NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[0.4 : Langkah Awal di Bumi]


__ADS_3

Hari esok, tepat di hari Minggu, Matthew membawa pria Bulan itu ke kafenya yang sengaja ditutup guna mengajarkan Jordan menjadi barista.


"Jo, kamu ga bakal bisa jadi barista kalau ga pernah cobain kopi!" ujar Matthew sedikit teriak.


"Benda langit tidak pernah minum, makan, bahkan tidur," balas Jordan tanpa ekspresi.


Matthew hanya bisa menghela napas panjang, seolah ia benar-benar frustasi menghadapi pria Bulan di hadapannya sekarang. "Ayolah! Setidaknya satu tegukkan saja!!" paksanya.


Jordan mematung. Mungkin karena memiliki rasa iba sama Matthew, jadi ia segera mengambil cangkir kecil berisi air hitam pekat yang dari tadi sudah dingin.


Glek!


Mata Jordan terbuka lebar. Tenggorokkannya seperti dikejutkan saat merasakan aliran minuman pertama kalinya. Namun, tetap saja tak ada kalimat terlontar dari mulutnya. Ekspresinya sudah cukup menggambarkan, bahwa ia suka kopi itu.


"Bagaimana? Kau suka, 'kan?" goda Matthew menungging senyum miring. Pertanyaannya dijawab dengan anggukan.


"Nah, jadi kau tambah tertarik jadi barista, 'kan?" godanya lagi yang dijawab seperti sebelumnya.


"Ayo! Kita mulai praktik. Mungkin awalnya memang rumit, tapi nantinya akan terbiasa," terang Matthew.


Akan tetapi, sebelum memulai kelas barista, Jordan lebih dulu menghabiskan kopi yang tadi hanya ia minum seteguk. Sekarang, Matthew juga harus mengajarkan, supaya Jordan tak kecanduan kafein.


Sampai kopi espresso itu habis, kemudian Matthew memulai latihan dengan seputar pertanyaan yang lusa sudah diajarkannya.


Di luar dugaan, Jordan memiliki ingatan yang kuat, hal itu membuat ia bisa menjawab semua pertanyaan secara detail.


"Apakah semua benda langit jenius?" gumam Matthew yang jelas terdengar oleh Jordan.


Kelas pun dimulai. Mereka menghabiskan waktu seharian dari pagi dan baru berpulang saat jam menunjuk pukul 8 malam.


"Woah! Hari ini kau benar-benar luar biasa, Jo!"


Sejak kelas barista dimulai, Matthew selalu melontarkan pujian-pujian pada Jordan, karena cepat mengenal dan menguasai mesin peracik kopi.


Nyatanya, banyak barista yang membutuhkan waktu cukup lama untuk mempelajarinya, termasuk Matthew.


Akan tetapi, hal ini bertolak belakang dengan Jordan.


Jordan menghiraukannya, ia bersandar pada kursi mobil dan memusatkan pandangannya keluar jendela di sampingnya.


Ia rasa hidup barunya di Bumi sangat berbeda dengan tempat asalnya.


Dengan jadi barista, ia pikir akan lebih mudah bertemu sang adik.


Ckiitt!


Mobil terhenti tepat saat tiang tinggi memancarkan warna merah.


Membuat tubuh keduanya tersungkur ke depan, tetapi digagalkan karena menggunakan safety belt.


Jordan memperhatikan orang-orang yang berjalan di sepanjang zebracross, seolah bertanya-tanya dalam diam.


"Tiang itu namanya rambu lalu lintas. Jika warnanya merah, artinya kendaraan harus berhenti supaya para pejalan kaki bisa menyeberang, kalau warnanya kuning, artinya kendaraan diharuskan jalan hati-hati dan warna hijau, artinya kendaraan boleh melaju lagi, sedangkan para pejalan kaki yang menyeberang harus segera menepi atau menunggu lampu merah selanjutnya," terang Matthew seakan-akan menjawab pertanyaan batin Jordan.


Jordan mengangguk-angguk paham.


Sesampainya di apartemen...


"Jo, aku lupa!" seru Matthew, sambil berdiri kaget dari sofa.


"Aku harus beli sunblock! Aku lupa kalau stock sunblock udah habis! Aku ke supermarket dulu, ya! Kamu di sini aja! Jangan kemana-mana!" Matthew memberi perintah, sebelum kemudian ia pergi.


