
Drrtt-drrtt!
Sekelebat vokal dering ponsel tertangkap oleh rungu. Sertamerta sang pemilik lekas meraba-raba nakas di samping ranjang. Pasalnya, pemuda itu baru saja akan tenggelam dalam mimpi, tetapi panggilan telepon juga tak bisa diabai begitu saja. Ia terlebih dahulu menilik identitas pemanggil, sebelum akhirnya mengubah posisi baring jadi duduk di sisi ranjang.
Tercantum nama seorang gadis yang tidak asing. Otomatis pemuda itu menjawab penelepon dan menempelkannya tepat pada daun telinga. "Halo, Sarah?" Suaranya terdengar lirih akibat rasa kantuk.
Beberapa kali ia mengucek salah satu matanya sampai mengusap kasar wajahnya.
“Halo, Joseph. Kau udah tidur, ya?”
"Dan kau berhasil mengganggu lelapku," jawab Joseph sekadarnya.
Sementara sang penelepon yang disebut Sarah, hanya terkekeh singkat. “Kami ada rencana piknik musim panas, apa kau ma—”
"Ke mana?!" seru Joseph tiba-tiba. Matanya yang tadi terlihat suntuk, berubah drastis jadi berbinar-binar seratus persen merasa antusias.
“Golden Gate Park.” Sarah menjeda sejenak. “Tapi kau jangan hanya membawa tangan kosong. Seenggaknya bawalah makanan atau cemilan buat kita,” peringatnya.
Joseph mengangguk meski tak terlihat. "Oke, oke. Aku paham. Sampai jumpa besok!"
“Oke, bye~” Nada penutup sengaja mengikuti lagu kartun Disney berjudul 'Beku'. Dan saluran panggilan pun dimatikan sepihak oleh Sarah.
_________________________________________
Di tempat lain...
Ting!
Kini ada bunyi notifikasi dari orang lain. Namun sang pelaku masih sama, yakni Sarah. Tidak secara kebetulan, lantaran gadis itu memiliki motif seperti konsep awal untuk mengajak si pelaku berlibur.
Ia memberi reaksi yang sama seperti Joseph. Tentu senang, antusias dan tidak sabar, selepas membaca isi pesan yang tercantum di layar kunci ponsel. Tanpa banyak berpikir, ia membalas pesan tersebut dengan merangkai kalimat berunsur terima kasih.
+1 064××××××××:
Theo~
Ini Sarah
Apa kau besok ada rencana?
Me:
Tidak mungkin aku bekerja di akhir pekan hehe (:
+1 064××××××××:
__ADS_1
Baguslah~
Maukah kau bergabung piknik dengan kami?^^
Me:
Apa tidak jadi masalah kalau aku ikut?
+1 064××××××××:
Aku menantikan kehadiranmuuu~
Besok ya! Kita berangkat bareng, jam 9 pagi
Me:
Baiklah...
Aku harus tidur cepat kalau begitu :D
+1 064××××××××:
Sip!
Begitulah deretan balas pesan Theo dan Sarah. Sesuai tertera di atas, sudah mutlak para oknum yang diajak sangat mustahil untuk absen dari undangan. Terlebih liburan ini tidak memakan banyak biaya, dan mungkin akan ditanggung satu pihak yang dermawan, seperti Cayla ataupun Matthew.
Kalau pria Bulan jangan ditanya! Adalah membuntuti Sarah yang jadi alasan, tanpa ragu akan Jordan setujui rancangan ini. Bahkan Jordan tak segan meminta tolong ke Matthew, supaya menyiapkan pakaian lebih awal untuk dipakai besok. Salah satu contoh protokol persiapan yang efisien.
_________________________________________
Keesokan harinya ...
Ting-tong-ting-tong!
Seorang gadis dengan rambut terikat, tiada lelah menanti sembari menekan bel sang tuan rumah. Dia membawa rantang makanan warna biru, berisi masakannya guna dinikmati waktu jam makan siang saat piknik nanti. Satu menit masih belum ada tanda-tanda sang pemilik rumah keluar. Maka Sarah Roseanne memanfaatkan masa sejenak guna memperbaiki riasan tipisnya. Sebab, hari ini dia pengin tampil berbeda. Sejak pagi gadis itu sudah berkutat dengan alat make-up, tetapi efek natural tetaplah prioritas.
Cklek!
Tanpa sadar, sesosok pria tampan berambut oranye, menampakkan dirinya tepat ketika pintu rumah terbuka. Secara refleks Sarah mundur perlahan beberapa langkah akibat tertegun. Pria itu seperti memancarkan sinar yang membuat penampilannya tampak luar biasa.
