimat terakhir, sukses membuatku merasa puas. Salah satu sudut bibirku sontak tertarik sedikit.
"Iya," jawabku singkat, pura-pura terlihat cuek.
Mendengar itu, Jordan lantas memberhentikan kegiatan memotretnya juga langkahnya, lalu menatap mataku penuh tanya. "Ada apa? Mengapa? Apa aku berbuat salah?"
Sudah diduga, pemuda itu takkan pernah mengetahui kesalahannya, lebih tepatnya tidak mau mengakui. Aku mendengus kasar, karena sudah lelah memegang prinsip 'Jordan yang mencelakakanku harus minta maaf' kepada pemuda yang luar biasa tidak peka.
Keningku terus mengernyit, begitu juga bibirku yang mengerucut. Aku memilih berjalan lebih dulu meninggalkan Jordan dan sesekali langkah kakiku terhentak-hentak pada aspal yang tidak bersalah.
Sialnya lagi, pentopel yang kugunakan malah membuat kaki kananku keseleo. Tubuhku sontak kehilangan keseimbangan, hingga hampir aku terhempas ke samping kanan. Sebelum benar-benar itu terjadi, sudah ada topangan tangan seseorang yang menahan pergerakanku agar tidak terjatuh.
Adalah Jordan yang menangkapku. Kupikir kejadian ini akan seperti kemarin, di mana aku dibiarkan terjatuh oleh Jordan.
"Aku ... tidak menghindar kali ini."
Kini wajah kami seperti tak berjarak. Tangan kanannya perlahan terangkat. Ah tidak, ini terlalu dekat. Saking belum siap, kelopak mataku cepat-cepat tertutup. Namun ini sudah hampir semenit, tidak ada sesuatu hal terjadi.
"Aku hanya mengambil bunga dari rambut Sarah. Kenapa Sarah jadi menutup mata?" Adalah Jordan yang melontarkan kalimat tanya tersebut, membuat mataku kembali terbuka.
Tubuhku langsung terkesiap menjauhi Jordan dan berdiri seperti semula.
"Pasti aku sudah gila! Apa sih yang aku harapkan?!" gumamku seraya memukul pelan kepalaku.
"Memangnya Sarah harap aku mau ngapain?"
"Ah, engga. Ternyata kamu udah tahu bunga, ya." Kali ini kami melanjutkan jalan beriringan. Aku memperbaiki tataan rambut pendekku yang sedikit berantakan.
"Jadi, musim apa yang kau suka?" tanyaku.
"Em ...." Jordan berpikir sejenak, guna membayangkan musim-musim yang sudah ia rasakan. Seperti musim panas, dingin dan semi.
"Memangnya Sarah suka musim apa?" Dan ia malah balik bertanya.
"Musim semi, lah!" jawabku penuh percaya diri.
Jordan mengangguk pelan, kemudian membalas, "Kalau begitu, aku juga suka musim semi."
"Ternyata kita punya selera yang sama." Bukan sama, lebih tepatnya, Jordan menyamakan seleraku. Menurutku tidak masalah, hal itu akan membuat kami semakin dekat dan akrab.
"Bunganya cantik sekali, ya!" seruku sambil mengedarkan pandangan ke sekitar lingkungan. Di sana terlihat deretan pohon sakura, beberapa kelopak terlepas dari ranting, membuat jalanan yang kami lalui terselimuti warna merah muda cerah.
"Bagiku masih sama. Sarah yang tercantik."
Aku tertegun di tempat. Menatap Jordan lekat-lekat. Selama 19 tahun, tidak ada sekalipun orang memuji demikian kepadaku, selain nenek dan ... si pria Bulan, yang kini menyita atensi sekaligus menjajah seluruh afeksiku.
.
.
.
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡
__ADS_1
Thank you, love you, see you♥