
"Apakah ini tidak keterlaluan?"
Terdapat rasa sesal memburu benak Cayla. Dia semakin frustasi kala melihat keadaan buruk sahabatnya, Haeya. Di sisi lain bukan hanya Cayla yang merasakan itu, tetapi Joseph pun ikut bersimpati. Antara kecewa dan marah, ia juga ingin memperbaikki ini semua. Namun, sang pelaku, Haeya, berkehendak lain. Dia lebih memilih jalannya sendiri.
"Biarkan dia sendiri. Setidaknya dia butuh waktu," Joseph merangkul pundak gadis itu, "untuk menyadari sikap buruknya."
Cayla tersenyum. Sedikit terpaksa. Mereka baru saja keluar dari apartemen Haeya dan hendak memasukki mobil.
Lantas Joseph membawa mobil dengan kecepatan sedang sambil memutar sebuah lagu yang pas. Gadis itu hanya menghela napas berulang kali dan memejam mata. Dia terlihat lemas bahkan untuk melemper satu kata pun.
Perjalanan tidak terasa panjang. Mobil sudah berhenti laju. Mereka sekarang berada di sebuah pantai terdekat, alih-alih turun dari mobil, Cayla bertanya, "Perasaan rumahku tidak punya pantai." Sambil mengelus dagunya heran.
"Hei! Aku mengajakmu ke pantai," bantahnya, melepas sabuk pengaman Cayla sebelum kemudian berganti ke miliknya. "Bukankah terlalu penat untuk dipendam?"
Sesaat seringai Joseph tampak mengerikan. Cayla terperanjat di tempat, menerka-nerka terjemahan kalimat pemuda bertahi lalat bawah mata itu.
Hingga saat mereka turun dari mobil, Joseph memberi sebuah aksi berteriak sekencang-kencangnya sangat keras bahkan nyaring. Sementara Cayla tertegun. Dia menoleh ke kanan dan ke kiri. Memeriksa bahwa tidak ada satu orang pun yang melintas.
Cayla menghela napas. Setelah itu bertanya selidik akan perilaku Joseph yang bisa dibilang tidak waras, secara sejak awal ia sibuk teriak-teriak bak orang gila kabur dari psikiater. Ia juga menelebarkan kedua tangannya, seolah menjiwai setiap detik suara sumbangnya.
"Jo! Hentikan!" larang Cayla yang tidak diacuh oleh Joseph. Kemudian dia memukul pelan punggung pemuda itu. "Kalau tidak mau diam, lebih baik aku pulang sendiri!"
Niat awal Cayla, yakni meninggalkan si pemuda. Namun Joseph segera menahan tangannya, membuat badan Cayla sontak berbalik. "Hanya di tempat ini, kamu bisa melepas beban. Hanya dengan berteriak, semuanya terlegakan."
Tautan tangan mereka lepas sepihak. Cayla meneguk saliva akan bersiap pada aksinya, dan memfokuskan sorotan mata ke depan ombak pantai bergelombang. Dan saat itu juga, teriakan lolos dari mulut Cayla. Deru angin besar ikut meramaikan suasana. Mungkin saran Joseph sudah cukup membantu sang gadis merasa lebih lega.
Saking leganya, mungkin berteriak menjadi tidak canggung tetapi candu. Bukan hanya sekali, sepuluh sampai puluhan kali Cayla menang lebih banyak berteriak dibanding Joseph.
Setelah kedua pihak merasa puas, kedua mata saling bertemu pandang. Kontak mata penuh makna. Bagi Cayla, tindakan Joseph memang sederhana. Namun terkesan manis. Bagi Joseph, ini cukup memalukan. Namun kebahagiaan Cayla, entah dari kapan menjadi prioritas dirinya.
___________________________________________
"Kenapa ... Sarah berbohong?"
Pertanyaan Jordan pelan, tetapi sangat menusuk. Sorot mata yang tajam. Mengartikan suasana ini serius. Memang, hubungan akan lebih rumit bila diselimuti kebohongan. Akan tetapi, aku juga terpaksa menyembunyikan hal ini bukan bermaksud untuk berbohong.
Aku masih terdiam. Jangankan menjawab, menelan saliva saja rasanya sulit. Semula tatapan tajam itu berubah menjadi sedu. Ia tampak sangat kecewa padaku. Maklum, terlebih aku menyembunyikan fakta darinya, padahal ia selalu berkata jujur padaku, tetapi percayalah, ini kulakukan demi menjaga relasi semua orang, termasuk menjaga harga diriku.
