
Dari dini pagi sampai langit kembali gulita, 1.489 mil sudah mereka tempuh dan akhirnya mereka sampai pada tujuan, Texas.
Joseph memarkirkan mobil di dalam lobby apartemen, jika kalian ingat kata Cayla kemarin bahwa mereka akan menginap di hotel, tentu itu hanya tipuan belaka.
Joseph segera menurunkan semua bawaan mereka dari bagasi. Sedangkan Cayla berusaha untuk membangunkan dua gadis yang duduk di belakang. Mereka terlelap dengan posisi yang akrab. Kepala Sarah terlelap di pundak Haeya, dan Haeya bersandar di jok mobil.
Sebenarnya Sarah tidak ingin ikut ke tempat penginapan mereka, tetapi Cayla dan Joseph terus meyakinkannya, bahwa itu tidak masalah. Hanya untuk hari ini Sarah tinggal bersama mereka, besok dia akan pergi ke rumah bibinya.
Setelah Joseph menurunkan semua barang, Cayla pun sudah berhasil membangunkan Sarah tetapi nihil membangunkan Haeya. Gadis itu sangat asik di alam mimpi, membuat Cayla terpaksa harus berteriak tepat di rungunya.
"Eh, mobilnya mau meledak buruan keluar!"
Karena frekuensi suara yang begitu melengking, akhirnya Haeya terbangun dengan rasa terkejut. Wajahnya sangat panik seperti sungguhan terjadi. Hal itu membuat Cayla, Joseph dan Sarah tertawa habis-habisan.
"Ha-ha-ha! Makanya jangan molor terus!" ledek Joseph sambil tertawa puas.
"Nyebelin!" pekik Haeya. Gadis itu sudah bangun dan segera turun dari mobil dengan keadaan setengah sadar.
"Iya maaf, ini udah sampai."
Tatkala Cayla merasa bersalah, dia minta maaf dan mengajak sahabatnya itu masuk ke apartemen. Kalau kalian penasaran milik siapa apartemen itu? Tentu milik Cayla, dia baru membeli apartemen itu satu bulan yang lalu, khusus liburan musim dingin mereka.
Mereka memasuki apartemen dan langsung meregangkan otot yang terasa kaku, karena efek perjalanan panjang. Apartemen dengan tiga kamar, dua kamar mandi dan pemandangan yang sangat menggugah mata, bisa terlihat dari dinding kaca bagian ruang tengah. Mereka sepakat untuk membagi kamar, Cayla dan Haeya tidur bersama, sedangkan Joseph dan Sarah tidur di masing-masing kamar sisanya.
Perjalanan yang teramat panjang juga membuat mereka semua lapar dan Cayla pun menyuruh Haeya untuk memesan steak dari salah satu restoran terbaik di Texas.
Setelah itu, mereka secara bergantian mandi, kecuali si pria yang memiliki prinsip 'hemat air' alias 'malas mandi'.
"Sarah, kamu yakin ingin pergi besok?" tanya gadis yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan rambut yang tergulung handuk.
"Iya Cayla."
Diam-diam Haeya menyimak pembicaraan mereka. Meski matanya tertuju di layar televisi, ia menyempatkan untuk curi tanya, "Perlu kami antar?"
"Tidak usah, kalian nikmati saja waktu liburan, lagi pula aku sudah tau alamatnya kok," jawab Sarah dengan mimik wajah tenang dan polos. Dia ingin memulai hidup yang baik dan bahagia setelah pindah ke Texas.
Usai berbincang, akhirnya pesanan yang sudah ditunggu-tunggu datang. Joseph langsung berlari ke depan pintu dan mengambil pesanan mereka. Dengan penuh kebersamaan, mereka menyantap steak mahal sambil berbagi cerita.
_________________________________________
Sekarang tanggal sembilan belas. Sang mentari telah bersinar terang, namun cuaca tak sehangat saat musim panas.
"Baru bangun?"
Haeya yang baru saja keluar dari kamar, sudah mendapati sebuah pertanyaan dari gadis di dapur.
Gadis itu menghampiri Cayla dan minum secangkir gelas. Rupanya ia mengacuhkan sahabatnya dengan mengalihkan topik.
"Tumben masak. Sarah mana?"
"Dia udah ke rumah bibinya, dia juga titip salam buat kamu. Dia ga enak bangunin orang yang sibuk molor terus."
Haeya hanya bisa tertawa mendengar sindiran Cayla. Faktanya, gadis itu memang hobi hibernasi apalagi di musim dingin begini.
"Joseph mana?" tanya Haeya lagi, setelah mengamati ruangan yang lebih sepi dari kemarin.
"Jemput seseorang, mending kamu mandi dari pada nanti nyesel."
