
Secercah sinar matahari menyambut ramah pagiku. Ramalan cuaca hari ini diperkirakan baik. Kini aku sudah siap menjalani hari baru untuk berangkat ke kafe. Ada terasa berbeda, tatkala biasanya aku berangkat bersama Matthew dan Jordan, setelah pindah rumah hanya jalan kaki seorang diri.
Burung-burung di langit ikut meramaikan pagi. Mereka terbang berlalu-lalang sambil berkicau. Tidak, bukan suara burung. Sepertinya aku mendengar siulan seseorang.
Tepat ketika aku membalikkan badan, sudah tertangkap si pelaku yang tengah santai bersiul sambil sedikit memajukan bibirnya.
Aku sedikit terperanjat. "Theo?! Bisakah kau tidak menakutiku dengan berjalan diam-diam? Aku bisa—"
Belum sempat menyempurnakan kalimat, pria berambut merah muda itu menempelkan jari telunjuknya pada bibirku sambil mendesis, "Shhtt." Kemudian menjauhkannya lagi.
"Orang lain bisa mengira kita bertengkar," ujarnya pelan hingga hanya aku yang dapat mendengar.
Ia menatapku sambil tercengir lebar. Aku pun mengamatinya yang memakai kemeja putih serta celana panjang hitam necis. Pada bagian dada, terdapat sebuah name-tag yang menjadi identitas profesinya sebagai dokter hewan. Lalu pandanganku teralih pada tali panjang yang mengikat seekor anjing sedang dipegang Theo.
"Kau bahkan mengajak anjingmu?" tanyaku sedikit melotot.
Theo mengangguk seraya tersenyum. Ia lebih dulu berjalan dan aku melaraskan langkah kami untuk keluar dari gang perumahan. Sesekali aku mencuri pandang. Bukan karena wajah tampannya, tetapi ia tak pernah melunturkan senyum pada bibirnya. Bahkan saat kami bertemu pandang, tidak segan Theo menunjukkan deretan giginya.
Aku bingung. Karena itu suasana jadi lebih canggung. Sampai kami berada di jalan besar, ia mulai bersuara, "Kau bekerja di mana?"
Aku mendongak. "Di Sun's Cafe."
"Oh ...." Ia menganggukkan kepala. "Berarti kita searah!" serunya mendadak bereaksi heboh.
Sontak mata dan mulutku terbuka lebar. Sekilas ingat klinik hewan terdekat. "Jangan bilang ..." aku mengangkat jari telunjuk di depan wajahnya, "kau bekerja di Space Animal Clinic, seberang tempat Sun's Cafe?!"
"Hm .... Kebetulan ini terasa takdir!" sergahnya sangat antusias.
“Guk-Guk!”
"Baffi! Kau ini!"
Sementara itu, di tengah riuh-rendah suara bising kota, seekor anjing milik Theo yang disebut Baffi itu tiba-tiba saja memberontak. Entah apa pun alasannya, meski Baffi terlihat lucu, tetapi sifat agresif membuatnya tampak seram.
"Apa namanya Baffi?" tanyaku sambil melihat lekat anjing itu yang sudah lumayan tenang setelah digendong oleh sang tuan.
"Benar. Artinya memiliki banyak bulu," jawabnya. Ia mengelus bulu lebat Baffi penuh kasih sayang. Tak heran jika ia menggeluti profesi ini.
"Sarah? Kau setiap hari berjalan sendiri ke tempat kerja?"
Aku mengangguk pelan sebagai jawaban. "Tapi, kok, kita ga pernah ketemu, ya?" selidiknya lagi seraya menautkan alis.
"Mungkin waktu keberangkatan kita beda. Dan kebetulan hari ini sama, jadi bisa berangkat bareng," balasku asal. Namun seolah memasang wajah percaya diri.
"Kalau begitu," Theo menurunkan Baffi ke aspal dari pelukan, "mulai besok kita samakan jadwal keberangkatan, ok?" Lalu ia mengepalkan tangan kanan, lantaran bentuk kode tos.
Tidak terasa sudah sampai di depan kafe, alih-alih masuk ke dalam, aku lebih dulu menjawab pertanyaannya seraya membalas adu kepalan tangan Theo. "Ok!"
