
Perjumpaan pertama kita disambut oleh beribu kapas dingin
Tidak tahu apakah ini suatu izin ataupun takdir
Aku berusaha memahami sifatmu yang masih terasa asing
Dan kamu belajar beradaptasi dengan duniaku
Suatu suasana yang tak pernah terpikir untuk terjadi
Hingga terlalu dingin bagi diriku yang selalu melewati hari abu-abu
Sarah, 20 Desember 2016.
Sarah POV
Sepulangnya dari supermarket, aku sibuk membereskan barang belanja. Sebagian bahan makanan, kusimpan di lemari es. Kemudian, aku mencuci dan mengupas buah apel untuk disantap. Tak lupa, aku juga membuat kopi instan untuk Jordan.
"Nih, kopinya," ucapku sambil menyodorkan secangkir gelas di atas meja ruang tengah.
"Itu apa?" tanya Jordan. Ia menunjuk pada tumpukkan potongan buah di atas piring.
"Ini buah. Masa ga tahu?!"
Aku membalas geram, lalu duduk di sofa tepat di sebelahnya. Semenjak aku membawa buah itu, ia terus menatapnya dengan lekat. Seolah ia tak pernah makan buah.
"Ini makanan untuk dimakan bukan diliatin."
Lantas ia makan satu potong buah tersebut. Ia mengunyah secara intens seraya menaik-turunkan alis. Belum sempat menelannya, makanan itu keluar beserta lendir seperti muntah.
"Astaga! Kau alergi buah?! Kenapa ga beritahu aku?!"
Muntahan Jordan mendarat baik hingga mengoroti celananya. Sontak aku beranjak ke wastafel untuk membasuh kain bersih dengan air. Sebelum kemudian aku menyeka muntahan pria itu dengan kain basah.
Awalnya, raut wajah ia seperti merasa mual. Namun saat aku membersihkan celananya, ia tak berkutik. Menatapku kosong, itulah yang ia lakukan. Aku berusaha tak bertemu pandang, supaya menjaga situasi ambigu, sampai kegiatanku benar-benar selesai.
"Sebaiknya kau ganti baju," saranku.
Aku mencuci kain yang kini diselimuti muntahan Jordan. Sementara ia dengan nikmat meminum kopi itu. Yang menjadi pertanyaan, mengapa ia tidak muntah saat minum kopi?
"Sepertinya aku tidak cocok dengan makanan manusia. Aku hanya menyukai kopi," katanya tiba-tiba seakan menjawab pertanyaan batinku.
Aku menoleh sekilas padanya yang sudah beranjak dari sofa.
"Aku mandi dulu. Nanti ke sini lagi," ucap Jordan dan berlalu pergi.
Padahal aku tidak bilang supaya ia mengunjungiku lagi. Ah, itu tidak penting. Sekarang yang penting aku harus membersihkan lantai kotor karena muntahannya.
Jika kalian ingat dengan perkataan Matthew, mungkin inilah artinya bahwa Jordan memang berbeda. Dilihat dari wajahnya saja, ia memiliki ketampanan yang berbeda dari orang lain, terlebih ia mampu menyihir banyak wanita. Ia juga memiliki kulit yang amat putih. Kuakui saat ia muntah pun, tampannya tak kian luntur. Genius Face akan cocok jadi julukkan Jordan.
Aduh! Ayolah Sarah! Sekarang kau malah melempar pujian-pujian pada pria aneh itu. Aku harus segera mengunci pintu agar ia tak punya kesempatan untuk masuk lagi.
Dan pintu sudah terkunci. Di cuaca dingin seperti ini, aku memakai baju tiga lapis, kaos kaki, dan sarung tangan. Meski apartemen ini memiliki penghangat ruangan, aku tak mau memakainya. Karena akan memakan biaya listrik sangat besar, setidaknya itu usahaku untuk hemat. Pun aku memutuskan tidur dengan selimut.
Satu jam kemudian...
