
haiii!
baru sempat up,
tugas numpuk//nangis batin//
_________________________________________
BRAAKK!
Sebuah pintu rumah dibuka kasar oleh anak perempuan yang baru saja masuk, hingga sukses menghasilkan bunyi menggelegar. Otomatis menginterupsi kegiatan makan penghuni rumah.
Gadis itu memasang wajah penuh luapan emosi negatif. Sementara kedua orangtuanya langsung berdiri dari kursi. Mereka terkejut dan khawatir atas perilaku gegabah sang anak. Begitupun para pelayan di rumah, hanya menatap khawatir.
Cayla memberi tatapan yang sangat tajam bak elang sekaligus intimidasi terhadap ibunya. Cassandra pun merasa, tetapi dia masih bersikukuh menampilkan sikap tak peduli terhadap perilaku anaknya. Namun, intimidasi Cayla membuat Cassandra risih, dia pun menghentikan aktvitasnya sejenak lalu mendatangi Cayla yang masih berdiri dengan keadaan yang penuh bara.
"Kenapa kamu pulang selarut ini, hm? Apa kamu sudah makan?" Cassandra hendak menangkup pipi putrinya, tetapi pergerakan Cayla lebih cepat menghindar.
Cayla melihat wajah Cassandra yang kebingungan. Lantas dia menyunggingkan senyum. "Kau masih bisa tenang, meskipun ada orang lain yang menderita?" Lirikan sinis milik Cayla begitu mematikan.
"Setidaknya kamu duduk dulu. Kita bahas dengan kepala dingin, oke?" Cassandra berjalan menuju sofa di ruang tengah, tetapi tiba-tiba Cayla memberikan pernyataan yang sontak menghentikan langkahnya.
"Kepala dingin? Hahaha!" Cayla tertawa hambar, "seperti itukah yang kau lakukan kepada temanku? Saat kau menginjak ia dengan seenak hati dan apakah kau merasa tidak sadar waktu itu?"
Ternyata perkara itu yang ingin Cayla bahas, Cassandra pun paham dan masih ingat apa yang dia lakukan kepada Joseph beberapa waktu silam. Dia berjalan mendekati Cayla, mereka berdiri berdepanan, bersiap untuk menerima dan memberi suatu fakta.
Jackson—ayah Cayla—yang sejak awal hanya menyimak, memilih bungkam saja. Ia lantas menyudahi makan malamnya yang bahkan belum selesai dan beranjak ke dalam kamar.
"Mama punya alasan untuk mengatakan itu kepada temanmu," lirih Cassandra.
__ADS_1
FLASHBACK ON [Part 43]
Seorang wanita dengan pakaian yang terlihat mewah, memasuki toko roti di mana Joseph bekerja. Awalnya lelaki itu memberi sambutan selamat datang yang hangat dengan senyumnya, tetapi ketika Joseph melihat siapa yang datang, senyumnya perlahan memudar. Orang itu bernama Cassandra.
Mau tidak mau Cassandra harus dipandang sebagai pelanggan oleh Joseph, dengan ragu dan jantung yang berpacu cepat ia menawarkan menunya pada wanita itu.
"Apa yang anda ingin beli, Nyonya?" Joseph tidak tahu apakah Cassandra menyadari kehadirannya dari suaranya, sebab dia hanya fokus melihat roti-roti yang ada di etalase.
"Aku memesan Churros, Praline Turtle Cheesecake dan Fajita Melt Sandwich." Jarinya yang lentik digunakannya untuk menunjuk setiap roti yang dia pesan.
Dengan cepat Joseph membungkus pesanan Cassandra dengan baik. Saat hendak membayar roti-rotinya, Cassandra baru menyadari bahwa yang melayaninya adalah teman putrinya.
"Sepertinya kita saling kenal, 'kan?" Cassandra tahu pasti, bahwa Joseph mengenalinya juga. Dia hanya melempar pertanyaan tak berguna dan nada bicaranya sudah terdengar seperti meremehkan.
"I-iya." Joseph membuang napasnya berat. "Aku teman Cayla, saya yakin anda juga mengenal baik saya." Pria itu cukup berani untuk menyatakan pernyataan ini.
Cassandra hanya berdecak lalu menyungging senyum. Tak lama dari itu dia mengeluarkan sejumlah uang dengan nilai yang begitu besar, bahkan tiga kali lipat dari harga yang semestinya dibayar.