__ADS_1
_________________________________________
Author POV
Laki-laki barista memakai celemek cokelat tengah asik memantau sesuatu lewat balik kaca kafe. Ia bahkan tak berpaling sedetik pun di kala seorang rekan lain mengajaknya bicara, "Jordan! Kau sedang apa di sana?"
Matthew mendekati Jordan yang masih berpaku memandangi penampakan di luar. Karena kuriositas membumbung tinggi, pria itu ikut serta mengintip keluar.
Reaksi pertama Matthew tidak terkejut. Sangat biasa saja tatkala melihat Sarah bersama pemuda lain yang berambut merah muda. Bertolak belakang dengan Jordan yang sampai memicingkan mata untuk melihat tiap detik adegan akrab mereka.
Matthew beralih memandang ekspresi Jordan yang datar. Namun, ia percaya, pasti sesuatu telah mengganggu pikiran Jordan. Sontak seringai terukir di sudut bibir Matthew.
"Wah! Kau lihat? Sarah seakan berbinar ketika berbicara sama pria itu." Matthew kembali melihat Jordan yang raut wajahnya kian berubah menjadi banyak kerutan di dahi. "Eh? Mereka juga melakukan tos?! Astaga! Bukankah itu romantis sekali?"
Niat murni Matthew sebenarnya hanya sekadar gurauan. Ia tidak menyangka reaksi Jordan jadi tampak menyeramkan. Jordan berkedip sekali, dua kali, kemudian menyunggingkan senyum.
Begitu pintu kafe hendak Sarah buka, buru-buru Jordan mengambil langkah ke meja bar kafe untuk melayani beberapa pelanggan kafe yang masih terbilang sepi. Meskipun sejak awal ia menangkap gadis itu berkali-kali tertawa bersama pria asing yang entah siapa itu, tetapi ia belum memiliki niat menginterogasi Sarah dengan beragam pertanyaan konyol.
"Selamat pagi semua!" Sapaan hangat terdengar pada rungu Matthew dan Jordan.
Detik itu juga Matthew membalas hangat. Namun tidak dengan Jordan. Melirik ke Sarah pun sama sekali tidak.
Huh? Ada apa dengannya?
Sarah sendiri tidak terlalu peduli. Atau mungkin dia tidak peka. Maklum saja, semalam mereka seperti habis bertengkar hanya persoalan telepon. Lantas Sarah merasa hari ini tidak perlu memulai konversasi basa-basi.
Sang barista tengah sibuk berkutat membuat pesanan kopi dengan mesin penggiling. Namun Jordan tiba-tiba bertanya, "Memangnya sedang tren melakukan tos payah begitu?"
Sang barista menoleh. "Siapa laki-laki itu?"
"Oh, Theo?"
Ia menyipitkan mata bersifat selidik. "Theo?"
"Dia tetanggaku," jawab Sarah sekadarnya.
Tidak lama kemudian si pria berkulit agak gelap datang. Membawa cengiran sekaligus kekehan kecil hingga memusatkan perhatian mereka. Matthew menutup sebelah mulutnya dengan telapak tangan dan dia bicara kepada Sarah bervolume kecil, "Kayaknya dia cemburu."
"Hei! Kalau mau berbisik, jangan sampai aku dengar, dong!"
Dengan kompak Matthew dan Sarah menengok ke Jordan.
"Aku bertanya bukan karena cemburu," elak Jordan. "Kalian tahu?" Gerak tubuhnya berubah menjadi lebih serius. Seolah ia sudah bersiap diri akan mendakwa seseorang. "Akhir-akhir ini internet berkata ada virus yang menyebar. Kalau Sarah tos dengan orang lain, sangatlah tidak higienis!" ungkap Jordan begitu rinci.
Sarah mendengus jengkel. "Tapi yang kulakukan hanya adu kepalan tangan. 20 kali lebih higienis daripada jabat tangan dan 10 kali lebih higienis daripada tos telapak tangan."
Usai berdebat, Sarah meninggalkan kedua oknum itu dan masuk ke dapur kafe. Matthew hanya berkedip-kedip sebab bingung akan hubungan mereka saat ini. Dalam benaknya Matthew berkata ada sesuatu yang terjadi di antara Jordan dan Sarah tanpa sepengetahuannya.
__ADS_1
"Matt, memangnya tos dan adu kepalan tangan itu beda?"
Matthew menghela napas. Ia memijat pelipisnya. "Sudahlah. Fokus saja bekerja!" Lalu beranjak pergi.
