
FLASHBACK ON
Kembali pada tahun 2012, di mana Cayla menginjak usia 17 tahun dan Joseph berusia 14 tahun.
"Kak Cayla, aku akan ajak kakak ke taman bermain lagi!"
Laki-laki remaja itu berseru pada seorang gadis cantik yang lebih tinggi darinya. Kemudian Cayla remaja melipat tangan di depan dada sambil berdecak, "Nggak mau! Kamu aja malah ketakutan sampai teriak-teriak histeris!"
"Itu ... bukan karena aku takut, tahu!" balas Joseph pura-pura.
"Kamu ga pandai berbohong. Aku tahu itu," debat Cayla.
Tak lama laki-laki remaja itu menundukkan kepala. Ia meremas celananya guna menutupi kegugupan. "Daripada takut saat menaikki wahana .... Aku lebih takut kalau kakak akan pergi," ungkap Joseph lalu menyeka sudut matanya yang basah.
Cayla remaja itu menghela napas. "Astaga kau ini! Jangan bersedih, walaupun kita berpisah nanti pasti suatu hari kita akan bertemu lagi! Dan itu pasti!" Cayla mengusak rambut Joseph dengan gemas.
"Aku serius tahu!" Merasa tak dianggap serius, Joseph menyilangkan kedua tangannya di depan dada sebagai tanda kesal.
"Aku juga serius, memangnya aku ngelawak?" Sang gadis menatap nanar. "Bagaimana kalau kita membuat janji?"
"Huh? Janji apa?"
"Hmm, apa ya?" Cayla mengusap dagunya kebingungan. "Kalau kamu mau janji apa?"
"Aku? Aku ingin kakak selalu bersamaku ... selamanya," suara Joseph memelan di akhir.
"Oww, kamu ini udah seperti orang dewasa, tahu!" Cayla terkekeh dengan janji yang diucapkan Joseph, di saat remaja saja, ia sudah bisa mengucapkan janji yang terbilang mempunyai konteks serius.
Ekspresi Joseph remaja jadi malu. Tangannya mulai berkeringat dan telinganya memerah. Lucu sekali.
"Sekarang gantian! Apa yang ingin kakak janjikan?"
"Terus berbahagia, apa pun yang terjadi kamu dan aku harus terus bahagia!" Penuh yakin Cayla memberi jari kelingkingnya di depan Joseph, berharap laki-laki itu membalas janjinya. Walaupun Joseph lambat untuk mengakui janjinya secara resmi, tetapi ia membalas tanda perjanjian mereka. Ya, mereka berharap di malam ini bersama semesta dan rembulan telah menjadi saksi atas janjinya.
"Oh, iya, ada satu lagi! Di masa depan ... entah apa yang terjadi, jangan pernah kakak menangis. Pegang janji kakak baik-baik, ya!"
"Dasar anak kecil! Mana mungkin aku menangis untuk hal sepele." Cayla membuat ekspresi sok jagoan.
"Padahal aku tahu kakak anak yang cengeng, huuu!" Joseph memajukan bibirnya sekaligus mengejek Cayla. Melihat Cayla hendak diselimuti rasa kesal, anak laki-laki itu segera berlari meninggalkannya.
Dan Cayla tentu tak bisa tinggal diam. "Hey! Awas kau anak kecil!"
Malam itu terasa lebih terang. Bintang dan Bulan tampak jelas, ditambah gelak tawa dari kedua remaja yang baru saja membuat janji mereka masing-masing. Satu pihak benar-benar menginginkan bahwa orang itu memegang janjinya dan menepatinya suatu hari nanti, tidak ada janji yang boleh teringkari.
FLASHBACK OFF
"Hahhhhh .... Aku bahkan membuat dua janji saat usiaku masih kekanakan."
__ADS_1
Terbeset memori masa kecil yang saling berkejaran, seketika Joseph menghela napas. Di waktu bersamaan, ia tengah membuat adonan kue, tetapi tampaknya ada yang salah dari bentuk adonan tersebut.
