NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[40 : Cukup Sebut Namaku]


__ADS_3

Mataku membelalak karena kaget. Secara refleks kakiku berdiri dari kursi. Jordan dan Matthew pun menghentikan kegiatannya karena terpaku pada seorang pria yang baru saja masuk bersama seekor anjing kecil.


Theo?!


"Maaf. Tapi kafe sudah tutup," ucap Matthew.


Pria berambut merah muda itu tersenyum lebar sampai menunjukkan deretan gigi putihnya. "Aku bukan ingin membeli sesuatu. Tujuanku ke sini untuk mengajak Sarah pulang bareng."


Mataku semakin membulat lalu pandangan mereka beralih padaku seakan menuntut penjelasan. Namun ekspresi Jordan tetap datar dan bungkam.


"Oh! Kau tetangga Sarah yang selalu berangkat bareng tiap pagi, 'kan?" Sangat rinci pertanyaan Matthew untuk Theo.


Theo hanya mengangguk dan tersenyum sebagai jawaban. Kemudian netranya melirikku yang masih mematung di tempat. "Kukira, alangkah baiknya kami pulang bareng karena tetanggaan," ujarnya sangat hati-hati.


Karena aku tidak merasa keberatan, jadi kuputuskan pulang bersama dengan Theo. Akan tetapi .... tidak disangka Jordan bersikeras untuk ikut juga bersama kami. Matthew juga seperti memaksa agar pria itu ikut, ia bahkan memberi alasan, karena besok adalah akhir pekan.


Jeng!


Kini aku berjalan di tengah kedua pria tinggi ini. Tubuh pendekku semakin tampak lebih mungil. Suasana bahkan sangat canggung karena di antara kami tidak ada yang memulai percakapan. Theo hanya sibuk tersenyum, Jordan tetap berpegang teguh memasang ekspresi datar, sementara aku merasa tidak nyaman diapit seperti ini.


"Sarah." Theo mencolek pundakku.


"Ya?"


"Dia namanya siapa?" tanyanya berbisik.


Aku sekilas melirik ke arah Jordan, dan sebelum ia juga melihatku, segera mungkin aku beralih pada Theo. "Jordan Luna," jawabku sangat pelan.


Ia ber-oh ria tanpa suara, hanya membulatkan mulut. "Pria itu memang kaku, ya?" tanyanya lagi tepat di runguku.


Aku terkekeh pelan. "Dia memang seperti itu," bisikku.


"Aku tidak pernah melihat orang setinggi itu!" serunya masih bersuara pelan. "Gimana rasanya berdiri di samping Jordan?"


Ah, kali ini aku merasa harga diriku jatuh. Aku menghela napas sebelum mengerjap. "Sebenarnya aku tidak berani, karena takut keinjek," gurauku. Sontak aku dan Theo tertawa puas. Entah mengapa selera humorku jadi rendah ketika bersamanya.


Ia benar-benar lucu ....


Sepanjang perjalanan sampai ke rumah selalu diseling gelak tawa. Aku rasa ini sangat menyenangkan, meski awalnya agak canggung. Apalagi Jordan terus memicingkan mata kepada Theo. Ia hanya fokus pada langkah kaki, bahkan terus bungkam seribu bahasa.


Menit demi menit berakhir. Kami sudah sampai di persinggahan masing-masing. Theo lebih dulu pamit bersama anjingnya untuk masuk ke rumahnya, setelah itu baru aku dan Jordan. Ya, ia menginap. Aku tidak tahu ada angin apa Jordan mendadak ingin menginap.


Kami masuk ke dalam rumah. Ia sudah tidak merasa asing, karena saat hari awal pindahan, ia sempat melihat seluruh isi rumah terlebih dahulu. Tadinya aku ingin langsung mandi, tetapi Jordan menghentikan rencanaku.


"Aku mau mandi," katanya, memasang wajah melas andalan.


Aku hampir lupa kalau ia tidak bisa absen mandi. Maka, aku memberinya kesempatan mandi duluan. Ia kuberi handuk baru, sikat gigi baru, tetapi ... gila! Aku tidak tahu ia akan memakai baju siapa? Tidak mungkin, kan, kalau pakai bajuku!


Selagi ia masih mandi, aku memutuskan menelepon Matthew agar membawakannya baju. Namun tidak terjawab, sesibuk apa Matthew? Ia tidak ada di saat aku benar-benar dalam situasi seperti ini.


Kalau aku menyuruhnya memakai baju yang sama, maka akan memancing keributan. Pasalnya, ia tidak suka baju yang sudah basah karena keringat. Kalau memakai bajuku pun, bukan pilihan tepat.

__ADS_1


Setelah lama menimbang-nimbang. Menguras cukup banyak energi, akhirnya otakku yang tersendat bisa kembali bekerja.


_________________________________________


"Maaf, ya. Aku jadi repotin kamu."


Hanya Theo yang bisa kuminta tolong. Ia memberiku beberapa setelan baju untuk dipakai Jordan. Ia benar-benar baik. Bahkan meski ini sudah malam, ia tidak merasa keberatan sekali pun.


"Tidak, kok. Oh iya, aku juga masih menyimpan setelan piyama punya kamu." Ia memberikan sebuah tas berisi piyama yang pernah kubeli bulan lalu. Piyama itu dibawah seekor anjing entah ke mana, dan ternyata anjing itu milik Theo.


Saat aku melihat baju di dalamnya, tampak bersih seperti baru. Aku membelalak kaget, karena saat itu seluruh tubuhku ternodai wine oleh Haeya, termasuk seluruh barangku. "Eh? Kenapa ini bersih?"


Ia tersenyum gigi seraya menggaruk tengkuk. "Hehe ... aku mencucinya," ujarnya, sangat manis.