"Apa kita masih kurang dekat," Ia menjeda sejenak lalu menundukkan kepala, "sampai Sarah menyembunyikan sebuah masalah?"
"Bukan maksudku menyembunyikan ...," sergapku, sengaja menggantung kalimat. "Aku hanya tidak ingin membuat ini semakin rumit."
Aku tidak ingin semakin banyak yang terluka.
Aku tidak ingin membuatmu khawatir.
Berpura baik-baik saja, adalah caraku menjaga harga diriku.
Mata sipitnya membulat, tepat saat melihatku menangis. Sungguh, aku hari ini sangat mengenaskan. Berkali-kali kutangisi peristiwa yang tidak dapat kuulang. Tubuh Jordan hendak mendekapku, lantas secara spontan aku malah meninggalkannya dan kembali ke flatku.
__ADS_1
___________________________________________
Author POV
Sudah pernah dikatakan, tidak seperti di sinetron yang mengejar kepergian sang gadis. Bertolak belakang dengan Jordan, yang memberi waktu Sarah untuk tenang seorang diri. Ia berpikir, akan semakin mempersulit Sarah, terlebih barusan ia melempar kalimat terkesan kasar dan menuntut kepada gadis itu.
Flat tidak ada penghuni. Semua pergi berlalu meninggalkannya. Daripada tidak ada kegiatan lain, Jordan memutuskan berjalan sebentar di luar. Ia tidak mungkin menyia-nyiakan musim semi indah ini begitu saja. Kurang lengkap pasti, tanpa keberadaan Sarah.
Sewaktu-waktu ia mendengus kasar. Apalagi membayangkan saat air mata itu mengalir dari pelupuk sampai jatuh ke ujung dagu. Sama seperti Cayla, kini Jordan pun merasa bersalah.
Alih-alih seperti biasa rutin mengambil gambar dengan ponsel, edaran mata Jordan terperangkap pada anak kecil, tampak berkisar usia 6 tahun. Wajahnya sedih dan terus menengadah ke atas pohon yang membuat balon miliknya tersangkut di antara ranting.
Hanya berjumlah satu balon berwarna merah hati, tetapi seolah tak rela kehilangan. Menggerakkan hati si pemuda jangkung untuk menolong gadis kecil itu. Sambil mengulas senyum tulus, Jordan mendekat lalu jongkok di depannya. "Apa itu balonmu?"
Anak kecil itu mengangguk pelan. Ekspresinya masih sedih tatkala Jordan mengelus pucuk kepalanya, sama persis yang dilakukan Sarah.
Menit selanjutnya, Jordan bangkit berdiri. "Sebentar ya. Akan kuambil."
Efek kaki dan tangan yang panjang, sang pemuda hanya perlu menggunakan satu tangan untuk meraih balon tersebut. Bahkan kedua kakinya tidak perlu berjinjit sudah mampu menggapai ranting pohon.
Dengan penuh bangga dan kepercayaan diri, ia memberikan balon itu pada si gadis kecil yang segera diambil. Anak itu merubah ekspresi jadi tersenyum bahagia. Begitu juga Jordan, ikut senang bisa membantu.
"Terima kasih banyak, paman. Kau sangat baik dan tampan," puji si gadis kecil. Membuat kedua pipi Jordan tiba-tiba bersemu.
"Sama-sama," balasnya. "Omong-omong, kau tidak bersama orangtuamu?"
Anak kecil itu menggeleng pelan. "Sejujurnya aku mau pergi ke suatu tempat. Tapi mereka melarang," jawabnya begitu polos.
"Kalau kau pergi tanpa orangtuamu, mereka akan repot mencarimu dan merasa khawatir. Bahkan anak kecil imut ini bisa saja tersesat." Jordan memainkan pipi tembem anak itu. Ia menasihati layaknya orang dewasa. Namun, kata-katanya sangat bersahabat dengan si anak kecil, jadi gadis itu segera mengangguk paham dan berlari menghampiri kedua orangtuanya.
Sebelum benar-benar jauh, anak itu menyempatkan diri untuk melambai pada Jordan yang tentu dibalas hangat.
_________________________________________
Di waktu yang bersamaan dengan Jordan.
"Aw!"
Pekikan seorang anak laki-laki lantas memusatkan atensi Joseph dan Cayla di pantai. Tanpa mengulur waktu, Joseph segera berlari ke arah anak kecil itu, tepat ketika melihatnya tersungkur di permukaan pantai dengan luka pada bagian lutut.
