
"Aku akan menyebut nama Sarah, untuk mengobati rindumu."
Mulut dan mataku membulat sempurna. Ia selalu berhasil membuatku gagal paham. Padahal aku tidak mengatakan apa pun secara langsung, tetapi ia seolah sudah tahu yang kupikirkan.
"Ah, sudahlah! Aku ngantuk!" pekikku.
Segera mungkin aku menjauhkan tubuhnya dariku dan beranjak ke ranjang. Aku mematikan lampu kamar terlebih dahulu dan menyalakan lampu tidur. Lalu membaringkan tubuh dan memakai selimut kuning dari ujung kepala hingga kaki. Ketika aku mengintip Jordan dari balik selimut, pemuda itu masih saja mematung di tempat. Tanpa pergerakan, hanya menatapku intens.
"Kenapa kau tidak keluar?"
"Maksud Sarah, aku istirahat di sofa?"
Ah, panggilan itu ...
Aku tersenyum lalu mengangguk. Melayangkan telapak tanganku ke arah pintu kamar, sebagai isyarat menyuruhnya keluar dari kamarku sekarang juga. Pada detik berikutnya, Jordan benar-benar meninggalkan kamarku dan beranjak ke luar. Namun ia malah tidak menutup pintu.
"Jo! Tolong tutup pintu," pintaku dengan nada memelas.
Cklek!
"Bilang apa?" teriaknya dari luar pintu. Selain belajar tata krama diri sendiri, ia juga tidak lupa mengenai tata krama orang lain.
"Terima kasih!" seruku sambil tersenyum.
Aku menguap sebentar. Menandakan hari ini sukses menguras banyak energiku sampai dikuasai rasa lelah dan kantuk. Aku pun membenarkan posisi tidur agar lebih nyaman dan mulai memejamkan mata. Namun sebelum benar-benar terlelap, ada suara jepretan kamera yang amat mengganggu runguku.
Ckrek-Ckrek-Ckrek!
Kurasa aku tahu asal suara ini. Tentu saja suara kamera ponsel milik Jordan. Sesuai pernyataan Matthew, akhir-akhir ini pemuda itu suka selfie. Aku pikir memang bukanlah masalah besar, tetapi suara kameranya sangat mengganggu tidurku. Niat awal ingin menghampiri Jordan untuk menyuruhnya istirahat, tetapi setelah kucerna lagi, lebih baik tidak usah. Karena kuyakin hanya akan berujung perselisihan.
_________________________________________
Author POV
Setelah berusaha melelapkan diri dalam alam mimpi, akhirnya Sarah bisa tidur tenang. Gadis itu terlihat sangat nyenyak, sampai tak sadar alunan merdu dengkuran yang dia hasilkan. Dia kerap berbalik posisi ke kiri dan kanan tanpa membuka mata. Bantal gulingnya pun menjadi korban penindasan yang dilakukan oleh kedua kaki Sarah.
Persetan dengan itu semua! Sudah ada pemuda Bulan yang berada di sampingnya. Ia beberapa kali terkekeh pelan karena wajah bantal sang gadis. Seperti yang diketahui, Jordan tidak bisa tidur, ia hanya menatap Sarah sambil menopang kepalanya dengan tangan kanannya. Bukan dalam waktu sebentar, menatap lekat si putri tidur tak lantas membuat Jordan jengah.
Tangan kirinya mulai melakukan sebuah aksi ilegal. Ia tidak ragu membelai helai demi helai rambut hitam Sarah. Ia ingat awal pertemuan mereka, di mana rambut Sarah hanya sebahu, kini sudah lebih panjang dari sebelumnya. Dan Jordan mulai mencium aroma rambut sang gadis.
Tiba-tiba saja dengkuran Sarah terdengar lebih keras. Raut wajah Jordan berubah jadi terkejut. Lalu ia kembali menormalkan ekspresi tatkala memastikan gadis itu tidak terbangun dari tidur. "Apa manusia melakukan hal menggemaskan seperti ini saat tidur?" tanyanya seraya terkekeh.
"Em ...."
Saat detik itu juga, Sarah terbangun dan perlahan membuka mata. Dia agak terkejut dan mengerjap berulang kali lantaran melihat sosok pria di hadapannya. Pria itu juga melihatnya seraya tersenyum, hingga mencetak lesung pipi. Sungguh, dia belum sempurna mengumpulkan nyawa, sampai tidak langsung menyadari presensi Jordan.
