NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[49 : Piknik Musim Panas]


__ADS_3

Sarah POV


Emosi riang kami lebih memuncak, tatkala telah tempuh lokasi, Golden Gate Park yang tersohor. Di pintu utama, kami bertemu dua orang sahabat, tetapi terasa kikuk. Aku memutuskan segera mendahului ketiga laki-laki itu lalu menghampiri Joseph dan Cayla di sana.


"Hai, Cay! Hai, Jo!" sapaku hangat pada dua sahabat itu. Mereka membalas lebih ramah.


"Tadi kau naik apa?" tanya Matthew ke Cayla.


"Mobil," jawabnya.


"Barengan sama Joseph?" tanyanya lagi.


Joseph menggeleng. Cayla kembali menyahut, "Tidak."


Memang benar, sepertinya sesuatu terjadi di antara kedua sahabat itu sampai bisa terasa canggung. Pasalnya mereka suka membuat kehebohan dan keribuatan, bahkan seolah ini dunia mereka sendiri, tanpa memedulikan kita.


Daripada itu, kini reaksi Joseph lebih melahirkan tanda tanya besar, tepat ketika ia melihat presensi Theo di sebelahku. Apa mereka sudah saling mengenal?


"Oh! Kau, si pemilik anjing hilang itu, 'kan?" sergah Joseph sambil melentikkan jari telunjuk.


Theo tersenyum gigi. "Benar. Namamu Joseph, 'kan?"


"Dan kau, Theo!" timpanya. "Woah! Aku jadi percaya bahwa dunia hanya sebesar telapak tangan," pikir Joseph berlebihan.


Kening Cayla menekuk sekaligus memicingkan mata tanpa mengulas sama sekali senyum sebagai sambutan ke Theo. Dia bahkan tidak memiliki inisiatif berkenalan. Namun terus terang, Theo tetap memegang prinsip keramahtamahan yang mendorong nyalinya untuk ajak gadis cuek itu berkenalan.


"Namaku Theo. Namamu?" Diulurkannya tangan kanan.


"Cayla." Sayang seribu sayang, niat uluran tangan Theo tidak dijabat oleh Cayla.


Kutatap lekat tangan kanan Cayla dan Joseph yang tidak kosong. Gadis bertubuh lebih tinggi itu, terlihat menjinjing sebuah keranjang cokelat ala anyaman bambu. Selain dia, Joseph pula membawa sebuah box putih berukuran medium, yang ia pegang dengan kedua tangannya sehingga sulit pengin berjabat.

__ADS_1


"Haruskah kita masuk sekarang?" Matthew langsung inisiatif mengajak kami masuk.


"Ayo!" seruku dan Joseph begitu antusias. Sementara Jordan hanya bungkam seribu bahasa. Dalam diamnya, ia selalu mengambil celah agar bisa berdiri di sampingku selalu. Aku tidak tahu harus merasa canggung, risih atau senang. Pasalnya aku diapit Theo dan Jordan sepanjang wisata, dan kala aku berinterkasi dengan Theo, Jordan langsung menatapnya seolah tidak suka. Padahal Theo adalah lelaki baik.


Persetan dengan itu semua! Keindahan Golden Gate Park amat luar biasa. Golden Gate Park menawarkan menawarkan keindahan yang tidak terbatas untuk rekreasi pengunjung dan penduduk setempat. Tempat ini memiliki 1000 hektar kebun, padang rumput, danau, golf, panahan, serta terdapat seni dan ilmu museum yang telah diakui secara internasional. Pembangunan Golden Gate Park ini sukses menarik minat khalayak.


Golden Gate Park adalah rumah bagi sepuluh danau, tempat ini jadi salah satu tempat yang paling populer di California. Banyak kegiatan yang dapat kami lakukan di tempat ini. Kami akan menyaksikan atraksi wisata, mulai dari Museum De Young, taman Japanese Tea Garden dan kawasan konservasi.


Pihak pengelola menyediakan beragam spot untuk dapat kami kunjugi. Kami juga menyusuri Danau Stow yang cantik. Saking cantiknya, kami semua mengabadikannya dalam foto. Jordan tak lantas melupakan hobinya, secara ia selalu sibuk selfie sendiri waktu menemukan ada beragam rupa objek yang menarik atensinya.


Ah, ada beberapa stand makanan di setiap pinggir jalan. Kalau tahu begitu, tidaklah seharusnya aku repot-repot membawa dan menyuruh mereka membawa makanan. Namun lebih baik bawa sendiri dari rumah, karena bisa saja makanan yang dijual di sini sengaja dilebih-lebihkan harga konsumsi.


