
Hari terakhir class meeting di tutup dengan pertandingan final volly antara kelas 12 dan kelas 11. Di hari selanjutnya, yaitu hari Sabtu. Para wali murid berdatangan ke sekolah untuk mengambil raport anaknya. Ada juga yang di wakilkan atau bahkan murid mengambil sendiri raport mereka karena memang tidak ada wali murid yang bisa hadir. Sedangkan Spica, jika biasanya raport diambil oleh bapak, kali ini diambil oleh ibunya. Spica sedih mengingat moment-moment dimana sang Bapak selalu mentraktirnya bakso tiap kali selesai mengambil raport. Mengingat elusan lembut Bapak di kepala Spica yang sedang menikmati bakso, beliau selalu berkata bangga memiliki anak sepertinya.
"Ngelamun apa sih Mbak?"
Suara Adara mengacaukan lamunan Spica, gadis itu terlihat penasaran dengan kakaknya yang terus saja berdiam diri. Spica menoleh pada Adara, mengamati adiknya dari atas sampai bawah. "Saya kenal baju itu," ungkapannya sambil melihat baju yang dikenakan Adara.
Sedetik kemudian, Adara meringis. Melupakan pertanyaannya pada Spica. "Pinjam yahh. Dah lama Adara nggak pernah pinjam baju Mbak."
Tidak menerima jawaban apapun, Adara mendekat dan duduk di samping kakaknya, di atas ranjang. Saat ini Adara memang sedang di kos Spica, untuk apa lagi jika bukan menemani Ibu. Untung saja pengambilan raport Spica bertepatan dengan hari libur, kalau tidak Adara pasti ditinggal sendirian di rumah.
"Mbak, nanti kalo Ibu udah pulang ngambil raport Mbak, kita jalan-jalan yaa." Adara memohon, tangannya merangkul Spica dengan erat.
Adara sedikit kesal karena Spica tak kunjung meresponnya. Demi Adudu yang susah payah mencuri koko daripada membelinya! Adara terlampau heran kenapa kakaknya bisa sejutek itu. Padahal tidak ada anggota keluarga mereka dengan sifat jutek
"Mbakku yang paling jutek seduniaaaa." Adara menggoda, berusaha membuat kakaknya buka mulut. Namun sayang, hanya tatapan datar yang didapat.
"Mbakku yang paling baik dan pengertian seduniaaaaa."
Spica menghela napas. "Nanti malam kita pergi dengan Ibu." Setelah mengatakan itu, Spica memposisikan diri berbaring dengan tangan yang menyahut selimut untuk menutup seluruh tubuhnya. Sedangkan Adara, senyum gadis itu mengembang.
......................
Sesuai keinginan Adara. Malam harinya, setelah isya, Spica mengajak adik dan ibu ke warung bakso dekat pertigaan. Warung bakso yang setahun sekali selalu dikunjungi bersama almarhum bapak.
Adara duduk di samping Mira, sedangkan Spica duduk di depan keduanya. Mengamati adiknya yang begitu lahap memakan bakso dan Mira yang santai. Sedangkan Spica, gadis itu hanya memesan teh hangat karena perutnya sudah terlalu kenyang untuk di isi makanan lagi. Beberapa jam sebelum berangkat Spica sempat memakan begitu banyak cemilan.
Sembari menunggu adik dan ibu selesai makan. Gadis itu bertongkat dagu dengan netra mengamati sekeliling. Rasanya, sudah lama sekali Spica tidak menikmati mobilitas malam. Dan hari ini untuk pertama kalinya setelah selesai dari tanggungjawab pada Bara dan ujian, Spica dapat menghibur udara malam dengan tenang. Apalagi kehadiran Mira dan Adara di dekatnya, bertambah tenang dan indah hidup Spica.
"Nduk, tadi ibu liat sekilas rapotmu, nilainya turun." Mira meletakan sendok dan garpu sesaat untuk mengambil gelas berisi jeruk hangat. Meminumnya sampai setengah wadah. Wanita paru baya itu memandang Spica penuh tanda tanya, khawatir dengan alasan menurunnya nilai anaknya itu.