"Astaga ... pasti aku sedang bermimpi," lirih Sarah.
Jari telunjuk Sarah kemudian beralih pada lesung pipi kanan milik Jordan. Dia mencolok-colok lesung itu sambil tertawa pelan. "Sepertinya aku lucid dream."
"Apa itu lucid dream, Sarah?" Jordan memegang dan menjauhkan tangan gadis itu dari pipinya.
Sontak mata Sarah membelalak. Gadis itu berteriak dan secara refleks mengubah posisinya jadi duduk sekaligus menjauh dari Jordan. "Aaaaaaaaa!!"
__ADS_1
"A ... apa? Kenapa?" Jordan ikut terkejut atas reaksi Sarah yang berlebihan. Terlebih ketika dia melayangkan bantal guling guna memukul kepala Jordan.
"Hei, hentikan! Ini aku!" sela Jordan sebagai pembelaan diri.
Akhirnya Sarah menghentikan pukulan. Dia kembali menaruh bantal guling itu dan mengatur napasnya yang menggebu-gebu. "Jadi ... barusan bukan mimpi?" tanya Sarah memasang ekspresi tak percaya.
"Sarah membuatku merinding!"
Sang gadis mencebik, menepuk jidat lalu berujar, "Siapa suruh kau tidur di sebelahku?!"
Jordan mengerucutkan bibir. Menatap Sarah bak anak kecil. "Aku bosan di sofa. Jadi aku berniat menengok Sarah. Itu aja, kok."
Sarah kehabisan kata. Lalu mengecek jam di dinding kamar. Menunjukkan pukul 3 subuh yang berarti masih waktunya tidur. Dia mendecak dan kembali membaringkan tubuh. Namun posisinya tidak menghadap ke Jordan, lagi pula dia merasa nyaman memeluk bantal guling kesayangannya.
"Kau mengganggu tidurku. Apa pun yang terjadi, jangan bangunkan aku!" perintah Sarah tanpa melihat pada sang pria.
Jordan mengangguk meski tidak dilihat. "Baiklah." Ia ikut berbaring di samping Sarah, menatap langit-langit kamar sebelum kemudian memejamkan mata.
Duh! Apa Jordan lihat aku saat mendengkur? Apa dia juga mencium rambutku? Aku, kan, belum keramas tiga hari ini! Memalukan saja! batin Sarah merutukki diri sendiri.
Suasana jadi kembali senyap. Sarah sebenarnya merasa risih karena keberadaan Jordan di atas ranjang yang sama, tetapi sangat mustahil pria polos sepertinya akan melakukan hal aneh. Dia menoleh dan mendapati pria itu memejamkan mata seperti orang tertidur. Lantas, dia bertanya, "Kau tidak perlu tidur, 'kan?"
"Memang. Aku hanya memejamkan mata, supaya Sarah merasa ditemani," sahutnya, tanpa membuka mata.
Sarah menghela napas. Dia memutuskan untuk kembali tidur sebelum langit menjadi fajar.
_________________________________________
Sarah POV
Sinar matahari dari jendela kamar amat menusuk penglihatanku. Perpaduan suara kicauan burung, kendaraan umum, dan televisi pun seperti alarm pagiku. Aku melirik ke sana, ke mari, guna mengecek presensi Jordan yang sudah menghilang. Ah, sepertinya ia tengah asik menonton televisi.
Aku meregangkan tubuhku sebelum beranjak dari ranjang. Lalu mematikan lampu tidur dan membereskan tempat tidurku. Ketika aku keluar kamar, aku tidak menemukan Jordan. Televisi itu menyala tanpa ada penonton.
"Sarah! Aku di sini!"
Tepat ketika aku menoleh ke arahnya, ia sedang duduk di depan pintu kulkas yang terbuka. Berkali-kali lipat aksinya lebih mengejutkan dibanding aksi konyol sebelumnya. Sementara Jordan menunjukkan deretan gigi terawatnya tanpa rasa berdosa dan kembali fokus pada layar televisi.
