
Hari selanjutnya, Matthew masih mengajari Jordan untuk jadi barista di kafenya. Lantas, ia terpaksa harus menutup kafe. Semua ini demi perkembangan pria bulan itu.
Kelas hari ini tidak begitu lama. Hanya memakan kurang lebih 2 jam. Saat kelas sudah selesai, Matthew mencuri tanya demi melegakan rasa penasaran.
"Jo, kamu kok bisa pinter banget, sih? Apa semua benda langit seperti itu?"
Jordan menyeruput kopi hangatnya. "Setahuku, semua benda langit punya kelebihan masing-masing, kalau mereka turun ke Bumi dan menjadi manusia," jelasnya.
Matthew mengangguk paham. Namun tetap saja, logikanya tidak bisa jalan beriringan dengan penjelasan Jordan.
"Astaga! Udah jam sepuluh!"
"Kamu mau kemana?" tanya Jordan yang melihat Matthew cepat-cepat mengambil kunci mobil.
"Maaf ya, aku lupa bilang ke kamu. Aku ada janji sama gadis pujaan hatiku jam empat sore. Kamu bisa pulang sendiri, 'kan? Karena aku tidak bisa antar kamu," pintanya agak ragu-ragu.
"Pergilah!" ucap Jordan tanpa keberatan.
Ekspresi senang terlihat jelas pada wajah Matthew. Tanpa mengulur waktu lagi, ia segera keluar dan melesat cepat dengan mobilnya untuk menjemput Haeya. Walaupun tempat tinggal gadis itu di California sedangkan Matthew di Texas, ia rasa bahwa jarak tak bisa menghalanginya berkencan.
Pria itu kini mengendarai mobilnya dengan kecepatan yang lumayan kencang sama seperti keadaan jantungnya sekarang.
Ya, ia sangat takut dan tidak sabar untuk bertemu sang pujaan. Ia selalu melihat ke arah jam tangan, ia bahkan takut terlambat walau hanya sedetik.
Setelah memakan beberapa jam di perjalanan, kini ia telah sampai di tujuan dengan selamat. Ia keluar dari mobil dengan pesona yang patut diacungkan, tidak mungkin juga kalau style ini tidak baik.
Tadi malam saja ia tidak bisa tidur karena memikirkan baju apa yang harus dikenakan untuk hari ini. Sehingga berakhir ia memakai celana jeans yang lumayan ketat sampai memperlihatkan bagaimana indahnya otot pada sekujur kakinya. Untuk atasan ia mengenakan turtle neck berwarna hitam, hingga menambah pesonanya yang sangat elegan.
Tidak lupa juga, ia menggunakan parfume dengan aroma woody, black paper dan citrus berhasil menonjolkan sisi maskulin.
Matthew sudah sampai di kediaman Haeya, tetapi ia belum menemukan tanda-tanda gadis itu berada.
Apakah gadis itu lupa akan janjinya? Matthew pun memutuskan untuk mengeluarkan ponsel dari saku celananya guna menghubungi sang gadis. Selang beberapa menit kemudian Haeya membalas pesannya. Ternyata sang pujaan masih sibuk merapihkan riasan wajah, ini terasa seperti akan kencan sungguhan.
"Kak!"
Matthew langsung mencari sumber suara tersebut, dan terlihat dari dalam taman seorang gadis yang sangat elok tampangnya.
Hanya sedikit polesan yang terlihat tapi kenapa butuh waktu lama untuk menunggunya?
Apa mereka berdua sama-sama gugup?
Matthew membalas kata-kata gadis itu dengan lambaian tangan dan senyum yang tulus. Kini gadis itu berlari kecil menuju Matthew, sehingga membuatnya terlihat gemas.
"Nunggu lama ya, kak? Maaf ya," ujar gadis itu dengan perasaan tidak enak.
Tetapi Matthew masih melihatnya dengan sangat intens, mulai dari bawah hingga atas.
Coba kalian bayangkan!
Mereka memakai style yang sama namun hanya warna baju mereka yang berbeda, Haeya memakai turtle neck berwarna putih. Dapat tercium aroma parfume khas bunga yang segar yaitu Rose de Mai, ylang-ylang dan melati dari Grasse.
__ADS_1
Sungguh perpaduan yang sangat serasi, seperti hubungan mereka nanti.
"Kak? Halo?!" Haeya mencoba untuk membuyarkan perhatian Matthew terhadapnya. Berulang kali dia melambaikan tangannya di depan wajah Matthew, butuh sekitar dua puluh detik untuk itu.
"E-eh ga kok, ga lama, santai aja," jawab Matthew dengan gugup. Dalam hati bersungut-sungut agar hari ini bisa berjalan mulus.
"Berangkat yuk!" sergap Matthew sambil memalingkan wajahnya, sangat terlihat keringat yang bercucur dari kening sampai dagu karena perasaan canggung juga gugup.
Sebelum masuk ke dalam mobil, Matthew terlebih dahulu membukakan pintu untuk Haeya, lalu setelah gadis itu benar-benar nyaman dengan posisi duduknya, Matthew menutup pintu dan menuju tempat kemudinya.
Mereka sudah menempuh kurang lebih satu kilometer tetapi yang dari tadi terdengar hanyalah suara bising mesin mobil. Mereka selalu mencoba untuk tidak kontak mata, Haeya sejak awal hanya melihat ke arah jendela mobil sedangkan Matthew hanya berpaku mengendarai mobil. Ah, semua pihak malah bungkam seribu bahasa.
"Jadi ... Kita mau kemana?"
