NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[42 : Afeksi Monoton]


__ADS_3

Holla! Aku kembali lagi~ Ada yang nungguin cerita ini? //kepedean.


Hampir satu bulan ya ga update^^;


Semoga pada ga lupa jalan cerita sebelumnya~


Happy reading!♡


"Heart beat fast~♪


Color and promises~♪


How to be brave~♪


How can I love when I'm afraid~♪


to fall~♪


But watching you stand alone~♪"


Bait demi bait lagu terdengar begitu indah. Suara seorang wanita yang tengah asik bernyanyi dari dalam kamar mandi. Sontak hal itu menarik perhatian Jordan, sang pria yang mulai beranjak dari depan kulkas menuju pintu kamar mandi. Ia tahu di dalam ada Sarah yang sedang mandi sambil bernyanyi, tenang saja, ia tidak akan membuka pintu tersebut.


Cklek!


Pintu kamar mandi terbuka. Sarah baru selesai mandi sekaligus memakai baju di dalam. Sebenarnya sejak sang pemilik suara merdu itu melihat keberadaan Jordan di depan kamar mandi, dia sangat terkejut. Namun dia lebih memilih menormalkan ekspresi daripada berspekulasi negatif yang berujung liar dan salah paham.


"Kamu ini sedang apa?" tanya Sarah tanpa menatap matanya karena sibuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.


"Aku mendengar nyanyian Sarah."


"Eh? Suaraku jelek, ya?"


"Tidak. Sarah seperti penyanyi-penyanyi yang ada di televisi." Mendengar perkataan Jordan yang secara tidak langsung memuji, membuat pipi Sarah bersemu.


"Hentikan gegeran paginya!" Sarah mencoba mengelak agar suasana tidak berubah canggung.


Ketika gadis itu hendak mendekati kulkas, Jordan bertanya, "Eh? Sarah mau duduk di kulkas juga bersamaku?"


"Tidak," jawab Sarah sangat cepat. Lalu dia mengambil beberapa bahan makanan menuju meja kompor. "Aku akan memasak untuk sarapan."


"Kenapa kamu diam aja? Kamu ga akan duduk di kulkas lagi?" Pertanyaan Sarah memang terdengar aneh bagi kaum awam yang seolah ikut mendukung aksi konyol si pria Bulan. Berbeda dengan Jordan yang senang karena merasa diberi izin.


Beberapa jam berlalu. Sarah sudah siap menghidangkan banyak makanan di atas meja makan. Sementara Jordan masih menetap di depan kulkas sembari melakukan selfie berulang kali. Saking asiknya, ia sampai mengangguri televisi yang sejak awal menyala.


"Jo, kalau tidak menonton, lebih baik dimatikan saja," saran Sarah sangat lembut.


Dan si pelaku masih berpaku pada kamera ponsel. "Aku menggunakan telingaku untuk mendengar suara televisi."


Sarah mendengus kasar lalu mengelap keringat pada wajahnya menggunakan tissue. "Lama-lama, tv yang nonton kamu!" sindirnya.


"Sekarang Sarah mau ke mana?"


"Mau ke rumah Theo," jawabnya, dan mengambil langkah ke pintu rumah. "Kamu diam aja di sini, hanya sebentar, kok!"


_________________________________________


Sarah POV


Ting-Tong-Ting-Tong!


Bel depan rumah Theo kubunyikan. Lalu aku menatap kamera bel intercom sambil berkata, "Theo? Apa kau di dalam?"


Tidak ada balasan apa pun. Walaupun ini masih pagi, tetapi terik matahari sukses menyengat kulitku. Tanganku menghalau sinarnya yang menusuk penglihatanku. Kemudian kembali menekan tombol bel.

__ADS_1


Ting-Tong!


"Tunggu sebentar!"


Akhirnya ada sahutan dari dalam rumah. Sang empu rumah membuka pintu dan menampakkan dirinya dengan warna rambut yang baru. Aroma maskulinnya pun ikut menyapa indra penciumanku. Sama seperti sebelumnya, ia menyambutku ramah sambil menunjukkan deretan giginya.


"Ada apa, Sarah?" tanya Theo.


"Kau ... mengganti warna rambutmu lagi?" Di waktu bersamaan pula, aku menunjuk ke objek yang dibincangkan.


"Oh, kupikir warna oranye akan cocok di musim panas," katanya.