Rumahku ini memang kecil, makanya ruang tamu dan dapur tidak terlalu jauh, tetapi bukan berarti Jordan bisa duduk di dalam kulkas sambil menonton televisi seperti itu!
"Jordan! Sedang apa kau duduk di kulkas begitu?!"
"Cuaca hari ini sangat panas dan di sini tidak ada pendingin ruangan, jadi aku duduk di depan kulkas, deh." Pernyataan Jordan membuatku geleng-geleng kepala.
Aku memijat pelipisku karena berdenyut. "Kenapa tidak pakai kipas?" tanyaku lalu menghampiri dirinya.
"Hm ...." Jordan tampak ragu untuk menjawab. "Kipas itu sepertinya rusak," adunya.
Tidak mungkin! Aku baru saja membelinya!
Aku pun memutuskan beranjak ke arah berdirinya kipas angin di dekat televisi. Kipas yang setinggi tubuhku itu tidak berputar ketika kutekan tombolnya. Bahkan meski menekan deretan tombol yang lain, tetap saja nihil. Kemudian aku menatap selidik sambil bertanya-tanya, "Apa yang salah?"
Karena aku tidak juga menemukan masalah dari kipas yang sudah tak bekerja itu, sepertinya aku membutuhkan bantuan seseorang.
__ADS_1
Sudahlah ... mungkin ini hanya kecelakaan.
Tatap mataku kembali beralih pada Jordan yang masih menetap di dalam kulkas. Kali ini kubiarkan saja, karena aku tidak mau mengacaukan suasana pagi dengan melempar kelakar pada anak itu. Biar bagaimana pun, dunia asalnya bukanlah dari Bumi. Aku harus membangkitkan kesabaran ekstra saat bersamanya.
"Kau sudah mandi?" tanyaku yang dibalas anggukan dan senyuman.
"Katanya tidak akan memakai baju dari Theo, tapi kau pakai juga," sindirku sebagai gurauan semata.
"Aku pecinta kebersihan," sahutnya tidak mau kalah. Ia mengarahkan ponselnya ke atas dan selfie dengan gaya dramatis.
_________________________________________
Author POV
Di sisi lain, sudah ada seorang ibu dan anak tengah menikmati sarapan pagi di meja makan. Mereka duduk berhadapan, suasana begitu hening, hanya terdengar suara bising sendok dan garpu yang berhantaman dengan piring.
Sesekali Cassandra melirik pada putrinya. Namun yang dilirik bersikap tak acuh, dia memusatkan atensi pada makanan saja. Hingga wanita paruh baya itu pun memulai topik lebih dulu. "Kau ... masih berhubungan sama anak itu?"
Pergerakan Cayla terhenti sejenak. Dia menatap sang ibu begitu datar. "Bicaralah terus terang," serunya, masih bernada normal.
Cassandra menghela napas berat. Dia meraih gelas berisi air mineral di atas meja, lalu meneguknya sangat anggun. "Yang kumaksud Joseph. Anak panti asuhan itu," balasnya sambil menatap angkuh.
Kali ini sang putri sungguh-sungguh menghentikan makannya, meskipun belum habis. Dia kembali menatap ibunya. "Biar bagaimana pun, Joseph adalah temanku dari kecil," sergap Cayla, masih merendahkan nadanya. Tentu saja, dia tidak mungkin bernada tinggi dengan orang tua.
Wanita berkonde itu tertawa sarkas. "Hahaha! Kau pasti merasa kasihan padanya, 'kan?"
Kepala Cayla penuh tanda tanya, lantas dia mengernyitkan dahi. "Apa maksud mama?"
"Kalau kau tidak menjauhinya, mama bisa membuat Joseph kehilangan pekerjaan." Cassandra menyungging senyum sebagai peringatan bahwa dia tidak main-main akan ucapannya.
Cayla yang mengerti peringatan itu, hanya bisa meneguk salivanya. "Hari ini ulang tahun Joseph. Acaranya di panti asuhan Bu El, aku akan pergi." Belum sempat beranjak dari kursi, terdengar suara pukulan meja.
Brak!
"Mama tidak mengizinkannya!"
"Dan aku tidak meminta izinmu!"
.
.
.
to be continued...
ps.
Orang: mendengkur saat tidur.
Jordan:
dengkuran itu memalukan ✘
__ADS_1
dengkuran itu menggemaskan ✔
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