
Aku kegelapan dan kau cahaya di malam hari
Kau bagai kunang-kunang dan aku hutan belantara
Kau tahu? Bagiku kaulah teka-teki kehidupanku sesungguhnya
Saat aku berusaha memecahkannya
hanya membuat semakin sulit dan aku melayang bersamaan dengan harapan tanpa kemungkinan.
Sarah, 31 Desember 2016.
_________________________________________
Duaarr-Duaarr!!
"Selamat tahun baru semua!"
Sorak-sorak ramai menyambut tahun baru. Malam ini juga dimeriahkan kembang api besar yang menghiasi cakrawala gulita. Begitu pun keempat orang yang sejak awal sudah memakai pakaian hangat dan bermain petasan. Mereka tampak menikmati setiap detik pergantian tahun.
Seiring itu, Matthew sudah menyiapkan dua tenda dan perlengkapan memanggang. Pasalnya rencana malam ini mereka berpiknik di luar. Suhu sudah terbilang tidak ekstrim lagi, jadi tak ragu untuk menghabiskan waktu dengan piknik.
"Jo! Mau lagi dong BBQ-nya!" teriak Haeya dari dalam tenda.
Joseph dan Cayla memanggang bersama. Sedangkan Matthew dan Haeya menikmati waktu berduanya di tenda. Jangan berpikir macam-macam! Mereka hanya duduk dan saling cerita. Sesekali pasangan baru itu juga melempar tawa.
"Cay, temen kamu tukang tidur, tukang makan, tapi masih ada yang mau sama dia."
Meski Joseph sedang memanggang, dia masih sempat-sempatnya julid perihal Haeya. Pria itu memang memiliki sifat ringan mulut. Dia tidak akan berpikir dua kali untuk mengucap sumpah serapah pun.
"Jangan begitu! Biar bagaimanapun, dia anaknya baik kok. Kamunya aja yang belum kenal deket."
Rupanya Cayla membela si sahabat. Dia masih fokus dengan kegiatannya yaitu mengoleskan bumbu pada daging sebelum akhirnya di panggang.
Joseph hanya mendengus kasar. Ia mengerucutkan bibirnya sebagai bentuk kekesalan. Setelah beberapa daging yang dipanggang itu matang, ia mengambil piring besar untuk ditaruhnya daging BBQ tersebut.
"Nih. Kasih tuh buat temen kamu!" suruhnya dengan bernada kesal.
Lantas gadis itu dibuatnya tertawa. Ia tak nampak bersalah, dan langsung meraih piring itu. Tanpa mengulur waktu lagi, ia menghampiri sepasang kekasih yang berada di tenda dan gabung bersama mereka.
Joseph yang sedari awal sibuk memanggang, akhirnya ikut bergabung juga setelah semua daging BBQ matang dan siap disajikan. Kali ini tak hanya satu piring, tapi sampai tiga piring besar.
Dalam tenda, seorang gadis cantik itu melepas sarung tangannya. Ia mengambil gitar lalu memetik satu persatu senar hingga menghasilkan alunan suara. Malam ini jadi terasa lebih indah dan lengkap ketika mereka semua bernyanyi dengan nada yang seiring permainan musik Cayla.
I have died everyday, waiting for you🎶
Darling, don't be afraid🎶
I have loved you for a thousand years🎶
__ADS_1
I'll love you for a thousand more🎶
And all along I believed, I would find you🎶
Time has brought your heart to me🎶
I have loved you for a thousand years🎶
I'll love you for a thousand more🎶
Begitulah lagu yang mereka nyanyikan. Senyum dan peluk menjadi wakil rasa syukur mereka atas kebersamaan ini. Malam ini menjadi saksi bisu rasa bahagia mereka. Dan pergantian tahun ini menjadi bukti relasi yang indah.
"Awal januari, suhu sudah mulai naik. Kafeku akan mulai beroperasi lagi mulai hari ini. Gimana kalau pagi ini kita langsung ke kafeku?" tawar Matthew.
"Gratis, kan?" Dari pada disebut bertanya, perkataan Joseph lebih mengarah ke meminta.
"Gratislah! Yang baru jadian harus kasih kita pajak!" timpa Cayla.
Haeya dan Matthew saling bertatapan. Seolah sedang satu frekuensi batin untuk mengambil keputusan. Tapi hal itu tidak jadi perkara bagi si pria tajir asal Texas.
"Baiklah. Apapun untuk kalian dan gadis pujaanku," jawab Matthew, berhasil membuat Haeya tersipu malu.