Letih menjadi alasan tunggal yang memaksa kami harus rehat sejenak. Akhirnya kami dapat merasakan piknik di bawah pohon meadow yang amat indah. Aku tidak bisa menahan diri. Saat Matthew dan lainnya tengah membentang tikar di hamparan rerumput, aku duduk tenang di sebuah bangku seorang diri.


Telapak tanganku terangkat guna menghalau sinar matahari, tatkala aku menengadah, melihat langit biru yang masih setia ditemani sang surya. Helaan napas berkali-kali keluar dari mulutku. Tak bisa kupingkiri hari ini melelahkan meskipun rasa bahagia memuncak.


Aku tersenyum tipis pada hamparan langit biru di atasku. Gumpalan awan putih bergelung ke satu arah yang sama secara perlahan, searah dengan arah rotasi bumi. Kicauan burung-burung yang merdu dan juga beberapa kupu-kupu yang terbang melintas di sekitarku membuat suasana jadi lebih rahayu dan damai.


Aku menarik napas panjang, berusaha menghirup aroma pepohonan dan rumput segar yang mengelilingiku. Senyuman tipis tergurat di wajahku.


"Sarah? Kamu lagi apa?"


Sekilas aku terlonjak di tempat. Aku secepat kilat menoleh kala mendengar suara lelaki menyebut namaku dari arah belakang. Aku yang semula duduk sendiri, mulai ditemani oleh Theo yang sudah mengambil alih sisi di sampingku.


"Aku hanya duduk," jawabku sekadarnya.


"Buffi di rumah sendiri?" tanyaku. Mendadak saja anjing peliharaan Theo, terlintas di pikiranku.


"Iya," katanya. "Buffi udah biasa ditinggal sendiri kalo aku ada pekerjaan penting yang terpaksa ga bisa mengajaknya." Penjelasan Theo kubalas anggukan.


"Sarah! Ayo, kemari!" teriak Cayla seraya melambai-lambaikan tangan.

__ADS_1


Aku segera berdiri dan mengajak Theo untuk menghampiri mereka. Tampaknya mereka sudah selesai menyiapkan semua untuk memulai piknik sekaligus makan siang.


Kami duduk di atas tikar membentuk lingkaran. Kebetulan Jordan duduk di kiriku dan Cayla di kananku. Kami bersamaan menaruh berbagai macam bekal di tengah tikar yang masing-masing dari kami sudah membawanya, kecuali si pria Bulan.


"Selamat makan!"


"Sarah, kau bawa apa? Bagi, dong~" pinta Matthew sebagai provokator. Ia tak malu mengakui bahwa dirinya turut berhasrat memakan makanan milikku dari tadi.


"Ada pot roast dan gimbab, nih. Kalian kalau mau, ambil saja. Tidak apa-apa," ucapku menawari mereka semua yang melihat pada dua rantang milikku.


Tanpa banyak bicara, Matthew dan Joseph mengambil sejumlah gimbab dengan tangannya yang kuyakini belum mereka basuh. Mereka pun mengunyah intens dan lahap. Sementara aku merasa lega saat tahu reaksi mereka positif.


"Cay, biar kutebak, kalau kamu bawa dimsum, bukan?" Tebakkan yang tepat lantaran langsung dianggukki oleh Cayla.


Dia membuka keranjang anyam cokelat miliknya dan tepat menampilkan kotak dimsum serta camilan keripik. Dia memakan dimsum itu lalu memberi isyarat bahwa aku layak menyicipinya. Alih-alih makan, aku menatap Theo yang ternyata dari tadi sudah makan roti lapis panggang kornet buatannya sendiri, diselingi minuman soda dari Matthew.


"Boleh kucoba roti lapismu?" Aku tersenyum canggung. Kemudian ia menjulurkan makanannya padaku.


Satu gigitan lolos masuk dalam mulutku. Lezat menjadi kata perdana yang kugumamkan. Alhasil ia terkekeh bangga atas pujianku.


Kuperhatikan satu per satu teman-temanku, tetapi berhenti pada Jordan. Ternyata ia menatapku entah dari kapan, yang pasti wajahnya menekuk. Seperti yang diketahui bahwa Jordan tidak bisa makan kecuali minum kopi kaleng dari Matthew.


"Aku bawa cupcakes dan cookies. Apa kalian mau?" Adalah Joseph yang melontarkan ini.


"Aku mau, deh," sahut Theo dan mengambil dua cupcakes cokelat. Yang satu untuknya dan satu lagi diberikan untukku. Aku pun mengulas senyum, lantas semakin menyulutlah titik-titik apa dalam dada pria Bulan yang duduk di kiriku.


Padahal Theo duduk agak jauh dariku. Kenapa Jordan harus kesal begitu?


.


.

__ADS_1


.


to be continued...


__ADS_2