NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[29 : Menemukan Pengkhianat]


__ADS_3

"Oh jadi ini yang namanya Jordan?"


Dengan kompak Joseph dan Cayla melempar pertanyaan tersebut, ketika mendapati seorang pemuda masuk ke apartemen membawa sekantong plastik putih besar. Sementara Sarah berdiri di samping Jordan sambil mengulas senyum andalan.


"Hai semuanya!" seru Sarah kepada Joseph dan Cayla yang tengah duduk di sofa depan televisi.


"Hai Sarah!" balas Cayla.


"Apa kabar?" tanya Joseph.


Atas intruksi Matthew, Jordan dan Sarah masuk ke dalam untuk makan bersama malam ini. Kebetulan sebelum pulang, Matthew menyempatkan waktu membeli makanan di restoran cepat saji.


Kini mereka duduk di lantai. Menyiapkan seluruh makanan yang dibawa di atas meja. Sudah ada 4 kotak makan beserta 4 minuman, tentu Jordan tidak terhitung.


Keheningan flat dirasakan oleh seluruh penghuni. Tidak ada topik atau gelak tawa. Bahkan masing-masing sibuk dengan makanannya.


Melihat Jordan tidak menyentuh makanan satu pun, menimbulkan pertanyaan pada kepala Cayla, "Kenapa kamu ga makan?"


"Aku tidak bisa makan," jawab Jordan penuh kejujuran, otomatis Cayla semakin bingung.


"Ah, maksudnya Jordan tidak bisa makan karena sudah kenyang." Cepat-cepat Sarah mengklarifikasi jawaban si pemuda bulan sebelum Cayla menjadi lebih bingung. Bukan karena Sarah tidak mau menjelaskan bahwa Jordan adalah bulan, hanya saja Sarah tidak mau dianggap gila mempercayai hal di luar logika manusia.


Rupanya Jordan mengerti yang dipikirkan Sarah. Cayla juga mengangguk paham.


"Ah, apakah suasana ini sedikit canggung?" timpa Joseph sambil asik melahap makanan.


"Ya, mungkin karena kalian kurang akrab dengan Jordan," kata Matthew yang sudah lebih dulu menyelesaikan makanannya.


"Kenapa dia seperti patung gitu, sih? Bahkan aku sama sekali tidak melihatnya tersenyum. Aku juga tidak tahu dia tahu namaku atau tidak."


Tentu saja Cayla melempar kalimat tersebut untuk menyindir Jordan. Namun sang pemuda lebih memilih bergeming sambil menatap kosong seluruh penghuni.


"Dia anak yang manis, kok. Aku kaget saat dia tersenyum ada bolongan di kedua pipinya."


Gadis yang duduk di samping Jordan, menjelaskan sambil terkekeh kecil. Kalau diingat-ingat lagi momen senyum perdana Jordan, dia merasa sangat gemas dan ingin terus melihatnya.


Melihat kepolosan Sarah, yang lain ikut terkekeh kecuali Jordan.


"Sarah, itu namanya lesung pipi," jelas Joseph.


"Oh, gitu ya. Aku baru tahu, karena ini kali pertamaku melihat orang pipi bolong saat tersenyum."


"Kau ... menyukainya, ya?"


Entah angin muson dari mana, tiba-tiba Cayla berasumsi demikian. Sedangkan ekspresi wajah Matthew dan Joseph seolah ikut menggoda gadis itu secara tidak langsung.

__ADS_1


Kedua mata juga mulut Sarah terbuka sempurna. Pipinya jadi memerah bahkan tidak berani menatap mereka semua, terlebih Jordan yang kini menunggu jawaban Sarah.


"Ah, kalian udah selesai makan semua, 'kan? Akan kubersihkan dan kubuang sampahnya."


Daripada meladeni topik absurd ini, gadis itu memilih mengalihkan topik dan segera membawa tempat makan Cayla, Joseph, Matthew dan punyanya yang sudah habis. Alih-alih berbincang dengan ketiga orang di sana, Jordan lebih tertarik mengekori Sarah ke dapur.


"Anak itu, kayak puppy kecil yang mengikuti majikannya," ujar Cayla.


"Oh iya, nanti si Sarah tidur di mana?" tanya Joseph penasaran.


Sebelum menjawab, Matthew terlebih dahulu menyeruput cola. "Kan, aku udah beliin flat juga buat Sarah. Nanti dia tinggal di sebelah."


"Mat, gimana sama Haeya?"


Tidak bisa dipungkiri Joseph memiliki mulut penggosip layaknya para perempuan. Ia akan mengorek segala informasi legal kepada narasumber secara langsung, tetapi bukan sembarang informasi. Joseph bukan tipikal laki-laki yang ingin tahu urusan orang lain jika tidak bersangkut paut dengan dirinya. Dan baginya, masalah Haeya juga masalah Joseph yang haru segera diselesaikan bersama, apalagi gadis kelahiran Korea Selatan itu berstatus sahabat dengannya.