Aku mengangguk-angguk saja. Karena berbagai warna rambut pun, tampak cocok padanya. Kembali lagi pada tujuan awal. "Apa aku mengganggumu?"


"Kenapa? Kau mau minta tolong sesuatu?"


"Kipasku mendadak rusak, tapi aku tidak tahu cara memperbaikinya. Bisakah kau membantuku?"


Kupikir ia akan keberatan atau menolak secara halus. Namun ternyata tidak. Hatinya yang bak malaikat, memang mustahil enggan menolong sesama. Ia sampai rela meninggalkan Buffi di rumah. Akhirnya kuajak Theo masuk ke rumah untuk yang pertama kali.


Awalnya ia sempat kaget lantaran melihat Jordan yang duduk di depan kulkas dengan memakai baju miliknya. "Kenapa dia di sana?" bisik Theo tepat pada runguku.


"Jordan ga tahan keringat. Selama kipasnya belum bisa bekerja, dia akan terus ngadem di depan kulkas," jelasku yang mengundang gelak tawa Theo.


Sementara yang menjadi buah bibir hanya menatap kami tanpa ekspresi. Aku yakin ia tidak mendengar percakapan kami, sebab kedua telinganya terdapat earphone milikku yang entah dari mana ia dapatkan.


Theo pun melihat dan memegang kipas rusak itu, guna menemukan titik kerusakannya. Sampai dirasa puas, ia meminta koleksi perkakas untuk memulai perbaikan barang tersebut.


Mengingat bahwa ia adalah tamu, maka kubuatkan secangkir teh untuknya, dan secangkir kopi untuk Jordan. Ya, mendadak Jordan memberiku intruksi seperti itu.


Ctek!


Salah satu dari beberapa tombol kipas ditekan. Barang yang awalnya rusak, kini kembali bekerja. Tentu saja atas bantuan dari Theo, hingga aku tak segan-segan memberi pujian sebagai bentuk apresiasi dan kagum.


Ia terkekeh. "Bukan apa-apa, kok. Hanya kerusakan kecil," ucapnya sembari menggaruk kepala tak gatal. Theo mengembalikan koleksi perkakas itu dan segera kusimpan lagi.


"Kau belum sarapan, 'kan? Ayo, kita makan bersama!" ajakku.


"Tidak usah. Aku akan makan di ru—"


Belum sempat menggenapi kalimat, sudah kupotong lebih dulu, "Padahal aku sengaja masak yang banyak untukmu."


"Ah ... baiklah," ujarnya pasrah.


Sebelum ke meja makan, aku menghampiri dan menepuk pundak Jordan yang masih duduk di depan kulkas sambil mendengarkan musik. "Jo!"


Ia menoleh lalu melepas kedua earphone milikku. Menaik-turunkan alis, adalah caranya untuk bertanya tanpa bicara.


"Kipasnya udah bisa bekerja. Jadi, kamu duduk di sofa aja," titahku lembut.


Ia berdiri dari posisi duduk. Edaran matanya berhenti pada sosok presensi Theo yang sudah di meja makan. "Terus, kenapa orang itu masih di sini?" Sontak pertanyaan Jordan membuat tanganku secara refleks memukul pelan bahunya.


Puk!


"Dia, kan, udah berbuat baik, aku hanya membalas!" jelasku pelan, tetapi terkesan penuh penekanan.


"Daripada bicara yang membuat orang tersinggung, lebih baik kamu duduk dan nonton film Bollywood sambil minum kopi yang udah kuletakkan di meja," suruhku begitu lugas. Ia pun patuh, meski tatap mata setajam silet miliknya sengaja ditujukan pada Theo.


Aku menyusul Theo yang sudah duduk di kursi makan. Aku memasak banyak spagetti, dihias tomat cherry, daun parsley, dan sausnya kutambahkan keju mozzarella.


Satu suapan sukses dilahap pria berambut oranye yang tengah duduk di depanku. Ia membulatkan mata tanpa bicara apa pun, yang membuatku berspekulasi buruk tentang rasa spagettinya. "Mengecewakan, ya?" tanyaku sedu.


Bibirnya tersenyum simpul. "Ini sangat enak!" pujinya terkesan hiperbola. Namun aku merasa lega.

