NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[28 : Bertemu Kesialan]


__ADS_3

Suasana kenangan kota lama terungkit kembali. Sekitar setengah jam lalu mereka telah menginjakkan kaki di California. Jordan yang merasa asing dengan tempat baru, selalu meninjau setiap tempat yang ia lewati. Bukan sekadar mengamati, ia pun masih sempat-sempatnya memotret tiap sudut stasiun kereta.


"Jordan! Fokuslah pada jalanmu! Daritadi kamu selalu tabrakan dengan orang lain," omel gadis itu berwalang hati.


Namun, Jordan tidak menggubris argumen Sarah. Seolah lingkungan sekitar lebih menarik untuk dipotret sampai lupa dengan presensi Sarah yang sudah tertinggal di belakang.


Seketika Jordan menengok ke belakang, dengan ekspresi polos, ia mengangkat ponselnya tepat di depan wajah gadis berambut pendek itu.


Cekrek!


"Jo!" seru Sarah tak terima. Matanya tampak terganggu oleh flashlight dari kamera tersebut.


"Aku ingin menyimpan wajah Sarah. Aku bosan memotret benda mati," jelas Jordan sangat lugu.


"Tapi itu namanya paparazi tahu!" bantah Sarah memelankan suara, tetapi terkesan ditekan.


Sudah diduga, pemuda itu juga tidak akan paham. Awalnya ia merenung sejenak, sebelum kemudian mengetik deretan keyword pada layar ponselnya. Sampai dirasa cukup, ia berkata, "Paparazi adalah istilah dari bahasa Italia yang merujuk pada fotografer lepas yang sering membuntuti orang ternama atau orang terkenal untuk mengambil gambar atau foto dari orang tersebut tanpa disadari. Paparazi cendurung bekerja sendiri tanpa terikat dengan setiap perusahaan atau organisasi media massa."


Ah, sepertinya Jordan sudah bisa belajar menggunakan ponsel dengan bijak. Karena ketidakpahamannya akan kata yang terdengar asing.


"Jadi, kamu tahu, 'kan, kalau paparazi itu tidak boleh?"


Jordan layaknya anak kecil, mengumandangkan maaf sambil menundukkan kepala, kemudian salah satu tangan Sarah berhasil mengusak rambut Jordan meski tinggi mereka sangat jauh. Pasalnya, Sarah merasa gemas dengan tingkah pemuda itu.


"Apa yang kalian lakukan di sini?"


Di waktu kurang tepat juga seorang yang lain datang. Seolah mempergokki tindakan ambigu Sarah, dengan cepat sang gadis menurunkan tangannya. Dan Jordan kembali menegakkan punggungnya. Fakta mengapa mereka menunggu lama di stasiun kereta ini adalah karena keterlambatan penjemput.


"Tentu saja menunggumu," jawab Jordan singkat.


"Baiklah, aku mengaku terlambat."


Matthew menggaruk tengkuk yang tidak dirasa gatal.


Lalu Jordan menambah kalimat cercaan, "Sangat terlambat." Tentu penuh tekanan di setiap suku kata.


Melihat keduanya saling melempar tatap penuh ujaran kekesalan, Sarah hanya menggeleng kepala. Tak habis pikir, di mana pun dan kapan pun, Jordan dan Matthew selalu saja bertengkar. Tetapi sesekali bisa mengundang tawa.


_________________________________________


Ckrek-ckrek-ckrek!


"Ok! Sesi pemotretan hari ini selesai!" ucap salah satu photografer di sana. Dengan rasa riang gadis itu pun berterima kasih kepada semua staff atas kerja keras mereka. Ya, popularitas Cayla saat ini sedang memuncak, banyak penawaran yang menjadikan dia model di berbagai majalah ataupun brand pakaian ternama.


Agendanya hari ini adalah ke tempat apartemen baru Matthew, dia akan menyambut dua pendatang baru. Tentu tidak sendiri, akan ditemani oleh pemuda bertahi lalat di bawah mata.


"Tumben cepet hari ini," ungkap seseorang yang telah menunggu gadis itu dari awal sesi pemotretan.


"Iyalah! Kan aku udah profesional," ucap bangga Cayla, memasang ekspresi seolah sombong.


