NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[44 : Bukan Prioritas]


__ADS_3

Memasuki bulan Agustus, menjadi puncak dari suhu panas Amerika Serikat. Hari ini menyambut pagiku dengan sangat baik. Sang fajar tak lupa terbangun guna menyinari semesta. Suasana perkotaan sangat ramai, mengingat hari ini akhir pekan. Aku berjalan begitu santai. Menerka angin sepoi-sepoi yang sedikit memberantaki rambut panjangku.


"Sudah kubilang! Sarah jadi lebih cantik dengan rambut panjang!" seru Jordan begitu bangga.


"Ini terpaksa karena keinginanmu. Sebenarnya aku juga risih memanjangkan rambut, apalagi saat musim panas!" celetukku, masih bernada santai.


Jordan mendesah keras sembari menarik-narik leher kaosnya. "Sudah, ayo cepat jalannya! Aku kepanasan, tahu!" Ia menggenggam tangan kananku. Sementara tangan kiriku memegang kotak berisi kue ulang tahun.


Kami mengambil langkah menuju kediamanku. Di sana, sudah ada Joseph dan Matthew yang menunggu. Sebenarnya ini akalku untuk merayakan ulang tahun Cayla yang jatuh pada hari ini tepat tanggal 1 Agustus, walaupun hanya kecil-kecilan saja di rumahku. Sebab selama ini, gadis itu sudah membantu banyak bahkan dengan tulus.


Meski kami sebatas teman, tidak ada salahnya merencanakan ini sebagai bentuk rasa terima kasihku.


Aku, Jordan, Matthew dan Joseph sudah menunggu kurang lebih setengah jam. Namun masih tidak ada tanda-tanda kehadiran sang gadis yang bertambah usia hari ini. Kesenanganku menjadi gelisah, padahal aku sudah mengirim lokasi rumahku yang tepat. Hingga menit berikutnya, terdengar suara bel intercom.


Ting-Tong-Ting-Tong!


"Apa ini kediaman Sarah?"


Kami semua segera mengecek rekaman kamera bel yang menampakkan seorang gadis cantik dengan rambut terikat. Ya, akhirnya Cayla datang.


"Aku akan membukakan pintu, dan kalian langsung bernyanyi, ok?" Perintahku dibalas acungan jempol dari kedua lelaki itu, kecuali Jordan, dan aku bersiap membuka pintu.


Cklek!


"Selamat ulang tahun~


Selamat ulang tahun~


Selamat ulang tahun Cayla~


Semoga panjang umur~"


Tentu reaksi perdana adalah keterkejutan, secara ini memang kejutan yang kami buat tanpa sepengetahuan Cayla. Dia mengedarkan matanya pada satu persatu penghuni. Ada Matthew yang tersenyum sambil tepuk tangan, ada Jordan yang memberi tatapan datar tetapi ikut bertepuk tangan, dan Joseph yang memegang sebuah kue beserta lilin menyala di atasnya.


"Terima kasih!" ucapnya haru, mendadak memelukku. Aku pun membalas pelukannya.


"Hei Cayla! Kenapa hanya berterima kasih pada Sarah? Kami juga merencanakan perayaan ini!" sindir Matthew, menautkan kedua alisnya.


Cayla meloloskan dirinya dari pelukan. Lalu menghampiri Matthew. "Dasar bodoh! Bayar dulu utangmu padaku!" suruhnya seraya menaruh telapak tangannya, tepat di wajah Matthew.


Yang ditagih hanya tersenyum gigi dan menggaruk tengkuk. Kalau saja bisa, ia akan menarik kata-kata sindirannya supaya tidak ditagih utang sama Cayla. Beruntung, Joseph sudah menyela pembicaraan duluan, "Sudahlah, Cay! Tiup kuenya dan make a wish!" suruhnya bernada lembut pada sang sahabat sekaligus pujaan hati.


"Kebiasaan. Bukan kue, tapi lilinnya yang ditiup," ralat Cayla dengan tatapan jengkel.


Dia kemudian menutup mata dan mengatupkan kedua tangan. Entah apa pun wish milik Cayla, kurasa itu sangat privasi dan penting, hingga membuat matanya secara tidak sadar menitihkan bulir bening. Selepas itu dia baru meniup lilin, di saat bersamaan kami memberi tepuk tangan.


