
Ting-Tong-Ting-Tong!
Tok-Tok-Tok!
"Tunggu sebentar!"
Cklek!
Pada pagi hari, Sarah siap memulai tahun barunya dengan bekerja di kafe milik Matthew. Dikarenakan suhu masih rendah, Sarah dan karyawan lainnya termasuk Jordan, memakai baju turtle neck sesuai perintah Matthew. Jordan bahkan senantiasa menghampiri gadis itu untuk mengajaknya berangkat bersama menaiki mobil Matthew.
Matthew juga tak segan-segan mengucapkan 'selamat tahun baru' pada calon karyawan di kafenya. Setelah semua siap memakai jaket, bertiga pun masuk dalam mobil, tapi posisinya tak seperti biasa. Jordan lebih memilih duduk bersama Sarah di belakang, sedangkan Matthew duduk di depan sendiri seperti seorang sopir yang membawa penumpang.
Sampailah mereka di tempat tujuan. Sang pemilik kafe langsung membuka pintu kafe dan membalikkan tulisan 'close' menjadi 'open'. Beberapa barista yang bekerja di sana juga datang dengan baju turtle neck hitam.
Sebelum mulai bekerja, semua pekerja dikumpulkan terlebih dahulu oleh Matthew. Ia mengenalkan Sarah sebagai pekerja baru kepada ketiga barista, kecuali Jordan yang sudah mengenalnya.
"Perkenalkan ini Sarah. Dia akan menjadi pramusaji baru di kafe ini mulai sekarang. Tolong kerja samanya, ya."
"Siap, Matthew!"
Meski Matthew berjabat sebagai pemilik kafe sekaligus pemimpin, tetapi ia tidak suka jika karyawan memanggilnya dengan 'bos' apalagi 'bapak'.
"Kau sudah paham cara jadi pramusaji, 'kan? Kau hanya tinggal memberi pesanan ke meja pelanggan," tanya Matthew sekaligus menerangkan.
Sarah mengangguk paham. Pasalnya gadis itu memang sudah pernah menekuni pekerjaan ini. Dia segera memakai celemek yang Matthew.
"Oke. Ayo semua semangat bekerja!"
Pada jam selanjutnya, pelanggan silih berganti datang. Tak jauh berbeda dari pengalaman bekerja Sarah sebelumnya. Dia juga menemukan watak pelanggan yang baik, ramah, judes, dan bawa perasaan. Namun itu semua dia terima dengan lapang dada.
Ah, tak ketinggalan, dia juga menyaksikan beberapa pelanggan wanita yang mencoba menggoda Jordan. Namun usut demi usut, tak kunjung Jordan hiraukan. Hal itu kadang membuat Sarah tertawa diam-diam ketika melihat wajah para wanita yang ditolak mentah-mentah oleh si pria barista. Jika niat mereka gagal, maka mereka coba menanyakan nomor telepon Jordan ke Sarah. Dengan segala akting, gadis itu keluarkan, guna membohongi penggemar dadakan Jordan, bahwa Sarah tak punya nomor teleponnya.
Sesekali gadis karyawan baru itu, memperhatikan Jordan. Dia merasa Jordan lebih dewasa saat berperan sebagai barista, dari pada perannya saat sebagai tetangga apartemen Sarah.
Seolah Jordan memiliki karisma dan daya tarik sendiri saat membuat kopi. Ada beberapa asosiasi wanita pun rela menghabiskan waktu mereka di kafe hanya demi melihat aura tampan dan keren si pria bulan.
Entah mengapa, Sarah tidak menemukan titik kagum untuk Jordan. Karena kalau di depannya, Jordan tetap tampak seperti anak kecil yang polos akut. Seperti misalnya ketika ia mengeluarkan jurus 'mengapa' dari mulutnya.
"Sarah, mengapa wanita itu punya bibir yang sangat merah?" tanya Jordan sambil melihat bibir salah satu pelanggan wanita.
"Itu riasan wajah. Wanita dan pria akan menggunakannya untuk terlihat lebih cantik dan tampan," jelas Sarah agak berbisik.
"Tetapi warnanya seperti cabai." Sepertinya Jordan tidak paham maksud Sarah berbisik. Padahal gadis itu berbisik supaya wanita yang mereka perbincangkan tidak mendengar julidan mereka. Namun dengan sikap tanpa rasa bersalah, pria itu bicara dengan suara lantang.