Spica diam, bingung juga dengan nilai ujiannya sendiri. Tidak tahu ingin menjawab apa, beruntungnya Adara menyelamatkan kebingungan Spica. "Hidup itu memang naik turun Buk, capek di atas terus. Sesekali di bawah, iya kan mba?" Adara menyahut.
"Ibu loh bicara sama Mbakmu."
"Adara mewakili, iya kan Mbak?" Adara melirik Spica.
"Udah ada rencana mau kuliah dimana?
"Mbak mau kuliah di Harvard." Lagi-lagi Adara menyela. "Biar ketemu sama cogan anak orang kaya, sedikit berandalan dan akhirnya jatuh cinta sama Mba Pika." Bayangan cerita dari salah satu platform literasi berseliweran di pikiran Adara, rupanya gadis itu tidak bisa membedakan mana dunia imajinasi dan dunia nyata.
"Ngarang kamu!" Hardik Mira. Amit-amit, jangan sampai anak sulungnya pacaran dengan preman. Begitu pikirnya. Tidak ada orang tua yang mau anaknya berdekatan dengan manusia tidak beradab.
"Keren tau Bukkkkk."
Mira menjewer telinga Adara, membuat gadis kecil itu meringis. "Siapa yang ngajarin kamu kaya gitu?"
"Sudahlah Bu, Adara hanya becanda. Umm, Spica ingin beli kuota Bu. Sebentar." Spica mencari alasan agar terlepas dari pertanyaan Mira. Sejujurnya gadis itu ragu untuk mengungkapkan keinginannya. Takut Mira marah. Di lain sisi, Spica tidak ingin berbohong. Dan menghindar, adalah langkah paling tepat yang Spica punya.
Setelah mendapat anggukan dari Mira, Spica pergi ke Konter pulsa yang jaraknya hanya beberapa langkah dari warung bakso. Spica sedikit terkejut karena Sena, mantan pacar Bara juga di sana. Duduk di salah satu kursi yang berhadapan langsung dengan lemari kaca setinggi kurang dari 1 meter. Tatapan keduanya bertemu. Spica bertingkah seolah-olah tidak mengenal Sena, malas menyapa.Sedangkan Sena, gadis itu terus memperhatikan Spica.
"Mbak, vocer kuota Telkomsel yang 65 ribu," tutur Spica, langsung diangguki pemilik konter. Begitu mendapat apa yang diminta dan membayarnya, Spica bergegas pergi.
Namun, baru saja turun dari tangga terakhir konter, lengan Spica ditarik Sena. Spica berbalik sambil melepas cekalan dilengannya. Gadis itu menaikkan alisnya bingung. "Kenapa?"
__ADS_1
"Lo nggak ada niatan minta maaf ke gue?" Pertanyaan dengan nada memojokkan keluar dari mulut Sena. Gadis itu rupanya sedang menahan kesal, berusaha membuat Spica merasa bersalah.
Ekspektasi tidak selalu sesuai realita, begitu pula yang Sena rasakan. Berharap mendapat ucapan maaf dan menyesal dari Spica, yang di dapat malah pertanyaan balik yang terucap begitu polos.
"Perihal?" Satu kata yang keluar terasa enteng, tanpa beban apapun. Spica memang tidak tahu apa yang dimaksud Sena. Gadis itu tidak merasa memiliki masalah dengan siapapun. Termasuk Sena.
Sena mendengus kesal. "Gara-gara lo, gue sama Bara jarang ketemu."
Spica membuka mulutnya, membentuk huruf O sambil mengangguk paham, kemana arah pembicaraan Sena dan apa yang akan dilakukan gadis sebayanya itu. Tentu saja menuduh Spica sebagai penyebab hancurnya hubungan Sena dan Bara.
"Saya hanya menjalankan tugas." Spica membela diri.
"Tugas apa yang mengharuskan lo buntutin Bara dan ngatur-ngatur kehidupan dia?" Sena menatap sinis Spica dengan kedua tangan melipat di diatas perut. "Tau gak?"
"Tidak." Gelengan pelan dari Spica membuat Sena bertambah geram.
"Gara-gara lo." Sena menunjuk wajah Spica. "Gue putus sama Bara!"