Niat awal Matthew ingin menutup mulut rapat-rapat soal kejadian tadi di jalan, tetapi rupanya Joseph memiliki kepekaan yang kuat, selain itu Matthew juga tidak bisa menyimpan rahasia dalam jangka waktu lama, sebab mulutnya terkadang culas.


"Udah punya cowok baru, ya?"


Belum sempat mengeluarkan sepatah kata, sudah disela oleh Joseph.


"Kalau tahu, kenapa nanya lagi?" sergap Matthew memutar bola matanya amat jengah.


"Kamu mau remot tv ini melayang dan berakhir ada benjolan pada kepalamu yang tidak ada isinya itu?" tanya Matthew kalem penuh tekanan, sementara si pelaku hanya menunjukkan deretan giginya yang rapi.


"Hehe, bercanda, Matt. Baper banget, sih," kekeh Joseph dan lagi-lagi Matthew memutar bola matanya jengah.


Cayla yang menyaksikan tingkah konyol mereka hanya bisa mendengus kasar sambil menggelengkan kepala.


"Sudah, sudah! Ayo, Matt, lanjutkan bicaramu!"


"Sebenarnya tadi di jalan aku nge-rem mendadak karena ada seseorang yang menyebrang jalan sembarangan. Karena itu, mobilku sama mobil yang di belakang bertabrakan. Padahal hanya tabrakan kecil tapi orang itu bertingkah seolah masalah besar," terang Matthew panjang dan lebar.


"Lah? Terus gimana? Dilapor ke polisi?" tanya asal Joseph.


"Setidaknya kau harus menanyakan keadaan mereka dulu." Tampaknya Cayla lebih mementingkan keselamatan dibanding kerusakan mobil.


"Ya, kita sih baik-baik aja. Toh, Haeya dan kekasihnya itu juga tidak terluka."


Mendengar kesaksian Matthew yang begitu santai, lantas Cayla dan Joseph kompak membulatkan mata mereka sebagai tanda terkejut.


"Jadi, kamu tadi ketemu Haeya dan pacar gelapnya itu?!" tanya Joseph memastikan lagi.


"Ternyata dunia memang sekecil ini," timpa Cayla.

__ADS_1


"Secara ga langsung, kamu memergoki hubungan gelap mereka. Hahaha." Entah apa yang membuat Joseph mengeluarkan tawa sarkas begitu di situasi serius saat ini.


"Ah, sudahlah. Aku pusing. Kalian ga pulang?"


"Maksudnya, kamu ngusir aku dan Cayla?"


Pemuda itu memijat pelipis yang dirasa penat, lalu menghembuskan napas. Melihat Matthew kelelahan, secara inisiatif Cayla segera bangkit dari duduknya dan mengajak Joseph untuk pulang.


"Istirahatlah! Besok kami akan datang ke kafe barumu," ujar Cayla sekaligus pamit.


"Eh? Secepat ini?"


"Iya, Jo. Lagi pula mereka baru pindah dan butuh berkemas juga," tenang Cayla berusaha menjelaskan.


Tampaknya Joseph sudah menyerah. Mereka pun pamit dengan sang empu flat, tak lupa dengan Sarah dan Jordan yang baru saja keluar dari dapur.


_________________________________________


Kini Sarah menggeret koper hitamnya ke flat baru yang sudah dibelikan Matthew. Tidak mungkin, kan, dia tinggal bersama dua pemuda dalam atap yang sama?


Tentu Jordan menemani Sarah dan angkat suara, "Sarah, kenapa tadi Sarah menyuruh kita diam di dapur?"


Fakta kalau kedua insan tersebut mendengar percakapan Matthew, Cayla dan Joseph. Namun tidak ada niat Sarah untuk bergabung. Dia tidak mau menjerumuskan dirinya dalam pasal kesalahpamahan lagi. Terlebih dia ingin menjaga relasi yang baik dengan Cayla dan Joseph.


"Sarah masih sedih, ya?"


Sontak pertanyaan Jordan membuat Sarah mengulas senyum. Kemudian pemuda itu menundukkan kepala. Awalnya Sarah bingung mengapa ia menundukkan kepala, tetapi ternyata sebagai isyarat 'mau dielus'.


Sarah pun tidak segan mengelus puncak kepala Jordan, secara dia sudah terbiasa melakukan hal itu, dan sepertinya ia candu akan perlakukan manja dari Sarah.


"Jo, kamu lebih tampan kalau tersenyum tahu."


"Menurutku, tidak tersenyum aja, aku udah sangat tampan."


Begitulah Jordan, semakin dipuji, semakin arogan alias meninggikan diri sendiri. Beruntung hal itu memang sebuah kenyataan, bukan bualan semata.


.


.


.


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡

__ADS_1


__ADS_2