"Kita ke kafe!"
Mereka membuka suara secara bersama namun hal yang mengejutkan terjadi. Haeya bertanya dan Matthew membalas, apakah mereka telepati terlebih dahulu? Lalu suasana kembali canggung.
"Kakak masih suka tiramisu?" tanya Haeya untuk memecahkan keheningan yang dari tadi menyelimuti mereka.
"Masih, kalau udah suka ga mungkin bosen walaupun dimakan berkali-kali dalam satu waktu," terang Matthew sambil berharap bahwa Haeya mengerti apa yang dia katakan.
"Ehmm, bener juga."
Beberapa menit kemudian Haeya sadar apa yang barusan dia katakan. Seharusnya dia tidak mengatakan itu, dia akan ketahuan jika selama ini dia selalu mencari informasi tentang Matthew. Namun untungnya Matthew tidak sadar akan hal itu.
"Kalau kamu masih suka latte?"
"Masih, cuma sekarang udah ga se-hype dulu. Karena minum kopi banyak-banyak juga ga baik," jawab gadis itu dengan santai, lebih tepatnya santai di luar namun gusar di dalam.
Akhirnya mereka sampai di kafe yang telah dipilih oleh Matthew, kafe ini memiliki suasana segar, bau biji kopi dan segarnya tanaman bersatu menjadi kombinasi yang sangat baik. Haeya mengamati kafe itu dengan pandangan yang memuaskan. Kali ini Matthew telah selangkah berhasil.
Mereka pun masuk ke dalam kafe tersebut, dan mengambil posisi tempat yang bisa terbilang sangat cocok untuk pasangan awal kencan.
Duduk saling berhadapan, tidak memutus kemungkinan untuk tidak berkontak mata, bukan? Insan mata mereka bertemu, terlihat kedua pupil mata yang sama-sama membesar.
"Gimana kalau kita nostalgia?" saran Matthew, ia ingin mencari tahu apakah benar pujaannya sungguh mengaguminya dulu? Atau itu memang hanya sebuah 'godaan' Cayla saja?
"Hahaha. Kita, kan, ga ada momen sama sekali kak," ungkap Haeya disertai rasa miris dalam hatinya, bukankah percuma jika kita hanya mengatakan momen berdasarkan pandangan kita saja? Itu tidak bisa terbilang momen untuk yang lain.
"Tidak papa, kita saling cerita aja. Di saat semuanya kita lakukan secara diam-diam." Matthew berhasil membuat Haeya terkejut akan perkataannya.
"Maksud kakak?" tanya Haeya heran.
"Jangan panggil kakak terus, pakai nama aja sekarang."
Haeya mendadak mengernyitkan dahi, dia sungguh bingung setengah mati begitu mendengar pinta Matthew.
"Eh!? Aku panggil 'Matthew' gitu?"
Mungkin setelah ini dia akan segera dibawa ke rumah sakit karena keadaan jantung yang tidak normal.
__ADS_1
"Senyaman kamu aja," balas Matthew dengan suara yang terdengar sedikit berat namun terkesan halus, tidak lupa disertai dengan senyum khasnya.
"Oh. Ok deh." Haeya menjawab setuju.
Lalu mereka berbincang-bincang kurang lebih selama lima belas menit.
Pembicaraan mereka sangat random. Dimulai dari membicarakan karier, teman-teman mereka, berbagi cerita yang lucu, sampai menyamakan hobi, setidaknya itu yang dilakukan mereka berusaha menghindari suasana canggung.
"Matt." "Hae."
Mereka memanggil secara bersamaan sama seperti keadaan di mobil tadi. Seolah mereka selalu satu frekuensi pemikiran. Namun sekarang hal itu dianggap lucu, sampai membuat mereka sama-sama terkekeh.
"Kamu duluan." Matthew memberi kesempatan kepada Haeya untuk berbicara.
"Aku mikir aja. Kenapa kamu ajak aku ke sini?" selidik Haeya, jika bisa dikatakan, ia merupakan gadis yang peka. Akan tetapi, dia selalu ingat terkadang peka dan ge'er tidak beda jauh.
"Sebenernya aku mau bil—"
Pembicaraan Matthew terputus karena deringan telepon yang berasal dari handphone Haeya.
Pada layar ponsel, tertulis nama 'Papa'.
Saat itu juga raut wajah si gadis berubah, sepertinya dia mendapat laporan buruk.
Sehingga saat itu juga, Haeya memutuskan harus kembali ke rumahnya.
Tentu hal itu membuatnya jadi geram. Ini adalah 'kencan' yang sudah dia nanti sejak lama, tetapi hancur karena urusan di rumah.
"Haeya? Ada apa? Kok wajah kamu jadi asem gitu?" tanya Matthew, terbalut rasa risau.
"Ada masalah di rumah, jadi aku harus pulang sekarang juga," ungkap Haeya yang buru-buru bersiap pulang.
"Tidak apa-apa. Masih ada lain waktu, kok. Aku antar, ya."
"Tidak perlu! Kamu pulang aja. Toh, rumahku juga dekat." Gadis itu menolak ajakkan Matthew, karena takut merepotkan.
"Maaf banget, ya Matt," sesal Haeya.
"Hahaha. Tidak papa, aku paham," hibur Matthew. "Kamu harus aku antar. Aku bertanggungjawab atas kamu hari ini."
Namun Matthew bersikeras untuk mengantarnya. Sungguh, sikap Matthew yang sangat jantan itu, membuat Haeya luluh dan kembali berharap.
.
.
.
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡
__ADS_1