Kini waktunya untuk makan siang, aku sudah menyiapkan beberapa makanan yang tak hanya dari Amerika, seperti Gimbab, Kebab, Spagetti, dan ayam tepung. Joseph juga rela membeli Dimsum lantaran makanan kesukaan Cayla. Dan Matthew membawakan beberapa soda. Kami kembali melahap makanan, sesekali terlontar gurauan yang menghasilkan gelak tawa. Jangan tanyakan apa yang Jordan lakukan! Tentu saja ia duduk di sofa sambil menonton televisi dengan kipas yang menyala.


"Sarah, bagaimana kau tahu aku suka Dimsum?" tanya gadis itu dengan mata berbinar-binar sambil melahap Dimsum.


Aku mengerjap bingung. Pasalnya Dimsum itu bukan aku yang bawa, melainkan Joseph. Akan tetapi pemuda yang duduk di samping Cayla itu malah menatapku tajam, seolah mengisyaratkan, 'Jangan bilang aku yang bawa!' Tatapannya kian menajam kala aku masih terdiam.


Sesuai intruksi batin Joseph, aku pun pasrah harus berbohong. "Ah ... aku hanya menebak," ucapku sambil menggaruk tengkuk tak gatal. Lalu Joseph diam-diam memberiku acungan jempol, padahal ia menyuruhku berbicara kebohongan.

__ADS_1


"Seharusnya kalian ga usah repot-repot begini," ujar Cayla.


Masih berpaku pada piring makan, Joseph membalas, "Ga membuang banyak uang, kok."


Dengan kompak kami beralih tatap ke Joseph. Kuriositas Cayla seolah menaik, karena perkataan pemuda itu yang tergolong sensitif.


Beruntung, Matthew yang duduk di sampingku mulai meruntuhkan suasana canggung ini. "Kau tidak merayakan ulang tahun bersama keluargamu?"


Gadis itu mengangguk tak acuh. Kemudian menghela napas. "Ya, dirayakan nanti malam. Tapi rasanya mau cepat-cepat berganti ke hari besok," ungkapnya.


"Kenapa? Kau bertengkar dengan orang tuamu?" Kali ini Matthew yang banyak bertanya layaknya pewawancara. Sementara aku dan Joseph tetap bungkam seribu bahasa.


"Engga," jawabnya singkat. "Haruskah kita pergi ke suatu tempat? Rasanya aku ingin karaoke." Seketika Cayla memberi saran, kami dengan kompak saling melempar tatapan lalu menyetujuinya.


_________________________________________


Author POV


(Adele-All I Ask)


"I will leave my heart at the door~♪


I won't say a word~♪


They've all been said before~♪


So why don't we just play pretend~♪


Like we're not scared of what's coming next~♪


Now, don't get me wrong~♪


I know there is no tomorrow~♪


All I ask is~♪


If this is my last night with you-~♪"


Pelantun perempuan di depan sana tengah asik bernyanyi satu lagu penuh. Sambil bergerak ke kiri dan kanan, dia tak malu-malu mengerahkan seluruh kemampuan falsetnya. Sementara yang lain hanya duduk menyaksikan nyanyian Cayla.


Jordan yang duduk di samping Sarah, malah menutup kedua telinganya rapat-rapat menggunakan telapak tangan, padahal suara Cayla bisa dibilang tidak begitu buruk. Ia berkata, "Seharusnya Sarah saja yang menyanyi. Aku takkan menutup telinga."


Sarah tak henti memainkan dua marakas kecil lalu terkekeh pelan. "Biarin aja! Dia 'kan, hari ini sedang berulang tahun," belanya.


Ia menoleh ke wajah Sarah. "Ulang tahunku kenapa tidak dirayakan?" tanyanya, memasang wajah melas.


"Umurmu aja udah miliaran tahun, ga perlu dirayakan!" elak gadis itu tanpa melihat lawan bicaranya, seperti sedang menyembunyikan sesuatu.


Sedangkan di sisi lain, ada dua pria yang berdiri sembari memperhatikan Cayla yang masih melanjutkan nyanyian. Laki-laki bermarga Julian itu sesekali melirik ke arah Joseph yang memainkan tamborin guna meriahkan keberlangsungan karaoke. Kemudian Matthew mendekati Joseph. Namun Joseph tidak sadar, ia terus tersenyum menatap Cayla, yang heboh bernyanyi di depan mereka.


"Kenapa kau merahasiakannya?"


Pertanyaan Matthew sedikit berbisik. Dan entah apa alasannya, Joseph tidak merasa kaget.