Tangan Joseph menjadi gemetar dan berkeringat, serendah itukah ia di mata orang kaya ini? Joseph memang sadar diri dengan derajatnya, tetapi jika ia direndahkan seperti ini, maka Joseph berhak untuk menentang.
"Saya memang terlihat memalukan, tapi maaf nyonya ... saya berteman dengan Cayla bukan untuk hartanya." Joseph menundukkan kepalanya sejenak.
"Meski seperti itu aku sama sekali tidak peduli. Apa yang bisa kau berikan pada Cayla nanti? Apa gajimu cukup untuk membahagiakan anakku?" Intimidasi Cassandra begitu dalam untuk Joseph. Sebab di mata Cassandra, Joseph hanyalah anak kotor dan tak selaras dengan kastanya yang berstatus sendok emas.
"Apakah uang akan membeli kebahagian?" tanya Joseph. Sang pemuda ber-Toque sudah tidak tahan lagi, dirinya begitu diinjak oleh wanita kaya ini.
Bukannya langsung menjawab Cassandra malah memberi tawa hambar lalu membisikkan sesuatu tepat di rungu Joseph, "Jika kucing liar kita beri tulang maka mereka akan menerimanya, tapi suatu saat sang majikan memberi mereka daging segar. Menurutmu apa yang terjadi?"
Joseph bungkam. Terpaksa Cassandra menjawab pertanyaannya sendiri. "Mata kucing itu terlihat lebih senang dan akan menyantap dagingnya dengan cepat. Dan coba bayangkan jika seorang majikan itu juga mempunyai kucing yang setiap harinya diberikan daging, suatu saat kucing itu diberikan tulang sisa makanan tuannya. Apakah dia akan terasa senang?"
__ADS_1
Usai selesai mengatakan itu Cassandra segera mungkin pergi dari sana, Joseph sama sekali tidak berkutik lagi. Cassandra juga terlihat sudah mengeluarkan semua kata-kata yang semestinya dia keluarkan sejak awal.
FLASHBACK OFF
Cayla menutup mulutnya. Dia sungguh tidak menyangka kalau sang ibu akan bertindak sejahat itu dengan Joseph. Pasalnya, Cayla sangat benci jika ada kasta di antara hubungan persahabatan mereka.
"Mama punya alasan untuk mengatakan itu kepada temanmu," lirih Cassandra.
"Alasan apa? Agar aku bisa bahagia? Menurutmu jika aku berteman sesuai level, aku akan selalu bahagia?" Cayla berjalan mendekati Cassandra.
"Bahagiaku bukan berdasarkan uang sepertimu, tetapi tentang ketulusan mereka," ungkap Cayla tanpa memberi jeda pada sang ibu.
Terlihat Cayla sudah puas mengeluarkan seluruh kemuakannya. Dia pun mengambil langkah menuju kamar dan tega meninggalkan Cassandra di ruang tengah.
Sementara sang ibu, menangis pilu atas perkataan putrinya yang kasar. Biar bagaimanapun, Cassandra adalah ibu angkatnya yang sudah mengurus dan menganggap Cayla sebagai putri kandung mereka sendiri. Cassandra hanya salah menunjukkan kasih sayangnya, dengan melulu tentang uang. Ini semua dia lakukan demi putrinya bahagia, tetapi selalu tampak salah di mata Cayla.
Dengan tangkas Cayla menutup pintu kamar sangat keras, dia tidak tahu apa yang harus dilakukannya sekarang. Yang pasti, dia butuh tempat untuk bercerita, tetapi orang itu sudah meninggalkan dia juga. Jujur, Cayla sangat merindukan Haeya, kali ini dia membutuhkan gadis itu untuk jadi tempat bersandarnya.
Tiba-tiba Cayla mendapat notif dari barang pipih miliknya. Di sana sudah tertera nama samaran Joseph dengan jelas. Saat dia membuka isi pesan tersebut, Cayla langsung mengernyitkan dahi. Tentu rasa terkejut seketika menjajah pikirannya yang sedang tidak jernih, ketika Joseph memberi sebuah pengakuan.
Anak kecil
||Aku menyukaimu Cayla Alverine
.
.
.
__ADS_1
to be continued...