Jordan yang tidak tahu harus apa, akhirnya ia memutuskan mencari tahu isi dapur. Ia membuka satu persatu lemari es, semua lemari dapur dan toples makanan. Joseph bahkan coba memakan salah satu kue kering yang ada, tetapi ia malah muntah karena memang pada dasarnya, ia tidak bisa makan.


Setelah itu, entah bagaimana caranya, ia menemukan bubuk berwarna cokelat gelap di sebuah toples warna kaca, yang ia yakini adalah bubuk kopi. Saat itu juga, ia menyajikan satu gelas kopi, sesuai ajaran dari Matthew.


Cklek!

__ADS_1


"Jordan! Matthew yang ganteng sejagat raya ini sudah pulang!" teriaknya ketika masuk apartemen dengan membawa kantung putih.


Tidak ada sahutan. Maka, Matthew kembali teriak sambil merebahkan tubuhnya di sofa.


"Bulaannn!!" Teriakannya terhenti ketika si pria Bulan menghampirinya dari balkon apartemen.


"Astaga, Jordan. Kalo dipanggil jawab!" ujar Matthew jengkel, tetapi memelankan suaranya.


Matthew menghela napas kasar untuk menurunkan emosinya. "Identitasmu di Bumi adalah Jordan. Berbeda ketika kamu di alam semesta!"


"Apa gunanya?" tanya Jordan polos yang masih berdiri tanpa pergerakan.


"Astaga! Tidak usah banyak tanya, deh! Ini juga demi kebaikanmu!" timpa Matthew. Kemudian matanya beralih ketika melihat secangkir kopi hangat mengepulkan asap di atas meja. "Eh? Ini kopi siapa?"


"Punyamu," jawab pria itu.


Tanpa banyak bertanya, ia langsung meneguk kopinya. "Ini ... sungguh kamu yang buat?" tanyanya lagi tampak ragu-ragu.


Jujur, rasa tidak percaya sekaligus bangga menyelimuti hatinya saat Jordan mengangguk. Bagaimana tidak bangga? Kopi yang Jordan buat sangat enak, tidak terlalu manis ataupun pahit. Tentu saja, karena Matthew lah yang mengajarkannya.


"Wah! Peningkatanmu bagus! Luar biasa!" puji Matthew seraya geleng kepala karena terselimuti rasa kagum.


"Jo, sampai kapan kau mau berdiri tegak lurus seperti itu?"


Mendengar celetuknya, Jordan langsung duduk di samping Matthew. Namun, ia duduk dengan posisi tegak, bertolak belakang sama Matthew yang terlentang.


"Kotak kecil itu apa?"


"Hah? Ini?" tanya balik Matthew.


"Ini ponsel. Alat komunikasi modern jarak jauh. Lewat inilah, kita bisa mengirim pesan tertulis, pesan suara, pesan video dan pesan bergambar," terangnya seperti seorang guru.


Entah apa yang dipikirkannya, Jordan malah menaik-turunkan alis. Ia menyempatkan diri untuk berkomentar, "Aneh."


"Eh? Apa maksudmu aneh?" tanya Matthew beraut kesal.


"Hei hei! Ponsel ini ada kamera yang bisa menangkap gambar! Bukan orangnya malah masuk ke ponsel! Kenapa kamu jadi gini? Pasti karena minum kopi terus ya?" sindir Matthew yang tidak berkaitan.


Ting!


Sekilas terdengar bunyi pesan masuk dari ponsel Matthew. Memusatkan sorot mata mereka pada barang kotak hitam itu.


Jordan terus perhatikan Matthew yang terlihat asik mengotak-atik ponsel. Di balik itu, Jordan ada rasa penasaran cara kerja barang itu.


"Apakah barang itu juga bisa membuat orang bahagia?" tanya Jordan tiba-tiba.


"Eh? Aku tersenyum bukan karena ponselnya! Tapi karena isi pesan yang masuk!" bantah Matthew sambil tersenyum yang masih terpaku pada layar ponsel.


"Kamu sedang berpesan sama siapa?"


"Gini ya. Kemarin aku ke pesta ulang tahun juniorku, Cayla. Terus aku ketemu sama gadis cantik. Dia imut sekali! Nah, barusan si Cayla kirim nomor gadis itu! Katanya sih, supaya aku bisa mendekatinya," oceh Matthew merasa gemas.


"Mungkin Dewi Cinta sudah membuat rencana."