__ADS_1


Sedangkan dari kejauhan, ada seseorang yang mendecak jengkel. Tanpa menengok pun, aku tahu pelakunya, tetapi lebih baik tidak kugubris pria itu.


_________________________________________


Saat di Panti Asuhan.


"Selamat ulang tahun~


Selamat ulang tahun~


Selamat ulang tahun, Joseph~


Selamat ulang tahun~"


Nyanyian juga tepuk tangan beriringan disiratkan pada pemuda yang bertambah usia hari ini. Tidak ada kue, tidak ada balon, hanya perayaan sederhana bersama anak-anak yatim piatu di panti asuhan, tempat Joseph dan Cayla dulu bersinggah.


Di sana pula, terdapat Bu El yang tersenyum simpul mendekati Joseph lalu memeluk sebagai bentuk rasa rindu. Tentu saja pemuda itu membalas pelukan Bu El yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri. "Bu El makin kurus, aja. Makanlah dengan benar! Di usia tua seperti ini, tidak perlu diet," gurau Joseph yang mengundang tawa dari seluruh penghuni panti.


"Astaga! Tubuh kamu yang kurus ini yang makin mirip lidi! Harusnya kamu tidak bersikeras keluar lebih cepat, supaya aku bisa mengurusmu lebih lama."


Joseph terkekeh sejenak. "Tidak mau! Di sini Bu El selalu suruh aku mandi."


"Kau masih aja jorok!" tukas Bu El.


Cayla menatap mereka dengan tatapan terharu, juga diajak berpelukan oleh Bu El layaknya teletubies. "Astaga! Kedua anak ibu ini sudah besar! Hoho," ujar Bu El sembari menepuk-nepuk punggung Cayla dan Joseph. Tak lama kemudian melepasnya.


"Aku bawa nasi kotak dan satu dus susu kaleng untuk anak-anak," ungkap Joseph menunjukkan raut wajah bangga.


"Kalian dengar?" tanya Bu El pada seluruh anak-anak. "Bilang apa kepada kak Joseph dan kak Cayla?"


"Terima kasih, kak!" ucap mereka serentak.


"Kembali kasih!" balas Joseph dan Cayla bersamaan.


Hari semakin larut. Joseph dan Cayla memutuskan untuk kembali ke kediaman masing-masing. Dari awal berangkat, mereka memakai taksi, otomatis pulang pun mereka harus memakai taksi. Akan tetapi menit demi menit berlalu, tidak ada satu taksi pun yang lewat. Kedua insan itu mau tak mau harus menunggu.


Hal itu dimanfaatkan oleh Joseph. Ia sengaja berpakaian necis pada hari ini, selain karena ulang tahunnya, hari ini pula ia ingin menembak sahabat lamanya. Kini Joseph tidak bisa mengelak omongan orang, bahwasanya di antara sahabat perempuan dan laki-laki, mustahil bila salah satunya tak menyimpan rasa lebih.


"Sejujurnya ... apa kau tertarik untuk berkencan?"


Sontak kedua pupil Cayla membesar. Dia diam sejenak dan menghela napas. Pandangannya beralih pada Joseph yang masih menatapnya penuh harap. "Kencan? Aku rasa tidak perlu melakukannya. Aku ga mau membuang uang dan waktuku."


Niat membalas Joseph gugur, tatkala sebuah taksi sudah datang. "Seharian ini aku lelah. Ga masalah 'kan, kalau kau pulang sendiri?"


Air muka Cayla memang lumayan pucat. Membuat Joseph jadi merasa risau. "Kau ga apa-apa? Haruskah kuantar?"


Tangan Joseph yang hendak memegang pundaknya, segera dia tepis. Itu memang keterlaluan, tetapi Cayla melakukannya bukan tanpa alasan. "Ga perlu. Oh iya, selamat ulang tahun, Jo," ucapnya, dan segera masuk ke dalam mobil, meninggalkan si pemuda seorang diri.


Ada apa dengannya? batin Joseph.


Sampai mobil taksi itu benar-benar hilang, baru lah Joseph meremas dada pada letak bagian jantung. "Uh ... sakit sekali ditolak mentah-mentah. Huhu! Harga diriku ...."


Joseph merengek layaknya anak kecil seraya menghentak-hentakkan kaki pada aspal.


.


.


.


to be continued...


Tinggalkan kesan manis sebagai dukungan^^

__ADS_1


__ADS_2