Tampaknya sang wanita menyadari tengah menjadi bahan julid dua karyawan itu, dia pun segera meninggalkan kafe sebab merasa malu. Melihat hal itu Sarah tak segan memukul satu kali bahu Jordan, meski hanya pelan, tetapi itu harus dilakukan.
"Jo, kamu ga boleh ngomong jahat tentang orang lain!"
Sementara Jordan hanya menatap penuh tanya, "Memangnya mengapa?"
Sarah menghela napas sebentar, dan membalas, "Kamu mau dibenci sama semua orang?"
"Tidak apa-apa. Asalkan tidak dibenci Sarah."
Jawaban Jordan yang melenceng dari topik, membuat Sarah sontak terkejut. Ia merasa bingung dan terus memutar pola pikirnya untuk mencerna setiap suku kata yang dikatakan Jordan.
Lamunan Sarah sukses diruntuhkan ketika tiga pelanggan baru saja datang meramaikan suasana kafe. Ketiga orang itu tampak sangat akrab dengan Matthew. Terutama gadis berponi yang tanpa canggung memeluk Matthew di tempat umum.
Apakah gadis itu kekasih Matthew? batin Sarah.
__ADS_1
Matanya yang sejak awal menatap lekat, kini teralihkan pada seorang gadis cantik yang juga tampak tidak asing. Dan ternyata gadis itu....
"Cayla?"
"Loh?! Sarah?! Kamu kerja di sini?!"
Benar. Gadis itu Cayla. Tak disangka, mereka kembali bertemu.
"Iya. Ini hari pertamaku," ujarnya sambil tersenyum dan menggaruk tengkuk.
"Oh gitu. Sudah ketemu bibimu?"
Tujuan awal Sarah lagi-lagi ditanyakan oleh Cayla yang bahkan dia sendiri sempat lupa. Tetapi sebelum Sarah menjawab, seorang barista sudah menimpa dengan pertanyaan.
"Mau pesan apa?" Adalah Jordan yang mengalihkan pembicaraan kedua gadis itu.
"Ah, aku mau pesan ...."
Cayla berpikir keras seraya memegang dagu dan beberapa kali mengedarkan pandagannya pada menu yang terpampang di layar monitor. Dia sepertinya tak menemukan menu yang sesuai dengan keinginannya hari ini.
"Hm... aku pesan satu Hot Matcha Latte dan dua Hot Caffe Affogato."
"Baik. Ditunggu ya! Nanti akan Sarah bawa," pungkas Jordan sambil mengutak-atik pesanan di layar monitor. Hingga mengeluarkan secarik kertas bon.
Jordan mengambil bon itu dan menyebut jumlah harganya. Tanpa pikir panjang, Cayla mengeluarkan kartu kredit dari dompet merah miliknya. Kemudian diberi ke Jordan sebagai bayaran.
Sesudah itu, Cayla kembali ke tempat duduk. Di sana sudah ada Haeya yang duduk bersebelah dengan Matthew. Sedangkan Joseph masih menunggu Cayla untuk duduk di sampingnya.
"Cay, gadis itu Sarah, 'kan?"
Joseph sesekali mencuri pandang pada gadis pramusaji di kafe itu yang mengingatkan ia pada Sarah.
Cayla mengangguk seraya menaikkan alis, sebagai jawaban benar. Rupanya Jordan memiliki ingatan kuat tentang Sarah. Ia bahkan tak pernah bisa lupa tiap detik pertemuannya dengan gadis itu yang bagai direstui takdir.
"Jadi gini, temanku yang namanya Jordan, sudah tinggal denganku sejak bulan Juli. Nah, kebetulan dia juga barista yang andal di kafeku. Tuh orangnya!" kata Matthew sambil menunjuk ke arah pemuda yang dimaksud.
"Terus, pas aku ke apartemen kalian, Jordan ini jatuh dan dibantu oleh Sarah. Karena aku melihat gadis itu seperti orang merantau, jadi kutawari aja flat dan pekerjaan di sini," lanjutnya tanpa jeda.
Kemudian Joseph menambahkannya, "Ya memang. Dia pergi dari California bersama kami. Terus dia pergi untuk bertemu bibinya di sini."
"Ah, dia datang."
Gadis pramusaji yang baru saja jadi buah bibir datang. Membawa beberapa menu pesanan Cayla tadi dengan nampan besar. Bibirnya bertengger senyum tulus dan setiap langkah kakinya sangat hati-hati.
"Halo Joseph, Haeya!" sapa Sarah.