Nah kan! Tebakan Spica benar. Tapi sayangnya tuduhan Sena tidak benar. Bagaimana bisa Spica menjadi penyebab putusnya hubungan Sena dan Bara sedangkan dirinya bukan perebut? Spica sama sekali tidak memiliki rasa untuk Bara. Selain urusan kerja, Spica tidak peduli dengan kehidupan asmara Bara. Spica juga tidak memiliki masalah dengan Sena, jadi untuk apa balas dendam dengan menghancurkan hubungan keduanya?
Menurut Spica sendiri, Sena lah yang justru membuat hubungan keduanya berakhir. Dengan santai, Spica menatap Sena, tepat di netranya. "Satu hal yang perlu kau ingat, jangan berselingkuh di satu tempat yang sama dengan keberadaan orang yang kau sebut pacar."
Kalimat itu bagai panah yang menghunus tepat di jantung Sena. sampai-sampai gadis yang awalnya sudah menyiapkan puluhan kalimat makian untuk Spica itu, membeku sejenak. Sena tidak bisa menyanggah lagi, karena faktanya, apa yang diucapkan Spica memang benar adanya. Sesuai fakta!
Bodoh, Sena seketika merasa begitu bodoh. Hatinya tidak terima menerima serangan Spica, tapi juga tidak bisa menyanggah. "L-lo..."
Seperti mendapat oase di luasnya gurun pasir, netra Sena berbinar begitu melihat Bara yang sedang memarkirkan motor di samping kedai bakso. Tuhan menyelamatkan dirinya dari rasa malu, begitulah pikir Sena.
"Bara!"
Sena berlari dan langsung mencekal lengan Bara, membuat cowok yang hendak membeli bakso untuk Lisna dan Sujaya itu kaget. Tapi dengan cepat Bara mengubah ekspresi wajahnya.
"Lo di sini?"
Pertanyaan yang sama sekali tidak berguna, menurut Bara. Untuk apa bertanya sedangkan gadis itu sudah mengetahui jawabannya?
"Gue kangen sama lo, Bar." Secepat kilat, ekspresi wajah Sena berubah, sedih, penuh penyesalan. "Maaf, gue nyesel. Lo maafin gue kan? Kita balikan lagi yahhh."
Entah kenapa, Bara merasa jijik dengan Sena yang saat ini tengah menatapnya dengan puppy eyes. Cowok itu bahkan sampai memicingkan mata. "Balikan gimana? Lo jadi pacar gue sedangkan lo pacaran juga sama cowok brengsek itu?"
Sena terlihat gelagapan. Bukan karena tenggelam, melainkan kalimat Bara membawanya pada dua pilihan sulit. Menyadarkan betapa brengseknya tingkah Sena. Menggaet dua cowok sekaligus untuk menjadi miliknya. Dan parahnya lagi, dari awal dua cowok itu saling benci.
"Gu-gue bakal putusin Petra. Gue bakal putusin Petra demi lo. Biar kita bisa sama-sama lagi, kaya dulu." Entah itu tekad atau janji semu. Sena tidak berpikir lebih jauh, karena saat ini, dirinya hanya ingin Bara kembali. "Bar, gue cinta sama lo, dan gue yakin lo juga rasain hal yang sama kaya gue. Iya kan?"
Sena begitu yakin dengan pikirannya, mereka menjalin hubungan bukan sebulan dua bulan. Tapi sudah hampir 3 tahun. Mana mungkin Bara dapat melupakan rasa begitu cepat?
"Ini cinta gue." Bara menarik lengan Spica, membawanya lebih dekat. Gerakannya begitu cepat, sampai Spica dibuat mati gaya, bahkan ketika tangan Bara beralih memeluk pinggangnya.
Sesaat setelah Spica mengumpulkan kesadarannya, gadis itu menarik diri dari dekapan Bara. Tapi sialnya, Bara mendekap pinggangnya begitu erat. Saat ini, Spica benar-benar dibuat marah akan tingkah Bara yang semaunya sendiri. Spica tidak peduli akan tubuhnya yang mendadak kaku dan panas dingin. Dalam usahanya, gadis itu memberikan Bara tatapan paling mengerikan yang pernah ada. Tapi sialnya, cowok itu tidak sedikitpun mengalihkan pandangan dari Sena, sia-sia usaha Spica! Malah dengan santai Bara mengusir Sena, mantan pacaranya, agar segera pergi meninggalkan mereka berdua.