Melihat tingkah gemas sahabatnya, Joseph mengusap pucuk kepala gadis itu, sehingga tataan rambut yang awalnya rapi menjadi lumayan berantakan.


"Jo! Kebiasaan tahu gak!"


Berbeda dengan Jordan yang menerima bahkan menyukai usapan tangan Sarah, tidak dengan Cayla yang selalu memprotes.


Namun, bukannya meminta maaf, Joseph malah puas tertawa dengan sikap gadis itu. Menurut Joseph, sosok Cayla akan lebih menggoda ketika dia marah, mungkin juga terlihat semakin cantik.

__ADS_1


"Haeya gak masuk?"


Entah angin dari mana yang menyeret pertanyaan ini ke dalam benak Joseph.


"Gak, jadwal dia udah dirombak," jelas Cayla.


Sebenarnya dirinya merasa sangat disayangkan karena insiden waktu 'itu', relasi persahabatan mereka menjadi begitu renggang. Bahkan untuk saling sapa saja Haeya merasa enggan. 


"Ya udah. Lupain aja, kalau emang waktunya berubah nanti juga Haeya berubah."


"Kamu kira dia power rangers?!" Gadis itu meninggalkan pukulan kecil pada lengan Joseph dan langsung berjalan menuju mobilnya.


Secepat kilat Joseph menghampiri gadis itu lalu mendekapnya. Terkesan romantis untuk ukuran sahabat.


_________________________________________


Ckiiitt!


Para penumpang merasa terkejut. Bagaimana tidak? Matthew secara tiba-tiba mengerem mobil, karena kalau tidak, ia bisa saja dituntut melakukan kriminal setelah menabrak laki-laki yang menyeberang jalan tanpa hati-hati. Dan hampir saja kepala Sarah terbentur dasbor mobil.


Beruntung, laki-laki itu tidak terluka, ia malah segera lari ke lain arah, bahkan sebelum Matthew turun dari mobil.


Lantas kejadian itu juga menyebabkan mobil lain di belakang harus rem mendadak. Hingga seseorang mengetuk jendela pintu kemudi. Terlihat ia memberi gerakan tangan sebagai tanda mengajak Matthew keluar dari mobil.


Tepat saat Matthew melepas sabuk pengaman dan keluar, betapa tidak percaya tampak pada wajah kedua pemuda itu.


"Wah! Aku jadi percaya bahwa dunia ini sempit."


Matthew hanya berdecak kasar lalu bergumam, "Ck! Mimpi buruk apa semalam?"


Entah mengapa setiap melihat orang tinggi berkulit putih ini, Matthew selalu tersulut dalam emosi, rahangnya mulai mengeras dan tanpa sadar ia sudah mengepalkan tangannya.


"Hei! Aku rem mendadak karena ada yang menyeberang sembarangan. Kalau saja aku tahu mobil di belakang itu kau, lebih baik aku menabrak penyeberang tadi," jelas Matthew pelan, terkesan penuh penekanan.


"Matthew sedang emosi," bisik Jordan yang tempat duduknya tepat di belakang Sarah.


Sontak Sarah menoleh ke arahnya dan memberi ekspresi seperti menuntut penjelasan.


"Aku akan turun." Jordan sudah bersiap untuk membuka pintu mobil, tetapi langsung terhenti oleh Sarah.


"Tidak! Kamu di sini aja!"


Larangan itu adalah salah satu solusi untuk prahara ini. Bisa-bisa jika Jordan yang turun situasi malah bertambah panas. Dengan segala keberanian Sarah memutuskan turun dan menghampiri kedua pria yang sedang beradu mulut.


"Apa yang terjadi? Apa ada masalah?" sergap Sarah dan berhasil membuat kedua pria itu diam sejenak.


"Lebih baik kamu di dalam mobil saja, Sarah." Matthew menepuk pundak gadis itu dengan instruksi bahwa tanpanya masalah ini akan selesai. 


"Tapi--"


Lagi-lagi belum sempat melontarkan penghujung kalimat, pria berambut pirang itu sudah menyelanya, "Nona, lebih baik anda memberitahu kekasihmu agar meminta maaf kepadaku."