Ia menggunakan kaos putih tipis dibalut kemeja lengan pendek dan celana selutut berwarna kuning. Walau sederhana, bukan perkara bila parasnya tampan.
"Good morning~" sapa ramah Theo dengan senyum khasnya. Sarah pula membalas senyum. "Maaf, ya. Kamu jadi lama menunggu," kata pria itu seraya menggaruk kepala tak gatal.
Sang gadis tak luput dari senyum. "Tidak, kok. Baru aja aku tekan bel," balasnya penuh kejujuran.
__ADS_1
Edaran mata Sarah terpaku pada sebuah kotak makan yang Theo pegang. Tidak lain, tidak bukan adalah kotak milik Sarah yang tempo lalu pernah memberi sandwich pada hari pertama pindah rumah.
"Kau ... masih menyimpannya ternyata," ujar Sarah.
"Lagi pula ini, kan, punyamu. Harusnya aku kembalikan, dan aku juga siapin roti bakar kornet, nih," imbuh Theo.
Mereka saling melempar senyum. Kemudian untuk beberapa saat, mereka bertamu pandang.
Ah, aku baru sadar. Kami memakai warna baju yang senada! batin Sarah sembari memerhatikan baju Theo dan dress selutut miliknya. Bisa-bisa dia dikira menyamakan warna baju Theo, atau mungkin orang akan berpikir bahwa mereka couple.
Sarah segera menepis pikiran absurd tersebut. Lalu kembali menatap orang di depannya. "Eh? Warna baju kita kebetulan banget bisa sama." Padahal ini sudah berkecamuk dalam batin Sarah, tetapi Theo rupanya baru sadar.
Sang gadis tersenyum canggung. "A-aku tidak maksud mengikutimu, lho!" pekiknya tiba-tiba.
Tin-tin!!
Nyaring suara klakson mobil sukses menghentikan perbincangan kedua tetangga tersebut. Dengan kompak mereka menoleh pada mobil merah yang jendela kemudinya terbuka dan terlihatlah Matthew bersama Jordan di sana. Ya, tentu saja Matthew bertujuan menjemput Theo dan Sarah.
Tiada banyak kata, Sarah langsung bergegas menuju mobil, diekori Theo dari belakang. Saat mengecek posisi di dalam, faktanya Jordan menduduki kursi samping kemudi, lantas Sarah harus duduk berdua di belakang bersama Theo. Mobil pun siap melaju.
"Matt, kau bawa apa?" tanya Sarah pemasaran. Kebetulan Sarah duduk di belakang kursi Jordan, jadi dia bisa leluasa menghadap ke tuan sopir ketika mengajak bicara.
"Beberapa kaleng minuman soda dan botol jus jeruk di kardus belakang," terang Matthew. Pun Sarah ber-oh ria saja sebagai respon akhir.
"Omong-omong, kalian sengaja couple-an baju?" celetuk Matthew tiba-tiba.
Sarah langsung terperanjat di tempat. Dia merasa gugup, bahkan untuk menatap Theo. "T-tidak! Ini kebetulan aja," bantah Sarah.
"Iya, engga sengaja kok," imbuh Theo yang dibalas anggukkan polos Matthew.
Namun bukan reaksi Matthew yang mengkhawatirkan, melainkan Jordan yang kini menatap sinis Theo penuh intimidasi.
Ckrek!
Mendadak terdengar jepretan familiar berasal dari orang yang sama. Pria Bulan itu kian lekat dengan hobinya sekarang yang mengambil gambar wajah sendiri. Reaksi Matthew sudah sangat terbiasa, Sarah hanya terkekeh kecil, dan Theo mengembangkan senyum seolah merasa lucu akan sikap manusiawi Jordan.
"Kalau kalian masing-masing bawa apa, nih?" Pria berdarah Texas itu bertanya lagi sembari melihat dari kaca dashbord kepada dua penumpang di belakang.
Sarah menatap ratang silindrisnya yang dia pangku. "Aku bawa pot roast—jenis makanan khas Amerika berbahan dasar daging sapi yang diolah dengan banyak saus dan air—dan gimbab," jelasnya. Detik berikutnya sengaja menaikkan kedua alis sebagai isyarat agar giliran Theo menjawab pertanyaan sang sopir.
"Ah, aku hanya bawa roti lapis panggang kornet," katanya merasa tidak begitu percaya diri.
"Wow! Sepertinya aku harus coba, nih, sebelum Matthew terkam duluan!" candaku, tetapi terkesan serius. Hanya lahir gelak tawa dari mereka, tak terhitung Jordan yang sibuk beratensi pada layar ponsel.
to be continued...
__ADS_1
Terserah Jordan aja mau selfie-nya gimana..