__ADS_1


"Aku ga yakin, apa aku pantas mencintainya. Aku ragu bisa membahagiakannya, meski sudah menyatakannya." Joseph menjawab tanpa sedetik pun mengalihkan pandangan dari Cayla yang masih sibuk melantunkan lagu-lagu Amerika.


"Kalau kuperhatikan ... Cayla juga mencintaimu," opini si ahli percintaan.


"Ga perlu mengajariku. Hubunganmu sama gadis itu saja, berakhir tragis." Sindiran keras mendarat dari mulut Joseph untuk Matthew. Beruntung ia sudah melatih kesabaran ekstra dalam menghadapi sifat orang-orang yang menyebalkan seperti Jordan dan Joseph.


"Gini-gini, aku lulusan S3 Harvard jurusan percintaan, tahu!" gurau Matthew.


"Hei, Sarah! Ayo kita bernyanyi bersama!" Tanpa aba-aba Cayla menarik tangan Sarah ke depan. Lalu memberi satu mikrofon kepadanya.


Sarah tahu lagu Barat satu ini, meski sudah jadul, tetapi sangat nikmat. Mereka berdua pun nyanyi bergantian.


Ekspresi mereka semua sudah cukup menunjukkan rasa kagum pada suara merdu Sarah. Mungkin karena Cayla sadar suaranya tak cukup bagus, lantas dia berhenti dan membiarkan gadis itu yang bernyanyi.


Jordan pun tak perlu lagi menutup telinganya. Begitu pula Matthew dan Joseph yang terus melihat dengan tatapan terpukau, sebab selama ini mereka tidak tahu Sarah memiliki suara yang bagus.


(Jason Mraz-I'm Yours)


Well, open up your mind and see like me~♪


Open up your plans and damn you're free~♪


Look into your heart and you'll find love, love, love, love~♪


Listen to the music of the moment, people dance and sing, we're just one big family~♪


And it's our God-forsaken right to be loved, loved, loved, loved, loved~♪


Secara diam-diam, ada seseorang di antara mereka yang memotret sekaligus merekam gadis itu. Di saat bersamaan, senyumnya mengembang dan lesung kedua pipinya semakin tercetak.


_________________________________________


Sementara di kediaman Cayla.


"Sayang, kau belum tidur?" tanya Cassandra kepada seorang lelaki paruh baya yang sedang duduk di kursi makan.


Cassandra kemudian menghampiri lelaki itu yang merupakan sang suami, bernama Jackson. Jackson terlihat resah lantaran menunggu kehadiran putrinya yang sampai larut malan begini belum pulang. Padahal Jackson sudah membeli Matcha Cake dan Dimsum kesukaan Cayla.


Ia ingat sekali, semenjak ulang tahunnya tahun lalu, Cayla tak ingin lagi dirayakan besar-besaran. Cayla hanya ingin perayaan sesederhana mungkin, maka Jackson senantiasa mengabulkannya. Niat awal Jackson berencana merayakan ulang tahun Cayla tadi pagi, tetapi tampaknya sang putri sudah memiliki rancangan bersama kawan-kawannya.


Maka dari itu, Jackson memutuskan untuk merayakan pestanya saat malam saja, ketika Cayla pulang. Namun sampai sekarang juga, putri mereka tak kunjung kembali. Tentu kekhawatiran sekarang menjajah perasaan kedua orangtuanya, serta para pelayan rumah. Bahkan petugas keamanan di rumah itu terus memantau kehadiran Cayla, tetapi nihil.


"Apakah ... dia tidak menginginkan aku sebagai ayah angkatnya?" gumam ayah Cayla merasa miris.


Cassandra yang masih bisa mendengar ucapan Jackson, ikut merasa simpati. Dia beberapa kali mengelus kedua pundak suaminya yang sedang duduk dan memeluk dari belakang. Cassandra pikir, walaupun Cayla hanyalah anak adopsi, biar bagaimanapun mereka tetap menyayangi Cayla seperti anak kandung sendiri. Ah, mungkin ini terdengar klise, tetapi Jackson dan Cassandra sama seperti orangtua lain yang berharap bisa membangun keluarga bahagia, 'kan?


_________________________________________


Bapanya Cayla udah beliin dimsum sama Matcha Cake kesukaan Cayla, terus nungguin Cayla nya lama huhu ╥﹏╥


Oh iya, ada yang komen, “Kasian Matt, dihujat terus:((”


Mon maap, aku malah ngakak (ಥ_ಥ).

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2