
Jalanan California lumayan terpadati oleh kendaraan. Namun pembukaan kafe Matthew jauh lebih dipadati oleh pelanggan. Entah alasan apa yang menarik banyak pelanggan, mungkin karena menu masakan Sarah memang enak, atau bisa juga karena barista tampan yang kini selalu menebar senyum hangat dengan bonus lesung pipi yang tercetak.
"Woah! Ini baru hari pertama tapi udah banyak pelanggan. Apa kau menggunakan ilmu pelet?"
Nada intimidasi Joseph hanya suatu candaan klasik untuknya. Begitupun Matthew yang tersenyum bangga sambil menyambut para pelanggan begitu hangat.
Matthew sendiri tidak menyangka, bahwa kehadiran Jordan bisa berdampak sebesar ini. Jika kalian lihat, mayoritas pelanggan kafe adalah perempuan berstatus lajang, atau mungkin perempuan yang sekadar ingin mencuci mata melihat ketampanan sang barista.
Meski mereka dilayani oleh Matthew sebagai pramusaji, tetapi tetap saja arah atensi mereka seluruhnya kepada Jordan. Mereka rela mencoba berbagai trik untuk menarik afeksi dari sang barista tampan. Berbeda seperti biasanya, kali ini Jordan meladeni mereka begitu ramah. Membuat para penggemar dadakannya lebih bersemangat dan pantang menyerah menggoda Jordan. Bagaimana tidak? Sehari penuh ini ia selalu menebar senyum khasnya yang membuat mata seluruh perempuan seolah berbinar-binar.
Mengetahui kecentilan para pelanggan, Sarah menghentikan kegiatan memasaknya sejenak. Kemudian mendengus kasar sambil bergumam, "Tidak di Texas, tidak di sini, kenapa mereka selalu mencari perhatian sih?!" Kemudian menghentakkan kaki pada lantai tak bersalah.
"Sarah, kenapa terlihat kesal?"
Ternyata ucapan Sarah tidak pernah gagal lolos ke pendengaran Jordan. Sekecil apapun dia berbicara pasti selalu terdengar dan setelah itu pria ini akan melontarkan pertanyaan polosnya.
"Engga, tuh?"
Jordan mengangguk. "Kalau begitu, buatlah pesanan baru," pintanya seraya memberi secarik kerta berisi pesanan makanan.
"Tidak mau. Aku sedikit lelah."
Tentu pernyataan itu sebuah kebohongan. Wajah Sarah berubah masam ketika melihat para pelanggan yang mengantre masih lekat menatap Jordan di depan meja kasir.
"Omong-omong, Jordan. Kenapa kamu sering tersenyum?" tanya Sarah penuh kekesalan.
"Eh? Belum pernah ada orang yang mengatakan itu padaku. Dan baru semalam kamu mengatakan aku lebih tampan saat tersenyum."
Sarah mempraktikan tingkah geramnya di depan wajah Jordan seolah akan meremuknya. "Ada jumlah yang pas untuk segalanya. Dan saat aku melihatmu tersenyum, kamu sama sekali tidak terlihat tampan."
Mendengar argumen gadis itu, sang barista malah menganggap gurauan belaka. Lalu membalasnya dengan kekehan kecil.
"Aku baru saja menyuruhmu berhenti tersenyum!" perintah Sarah lagi.
Sudah merasa di ambang kesabaran, Sarah memilih lanjutkan kegiatan memasaknya.
"Huh? Ada apa dengannya?" Sementara Jordan masih terheran-heran akan perilaku aneh sang gadis dan kembali beralih pada pelanggan yang kian antre panjang.
Di sisi lain ada dua insan yang tengah memperhatikan tingkah Sarah dan Jordan. Mereka baru saja mengistirahatkan diri setelah membantu Matthew dalam menyambut dan melayani pelanggan.
"Ternyata mereka lebih dulu dekat ya. Aku jadi merasa iri."
Kening Joseph mengernyit. Salah satu tangannya sibuk menyibakkan selembar kertas sebagai kipas manual. "Heh! Kenapa jadi kamu yang merasa iri? Seharusnya, 'kan, Matthew yang begitu."
__ADS_1
Perkataan Cayla sontak digubris oleh Joseph. Aneh, sepertinya pria ini memang tidak bisa mengatur kalimat halus dan kasar di situasi yang tepat.
"Kasian Matthew nya, kamu jadiin buah bibir mulu!"
Ctak!
Tidak segan Cayla menjitak dahi Joseph hingga meninggalkan bekas kemerahan. Wajar dan maklum, secara di situasi Matthew sedang dilanda pilu, alih-alih menghibur, Joseph malah asik mengungkit masalah ini dengan mulutnya yang hiperbola.
_________________________________________
"Matthew!"
Seorang pemuda berteriak dari meja bar, kemudian sang pemilik nama menghampiri.
"Kenapa?"
"Aku mau mandi, kamu yang urus tugasku, ya," ucap Jordan sembari memberikan celemek miliknya.
Matthew yang sudah tahu kebiasaan Jordan, hanya mengangguk paham. Ihwalnya, pemuda bulan itu tidak tahan dengan keringat yang membasahi baju hingga membuat kulit terasa lengket. Sebagai jaga-jaga juga, Jordan sudah membawa seluruh perlengkapan mandi. Untung kafe ini memiliki toilet khusus karyawan dan pelanggan.
_________________________________________
"Kamu ingin kemana?" Hanya waktu senggang yang sedang mereka nikmati hari ini, setelah kejadian 'kencan malam' beberapa hari silam.