Sarah mengerjap heran seraya menautkan kedua alis. Dia tidak ingin mendengar sebutan itu. Bahkan bukan hanya Sarah yang terkejut, tetapi gadis yang baru saja keluar dari mobil pria pirang itu pun membeku, "Kekasih?" lirihnya.


"Tidak, tuan. Anda salah paham kami tid--"


Untuk ketiga kalinya, tidak sempat meluruskan, Sarah melebarkan pupilnya ketika melihat seorang gadis berambut panjang yang familiar, keluar dari mobil pria pirang itu.

__ADS_1


"Chris..," lirih gadis itu. 


Sesekali Matthew menarik napas, guna menetralkan emosinya. "Jeon Haeya!" ucapnya lantang. 


"Kamu mengenalnya?" selidik Chris. Rupanya Haeya malah memasang ekspresi asing pada Matthew dan Sarah.


Penuh percaya diri, Haeya menjawab, "Sama sekali tidak."


"Apa maksudmu?!" Tentu saja Matthew tidak terima dengan jawaban gadis itu, bahkan mereka belum sempat memutuskan hubungan ini. 


"Maaf, tapi aku baru melihatmu beberapa hari lalu dan hari ini. Dan sekali lagi, tidak usah berdelusi tentang kita."


Tergambar puncak level amarah dalam mata Matthew, Sarah yang melihat insiden ini pun langsung menggenggam lengan Matthew. Tidak lebih untuk memintanya agar tenang. 


"Haeya...," lirih Sarah. 


"Ayo kita pergi, Hae!" ajak Chris. Sebelum memasuki mobil Haeya berjalan mendekati Sarah lalu membisikkan sesuatu pada rungunya, "Kamu yang memulainya, Sarah." Lalu dia meninggalkan mereka. 


Memang bukan kata-kata yang terkesan horor, tetapi itu berhasil menghipnotis Sarah menuju kandang singa. Semuanya telah memburuk.


"Haruskah ini dimulai?" gumam seseorang. Orang lain di luar tiga orang itu yang tentunya memerhatikan kejadian itu. 


_________________________________________


Sisi lain terdapat dua orang yang sudah singgah dengan tenang di dalam apartemen Matthew. Siapa lagi kalau bukan Cayla dan Joseph? Apalagi Matthew yang tanpa berpikir panjang memberitahu mereka password apartemennya. Dalam artian mereka telah memberi cap bahwa menganggap apartemen itu sebagai rumah mereka sendiri.


"Kenapa mereka lama banget, sih?" resah Cayla.


"Kamu nanya ke aku?" balas Joseph dengan nada nyolot.


"Gak, tapi nanya ke readers!"


Tidak tahu mengapa pria di sampingnya ini sulit sekali untuk dibawa serius. Sama seperti hubungan mereka, terus dalam status yang sama padahal memiliki perasaan yang berbeda. 


Cklek!


"Tuh, panjang umur. Baru juga  diomongin." Siapa pun berikan Cayla selotip, dia sangat ingin menutup mulut pria itu rekat-rekat. 


Namun, baru saja empunya apartemen itu masuk. Seluruh atmosfer di sana menjadi tegang, wajahnya penuh dengan amarah. Sama seperti beberapa waktu silam selesai perkelahian, tetapi level ini lebih tinggi dari kemarin.


"Ada masalah apa lagi, Matt?" Joseph memberanikan untuk bertanya. Ia memang tahu permasalahan di studio berkat Cayla. 


"Huh, bukan apa-apa. Jalanan begitu ramai dan ada kecelakaan kecil tadi."


Bukan waktu yang tepat untuk menceritakan ini, ia harus bisa menetralkan emosinya dan melupakan sejenak perkara itu.


"Kalian ingin berkenalan dengan temanku, 'kan?" lanjut Matthew. Cayla dan Joseph tampak heran dengan situasi yang drastis berubah, tetapi mereka mengangguk antusias untuk tawaran itu.


"Baiklah. Mereka akan makan malam bersama kita."


Dalam hati Matthew bersungut-sungut bahwa ia mampu menyembunyikan masalah ini. Karena ia tahu, Cayla dan Joseph sudah menunggu lama untuk hari ini. Oleh karena itu ia tidak ingin merusak yang seharusnya menjadi hari bahagia kali ini.


.


.


.

__ADS_1


to be continued...


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2