"Woi! Woi! Kau buat adonan atau bubur, hah?!" Mark sukses membuyarkan lamunan Joseph.
Lantas pemuda ber-Toque itu menunduk pada baskom stainless steel di atas meja. Ia mendapati campuran tepung dan telur yang menggenang seperti bubur. Ya, maklumi saja, fokus Joseph kerap kali terjajah oleh satu-satunya gadis pujaan.
Tatapan intimidasi dilayangkan oleh Mark. Joseph mencoba memberikan cengiran terbaiknya yang sebenarnya ditujukan untuk menutupi rasa bersalah.
"Dari tadi ga fokus, cuci muka sana!" suruhnya menuntut. Mark mengambil alih baskom yang berisi adonan gagal tersebut untuk dieksekusi.
Sebelum mengambil langkah menuju toilet, Joseph kembali pada posisi semula. Ia menatap Mark lalu bertanya, "Jadi, temenku itu suka sama sahabatnya sendiri, tapi saat ditembak, sahabatnya itu nolak. Padahal mereka saling suka. Nah, pertanyaannya kenapa sahabat itu menolak?"
Mark mengernyit. "Ini kuis apa gimana?"
"Bukan," sergapnya. "Aku hanya bertanya." Joseph memperbaiki Toque-nya, dan sesekali menghindari tatapan lawan bicara.
Sudah dipastikan pemuda itu tak pintar menutupi kebohongan. Bahkan sejujurnya Mark pun tahu bahwa itu bukan kisah temannya tetapi kisah Joseph sendiri.
"Kalo sahabatnya nolak," Mark mengelus dagu, "bisa jadi karena dia lebih merasa nyaman dengan status sahabat."
"Apa ada alasan lain?"
"Alasan lain?" Mark bingung.
Joseph mengangkat bahu. "Ya, seperti level, mungkin?"
"Bisa aja, sih," sahut Mark tidak pasti. "Tapi kalo bener-bener cinta, ga mungkin cuman karena level. Bisa jadi ada alasan lain?"
Joseph menghembuskan napas. Ia melepas Toque-nya dan merasa semua ini rumit. Terlebih, ia hanyalah lelaki berusia 19 tahun, sementara gadis yang ia sukai berusia 22 tahun. Berbeda 3 tahun lebih muda tidaklah mudah.
Daripada berkutat dengan pikiran kacau begini, lebih baik ia mencuci wajah di toilet agar mendapat kesegaran. Namun, deretan kalimat interogasi sudah terlontar dari mulut Mark. "Tunggu. Untuk apa kau menghela napas?"
Sudah dibilang, Joseph tidak pandai berbohong, terlebih Mark adalah tipe orang yang peka. "Ini bukan kisahmu, 'kan? Lagi pula, kau tidak punya banyak teman," sindir Mark. Namun Joseph tetap berlalu pergi.
"Sekalipun kau punya teman, mereka tidak akan memercayaimu untuk menceritakan hal-hal seperti itu!" teriak Mark yang diabaikan oleh Joseph, karena sudah malas meladeninya.
_________________________________________
Di Sun's Cafe.
Ckrek-Ckrek-Ckrek!
Beberapa kali suara jepretan dari ponsel seorang pria berbunyi. Ia sibuk mengisi waktu luang bekerjanya dengan memotret dirinya sendiri alias selfie. Para penghuni kafe pun memberi reaksi yang berbeda. Ada yang tidak suka, iri, sampai berdecak kagum karena ketampanan Jordan tak bisa dibantah. Tentu para kaum hawa akan memberi impresi sempurna pada Jordan, dari visual saja sudah menjadi bukti konkret.
Dari pose dua jari, menjulurkan lidah, mengerucutkan bibir, senyum gigi, senyum lesung, sampai ekspresi datar, menjadi gaya andalan Jordan. Ia pun berganti-ganti posisi untuk memilih background dan lighting yang bagus. Sedangkan dari kejauhan, Matthew dan Sarah hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Memaklumi hal itu dan menganggap seperti hal lazim.
