
Sarah POV
Kadang aku percaya, orang-orang hanya melihat apa yang mau mereka lihat, mendengar apa yang mau mereka dengar dan berpikir apa yang mau mereka pikirkan.
Padahal, yang mereka lihat, dengar juga pikir tentang kita, belum tentu sesuai fakta.
Sarah, 20 September 2016.
_________________________________________
Di malam ini aku melantunkan jari-jariku di atas buku diary lagi. Semua keluh kesah yang kurasa, hanya bisa kulontarkan dalam bentuk tulisan. Sama seperti sebelumnya, Bulan tidak tampak di langit, hanya ribuan bintang yang tergantung. Aku menghela napas sejadi-jadinya, sambil menatap langit-langit kamar.
Aku rindu Bulan.
Biar kuperjelas cerita hidupku. Sesungguhnya, tidak ada yang spesial bahkan indah pun tidak. Sebagaimana nenekku bilang, orangtuaku sudah meninggal dari aku masih kecil. Entah apa alasannya, nenek tidak pernah mengatakannya dengan rinci. Pendidikanku sebatas SMP, lalu dikeluarkan karena tak mampu bayar SPP.
Dari saat itu, aku mencari pekerjaan untuk membiayai kehidupan aku dengan nenek, juga perobatannya. Dan hidupku lebih susah, ketika aku sadar tidak memiliki bakat apa pun sebagai modal bekerja.
_________________________________________
Author POV
Hari berikutnya, Matthew terbangun dari tidur setelah mendengar suara bising alarm. Ia segera mematikan alarm itu dan duduk di sisi ranjang guna mengumpulkan nyawa yang masih berlarut di alam mimpi.
Saat keluar dari kamar dan hendak mandi, ia mendapati sosok pria dengan kemeja putih polos miliknya sedang membuat kopi.
"Jo? Kau sudah mandi?" tanya Matthew masih di daun pintu kamar.
"Sudah."
"Buat kopi lagi?" tanyanya lagi heran. Karena baru semalam, Jordan membuat sekaligus menghabiskan tiga cangkir kopi.
"Iya," jawab Jordan singkat. Ia asik dengan proses yang ia kerjakan sekarang.
Matthew mendekati Jordan dan kembali bertanya, "Hari ini kau jadi barista baru. Sudah paham semua yang kuajarkan, kan?"
"Iya."
Jordan menjawab singkat sambil melihat ke wajah Matthew. Tapi entah mengapa, mimik wajah Matthew seketika berubah. Ia segera membekap hidungnya dengan telapak tangan kanan, sedangkan tangan kirinya memukul pundak Jordan.
"Jordan! Mulutmu bau sekali! Kau tidak gosok gigi, ya?"
"Aku tidak paham caranya."
Biar bagaimanapun, sisi kepolosan Jordan harus dimaklumi oleh Matthew. Hal ini memaksa Matthew untuk mempraktekkan gosok gigi bersama Jordan. Mereka berdua harus gosok gigi bersama di wastafel.
Pria tajir itu tak segan-segan mengajarkan step by step gosok gigi yang benar. Sesekali Matthew berteriak kesal, karena cara Jordan yang harus dievaluasi terus-menerus, bahkan ia sampai nekat menggosokkan gigi Jordan, supaya Jordan bisa cepat paham. Begitu yang dipikirkannya.
Seusai kegiatan menggosok gigi yang sampai membutuhkan kurang lebih setengah jam, Matthew bergegas mandi dan berangkat ke kafe miliknya bersama Jordan.
Kafe Matthew dibuka setelah sekian lama. Mesin peracik kopi yang rusak, sudah diganti yang baru dan salah satu barista hari ini juga baru.
Itulah salah satu alasan yang membuat kafe lebih ramai dari sebelumnya.
"Permisi ..." ucap seorang perempuan berambut pendek yang berdiri di depan kasir.
"Ya? Mau pesan apa?" tanya Jordan yang juga berperan sebagai kasir.
"Aku mau pesan caramel latte," jawab perempuan itu dengan mata yang berbinar-binar, seolah melihat laki-laki di hadapannya seperti patung pahatan yang merupakan masterpiece dari seorang seniman hebat.
"Ada lagi, mbak?"
"Jangan panggil aku 'mbak'! Panggil aja pacar!" Dan perempuan itu mulai kehilangan akal.
"Oh iya, kamu asalnya dari mana?"
Perempuan itu terus bertanya, guna merayu Jordan tanpa jengah. Mungkin karena ketampanan Jordan telah membuat perempuan itu jatuh cinta pada pandangan pertama yang terlalu dalam.
"Alam semesta."
Mendengar jawaban Jordan, perempuan itu mengulas senyum dan berulang kali mengerjapkan mata dengan genit. Bukannya terdengar aneh, perempuan itu malah menganggap Jordan sedang bermain rayuan dengannya.
"Kamu sudah hidup berapa lama?"
__ADS_1
"Empat setengah miliar tahun."