"Astaga!" Melihat darah yang menetes, semakin histerislah Cayla. Dia tipikal orang yang geli dengan darah, bukan takut. Sementara Joseph sibuk membalut luka anak itu menggunakan sapu tangannya yang panjang. Beruntung hanya ada satu luka, itu pun tidak terlihat terlalu serius.
Sesekali ia meringis kesakitan akan luka yang terbalut. Namun anak itu cukup kuat karena tidak menangis.
"Dik, kamu sama siapa ke sini?" tanya Joseph penuh risau.
"Orangtuaku." Anak kecil itu mungkin merasa asing atau takut ketika menatap dua orang yang ada di depannya. Ia lebih memilih menundukkan kepala dan menjawab mereka dengan lirih.
"Mengapa kamu ke sini sendiri?" Cayla berspekulasi mungkin jika mereka tidak datang ke pantai hari ini, bisa saja anak kecil itu berjalan di tepi pantai yang sepi, kemungkinan akan terjadi kecelakaan yang lebih menyakiti sang anak.
__ADS_1
"Aku sangat ingin kemari, tapi mereka selalu melarang. Katanya aku nanti bisa tersesat atau mungkin terseret ombak."
Joseph dan Cayla saling melempar pandang, anak kecil ini tahu alasan mengapa orangtuanya melarang. Namun, ia juga bersikeras untuk datang kemari sendiri seperti membawa dirinya ke dalam bahaya.
Joseph mengusap pucuk anak laki-laki itu. "Kamu sudah tahu alasan mereka, tapi masih saja kemari apalagi sendirian. Itu lebih berbahaya."
"Ibuku pernah berkata, bahwa mungkin kita akan tersesat dalam hutan lebat, tapi kalau orang itu memiliki alasan awal mengapa dia masuk ke sana, maka alasan itu akan jadi jalan keluarnya."
Dengan cara bicara yang imut khas anak kecil, ia menatap nanar kedua orang dewasa di depannya. Bahkan Cayla dan Joseph tidak mengerti makna kalimat anak kecil itu, ia masih kecil tetapi ibunya sudah memberi nasihat dengan kalimat yang berat.
"Kamu bisa saja." Joseph mencoba mengerti perkataan anak itu, meskipun otaknya sulit menerjemahkan dengan baik.
Tidak bagi Cayla. Dia mencoba untuk mencari kunci dari kalimat sang anak. "Tapi ... Bagaimana kalau orang itu hanya memilih untuk berdiam saja di hutan yang lebat?"
"Tidak mungkin orang itu ingin tinggal di sana, hutan itu sangat gelap dan menyeramkan." Ia mempraktikkan gerak tubuh seperti orang bergidik ketakutan.
Tiba-tiba Cayla tersenyum tipis,
"Kalau orang itu tersesat?"
"Kakak harus membantu dia. Sama seperti aku tadi, kalau kakak tidak datang mungkin aku akan tersesat."
"Tadi hanyalah kebetulan, adik kecil." Joseph terkekeh melihat tingkah anak ini.
"Kakak menganggap itu kebetulan? Kata ibuku tidak ada yang namanya kebetulan."
Tidak tahu apakah ucapan anak kecil ini benar atau tidak, ingin menyangkal tetapi ada benarnya juga. Ia masih terlalu kecil untuk memiliki pemikiran yang terdengar lebih dewasa daripada mereka.
"Oh! Itu ibuku," seru anak itu seraya menunjuk ke arah wanita paruh baya. "Aku pergi dulu ya, kak! Terima kasih sudah menolongku."
Joseph membantu anak kecil itu berdiri. Sebenarnya mereka ingin mengantar anak itu ke ibunya, tetapi ia menolak. Mereka hanya bisa memandang anak itu yang berlari tertatih mendekati ibunya.
"Woah! Aku merasa kagum dengan pemikiran anak zaman sekarang," serunya seraya menggeleng-geleng kepala.
"Mungkin seharusnya yang mendapat pemikiran seperti itu kamu, tapi kayaknya Tuhan berkata lain," pungkas Cayla, bermaksud menyindir.
Yang disindir malah merasa bingung. Ia masih berpikir apa yang dikatakan oleh Cayla, lalu lima detik kemudian ia baru paham. Niat awal ingin membalas, ternyata gadis itu sudah lebih dulu meninggalkan tempat.
"Ternyata itu jawabannya." Langkah Cayla menjadi pelan.
"Hey! Tunggu aku!"
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡
Thank you, love you, see you~