
"Kau?!"
Serentak kami saling membulatkan mata sebagai bentuk terkejut. Tingkahku tak karuan dan berbicara pun gelagapan. Sekejap aku jadi lupa akan tujuan datang ke sini.
Aku kembali bersikap normal dan menatap pria itu yang tersenyum tipis. "Ah .... Apa dunia memang sekecil ini?" tanyaku berdasar gurauan.
Ya, pria itu. Pria berkulit cerah yang tempo lalu menyampirkan jaket di bahuku. Waktu awal kami bertemu, warna rambutnya blonde dengan sentuhan biru di bagian poni, tetapi sekarang sudah berbeda warna menjadi merah muda. Benar-benar tak terduga akan pertemuan ini. Ada terselip rasa syukur kami bisa kembali bertemu.
Suasana semakin canggung. Tidak ada konversasi yang terlontar untuk sekadar basa-basi. Namun ia mengulurkan tangannya, guna ajak berkenalan. Alih-alih menjabat, aku masih saja menatap kedua maniknya lekat. Sampai tersadar dari lamunan, lantas aku segera membungkuk, "Halo!"
Percayalah ... Aku membungkuk bukan sebagai salam, tetapi refleks karena canggung. Memalukan sekali! Apalagi ketika pria itu melipat tangannya di depan dada yang tidak jadi kujabat sebelum tertawa.
"Tidak perlu formal. Anggap saja kita seumuran," pintanya. "Namaku Theo." Kali ini ia tidak lagi mengulurkan tangan.
Aku tersenyum canggung seraya menggaruk tengkukku tak gatal. "Salam kenal, aku Sarah Roseanne. Aku baru saja pindah ke rumah seberang tadi pagi," jelasku, meski tidak ditanya. Setidaknya aku membuat sebuah topik.
Theo ber-oh ria lumayan panjang, sambil mengangguk. Matanya beralih fokus ketika mendapati kotak makan plastik yang sedari tadi kupegang. Ia mengangkat sebelah alisnya seolah menuntut penjelasan.
"Ah, ini sandwich." Segera aku berikan kotak itu kepadanya. "Untuk awal relasiku sebagai tetangga baru."
Ia menerima kotak sandwich itu lalu tersenyum simpul. "Terima kasih ya, Sarah."
Deg!
Entah mengapa ... sontak dadaku bergemuruh. Membuat suasana semakin canggung untukku, mungkin tidak untuk Theo.
"K-kalau begitu, aku kembali," pamitku. "Dan kau boleh mampir kapan saja ke rumahku."
Eh?! Apa-apaan kataku barusan?! Ini pasti akan terdengar ambigu!
Aku membulatkan mataku setelah mengatakan itu. Secara refleks memukul-mukul bibirku. Dalam hati merutuki diri sendiri.
"Baiklah ... Kau juga jangan segan datang padaku kalau butuh apa pun." Tampaknya Theo tidak berspekulasi aneh dengan kata-kataku tadi. Lantas aku merasa lega dan kembali ke kediaman.
_________________________________________
Keesokan harinya...
Sinar surya menyambut hari baruku. Tampaknya suasana lebih positif, aku jadi semakin semangat untuk bekerja.
Saat aku hendak memakai celemek warna cokelat, sudah ada seseorang yang menyolek sengaja pundakku dari belakang. Hingga secara refleks aku membalikkan badan dan menemukan si pemuda jangkung.
"Bagaimana keadaan Sarah?"
Manisnya ....
Pagi-pagi di kafe, Jordan menyambutku dengan air muka khawatir. Aku terkekeh pelan sebelum menjawab, "Ini baru satu malam, Jo. Bahkan mentang-mentang kamu tidak bisa tidur, kamu tidak mau menutup telepon sepanjang malam."
__ADS_1
Lucu sekali, bukan?
Semalam Jordan meneleponku. Padahal aku tengah asik menonton televisi setelah berinteraksi dengan para tetangga, juga meski sudah waktunya untuk tidur, ia melarangku menutup teleponnya sampai pagi.
"Eh? Sarah? Kau sudah datang?" sergah si pemuda berkulit agak gelap.
Aku hanya menyengir sebagai jawaban, dan masih berkutat mengikat bagian belakang celemek warna cokelat. Karena melihatku agak kesulitan, secara inisiatif Jordan membantuku. "Ah, terima kasih." Lalu beranjak ke dapur.
Pintu kafe menampakkan papan kecil bertuliskan 'open' yang baru saja dibalik oleh sang pemilik. Perlahan-lahan kafe mulai ramai. Silih berganti orang yang hendak pergi bekerja menyempatkan diri untuk membeli kopi amerikano. Saat itu, Sarah akan menjadi kasir sementara Jordan dan Matthew menjadi barista.
Saat jam makan siang, mulai Sarah yang disibukkan memasak. Otomatis Jordan tidak terlalu sibuk sebagai barista dan Matthew beralih menjadi pramusaji. Apabila hari menjelang malam, masing-masing dari kami pasti sibuk akan presensi pelanggan.
Beberapa jam berlalu. Hari ini entah bagaimana, waktu berjalan cepat. Mungkin karena aku merasa lebih tenang tanpa desas-desus setelah Cayla benar-benar menghapus video itu di berbagai media sosial.
Selepas menutup dan membersihkan kafe, air muka kami sungguh menunjukkan rasa lelah. Kami memutuskan kumpul sejenak sambil menikmati es kopi, secara hawa sudah mulai panas, bahkan Jordan sampai mandi tiga kali pada siang tadi.
"Jo, saat aku meninggalkanmu waktu itu, kamu ke mana?" tanyaku menatap ia penuh serius.
