NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[26 : Hari Kau Membohongiku]


__ADS_3

Di waktu yang bersamaan saat Jordan bucin sama Sarah.


(in part 25)


Waktu menunjukkan pukul setengah lima pagi. Sang pemuda tajir baru saja terbangun dari alam mimpi. Ia melangkah dengan cepat menuju kamar mandi. Beberapa kali langkah kakinya tidak seimbang, karena masih belum sempurna nyawanya terkumpul.


"Selamat pagi."


Untuk pertama kali Jordan mengucapkan salam. Dan untuk pertama kali juga, Matthew bersikap tebal telinga kepada Jordan. Namun ia merasa biasa saja, dan memaklumi sikap berbeda Matthew. Mungkin karena benar-benar tidak mendengar, atau mungkin karena letih, bisa juga karena banyak pikiran.


Yang pasti, setelah Matthew selesai siap-siap, ia segera pergi ke California menggunakan mobil merahnya.


Laju kendaraannya sangat cepat, bahkan ia sampai harus rem mendadak ketika mendapati rambu lalu lintas berwarna merah. Ia tampak tergesa-gesa, beruntung jalur jalan tol tidak padat, kalau misalnya padat, mungkin Matthew tanpa pikir panjang menabrak semua kendaraan di jalur tersebut demi mengejar waktu.


"Halo, Cay?"


Matthew yang sibuk berkendara, menempelkan barang pipih tepat di rungunya.


"Iya, halo Matt. Udah sampai?"


"Sebentar lagi. Haeya masih di studio, 'kan?"


"Masih. Kamu cepetan ke sini. Keburu dia pulang."


"Oke. Tenang aja, ini sebentar lagi sampai."


Pip!


Jarak memang jauh, sampai Matthew pun berada di California saat pukul 8 malam. Tujuan sebenarnya untuk menemui sang gadis pujaan di sebuah studio yang menjadi tempat kerja Haeya dan Cayla. Sebelum itu, ia menyempatkan diri guna membeli buket bunga mawar merah. Pemuda itu memilih sendiri tangkai demi tangkai yang masih segar. Rasa bimbang tanpa kepastian, dirasakan pemuda tajir itu. Bahkan, meski sudah hampir dekat ke tempat kerja Haeya, ia malah memelankan laju mobilnya. Ia benar-benar ragu kalau inilah jalan terbaik dari hubungan mereka. Apalagi, Matthew baru pertama kali menjalin hubungan serius, dan baru pertama kali bertengkar hebat hingga tiada kabar dengan seorang perempuan.


Matthew sampai di sebuah gedung besar, bertuliskan 'Beauty Studio'. Sang pemuda masih sibuk merapikan penampilan dirinya dari ujung rambut sampai ujung jari jemari kaki di mobil. Ia bahkan menyusun kalimat-kalimat puitis dalam otaknya yang mungkin bisa menarik hati sang pujaan untuk kembali.


Tidak lama kemudian, ia memutuskan keluar dari mobil dengan membawa buket bunga pembeliannya. Kebetulan di parkiran sudah sepi. Tersisa mobil milik Matthew dan mobil milik seorang laki-laki. Laki-laki itu tengah berdiri tepat di samping mobil lain.


"Hai!"


Rupanya Matthew tidak bisa menunda sikap 'sok kenal sok dekat' kepada orang asing sekalipun. Lihat saja, dengan senyum lebar amat manis andalannya kini terpampang untuk lelaki asing itu.


"Oh? Hai juga."


"Kau sedang apa di sini? Kalau aku menunggu kekasihku yang bekerja jadi model," tanya Matthew sekaligus memberitahukan informasi yang sama sekali tidak ditanya.


"Aku sedang menunggu tunanganku," jawab lelaki itu sambil tersenyum.


"Oh, perkenalkan aku Matt--"


Belum sempurna menyelesaikan kalimat, lelaki itu berjalan menuju seorang gadis berambut panjang yang baru saja keluar dari gedung.


"Hai, Honey!"

__ADS_1


"Chris, kamu udah nunggu dari tadi? Maaf ya."


"Engga lama kok."


Mirip Haeya. Enggak! Itu memang Haeya, batin Matthew.


Berkali-kali lipat rasa terkejut menyelimuti perasaan Matthew. Ia tidak menyangka kedatangannya yang berniat untuk memperbaiki hubungan dengan sang gadis pujaan, malah disambut adegan perselingkuhan antara Haeya bersama lelaki itu. Iya, lelaki yang tadi berbincang sebentar dengan Matthew. Sangat jelas barusan Haeya menyebut nama lelaki itu, Chris.


Buket bunga terlepas begitu saja dari genggaman. Seulas senyum secara langsung terhapus. Tatapan sejumput harap di mata, kini telah pupus sekejap mata, tepat setelah melihat Haeya dan Chris berpelukan mesra.


"Hae...."


Di saat bersamaan, Haeya menyadari presensi Matthew yang sedari awal berdiri memandangi adegan romantis mereka. Tatapan keduanya saling bertemu beberapa saat, sebelum Haeya memutuskannya dengan mengalihkan pandangan pada Chris untuk menuntut penjelasan.


"Pria ini katanya sedang menunggu kekasihnya," jelas Chris, "oh ya, siapa namamu?" sambungnya.


Bukan dibalas jawaban, tanpa segan-segan Matthew melayangkan kepalan tangan tepat di rahang Chris.


Bugh!