_________________________________________
Kita beralih ke dua insan lainnya. Tidak ada kembang api, tidak ada petasan, tidak ada daging, tidak ada musik, tidak ada tenda, hanya duduk bersama di taman yang menjadi awal pertemuan mereka. Dan tak lupa disuguhkan dua cangkir kopi hangat yang tentunya buatan Sarah atas permintaan Jordan.
Sebenarnya langit penuh hiasan kembang api, tapi mereka tidak mencobanya. Hanya memandang hujan kembang api.
Ia memotret setiap detik kembang api di langit malam. Melihat itu, Sarah jadi bingung dengan jumlah memori ponsel Jordan yang sampai bisa menyimpan banyak foto. Mungkin kalau dihitung, sudah lebih dari seribu foto tiap harinya. Sebab, Jordan bukan photografer bertipikal pilih-pilih objek yang akan dipotret. Semua objek yang menurut ia menarik, tanpa pikir panjang akan disimpan dalam bentuk gambar. Pria itu juga sempat melontarkan beberapa pertanyaan pada gadis yang duduk di sebelahnya.
"Sarah, cahaya itu apa?"
"Itu namanya kembang api."
"Kembang itu apa?"
Sarah terdiam sebentar. Dia butuh waktu untuk mencari jawaban dari pertanyaan Jordan. Yang dia tahu, kembang itu sinonim dari bunga.
"Bunga?" jawab Sarah sepenuhnya tak yakin.
"Bunga?" Dan Jordan mengulang pertanyaan yang sama.
"Iya. Kalau dilihat, bentuknya seperti bunga yang berada di langit," sambung gadis itu seratus persen asal.
"Tapi ... bunga itu apa?"
Mendapat pertanyaan dari Jordan, kali ini Sarah menepuk dahinya juga menghela napas berulang kali. Sepolos-polosnya Jordan, akan sangat keterlaluan kalau bunga saja tidak ia ketahui.
"Kau tidak tahu bunga?!" tanya Sarah untuk meyakinkan dirinya sendiri. Jordan pun menggeleng cepat.
"Ya sudah. Aku akan memberi tahumu saat musim semi tiba."
__ADS_1
"Musim semi?"
"Ya. Bunga-bunga akan bermekaran saat musim semi."
Menit selanjutnya, gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Mengingat besok akan jadi hari pertama Sarah bekerja di kafe Matthew, dia tidak boleh sampai telat bangun.
"Eh? Sarah mau kemana?" tanya Jordan lagi.
"Kembali ke apartemen. Ini sudah dini hari tahu! Kita juga butuh tidur untuk bekerja besok."
Pria itu pun melaraskan langkah kaki mereka. Ia menyimpan ponselnya ke saku celana dan kembali menyeruput cangkir kopi yang ia pegang.
"Aku tidak tidur, Sarah."
Saking terkejutnya, Sarah membuka lebar kedua mata dan menutup mulutnya dengan punggung tangannya. "Hah? Beneran?"
Jordan mengangguk. "Iya, Sarah."
Tunggu. Baru Sarah sadari, bahwa akhir-akhir ini pria itu selalu menyebut namanya. Sarah pikir, dia sudah melupakan namanya saking cuek dan dingin. Bukannya Sarah mau berspekulasi buruk, tapi hal ini memang di luar dugaan. Di sisi lain, Sarah juga menganggap itu hal yang bagus untuk semakin akrab.
Barusan Sarah mendapat informasi baru lagi perihal sang pria bulan yang tidak tidur. Dia jadi lebih penasaran dan ingin mengetahui lebih dalam latar belakang Jordan.
"Sarah."
"Hm?"
"Mengapa kembang api tidak terlihat seperti api? Mengapa langit tidak terbakar? Mengapa dinyalakan saat tahun baru saja?"
Mengapa, mengapa dan mengapa, selalu dilontarkan dengan lantang kepada gadis itu. Padahal gadis itu sendiri tak tahu jawaban yang ia beri itu benar atau salah.
Jordan mengantar Sarah sampai ke flatnya. Ia memastikan gadis itu benar-benar selamat sampai menutup pintu. "Selamat tahun baru, Sarah." Begitu yang Jordan katakan.
"Eh? Kau tahu tahun baru?"
Sarah pikir, si pria bulan tak mengetahui makna tahun baru. Oleh karena itu, dari tadi Sarah tidak mengucapkan 'selamat tahun baru' kepada Jordan.
"Mana mungkin Bulan tidak tahu pergantian tahun," ujarnya.
"Oh gitu. Selamat tahun baru juga. Sini berikan cangkirnya!"
Kopi buatan Sarah sudah habis. Pria itu harus mengembalikan cangkirnya kepada sang pemilik.
"Dah!" seru Sarah lalu menutup pintu.
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