
"Iya, Love."
Sekilas terdengar omongan Jordan yang menyebut gadis itu pakai 'Love'. Sontak mataku membulat sempurna, secara 'Love' berarti cinta.
Apakah Jordan sedang menyatakan cinta?!
Tangan Matthew singgah pada satu pundakku lalu menepuk-nepuk singkat. "Sabar, ya. Nyatanya, gadis itu lebih cantik sehingga bisa memikat Jordan."
Sialnya, kini Matthew membalas kata-kataku. Bahkan lebih tajam daripada pisau. Ditambah seringainya yang menyebalkan ikut serta. Kuputuskan menghampiri Jordan dan si pewawancara tersebut, tetapi ketika sudah di depan mereka, aku bingung harus memulai konvensasi seperti apa?
Mereka mendongak padaku yang tersenyum. Seketika Jordan berdiri, disusul gadis berambut panjang itu. "Sarah, ini Lovia. Dan Lov, ini Sarah."
Oh? Jadi, Lov itu nama dia? Bukan maksudnya cinta? Syukurlah.
Setidaknya perkenalan ini secara tidak langsung menjadi klarifikasi atas asumsiku yang berakhir dusta.
Aku menghela napas lega sembari mengelus dada. Langsung mendapati reaksi bingung dari kedua orang itu. "Ada apa?" sergap Jordan.
"Ah, ga apa-apa." Aku menggaruk tengkuk tak gatal. Tidak lama, Jordan menepuk kursi di sampingnya, mengisyaratkan agar aku duduk di kursi itu yang segera mungkin kusinggahi.
"Jadi ... untuk apa wartawan datang ke Sun's Cafe?" Pertanyaanku menjadi topik perdana.
"Akhir-akhir ini, Sun's Cafe mencapai popularitas tinggi di kalangan remaja, karena beberapa alasan. Dari estetika ruangan, sajiannya pula sangat beragam dari menu breakfast, makanan berat, beragam jenis kopi sampai penutup. Sudah seperti restoran, tetapi tak luput dari nuansa kafe yang membuat perkumpulan anak remaja betah nongkrong di sini," katanya, panjang dan santun.
Lovia, gadis itu tak melunturkan kurvanya sama sekali. Menit selanjutnya sang pemilik kafe datang. Ia lebih memilih duduk di sisi kanan meja, daripada duduk di sebelah pewawancara. Kurasa, ia masih simpan rasa kesal dalam lubuk hati, tetapi seulas senyum setia bertengger.
"Apa aja yang ditanyakan pewawancara itu padamu?" Matthew bertanya menghadap ke Jordan. Sementara si buah bibir, menatap heran Matthew yang padahal bisa bertanya langsung ke dia.
Jordan sekilas melirik pada Lov, lalu menjawab pria bermarga Julian itu, "Banyak hal. Seperti 'namaku siapa?', 'kapan berdirinya kafe ini?', 'siapa saja yang menjadi barista?', 'siapa yang membuat menunya?', 'siapa yang memasak ma-'"
Belum terucap sempurna, pria itu sudah menyela sambil tersenyum, "Coba tanyakan pada pewawancara itu, apakah dia ga akan bertanya 'siapa pemilik Sun's Cafe ini?'"
__ADS_1
Aku, Jordan dan Lov mengerjap heran. Seolah kami sama-sama membatin, bukankah ia bisa bertanya sendiri?
Karena Jordan masih saja terdiam, aku pun menyikut lengannya agar angkat bicara, setidaknya suasana terlepas dari kecanggungan. Pemuda Luna yang mengerti, segera menuruti isyaratku. "Lov ... Matthew bertanya, apakah kau ga akan menanyakan siapa pemilik Sun's Cafe?" tanyanya hati-hati.
Gadis itu membuang napas. Bola matanya memutar jengkel. "Katakan padanya, bahwa aku udah tahu. Matthew Julian, bukan?" ujarnya tanpa beralih dari Jordan. Tentu dia enggan menatap Matthew yang bahkan tak sedetik pun melihat dirinya.
"Em ... Matt, kata gadis itu; dia sudah tahu. Dia ingin memastikan, namanya Matthew Julian, bukan?" sambung Jordan dan dibalas anggukan kecil oleh lawan bicara.
"Katakan pada gadis itu, kalau dia udah tahu pemiliknya, kenapa ga mewawancariku?" Kening Matthew mengernyit, tatapannya pula menajam.
"A—"
Belum satu kata keluar dari mulut Jordan, sang pewawancara gadis itu sudah menyergap. "Aku ini hanya mahasiswi magang. Dan wajah oknum yang kuwawancarai pun harus tampan, agar debut karirku ga sulit!" gertaknya lugas.
Matthew melotot. Ia balik menghadap Lovia lalu protes, "Jadi, kau menganggapku jelek?!"
"Bukan jelek! Tapi buluk!" balas gadis itu.
Aku yang sejak awal mendengar kelakar mereka ini, hanya bisa geleng-geleng kepala. Perihal masalah sepele saja, sudah seperti masalah yang merenggut nyawa. Aku juga tidak rela bila Jordan yang jadi penengah mereka.
"Udah, hentikan! Kupingku bernanah mendengar kelakar ga berfaedah kalian. Apalagi kalian baru saja saling mengenal, bukankah harus jaga image masing-masing?" leraiku sembari memijat tungkai hidung.
"Ga ada juga, yang mau mengenalnya," timpa Matthew menyebalkan.
_________________________________________
Beberapa menit setelah itu, si gadis pewawancara memutuskan pulang saat sudah merangkum beberapa informasi yang dia tanyakan pada Jordan. Dia juga menyempatkan pamit pada pemilik kafe, meskipun Matthew bersikap apatis padanya.
"Dah! Sampai jumpa, Lov!" seru Jordan seraya melambai-lambaikan tangan dan tersenyum simpul.
"Jangan berkata seperti itu!" larangku.
__ADS_1
"Kenapa memangnya?"
"Seolah kamu mau bertemu lagi dengannya," jawabku datar.
Dan ia tersenyum semakin lebar, yang membuat hatiku kian gusar. "Bukankah itu jelas?"
Daripada terus merasa jengkel, kuputuskan menghampiri Matthew yang masih duduk di kursi sejak tadi. "Saranku, gimana kalo kita liburan musim panas dulu, sebelum beralih ke musim gugur?"
Sontak ia mendongak ke wajahku. Netranya berbinar dan tercetak senyum yang sudah dipastikan menjadi jawaban bahwa ia setuju. Baiklah, kita hanya tinggal menunggu hari dan tempat yang tepat sekaligus akan memilah beberapa kawan yang harus ikut piknik musim panas ini.
.
.
.
to be continued...
Jordan Luna a.k.a Choi Soobin♥
Halo semua!
Maaf, ya aku ga bisa feedback baca karya author-author yang bagus..
Karena aku lagi sibuk pacaran sama tugas sekolah, bahkan buat nulis pun harus pinter-pinter curi waktu..
Mohon maklum aku masih pelajar, dan harus kejar target nilai kelulusan.
Tapi tenang, tetep aku feedback like dan komen, walaupun sedikit telat^^
__ADS_1
Makasih semuaaa<3
Salam dari soulmate eaJ!