Meski terdengar konyol, perempuan itu tetap menganggap bahwa Jordan sedang merayunya. Kemudian, ia membalas rayuan Jordan sambil menyelipkan helai rambunya ke belakang daun telinga, masih dengan gaya genit.
"Kalau begitu ... maukah kamu hidup denganku empat setengah miliar tahun lagi?"
"Hei! Cepatlah! Kau ga liat antrean ini panjang?" sindir salah seorang perempuan yang sedang menunggu di antrean bagian tengah.
"Sabar dong!" geram perempuan itu.
Memang faktanya, antrean pelanggan sejak pagi sudah sangat panjang juga lama. Entah karena menunya yang lezat atau karena si barista tampan, yang pasti hal itu menambah keuntungan kafe dan menguras banyak energi Jordan juga Felix—barista yang lain. Banyak perempuan mengulur waktu untuk sekadar merayu Jordan.
Sampai pada antrean orang terakhir. Kali ini seorang perempuan lagi. Dia bertanya lebih dulu, bahkan sebelum Jordan akan bertanya 'mau pesan apa?'.
"Kak, boleh minta nomor ponselnya?"
Jordan memasang wajah datar lalu menjawab, "Maaf. Aku tidak punya ponsel."
Perempuan itu tampaknya masih tidak mau menyerah. Dia bahkan menyipitkan mata hanya untuk melihat tiap inci wajah barista itu. Seolah-olah mencari celah kebohongan di wajah datar Jordan, setelah itu dia malah tertawa. "Bohong! Mana mungkin zaman sekarang orang ga punya ponsel!"
"Jadi, sebenarnya kamu mau pesan atau kutunjukkan pintu keluar?" tanya Jordan. Ia mengalihkan topik dan memberi penekanan di setiap katanya.
Perempuan itu mencebik tak puas. "Sok jual mahal banget, sih!" sindirnya sebelum bergegas pergi.
Barista Felix yang melihat adegan itu, berujar sambil tak berhenti tertawa, "Kau jahat sekali, sobat."
Jordan hanya terdiam. Ia sama sekali tak mengerti perbuatan jahat apa yang sudah ia lakukan.
"Jo, kalau kamu begitu terus, kafeku bisa dinilai jelek!" decak Matthew.
"Memang benar, kan, kalau aku tidak punya ponsel?" sahut Jordan datar, sambil membuat pesanan kopi, tanpa melihat wajah Matthew sedetik pun.
"Ya sudah. Nanti aku belikan."
"Tidak perlu. Aku tidak tertarik dengan barang duniawi."
_________________________________________
"Joseph!" panggil seorang gadis saat masuk ke kedai roti.
"Hai!" jawab Joseph dengan senyum sambutan yang hangat.
"Kamu lagi ngapain?" tanya gadis itu sambil melihat apa yang Joseph lakukan.
Mungkin gadis itu sudah tau apa yang sedang pria ini lakukan, tetapi dia hanya berbasa-basi untuk mencari topik utama.
"Lagi tata roti, nih. Aku harus menata roti ini dengan posisi sebaik mungkin," jawabnya tanpa beralih pandangan dari objek yang sedang ia susun penuh keseriusan.
Sebaliknya, gadis itu memang mengamati pria ini dari tadi, tatapannya tak pernah lepas sedetik pun dari gerak-gerik Joseph.
Dalam hati, dia bertanya-tanya, alasan hari ini Joseph telihat begitu antusias dan semangat, berbeda dari hari biasanya, seperti ada energi positif lain yang ikut mendorongnya. Karena gadis itu sudah tidak tahan dengan rasa penasaran, akhirnya dia memutuskan untuk bertanya kepada pria itu.
"Jo, tumben banget kamu semangat."
"Hah? Kamu ini gimana? Setiap hari, kan, aku semangat!" jawab pria itu dengan terheran-heran akan pernyataan Cayla.
"Ihh! Bukan! Maksudku hari ini lebih! Lebih-lebih dari biasanya!"
"Oh. Itu mungkin karena perkataan seorang gadis pada waktu silam," ungkap Joseph tetapi ia tiba-tiba saja tersenyum dan terkekeh mengingat kejadian beberapa hari lalu yang ia maksud.
Walaupun ia dalam keadaan terpuruk waktu itu, tetapi ia senang dapat menemukan seseorang yang menguatkan hatinya. Hal itu malah membuat Cayla semakin penasaran.
Mengapa dia tersenyum secara tiba-tiba bahkan tanpa melihatku sedikit pun? batin Cayla.
"Tiba-tiba senyum, kenapa tuh?" goda gadis itu sambil menyenggol siku Joseph dengan pelan, tetapi tentu godaan tersebut ada karena ia tiba-tiba merasa perasaan yang aneh di dalam hati juga pikiran.
Aku tahu kalian pasti sudah menebak rasa apa, kan?
"Beberapa waktu lalu aku sering merasa terpuruk. Lalu, entah dari mana asalnya, gadis itu datang berbicara kepadaku dan memberiku kekuatan," jelas pria itu untuk menghindari kesalahpahaman gadis ini.