__ADS_1
Brak-Brak-Brak!
Aku dibangunkan oleh suara dobrak pintu. Padahal bel pintu sudah disediakan, tetapi orang itu masih menggunakan cara manual. Tidak berhenti di situ, suaranya bahkan bertambah keras sampai menusuk telingaku. Aku segera menyingkirkan selimut dan beranjak ke pintu.
Cklek.
Tepat saat aku membuka pintu. Aku mendapati sesosok pria berkulit putih. Ah, ia lagi. Pria itu menepati perkataannya sendiri untuk berkunjung lagi seusai mandi.
"Mau apa?" tanyaku masih setengah kantuk.
Ia mengangkat kedua alisnya yang tebal dan bertanya, "Mengapa lama sekali buka pintunya? Aku sudah menunggu dari tadi."
"Seharusnya aku yang tanya, kenapa kamu tidak menekan belnya saja?" balasku dengan pertanyaan.
"Aku sering lihat di film, kalau mereka tidak dibukakan pintu meski sudah tekan bel, maka mereka akan memukul pintunya," terangnya begitu polos.
Aku menghela napas. Sampai kapan aku harus memaklumi kepolosannya ini?
"Bukan memukul, Jordan, tapi mengetuk pintu. Seperti ini caranya."
Aku pun mempraktekkan cara mengetuk pintu yang benar dan baik pada Jordan. Kuketuk tiga kali menggunakan buku-buku jari tangan kanan ke hadap pintu dengan lembut.
Tok-Tok-Tok!
"Begitu caranya. Ingat! Bukan memukul, oke?"
Pertanyaanku hanya dijawab anggukan tanpa ekspresi. Agak kesal melihat dia beraut datar, padahal aku selalu tersenyum lebar pada pria ini.
"Jadi, kau mau apa ke sini?" tanyaku lagi.
"Matthew belum pulang. Aku tidak tahu harus apa."
Masing-masing kami memakai jaket cardigan lengan panjang dan tebal. Aku juga melintirkan syal putih di leherku. Setelah itu kami pergi ke taman dan duduk santai di sana.
Tapi saat di sana, kami bergeming diam. Seolah dinginnya malam membekukan kami. Aku terus menatap langit dengan pikiran kosong. Ah, suasananya juga enak kalau dipakai untuk tidur.
Sementara pria yang berada di sampingku, duduk tegak sambil memperhatikan salju yang turun secara intens. Ia juga beberapa kali mengambil gambar butir-butir salju. Diperhatikan dari kemarin, aku yakin kalau ia memiliki hobi photografi. Meski salju itu biasa saja bagiku, tetapi salju itu tampak berbeda di matanya yang kini berbinar-binar.
"Itu namanya salju. Itu akan turun selama musim dingin."
"Dari mana asalnya? Mengapa warnanya putih? Mengapa aku tak bisa memegangnya? Mengapa hanya di musim dingin?"
Aku mematung sejenak. Sayangnya aku tak cukup pintar untuk menjadi narasumbernya. Adanya malah mengulak hoax atas jawabanku. Rasanya walaupun aku sedang berdiri dengan orang aneh ini, tetapi tetap saja tak ada tempat untuk meninggikan diri sendiri.
"Salju itu air yang membeku, jadi kalau kau pegang, akan berwujud air. Dan salju berasal dari awan."
Setidaknya hanya itu yang kutahu. Mungkin untuk bisa lebih akrab dengannya, terpaksa aku harus mulai menghabiskan waktu membaca buku.
Alih-alih mengganti topik, aku bertanya, "Jo, kenapa kamu tadi memuntahkan buah? Kamu punya alergi buah?"
"Aku ‘kan sudah bilang, kalau aku bulan. Benda langit sepertiku tidak bisa makan, minum ataupun tidur." Jordan menerangkan sangat tegas.
"Tapi, bagaimana dengan kopi?"
"Kalau itu, aku juga tidak tahu," timpanya sambil menggaruk kepala yang tak gatal.