Cayla memberi peringatan sambil terkekeh dan sesekali mencicipi makanan yang sedang dia masak. Untuk tahu apa masakannya sudah layak dihidang atau belum.
"Bentar ah. Baru juga bangun."
Rambutnya teracak, wajahnya seperti bantal dan kotoran mata berserakan di sudut mata. Padahal kondisi dirinya sangat berantakan, tapi ia lebih memilih menyetel televisi dari pada beranjak mandi.
__ADS_1
Untungnya gadis ini menurut, ketika Cayla menatap tajam sebagai perintah, kalau tidak mereka bisa saling berargumen nanti.
Sekitar 20 menit dihabiskan Haeya untuk mandi. Ia hanya memakai hotpants dan baju over size-nya dengan nuansa lilac purple. Setelah dari kamar mandi, ia menuju ruang makan. Sudah terlihat makanan yang tersusun rapi dan siap disantap.
"Joseph belum balik?"
"Belum. Tadi aku nitip beberapa bahan makanan sama snack."
Gadis yang tengah duduk dan mengambil makanannya hanya bisa ber-oh ria saja.
"Mau makan duluan?" tanya Cayla yang masih sibuk membereskan beberapa barang di ruang tengah.
"Iya, emang kenapa?" jawab Haeya sambil memasukkan sesendok ayam dan sayur ke dalam mulut.
"Gak masalah kok."
Kali ini bukan Cayla yang menjawab. Melainkan seorang pria berambut pirang, yang baru saja masuk ke dalam apartemen mereka. Disusul Joseph yang membawa pesanan Cayla tadi.
"Uhuk! Uhuk!"
Haeya yang tadi asik mencerna makanannya, karena mendengar jawaban pria tadi, dia jadi tersedak. Buru-buru dia mengambil air minum yang berada di sebelah kanan piringnya.
"K—kak Matthew?" tanya gadis itu sambil tergagap karena tak percaya penampakan yang di hadapannya.
"Hai Haeya!"
Matthew mengembangkan senyum andalannya, dan memberi Haeya sapaan yang sangat hangat.
"Wah tamu kita sudah datang," sergap Cayla yang baru muncul ke ruang makan.
"Cay, ga ada niat bantuin aku?" protes Joseph yang sedang mengeluarkan bahan-bahan makanan dari kantung belanjaan.
"Iya sebentar, by the way, thanks ya!"
"Udah cocok bina rumah tangga, nih."
"Joseph hanya pria kekanakan bagiku," sindir Cayla.
Joseph hendak protes, tetapi segera disela oleh Cayla. "Kau tidak mau kasih kepastian sama yang itu?"
Cayla membalas Matthew dengan memberikan kode untuk Haeya. Namun sepertinya itu tidak diterima baik oleh gadis ini. Wajahnya berubah menjadi murung seketika. Ah, ternyata terjadi kesalahpahaman antara mereka.
"Wah! Siapa tuh Matt?" Haeya malah melemparkan pertanyaan pada Matthew. Pasalnya gadis berdarah Korea ini, tidak tahu yang dimaksud adalah dirinya. Dan teman-temannya pun hanya terkekeh.
"Nanti juga tau. Lagi nunggu timing yang pas."
"Semangat ya," balas Haeya dengan senyum tak ikhlas. Dia lanjut menghabiskan makanannya secara intens dan terburu-buru.
"Ya sudah, sekarang makan aja dulu," ajak Cayla. "Gimana kalau nanti sore kita pergi ke taman bermain?" lanjutnya dengan tawaran sempurna.
"Of course! Sekalian aku ajak kalian keliling Texas."
Matthew mengiyakan ajakan Cayla, sama seperti yang lain. Hal ini akan terbilang seperti 'double date' walaupun mereka sama-sama tidak memberi kepastian hanya menunggu waktu yang tepat.
_________________________________________
"Ayo, kalian cepat kemari!" ujar Cayla dia sangat excited untuk pergi ke wahana bermain, tetapi jika dilihat-lihat seperti pasar malam versi Texas yang jauh lebih modern.
"Jangan lari-lari! Nanti kamu jatuh, aku lagi yang repot."
Adalah Joseph yang sibuk mengkhawatirkan Cayla. Sebab, gadis itu terus mengumbar rasa senangnya dengan cara berlarian.
Dua orang lainnya ada di belakang Cayla dan Joseph. Mereka mencoba berjalan dengan langkah yang sama dan jarak yang normal. Hal tersebut pun membuat keduanya canggung.
__ADS_1
"Sepertinya salju pertama akan turun lebih cepat," ujar Matthew untuk memecah keheningan.
"Iya kah? Aku juga sudah merasa suhu udaranya lebih dingin dari kemarin,"
"Kamu tau begitu, kenapa masih memakai pakaian yang tipis?"