Ketika pikiran Jordan melayang-layang pada Sarah, dan apa yang terjadi tadi malam, tiba-tiba saja terdengar suara pelanggan dari depan meja kasir. Terhitung lima orang sudah mengantre untuk bergilir memesan sesuatu. Dengan penuh kesiapan Jordan melayani mereka amat ramah. Tidak lupa mengulas senyum hingga tercetak lesung pipi yang menjadi ciri khasnya.
Semakin terik matahari, semakin Jordan sering menghabiskan air untuk mandi. Kalau dihitung, hari ini Jordan sudah tiga kali mandi. Ia benar-benar tidak bisa bersahabat dengan keringat atau lebih tepatnya pecinta kebersihan ekstra.
Hari berlalu begitu saja. Langit sudah gulita. Bintang mulai tampak menghiasi langit. Deretan lampu tinggi ikut serta menerangi sepanjang jalanan.
Kafe sudah sepi. Menandakan sebentar lagi akan ditutup. Sebelum itu sang barista bernama Jordan terlebih dahulu memasukkan papan menu yang sengaja diletakkan di luar kafe sebagai usaha promosi. Namun, pandangannya terjajah oleh seorang pria di seberang sana.
Jordan menegakkan tubuh dan menatap lebih lekat untuk melihat lebih jelas. Pria itu seperti memberi seekor kucing yang tersimpan pada sebuah kandang persegi, kepada seorang wanita paruh baya. Pria berambut merah muda itu memakai jas bak seorang dokter dan tersenyum lebar saat berinteraksi dengan wanita yang sudah pergi membawa kucing itu.
Tidak disadari, di saat bersamaan, pria itu juga sedang menatapnya dari kejauhan. Namun hanya sekilas, ia segera masuk ke klinik hewan.
"Jordan!"
Lamunan Jordan sontak membuyar begitu sebuah suara menginterupsi indera pendengarannya. Kalau saja Matthew tidak meneriakkan namanya, mungkin Jordan akan terus berdiri tegak lurus di sana.
Pemuda itu segera melakukan tugasnya untuk memasukkan papan di luar ke kafe. Di dalam sudah ada Sarah yang baru saja menyapu lantai. Lalu Jordan meletakkan papan itu di sudut ruangan.
"Ayo, kita pulang!" ajak Matthew. Ia sudah bersiap melipat celemek di atas nakas dan memainkan kunci mobil di jari telunjuknya.
Menit berikutnya mereka keluar kafe. Matthew mengunci tempat itu terlebih dahulu sebelum masuk ke kursi kemudi dan melajukan mobil.
Perjalanan begitu singkat dikarenakan jarak ke rumah Sarah sangat terjangkau. Seperti biasa, gadis itu memberi intruksi agar tidak masuk gang perumahan. Namun pihak lain menolak. Jordan memberi intruksi lain kepada Matthew layaknya seorang sopir, untuk mengantar Sarah sampai depan rumah. Persetan dengan tatapan sinis Matthew sekarang. Yang jelas, intruksi Jordan adalah final tanpa bisa diganggu gugat.
"Baiklah ... sampai jumpa besok!"
Di saat bersamaan, Jordan turun dari mobil. Sebelum berpisah, mungkin ada sesuatu hal yang ingin Jordan sampaikan. Mereka berdiri berhadapan. Jordan semakin mempersempit jarak antara mereka. Sebuah kejutan tanpa aba-aba datang, ketika pemuda jangkung itu merengkuh tubuh mungil Sarah.
Gadis yang direngkuh tentu kaget. Pupilnya membesar, deru napasnya terasa sempit, detak jantungnya tak karuan. Kini kepala Sarah terjebak dalam bahu kanan Jordan, sementara kepala sang pelaku berada di pundak kiri Sarah. Tangannya masih lengket pada punggung Sarah untuk mendekapnya lebih kuat. Kaki Sarah sampai harus menjijit dikarenakan perbedaan tinggi yang jauh.
"Seharian ini aku merindukanmu ...."
Sarah mengerjap sambil memukul pelan pundak Jordan guna melepas rengkuhan. "Seharian ini, kan, kita bersama." Namun justru Jordan semakin melengket.
"Walaupun kau tidak merasakan hal yang sama."
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
Ada yang kangen Haeya?\( ̄▽ ̄;)/
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