__ADS_1
Seulas senyum terukir pada ujung bibir Sarah. Dengan kompak dia dan Matthew menyilangkan tangan di depan dada seraya memperhatikan pose demi pose Jordan yang masih sibuk selfie.
Senyum pemuda itu yang lebar dan diikuti lesung pipi yang tercetak, entah mengapa seolah menular ke Sarah. Dia bahkan tak pernah segan-segan mengatakan bahwa senyum Jordan adalah senyum favoritnya. Sarah tanpa sadar terus memerhatikan tiap lekuk wajah Jordan.
Pik!
Sekilas suara bunyi dari petikan jari Matthew membuyarkan lamunan Sarah. "Kenapa kau senyum-senyum begitu?" tanya Matthew sembari menautkan alis. "Aku jadi merinding, padahal ini masih siang bolong."
"Matt," Sarah mengubah posisi jadi menghadap ke lawan bicara, "kau ga merasa aneh dengan interaksi Joseph dan Cayla akhir-akhir ini?" Dia menyipitkan mata, menandakan pembicaraan ini serius.
Matthew mengerjap heran. "Entahlah ... apa aku yang kurang peka?"
Helaan napas terdengar dari Sarah. "Kalau kau begitu terus, ga akan ada kesempatan punya pacar," kata Sarah dengan senyum simpul. Sebelum akhirnya gadis itu kembali ke dapur kafe.
"Apa lagi salahku ya, Tuhan? Hambamu di-bully mulu," rengek Matthew sambil menengadah.
FLASHBACK ON
Saat setelah pulang karaoke—waktu ulang tahun Cayla—kemarin, Matthew terus ditagih untuk mengembalikan uang pinjaman dari Cayla. Namun pemuda Julian itu hanya berpura-pura seperti orang tuli. Ia tidak tahu ternyata teman perempuannya ini sangat perhitungan. Maklum saja, karena biaya yang dipinjam cukup besar, mungkin Matthew berpikir kalau Cayla takkan bermasalah, bahwasanya dia anak dari keluarga sendok emas.
Namun Cayla tak juga jemu menagih utangnya. "Ayolah, Matt. Pengeluaranku sudah sangat boros kalau ditotal sama jumlah belanjaanmu yang pakai uangku," bujuk Cayla memelas, seraya menggoyang-goyangkan bahu Matthew.
Tiba-tiba seorang pemuda lain mendecak. "Kalau begitu, bayar saja biaya karaoke ini pakai Black Card milik Cayla," ucap Joseph tanpa melihat teman-temannya.
Memang benar Cayla memakai Centurion Card alias Black Card atas pemberian sang ayah, sebagai hadiah ulang tahunnya. Kartu kredit ini dikenal paling banyak peminatnya, terutama bagi mereka yang berasal dari kalangan miliarder.
Fakta tersebut berhasil membuat Matthew tercengang, apalagi Sarah. Berbeda dengan Jordan yang tak paham apa-apa.
Sementara Cayla menatap Joseph tidak menyangka akan mengungkit perihal kartu kredit. Seolah dia didiskriminasi lantaran memiliki orangtua angkat yang kaya raya. Pasalnya, setiap bersama Cayla, pemuda Stello selalu saja membicarakan uang. Cayla benci jika harus ada kasta di antara persahabatan mereka.
"Em ... guys! Ayo, sekarang kita bayar karaokenya pakai uang Matthew aja. Ayo, ayo, cepat!" Segera mungkin Sarah membuat suasana kondusif agar tidak berakhir sebuah prahara. Bahkan dia terpaksa menggunakan Matthew sebagai penyelesaian.
FLASHBACK OFF
"Benar. Ada yang janggal," gumam Matthew memanggut-manggut sembari mengelus dagu. Pandangannya beralih pada Jordan yang sudah selesai selfie, dan tengah melayani antrean pelanggan.
.
.
.
to be continued...
*Centurion Card alias Black Card adalah American Express Centurion Card, selembar kartu kredit berwarna hitam dengan desain elegan yang khusus diperuntukkan bagi mereka para miliarder berpenghasilan fantastis.
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡
__ADS_1