"Eh? Dewi Cinta? Di alam semesta juga ada Dewi Cinta?" Terkejut pria itu setelah mendengar tutur Jordan.


"Iya. Di sana ada Dewi Kehidupan, Dewi Cinta, Dewi Kematian, Dewi Kemakmuran dan Dewi Kesehatan."


Sekarang gantian, malah Matthew yang terkekeh geli, seolah menganggap hanya gurauan semata.


"Udah ah, aku mau tidur. Besok aku harus ajarin kamu jadi barista lagi," ujar Matthew sambil beranjak ke kamar.


"Aku juga akan istirahat."


"Eh? Bukannya kamu ga bisa tidur?"


"Aku bilang istirahat. Bukan tidur. Beda, 'kan?" bantah Jordan.

__ADS_1


"Terserah," balas Matthew malas.


_________________________________________


Fajar menyambut hari baru.


Cayla mendatangi tempat kerja Joseph, mengumpulkan niat untuk minta maaf.


Namun tidak disangka, ternyata Joseph memberi ekspresi dingin pada Cayla. Membuat dia semakin gugup dan kini mereka tengah duduk berhadapan.


"Jo ..." Cayla menjeda sebentar, lalu melipat kedua tangannya di atas meja. "Aku benar-benar minta maaf."


Diam lelaki itu cukup membuat Cayla mengerti, bahwa ia marah. "Setidaknya, berterus teranglah! Aku, kan, jadi bingung kalau kamu hanya diam," sergahnya.


Joseph sejak awal masih berpangku tangan tanpa pergerakan. "Kalau kamu datang untuk hal lain, aku akan menyambutmu dengan baik. Tapi, aku tidak suka kamu membicarakan hal ini, Cay."


Nada berat terdengar di setiap kata yang Joseph ucapkan. Menandakan pemuda itu benar-benar gundah.


"Kalau mamaku begitu, aku akan mengomelinya!" seru Cayla.


Lagi-lagi, karena tidak mau banyak debat, Joseph memilih pasrah. Ia tertawa lepas, lebih tepatnya palsu. "Ada-ada aja kamu!" pekiknya.


"Tenang saja. Aku baik-baik saja, kok. Kamu ini meganggap aktingku berlebihan!" sambung Joseph, kemudian berdiri dan mengusak pelan rambut Cayla yang masih duduk.


Cayla berdiri sambil mengulas senyum. "Kamu tidak pandai jadi aktor," celetuk gadis itu disusul sebuah dekapan yang mendarat di tubuh Joseph.


Seketika Joseph merasa canggung. Ia tidak menyangka Cayla akan berbuat sejauh ini. Beruntung, kedai roti baru terisi mereka berdua. Maka tak segan, Joseph membalas dekapan itu. Terasa hangat, hingga keduanya saling luluh untung sebuah persahabatan.


"Oh iya."


Joseph segera meloloskan dirinya dari pelukan. Lalu mengambil sebuah kotak kecil dari tasnya dan memberikannya ke Cayla.


"Aku bingung harus memberi kado apa. Jadi, aku memilih ini untukmu. Kupikir kamu akan menyukainya."


Tanpa aba-aba, ia membuka kadonya dan mendapati cat kuku warna hijau muda. Ekspresi gadis itu mulai berseri. "Wah! Terima kasih banyak! Aku sangat suka!"


Lantas, Cayla membuka tutupnya. Dia mengoles dengan hati-hati di setiap kuku tangannya.


"Harusnya kita foto, 'kan? Kayaknya, kita tidak pernah foto berdua."


"Benar juga." Joseph mengambil ponselnya dari saku celana dan mereka berdua mulai berpose dari yang alim sampai konyol.


Cekrek-cekrek!


_________________________________________


Rasa bahagia yang dirasakan Cayla saat ini. Sebelum kemudian, rasa itu diruntuhkan karena omelan dari sang ibu.


Setibanya di studio pemotretan, wanita paruh baya itu mengernyit. "Habis dari mana kamu?!" tanyanya.


"Kamu telat pemotretan!" bentaknya lagi.


"Maaf, ma."


Begitu sang ibu bertanya lagi, Cayla hanya bisa mematung. "Kamu habis dari tempat kerja Joseph itu, ya?"


Karena tak tega hati memarahi anak tunggalnya, wanita paruh baya itu kembali berujar. "Yasudah. Siap-siap jadwal selanjutnya!"


"Baik, ma."


.


.


.


to be continued...

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya^^


__ADS_2