"Astaga! Kau baik sekali," pujiku kepada pria bak malaikat itu.


"Kalau begitu, aku akan masuk sekarang, mungkin Jordan sudah menungguku."


_________________________________________


Sementara Jordan yang baru keluar dari kamar mandi, ia masih terbalut handuk dan tidak tahu harus berbuat apa tanpa bajunya.


"Wanita itu ke mana, sih?" tanyanya kesal.


"Jo?! Aku baru bawakan baju."


Saat aku baru masuk, Jordan tampak seperti cacing kepanasan, yang kesana-kemari tidak bisa diam. Tiba-tiba saat aku hendak mendekatinya ...


Deg!


Sementara aku masih sibuk menormalkan pikiran ini yang sudah melenceng ke segala aspek. Padahal ia memakai handuk kimono putih, semacam baju sehingga menutupi seluruh tubuhnya. Namun, maaf, pikiranku sudah kacau.


"Hei! Kau habis dari mana? Dan apa yang kau bawa?" Suara tegasnya sukses membuyarkan lamunanku.


"Ck! Setidaknya bilang terima kasih karena aku sampai meminjam ke Theo!" sergahku dengan nada tinggi, guna menutupi rasa gugup.


Kedua tanganku secara refleks digerakkan. "Tas yang kanan baju milik Theo, yang kiri ini piyama, baru kubeli untukmu. Karena sudah malam, lebih baik kau pakai piyama," jelasku.


Jordan mendecak. "Walaupun sudah pagi, aku tidak akan memakai baju dari laki-laki itu," elaknya.


Aku mendelik, "Heleh! Tidak mungkin! Kau, kan, tidak suka pakai baju dua kali."


Kemudian aku kembali gugup, tepat ketika ia mendekatiku hingga tidak mengenal jarak. Kedua mata nakalku ini sesekali ingin melirik pada belahan handuk Jordan yang tidak sempurna menutupi dadanya.


Duh! Apa yang kupikirkan?!


Aku secepat mungkin mendorong bahu Jordan agar menjauh. Namun ia begitu kuat, hingga tak mudah kulawan. Ia mengambil paksa tas yang berisi piyama sebelum menatapku sinis dan beranjak ke arah lain.


"Eh?! Siapa yang suruh kau masuk ke kamarku?!" teriakku. Karena biar bagaimanapun kamar adalah tempat privasi.


Jordan menghentikan langkah, lalu menoleh. "Lalu aku akan pakai baju di mana? Di sini? Di hadapanmu?!" jawabnya bernada agak tinggi. Ah, akhir-akhir ini ia cepat tersulut emosi.

__ADS_1


Aku menghela napas. Kalah telak oleh Jordan. "Ya sudah. Setelah pakai baju, langsung keluar, ya!" perintahku, sebelum kemudian masuk ke kamar mandi, secara aku belum mandi karena sibuk mengurusi pemuda Bulan itu.


_________________________________________


Author POV


Selama Sarah mandi, Jordan memakai baju di dalam kamar gadis itu. Tidak mungkin, kan, author jelaskan rincinya?


Jordan memakai piyama putih bermotif Bintang dan berbagai planet, spesial dibelikan oleh Sarah.


Tidak sesuai dengan perintah gadis itu yang menyuruhnya segera keluar, Jordan malah mengecek sesuatu di meja belajar Sarah. Tampak sebuah buku berwarna hitam, tergeletak dalam keadaan tertutup. Tidak semata dilihat, ia pun berani untuk membuka isi buku tersebut.


Cklek!


Sayang seribu sayang, belum sempat membaca isinya, secepat kilat Jordan menutup buku harian Sarah di atas meja. Namun terlambat, ia sudah tertangkap basah oleh netra gadis yang baru saja masuk itu. Sarah memakai piyama couple dengan Jordan, tetapi bukan itu masalahnya sekarang.


"Jordan? Apa yang kau lakukan dengan bukuku?" tanyanya menuntut penjelasan. "Bukankah sudah kuperingatkan agar langsung keluar?" lanjut Sarah lagi tanpa memberi jeda.


Pemuda di hadapannya menautkan kedua alis seraya mencebik. "Aku bahkan belum membaca satu kata pun!"


"Tuh, 'kan! Tuh, 'kan! Kau sudah punya niat untuk membaca, 'kan?" tukas Sarah seraya mengacungkan jari telunjuk.


"Kau ini ternyata lebih menyebalkan daripada peran antagonis di film-film!"


Mungkin Jordan memang sudah belajar banyak dari film yang ia tonton. Sarah hanya menghela napas sambil menatapnya datar tetapi penuh makna.


Saat kau memanggil namaku.


Aku seperti mendengar suara seseorang yang kurindukan. Tapi, sekarang tidak ...


Jordan, sebutlah namaku lagi.


"Sarah."


Sang pemilik nama mengerjap kaget. Di saat bersamaan Jordan melangkah mendekati gadis itu, sambil tak berhenti menyebut nama sang gadis.


"Sarah."


Langkah pelan Jordan yang kian mendekat, membuat Sarah secara refleks bergerak mundur. Dia sendiri tak paham alasan pemuda itu terus memanggilnya. Bahkan langkahnya tak berhenti, sampai punggung Sarah menabrak tembok. Oh tidak! Kini dia dalam situasi terpojok.


"Sarah ...," lirih Jordan tepat di rungunya.


"A ... ada apa?" gugup Sarah.


Semenit kemudian, pemuda itu baru bersuara, "Aku akan terus menyebut nama Sarah, untuk mengobati rindumu."


.


.


.

__ADS_1


Terima kasih atas pembaca dan dukungannya♡


to be continued...


__ADS_2