Sebenarnya pakaian Haeya tidak tipis, ini terhitung standar untuk suhu yang lumayan dingin. Kerisauanlah yang mendorong Matthew untuk menyindirnya.
"Ini standar tau!" protes Haeya sambil memukul lengan Matthew.
Karena mereka terlalu asik bercanda, Cayla dan Joseph memperhatikan mereka dengan wajah yang puas. Tidak sia-sia skenario yang mereka rangkai selama ini. Namun lama-kelamaan, mereka juga lelah dijadikan nyamuk. Akhirnya mereka membuyarkan perhatian Haeya dan Matthew agar segera masuk ke wahana bermain.
"Pacaran terus!" ledek Joseph ke arah Matthew.
"Nembaknya nanti aja, woy!" teriak Cayla yang sontak membuat dua insan tersebut menjadi salah tingkah.
Masing-masing pasangan sekarang sudah menentukan wahana apa yang ingin mereka naiki. Haeya dan Matthew memilih untuk menaiki bianglala. Kini suasana di dalam ruangan itu hening, Matthew tahu bahwa Haeya takut dengan ketinggian. Dia tidak mengatakannya, tetapi gerak tubuhnya bisa terungkap.
"Kamu takut?" tanya Matthew sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Haeya yang duduk berhadapan.
"Ga kok!" bantah Haeya tentu dia tidak ingin terlihat lemah di hadapan pujaannya.
"Akui saja." Nada bicara Matthew kini berubah menjadi lebih berat. Atau bisa kita katakan bahwa ini telah memasuki suasana yang serius. "Aku juga takut, takut bahwa aku terlambat mengakui semuanya."
"Kenapa?" tanya Haeya sangat penasaran. Dia sudah memendam ribuan tanda tanya dalam benaknya.
"Kalau kamu berpikir seseorang menyampaikan sesuatu kepada awan, apakah awan akan mengantar pesannya kepada hujan?"
Gadis itu hanya terdiam. Otak jeniusnya seketika tersendat untuk menjawab.
"Hal sederhananya, apakah hujan akan turun tanpa awan? Dan apakah perasaan cinta akan tumbuh tanpa seseorang? Aku tahu ini terlalu awal dan aku paham kamu mengerti maksud kiasan itu."
"Sangat disayangkan tidak ada memori yang bisa kita bagi di masa dulu. Namun aku ingin membuatnya sekarang, setidaknya kita sama-sama telah mengukir kisah di dalam pikiran dan hati kita masing-masing dengan vista yang sama. Tanpa perlu takut apakah itu bisa dikatakan sebagai memori ataupun tidak." Kata-kata Matthew berhasil membuat butiran berlian di pelupuk Haeya turun perlahan.
Tanpa aba-aba gadis itu langsung memeluk erat Matthew. Suhu tubuh mereka sama-sama turun, namun seketika pelukan itu menciptakan suasana hangat yang tak pernah dilupakan. Tidak perlu mengatakan iya, namun ungkapan yang lebih dalam, langsung berasal dari perasan mereka sendiri.
_________________________________________
Di waktu yang bersamaan juga ....
Sarah sudah mencari-cari alamat rumah bibinya. Sarah pikir bisa menemukan rumahnya sebelum larut. Namun ternyata, sampai langit gulita pun, usahanya nihil.
Dia sempat bertanya pada orang-orang sekitar guna membantunya. Entah yang mereka katakan salah, entah dia yang bodoh, realitanya sekarang dia tersesat di tanah asing.
Tidak jauh dari tempatnya berdiri, terdapat sebuah taman. Taman itu memiliki satu bangku yang panjang, dua ayunan, hanya diterangi satu lampu, alhasil taman agak gelap dan seram. Namun suasana seperti itulah yang gadis itu suka. Jadi, Sarah putuskan untuk rehat sebentar di sana.
Dia melepas koper hitam yang sejak awal dia bawa. Dan duduk di salah satu ayunan yang menggantung. Sesekali Sarah mengendalikannya dengan kedua kaki sambil menengadah ke langit.
Gadis itu bisa melihat jelas pemandangan langit malam, tetapi seindah-indahnya langit dengan ribuan bintang, tetap saja baginya ada yang kurang jika tidak ada bulan.
"Aku merindukanmu. Kamu di mana Bulan?" ucapnya, lalu memejamkan mata secara perlahan.
"Tidak perlu mencari suatu yang tidak ada sementara. Mereka sudah menentukan sesuatu yang terbaik untukmu."
Tiba-tiba suara pria menyergah Sarah. Ia seolah menjawab pertanyaan Sarah, tetapi sayang sekali, gadis itu tak cukup pintar untuk memahami jawabannya.
Dan tak disangka salju pertama turun. Seolah menjadi saksi untuk dua insan yang telah bersatu dan dua insan yang baru bertemu.
.
.
.
__ADS_1
to be continued...
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