"Halo Sarah!" balas Joseph penuh riang.
"Hai!" balas Haeya, tampak biasa saja.
Tanpa segan-segan, Joseph langsung mengambil pesanan mereka yang dibawa gadis itu dengan nampan. Niatnya sekadar membantu Sarah, dan diterima baik olehnya.
"Terima kasih," ujar mereka bersamaan.
Saat itu juga Sarah menuju meja lain yang sudah ditinggalkan pelanggan. Dia dengan telaten membersihkan meja menggunakan kain waslap dan membawa beberapa cangkir kosong peninggalan pelanggan.
"Kalian mengenal Sarah?" tanya Matthew. Ia terlihat nyaman merangkul sang kekasih disebelahnya.
"Ya. Aku mengenalnya dari bocah ini," jawab Cayla seraya mengangkat dagunya ke arah Joseph.
__ADS_1
Sambil meminum Hot Coffee Affogato, pria itu berseru, "Iya! Dia temanku."
Lalu Matthew hanya mengangguk tanda paham. Ia juga menambahkan beberapa opininya tentang Sarah. "Dia sepertinya baik dan agak lugu."
"Memprioritaskan orang lain, padahal dirinya lebih sulit, itulah sisi baik yang kulihat dari Sarah," puji Joseph.
"Kau berkata seperti sudah mengenalnya sangat lama," sindir Cayla.
"Tapi emang gitu kok orangnya!"
"Iya-iya."
Katakan saja Cayla cemburu, tetapi bukan berarti dia benci Sarah yang terus dipuji oleh Joseph. Memang sebenarnya di mata dia pun, Sarah merupakan gadis rendah hati dan penyabar, maka dari itu Cayla harus mengakuinya.
Sementara Sarah yang berada di dapur kafe, --jauh dari tempat mereka berempat-- mendadak bersin berulang kali. Kemudian dalam batin bertanya-tanya apa ada sekelompok orang di luar sana yang sedang membicarakan hal-hal jelek tentang dirinya.
"Kau sedang apa, Sarah?"
Adalah Jordan yang bertanya ketika masuk ke dapur. Wajah bingung ia tunjukkan ketika melihat Sarah bersin-bersin.
"Hanya bersin."
"Apa itu bersin?"
Ah, lagi-lagi Jordan melempar tanya yang gadis itu juga tidak tahu harus jawab apa. Untung saja, salah satu barista lainnya senantiasa bantu menjawab, "Bersin itu semburan udara atau lendir secara tiba-tiba yang keluar dari mulut dan hidung. Bersin terjadi jika hidungmu gatal."
Begitu penjelasannya. Ia juga mengulurkan tangan pada Sarah dengan niat berkenalan.
"Hai Sarah! Kita belum sempat kenalan. Namaku Felix."
Sarah tersenyum, kemudian membalas uluran tangan pemuda itu. "Iya, aku Sarah. Mohon kerja samanya."
Setelah saling mengenal, Felix kembali ke meja bar untuk melayani beberapa pelanggan yang sudah mengantre. Pun meninggalkan Sarah dan Jordan di dapur.
"Jo, kamu, kan, punya ponsel yang canggih. Nah, ponsel itu bisa kamu gunakan bukan sekadar foto-foto lho, tapi bisa untuk mencari informasi. Jadi, kalau kamu tidak mengetahui sesuatu, supaya kamu ga kelihatan aneh atau lebih tepatnya bodoh, kamu bisa mencarinya lewat internet."
Bukannya Sarah jahat, tetapi Sarah harus menjelaskan ini semua, agar kedepannya Jordan tidak terus-menerus menyusahkan orang lain dengan menjadi pewawancara dadakan.
"Aku tidak tahu caranya."
"Berikan ponselmu!"
Atas intruksi Sarah, pria itu segera mengambil ponselnya dari saku celana dan menyerahkan pada Sarah.
"Kamu pencet aplikasi warna putih ini, dan ketiklah sebuah pertanyaan yang kamu tidak ketahui," jelasnya.
"Jo! Tapi kamu bisa membaca, mengetik dan menulis, 'kan?!"
"Aku tidak sebodoh itu, Sarah."
"Hufftt. Baguslah. Semoga kamu semakin pintar. Ya sudah, ayo kembali bekerja!"
Entah ejekkan, entah harapan, mungkin gadis itu akan rindu kepolosan Jordan, apabila ia sudah mengetahui segalanya mengenai hal duniawi.
.
.
.
__ADS_1
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