Jangan salah mengira, Joseph bisa terbilang menjadi salah satu tipe ideal seorang pria. Ia memiliki rasa peka yang sangat dominan, apa karena mungkin dia sudah mengenal gadis ini sejak lama?
"Seorang gadis?" selidik Cayla dengan raut wajah penasaran.
__ADS_1
"Iya, setelah itu kami berkenalan dan mungkin sekarang sudah menjadi teman? Aku menganggapnya seperti itu."
"Siapa namanya? Ah, aku yakin pasti dia juga akan menganggapmu teman," tangkas Cayla untuk meyakinkan Joseph.
"Sarah. Dia memiliki keadaan yang tidak jauh berbeda sepertiku. Tapi anehnya, dia sangat bijaksana dalam menghadapi klimaks hidup. Aku salut padanya."
Raut wajah Joseph seketika menjadi sedih, entah mungkin karena dia juga paham akan keadaan gadis itu. Apalagi jika dibandingkan rasa sulit, gadis itu masih lebih berat dari padanya.
"Kenalkan padaku juga ya! Aku ingin melihatnya dan menjadi temannya juga." Cayla tahu perubahan raut wajah Joseph oleh sebab itu ia membawa suasana ini agar rasa sedih tidak menyelimuti pria ini lagi, lebih tepatnya untuk saat ini.
"Tentu, jika waktu mempertemukan kami lagi."
"Kayak berharap ketemu gebetan aja!" celetuk Cayla sambil memutar bola matanya malas.
"Haha. Kenapa? Kau cemburu ya?" balas Joseph sambil mengusap pucuk kepala Cayla dia merasa gemas dengan perilaku gadis ini. Namun seolah Cayla bersikap biasa saja dan tidak peduli.
"Tapi serius deh. Aku bertemu dengannya selalu kebetulan," lanjut Joseph lagi.
"Jo—"
Sebelum Cayla selesai menggenapkan ucapannya, pria itu malah memasukkan satu batang permen mint ke dalam mulutnya.
"Aku tau kamu hendak protes, rambutmu jadi sedikit berantakan, sini aku rapikan."
Joseph mulai mendekatkan tubuhnya dan merapihkan rambut Cayla dengan pelan, sesekali ia menjauhkan tubuhnya untuk melihat apakah tataan rambut gadis itu sudah rapih seperti sediakala.
Sedangkan Cayla? Gadis itu hanya membesarkan matanya ketika wajah pria itu berada sangat dekat dengan wajahnya. Bahkan Cayla baru sadar, kalau tinggi mereka tak jauh beda.
Dia ingin cepat-cepat keluar dari ruangan ini, bahkan pelipisnya sudah mengeluarkan beberapa air. Padahal jika dirasakan suhu di ruangan ini cukup dingin.
"Nah! Sudah rapi lagi," pungkas pria itu sambil menghela napasnya, dan tersenyum bangga karena telah menjadi seorang hair stylist selama beberapa menit.
"Cay? Halo?"
Ia melihat gadis yang didepannya ini masih memandang dirinya dengan tatapan terkejut, mungkin selama Joseph melakukan aktivitasnya, gadis ini sama sekali tidak berkedip bahkan dia menahan napasnya selama beberapa menit tadi.
"E ... eh iya?" Akhirnya gadis itu sadar juga.
"Kenapa? Kok tatapan kamu gitu?" tanya Joseph dengan niat jahilnya.
"Jo, apaan sih!"
Buru-buru gadis itu memukul lengan Joseph dengan keras, bukannya merasa sakit namun ia malah tertawa seperti digelitik ketika lihat wajah Cayla yang memerah.
"Pipi kamu merah, ga usah malu!"
"Pipiku merah karena musim panas ini sangat ekstrem!" bantah Cayla, akan tetapi pria ini malah tambah tertawa. Melihat hal itu, Cayla pun ikut merasa senang. Dia merasa bangga, sudah membuat pria itu tertawa.
Ting!
Terdengar suara pesan masuk dari ponsel Cayla, cepat-cepat ia mengambilnya dari dalam tas. Ternyata pesan itu dari managernya, ia memberitahu bahwa akan ada sesi pemotretan nanti siang. Karena hal itu, kini Cayla harus segera pergi ke studio pemotretan.
"Jo, aku kayaknya harus segera pergi. Akan ada sesi pemotretan nanti siang." Memang sangat disayangkan, jarang sekali mereka bisa bercanda bersama dalam jangka yang lama. Namun, Cayla juga tidak bisa meninggalkan pekerjaannya ini.
"Ga masalah, hati-hati ya!"
Joseph memberi salam perpisahan untuk Cayla. Sebelum Cayla pergi, Joseph mencuri waktu hanya untuk memeluk gadis di hadapannya. Hanya sekadar peluk persahabatan, karena mereka memang sudah kenal dari kecil. Dan akhirnya, gadis itu benar-benar harus pergi.
.
.
.
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡
Haiiii!!
Bagaimana kabarnya hari ini?
Stay healthy and safe ya!
__ADS_1
Semoga makin suka~(^з^)-♡