Sebelum menjawab, ia menyeruput minuman lebih dulu. "Aku hanya jalan-jalan di luar dan bertemu anak perempuan manis. Kelihatannya dia sedih karena balonnya tersangkut di ranting pohon. Jadi, aku mengambil balon itu."
"Woah!" seruku. "Saking tingginya, kamu mudah sekali ya meraih ketinggian pohon." Menatap penuh ketidakpercayaan sekaligus kagum.
"Ya, sepertinya kau harus meninggikan badanmu. Supaya ga dikira ayah dan anak saat kalian jalan bareng," celetuk Matthew.
Aku langsung memicingkan mata. Membuat bulu kuduknya sontak berdiri. Ia hanya menunjukkan deretan gigi terawat sambil mengangkat dua jari berarti 'peace'.
"Orang bodoh pun tahu itu," sergahku.
Tidak lama kedua telinga si pemuda yang kupuji jadi memerah. Ia memang bergeming, tetapi tatapannya sudah seperti mengumandangkan kata terima kasih atas pujian dariku. Ya, sifat kepercayaan dirinya masih melekat akibat tertular Matthew.
"Jangan dipuji, dong! Nanti dia terbang." Di sisi lain Matthew memberi larangan. Mungkin ia merasa punya saingan.
"Jordan pernah bilang aku cantik, jadi ini hanya sebatas balasan, doang." Tentu saja aku berbohong. Aku pengin sedikit menggodanya. Dan benar, tiba-tiba reaksi Jordan berubah jadi merah kesal.
"Apa-apaan ini?! Sarah tidak pernah mengakui ketampananku secara tulus!" protesnya sambil menghentakkan kaki di lantai layaknya anak kecil.
Matthew dan aku tertawa puas. Melihat aksi si pemuda yang kurang sinkron dengan umurnya.
"Bagaimana di sana? Tetangganya baik?" sela Matthew beberapa menit kemudian guna mengalihkan topik.
Aku melirik sekilas pada Jordan yang duduk di sebelahku juga menunggu jawaban. "Ya," kataku seraya mengangguk. "Tetanggaku ramah sekali. Dan kami cepat akrab."
"Baguslah kalau gitu."
"Sebentar lagi memasukki bulan Juni. Musim pun akan berganti ke musim panas," sela Matthew tampak tengah berpikir. Lalu menarik napas melalui mulut. "Sepertinya aku harus menyiapkan persediaan air," ungkapnya seraya menaik-turunkan alis.
Aku paham arah ucapan Matthew. Bersifat menyindir seseorang yang kalau mandi tak tanggung-tanggung. Asal kalian tahu, Jordan mandi setiap kali berkeringat, kalau semisal musim panas datang, bisa saja dalam sehari Jordan mandi sampai 10 kali.
__ADS_1
"Mungkin kafe ini harus dipasang pendingin ruangan," saranku penuh ragu.
"Tapi sama aja, biaya listriknya mahal," bantah sang empu kafe.
Aku menatap Matthew serius, lalu memberi opini hati-hati, "Aku tidak memaksa, sih. Tapi kalau Jordan mandi di tengah-tengah jam kerja, lebih rugi lagi, 'kan?"
Kini Matthew tampak menimbang-nimbang. Ia memang tipikal orang yang berpikir matang perihal menggunakan uang. Namun bisa saja prinsip itu runtuh tatkala berbagi untuk sesama.
"Berpikirnya nanti saja. Aku ingin pulang sekarang."
Melihatku hendak beranjak dari kursi, tangan Jordan tanpa disangka menahan pergerakanku. "Ini masih sangat sebentar ngobrol sama Sarah."
Lagi-lagi ia tersenyum. Berhasil membuat pipiku bersemu. "Tapi ini sudah malam, Jo."
Tatapan Jordan berubah. "Jangan kepedean, deh. Aku kangen Sarah hanya sedikit aja, kok." Ia menjeda sebentar, sementara aku merasa dikecewakan.
"Sedikit berlebihan maksudnya," sambung Jordan sambil menunjukkan cengiran gigi.
Bukannya merasa luluh, aku bingung harus bereaksi seperti apa? Terlebih bulu kudukku jadi meremang. Dan si pria berkulit agak gelap itu memberi reaksi seolah tak mendengar atau melihat apa pun. Ia malah membuang wajah ke arah tak menentu. Lantas, aku menatapnya sinis sambil berujar, "Ini ajaranmu ya, Matt?"
_________________________________________
"Aku turun di sini aja. Kalau mobil masuk akan susah keluarnya," usulku yang dipatuhi oleh Matthew.
Aku keluar dari mobil. Tepatnya di pertigaan sebelum menuju rumahku.
"Dah Jordan! Dah Matthew!"
Bayangan mobil pun menghilang dari tangkapan netraku. Kemudian aku mulai melangkah pelan. Akan tetapi ada sesuatu yang janggal kala lampu jalan meredup. Aku menatap layar ponsel. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan malam. Namun suasana sudah sangat senyap.
Apakah genre novel ini berubah jadi genre horor?
Napas dan salivaku tercekat tatkala mendengar langkah kaki seseorang. Sekelabat bayangan bisa saja tiba-tiba melintas di balik punggungku. Aku berusaha bersikap normal untuk tidak mencurigai yang entah apa pun itu sedang mengawasiku di belakang. Akan tetapi, benak juga naluriku merasakan suatu ancaman.
Sesuatu yang tak bisa diterjemahkan secara pasti, yang secara refleks membuat kepalaku menoleh ke belakang.
"AAAAAAAAAA!!"
.
.
.
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡
__ADS_1