NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[50 : Time of Our Life]


__ADS_3

Kenapa Jordan harus kesal begitu?


Daripada berujung perkara, lebih baik kuajak Jordan berbicara. "Jo, kamu foto apa saja tadi?"


Mendadak terukir senyum. Kemudian ia membuka layar ponsel dan menunjukkan beberapa jepretan foto yang ia tangkap sejak awal jalan-jalan. Kulihat dengan saksama, bahkan kerap kali terkekeh karena hanya foto selfie Jordan lah yang kutemukan.



Selepas makan makanan milikku, dahagaku mulai menjajah kerongkongan kering ini. Mungkin Jordan yang peka hal itu, ia segera meminta minum kaleng untukku. Aku mengumandangkan terima kasih seraya tersenyum, yang tentu dibalas juga sama Jordan.


Beberapa jam berlalu. Kami manfaatkan waktu piknik ini dengan memegang prinsip berbagi makanan. Selain itu, ada gelak tawa terselip kala kami berbincang.


"Matt, pas aku menuju ke sini, di perjalanan aku lihat foto Haeya!" Nada bicara Joseph dilebih-lebihkan. Ekspresi Matthew jadi berubah drastis muram.


"Jo, jangan mulai, deh," decak Cayla.


"Ternyata dia jadi model dari iklan lipstik, dan fotonya terpampang besar di papan Billboard," imbuh Joseph lagi.


Matthew memutarkan kedua bola matanya jengah, tetapi tak berhenti menggigit dimsum terakhir. "Kalau begitu, aku akan menutup mata saat berkendara agar tidak melihat iklan itu," katanya.


"Kalau kecelakaan, aku enggan menolongmu, ya," ucap Joseph acuh tak acuh.


"Hei, anak kecil! Ini bukan saatnya membicarakan hal itu," celetuk Cayla.


Joseph menghembuskan napas sembari geleng-geleng kepala. "Kau tahu sendiri, 'kan? Selain makanan, gibah adalah pemersatu bangsa!" ungkapnya.

__ADS_1


"Ah, sudahlah kalian tidak akan paham!" Joseph beranjak dari posisi duduk. "Aku mau beli es krim. Ada yang mau ikut?" tanyanya menatap kami semua.


"Aku mau ikut!" Theo mengacungkan jari lantas berjalan seiring bersama Joseph menuju salah satu stand di mana es krim dijual.


"Aku mau beli es krim stroberi waffle, kalau kau mau apa?" tanya Joseph pada Theo yang masih sibuk melihat menu guna menemukan pilihan tepat.


"Ah, aku sama aja kayak kamu," jawab Theo. Sementara Joseph menyebut pesanannya pada sang kasir, Theo mengambil beberapa lembar uang dari saku celananya dan memberikan itu pada kasir.


"Eh? Kenapa kau yang bayar punyaku?" Pria bertahi lalat di bawah mata itu merasa terkejut.


"Hanya ingin, hehe," balas Theo tertawa pelan.


"Terima kasih kalau begitu."


Biar bagaimanapun, Joseph melekat pada prinsip hemat ekstra. Ia takkan menolak bila ada orang yang menraktir dirinya, apalagi kalau orang itu melakukannya tanpa Joseph minta alias berlapang dada. Meski memiliki prinsip hemat, ia bukan mental pengemis.


Selepas duduk di atas tikar dengan posisi nyaman, Joseph memberikan waffle dengan tumpukan es krim stroberi yang disiram madu juga ditabur parutan cokelat warna-warni di atasnya.


Es krim itu sukses menggiurkan. Bahkan bisa saja salivaku menetes ketika mencium harum khas krim stroberinya. Tanpa bicara, Joseph langsung menggigit bagian pinggir waffle dan mengambil es krim menggunakan sendok. Ah, aku juga menginginkannya! batinku berteriak.


Tidak disadari, Theo mendekatkan tubuhnya ke arahku. Ia mempersempit jarak kami dan mengunci tatapanku pada es krimnya yang mulai mencair. Detik selanjutnya, ia menyuapiku es krim dengan sendok yang belum ia pakai. Mataku sontak membelalak lantaran dikejutkan oleh rasa manis dari waffle yang berpadu cairan madu juga es krim yang menyegarkan, membuat tubuhku dihinggapi sensasi luar biasa.


Aku tidak bisa memungkiri bahwa ini sangatlah enak. Sampai aku terlena dengan suapan-suapan berikutnya yang dilayangkan Theo untukku.


"Ck!"

__ADS_1


Tanpa kulihat orang yang mencebik, aku pun sudah tahu si pelaku adalah Jordan. "Padahal aku juga bisa belikan kalau Sarah mau," celetuk Jordan.


Secara refleks kuhentikan gerak suapan Theo dan ia menjauh dariku. Aku menatap Jordan sambil berbisik, "Terlambat."


"Sudah, yuk, pulang! Aku lelah sekali hari ini," ajak Cayla sembari merentangkan tangannya. Netranya memerhatikan bahwa semua makanan telah habis disantap dan hanya tersisa sampah yang berserakan di atas tikar. Segala inisiatif menggerakkan hati Cayla untuk memungut sampah itu dan memasukkannya dalam keranjang cokelat miliknya. Mungkin akan dia buang saat sampai di rumah nanti.


Kami juga mengambil tempat makan masing-masing. Sebelum kemudian beranjak pulang ke kediaman sendiri. Ketika di pintu utama, Cayla dan Joseph pamit hingga tersisa aku, Jordan, Theo juga Matthew. Entah mengapa, sang pria Bulan tiba-tiba ingin mengajakku ke suatu tempat, meskipun hari sudah petang akan semakin larut. Aku tidak bisa melawan, apalagi ia memasang wajah melas terbaiknya yang membuatku tak tega menolak.


Kalau Matthew, katanya ia tidak masalah bila Jordan mengajakku pergi lagi. Begitupun Theo yang tidak masalah bila harus pulang sendiri. Ia bahkan masih sempat mengucapkan terima kasih karena kami telah mengajaknya liburan bersama.


Author POV


Di luar lokasi...


"Cay," panggil Joseph pada seorang gadis di depan sana. Sang pemilik nama segera menoleh ke belakang, lalu menaik-turunkan alis.


"Kenapa?" Cayla bertanya. Joseph memberanikan langkahnya mendekati gadis itu yang sudah menuntut penjelasan.


"Kau ...," Joseph menjeda karena gugup, "punya waktu sebentar?" Akhirnya lolos lah pertanyaan Joseph yang mengandung berbagai makna, sampai menimbulkan beragam tanda tanya besar dalam benak Cayla.


.


.


.

__ADS_1


to be continued...


__ADS_2