Haeya masih belum menjawab, bukannya tidak akan menjawab, tetapi dia pun sedang mengamati deretan restoran dan kafe yang menarik.
Chris yang ikut mengamati akhirnya memberi tawaran, "Mungkin baru. Mau ke sana?" Kemudian Haeya hanya mengangguk sebagai jawaban setuju.
Mobil mewah berwarna hitam sudah terparkir, sekarang mereka berjalan ke arah kafe yang dimaksud. Kalau dilihat dari dekat, Haeya bisa merasakan sesuatu yang familiar.
"Selamat ..." Belum menyelesaikan salam sambutan, Cayla tertegun akan presensi Haeya bersama seorang pemuda begitu serasi.
"Kamu kenal sama dia?" tanya Chris yang tidak terlalu tahu banyak perihal hidup Haeya. Karena faktor lain sang gadis pun tidak mau memperkenalkan pria ini kepada kedua sahabatnya di sana.
Haeya memalingkan wajah, dia merasa interaksi ini begitu canggung. Sampai di menit selanjutnya, Haeya menjawab, "Ya, dia temanku."
Secara refleks, pelaku yang diakui 'teman' oleh Haeya, hanya menggeleng miris. Padahal status persahabatan di antara mereka sudah melekat lama, akan tetapi dengan mudahnya Haeya lebih mengutamakan kekasih barunya dibanding Cayla dan Joseph.
"Sudahlah, kekuatan orang baru memang lebih kuat. Mungkin dia sedang lupa sama orang yang selalu bersamanya." Niat awal Joseph menuangkan itu sebagai hiburan, tetapi kalimat yang dirangkai bak sindiran keras.
"Terkadang aku berpikir hidup ini cuma tentang, lebih baik dilupakan atau melupakan. Jika kamu dilupakan maka biarkan orang itu melupakanmu. Tapi kalau kamu melupakan maka kamu harus berpikir mengapa kamu mau melupakan dia?"
Rupanya sekarang bukan hanya Joseph yang pandai melempar sindiran. Pun Cayla hebat dalam bidang ini.
__ADS_1
Haeya sudah mengira bahwa hari ini akan menjadi hari yang menyenangkan lagi. Chris yang masih mengamati tempat baru itu, akhirnya harus tak sengaja berkontak mata dengan pemilik kafe.
"Kafe ini milik orang aneh itu?" Harusnya ia bergumam, tetapi emosinya tak mendukung ia lebih dulu membara dan sedari tadi mengepalkan tangan kanannya.
"Lakukan saja sepuasmu."
Bukannya mendinginkan suasana, Haeya seakan mempersilahkan Chris untuk melakukan hal buruk. Gadis ini memang suka membuat onar.
"Permisi!" Haeya mengangkat tangannya untuk memesan menu. Lantas hal itu membuat dirinya menjadi pusat perhatian, seharusnya mereka memesannya di tempat pemesanan.
Matthew hanya memberi kode untuk menuruti saja apa mau gadis itu. Cayla lah yang menghampiri mereka. "Mau pesen apa?"
Haeya menunggingkan senyum, "Aku tidak ingin dilayani olehmu, tapi Sarah." Dia memberi penekanan pada nama Sarah. Bahkan dia sengaja melantangkan suaranya serta mengubah postur tubuh layaknya orang arogan.
Kemudian sang empu nama memberanikan diri menghampiri Haeya. Tidak terlalu berani setidaknya dia mencoba menghilangkan rasa takutnya.
"Ada perlu apa?" Cara berbicaranya seperti menantang. Namun masih terkesan halus dan sopan sesuai ciri khas Sarah.
Jarak Sarah dan Haeya hanya terhitung tiga langkah. Mencoba untuk merendah dengan niat lain, Haeya berdiri dan menghampiri Sarah. Ketika jarak mereka tinggal satu langkah Sarah menutup matanya tepat ketika melihat pergerakan tangan Haeya.
Ternyata Haeya hanya mengibaskan tangannya pada pakaian Sarah guna membersihkan pakaian itu. "Hah... tampaknya kamu baik-baik saja."
"Bukankah pangkatmu dulu masih rendah? Sepertinya sekarang kamu memegang tanggungjawab yang besar. Kamu berhasil ya menggoda bosmu? Ups." Haeya menutup mulut dengan tangan seperti orang yang keceplosan. Di saat yang bersamaan terdengar desas-desus orang mengenai fakta bohong itu.
"Nada bicaraku terlalu besar, ya?" Dia pura-pura berbisik pada Sarah. Penghinaan macam apa lagi ini?
Matthew sangat ingin bertindak, tetapi ia ditahan oleh Cayla dan Joseph. Tentunya untuk menghindari perkelahian yang lebih besar nanti.
"Lebih baik kita pindah tempat saja." Chris juga sudah merasa puas dengan ini ketika tujuan mereka selesai saat itu juga mereka pergi.
Haeya berpapasan dengan Cayla, tanpa waktu banyak Cayla langsung memberikan tatapan sinis. Namun, Haeya hanya menatap gadis itu datar.
"Sekarang, di manapun ada dia. Pasti ada kericuhan." Lagi-lagi kebiasaan gosip Joseph keluar.
Cayla menepuk bahu Matthew, berusaha menenangkannya. "Sabar, kita bakal bantuin, kok."
Mau tidak mau, Matthew harus segera membersihkan nama baiknya dan Sarah. Ia bukan pria seperti itu, kalaupun bisa seharusnya fakta tadi lebih baik dilemparkan untuk Haeya. Benar, 'kan? Dia seperti membicarakan dirinya sendiri depan banyak orang.
.
.
.
__ADS_1
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