__ADS_1
Mau dijelaskan berulang kali pun, aku tak bisa mempercayai kata-kata pria ini. Ya, meski aku ini bodoh, tak mungkin aku percaya hal yang tak sejalan dengan logika manusia.
"Sepertinya itu mobil Matthew," sergah Jordan sambil menunjuk mobil merah yang melewati kami. Dia pun menyimpan ponsel miliknya ke dalam saku jaket.
"Ya sudah. Ayo masuk!"
Untung saja Matthew datang. Sejujurnya dari awal, aku menggigil tak kuat diterpa angin dingin.
Tanganku terus kulindungi dalam saku jaket. Tapi, tampaknya hanya aku yang merasa kedinginan. Jordan sendiri tak terganggu dengan cuaca dingin. Ia memilih fokus pada salju yang turun di telapak tangannya, sebelum kemudian ia beranjak.
Aku membiarkan tanganku ditarik oleh Jordan sepanjang perjalanan kami menuju apartemen.
Sesampainya di apartemen, Sarah langsung masuk flatnya, begitupun Jordan yang langsung melepas genggamannya ketika mendapati Matthew sudah sampai di dalam.
"Eh? Habis dari mana kau?"
Matthew bertanya, sebelum akhirnya menutup pintu. Mungkin dia tak lihat Jordan bersama Sarah tadi ke taman.
"Taman," jawab pria itu cuek. Ia melepas jaket dan menaruhnya di gantungan jaket. Hal itu juga dilakukan Matthew. Daripada merindukan Matthew, tampaknya ia lebih tertarik dengan sofa dan film Bollywood di televisi.
"Sama Sarah?"
Jordan hanya berdehem sebagai jawaban. Detik selanjutnya, ia menuju kamar untuk mengambil beberapa setelan sweater, coat, celana panjang, earmuff, sarung tangan, syal dan kaus kaki. Lalu ia menghampiri Jordan lagi dan duduk di sebelahnya.
Sejujurnya Matthew sangat tidak tertarik film Bollywood, akan tetapi dia juga tak tega hati untuk melarang sang anak, eh, maksudnya Jordan.
"Besok pagi aku akan pergi lagi. Kalau kamu mau pergi sama Sarah juga, pastikan pakai setelan ini semua ya. Karena hari besok akan memasuki suhu ekstrim. Dan nyalakan penghangat ruangan pakai remote ini. Pokoknya kamu harus tetap hangat, oke?" oceh Matthew.
"Kalau tidak?"
"Kalau tidak, kamu bisa sakit. Dan kalau kamu sakit, hanya akan merepotkan aku!" timpa Matthew. Raut wajahnya bukan marah, tapi khawatir.
"Hm," jawab Jordan singkat.
"Kau istirahat yang cukup. Aku akan tidur."
Sebelum benar-benar masuk kamar, Jordan berhasil menghentikan langkah Matthew.
"Kenapa di film ini terus menyebut soal pernikahan?"
Matthew tertegun di tempat, lalu mengalihkan pandangannya ke layar televisi. Tepat saat itu juga, pemeran di film tengah bermain adegan ciuman. Segera mungkin, ia melindungi indra penglihatan Jordan yang masih polos agar tidak ternodai.
"Hei! Sedang apa kau?! Kenapa menutup mataku begini?!" bentak Jordan untuk pertama kalinya. Namun usahanya nihil, Matthew baru melepas tangan dari mata Jordan ketika adegan itu sudah selesai.
"Ah, kuberi saran, lebih baik kamu ga nonton televisi lagi, deh," ujar Matthew sambil menjauhkan tubuhnya dari Jordan.
"Memang kenapa?" tanya Jordan datar.
"Oh ya, pernikahan itu adalah perempuan dan laki-laki yang tinggal seatap dan saling mencintai," terang Matthew, dibalas anggukan oleh Jordan.
.
.
.
__ADS_1
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