Ia menggunakan semua kemampuan bela diri untuk menghajar pria putih itu. Tak segan memberi waktu bernapas, dengan tegas Matthew selalu memberi pukulan.


Haeya hanya bisa melihat kejadian itu dengan tatapan tidak percaya. Dia memperhatikan setiap tingkah laku buruk Matthew pada kekasih barunya. Tampak warna kemerahan dan layak seperti kaca, dugaannya pria itu sedang menahan sedih dan amarah.


"Brengsek!" umpat Matthew, tangannya sudah merasa ngilu. Menyisakan luka lebam pada wajah Chris.


Sekali pukulan yang amat keras, berhasil membuat Matthew tersungkur dan menyatu dengan aspal.


"Stop! Oh my God! Apa kalian anak kecil?!" Haeya melerai pertengkaran kedua pria itu.


Seperti yang terjadi sekarang, mereka tidak menggubris Haeya, mereka malah saling melempar tatapan amarah satu sama lain.


"Wajahmu akan tidak berbentuk jika masih berdiri di sini, masuklah ke dalam mobil," pinta Haeya begitu risau terhadap Chris yang sudah babak belur.


"Aneh sekali pria ini! Tiba-tiba mengajakku berkelahi. Memangnya kamu mengenal dia?"


Chris menunjuk pemuda yang masih tersungkur di tanah. Ia bertanya serius kepada Haeya, lalu dijawab anggukan.


"Bukankah ini berlebihan untuk suatu penyambutan?" kata Matthew diiringi seringai tajam.


"Aku tidak mengenalmu," lirih Haeya, jika boleh dia juga ingin segera menolong Matthew, tetapi niat itu terhalangi karena suatu alasan. Benar, tentu Chris lah alasannya.


"Apa lagi yang ingin kamu tunjukkan? Drama apa lagi yang ingin kamu gelar?" seru Matthew, kali ini ia sangat tidak paham dengan pemikiran kekasihnya yang mungkin akan berstatus mantan.


"Drama apa? Aku bahkan tidak mengenalmu!"


"Lebih baik kita pulang, Hae."


Chris mengeratkan tangannya pada pinggang Haeya. Lalu mengajak masuk ke dalam mobil putih Chris. Sementara Haeya tampak khawatir berlebihan pada luka biru hingga darah yang terukir jelas pada wajah kekasih barunya. Dia bahkan selalu menanyakan 'Apakah sakit sekali?', 'Kita ke rumah sakit aja, ya?', 'Biar aku aja yang nyetir, oke?'.

__ADS_1


Namun, Chris bersikap jantan tentunya.


"Apa kalian sudah melakukan itu lebih jauh?" sergap Matthew yang berhasil membuat langkah pasangan itu berhenti.


Sontak pupil Haeya membesar. Dia tahu apa yang dimaksudkan pria itu, sangat tidak pantas jika harus dikatakan.


"Ck! Jangan bilang bahwa kalian sudah--"


Plak!


Sekali lagi, kalimat Matthew belum selesai tergenapi. Tamparan sudah mendarat tepat di pipi kanan oleh tangan Haeya sendiri. Mau tidak mau, dia memberanikan diri melakukan hal itu, sebelum Matthew melanjutkan perkataan tak senonoh.


"Jaga perkataanmu, orang asing!"


Pemuda yang ditampar, mengeluarkan air mata. Lebih tidak menyangka ketika pertengkaran ini dihadapkan sama gadis pujaannya. Berbeda dengan Haeya, malah menatap Matthew penuh dendam.


Pemuda yang kini bisa dikatakan 'ilegal' menyentuh Haeya, tak enggan merengkuh tubuh mungil sang gadis sambil berucap, "K-kenapa kau melakukan ini?"


"Ini kehidupan baruku. Setelah meninggalkanmu, aku tidak ada niat mencari keindahan lain, selain bersama Chris," bisik Haeya nyaris tak terdengar.


Peringatan itu menjadi kata-kata terakhir yang diucapkan sang gadis, sebelum bayangannya menghilang dari pandangan Matthew.


Dia datang membawa salam, tetapi pergi tanpa perpisahan.


"Makanya jangan bucin!"


Tiba-tiba serangkai kata menohok keluar dari seseorang. Mungkin dia menjadi saksi perkelahian antara seorang kekasih dan calon masa depan. Ah, bahkan sebelum memutuskan hubungan terlebih dahulu dengan Matthew.


Matthew menatap orang itu dengan kesal, sedu, prihatin. Sangatlah campur aduk. "Kayak gembel aja, lesehan di aspal."


"Bukannya dibantuin, malah kasih wejangan sumpah serapah."


Cayla memutar bola matanya malas ke arah Matthew. Lalu mengulurkan tangannya. Cepat-cepat Matthew menyeka air mata, dan menerima uluran tangan Cayla untuk berdiri.


"Liat semua, Cay?"


"Harusnya aku rekam, lumayan jadi scene film. Natural malah, siapa tau jadi calon OSCAR."


Pemuda itu tidak ada sejumput niat mempedulikan kelakar Cayla. Ia benar-benar terlihat putus asa. Meski begitu, yang harus ia lakukan sekarang adalah mengobati luka dan beristirahat. Apa pun kedepannya, akan ia pikirkan setelah kembali pulih. Bisa saja, ini sekadar permulaan bagi Matthew.


.


.


.


to be continued...


What will Matthew do next?

__ADS_1


__ADS_2