"Cinta gue tepat di samping gue, mending lo pergi, sebelum cemburu ngebuat lo jadi gila."
"Nggak mungkin." Sena tertawa hambar.
__ADS_1
"Kenapa nggak mungkin? Dunia kan pusatnya kemungkinan." Bara kembai bertanya. Bara memang sudah benar-benar memusnahkan rada itu. Sebab penghianatan adalah satu hal yang paling Bara benci di dunia ini.
Di dalam pelukan Bara, Spica mengucap istighfar dalam hati, berusaha menyabarkan diri. Sedangkan dilain sisi, Mira dan Adara terkejut luar biasa. Ini adalah kali pertama mereka melihat Spica menempel tanpa jarak dengan lawan jenis.
Tidak menyangka? Sudah pasti! Apalagi Mira, wanita itu sedih marah sekaligus kecewa. Bercampur jadi satu dalam hati. Tanpa mengucap kalimat apapun, Mira mengambil selembar uang senilai 100 ribu untuk membayar bakso, setelah itu menarik lengan Adaa pergi. Mira tidak berdaya melihat putri kesayangannya itu.
Spica yang sadar Mira dan Adara pergi lantas memanggil keduanya, tapi bisu yang didapat. Mira menarik Adara lebih cepat dan Adara hanya mampu menurut, sesekali menoleh ke belakang, memasang wajah bingung. Melihat Mira dan Adara semakin menjauh membuat Spica gelisah, hatinya sesak.
Bara yang seolah mengerti keadaan lantas mengelus puncak kepala Spica dengan lembut. "Jangan khawatir, nanti kita susul mereka." Hal itu membuat Sena kesal, dan akhirnya memilih pergi.
Seketika suasana terasa hening, Bara melepas Spica setelah memastikan keadaan aman. Ada sedikit rasa bersalah di hati Bara. Cowok itu tidak menyangka tindakannya akan menimbulkan masalah untuk Spica dan Ibunya.
"Sorry," ucapnya.
Spica yang tersadar lantas menoleh pada Bara. Untuk sesaat, gadis itu menatap Bara dengan ekspresi dingin. Bara pun ngeri sendiri.
"Saya anggap ini sebagai balas dendam atas sikap lancang saya mengatur kehidupan Aldebaran El Nath. Dan selamat, anda berhasil. Jadi, jangan ganggu lagi kehidupan saya. Anggap saja saya orang asing jika berjumpa disekolah." Spica yang awalnya mundur, kembali maju mendekati Bara. Walaupun menganggap masalah sudah selesai dan imbang. Hati Spica tetap saja sesak akan kelakuan Bara itu. Alhasil Spica meninju perut dan menendang kaki Bara sebelum pergi menyusul Ibu dan Adiknya.
Bara tidak melakukan apapun kecuali menahan rasa sakit dan menatap kepergian Spica dalam diam.
......................
Setetes air mata keluar dari netra Mira. Di depan pintu kosan, wanita itu hanya mampu berdiri sambil menyenderkan tubuhnya di dinding. Sedangkan si bungsu Adara terus diam. Mereka berdua tidak bisa masuk karena Spica yang memegang kuncinya.
Tidak sampai lima menit menunggu, Spica datang dengan langkah cepatnya. Gadis itu segera membuka pintu, membiarkan Mira dan Adara masuk.
"Maaf Ibu," ucap Spica begitu mereka sampai depan ranjang. Mira berhenti melangkah, kemudian berbalik dan menatap Spica dalam diam. "Itu tidak seperti yang Ibu bayangkan."
"Jadi..."
Spica hanya diam, tidak bisa memberi alasan apapun. Demi alam semesta dan seisinya, gadis itu bingung akan menjelaskan bagaimana. Hal itu membuat Mira bertambah sedih.
"Ibu ndak nyangka kamu seperti itu. Mbok yo dadi wong sing bener Nduk." (Kalau jadi orang itu yang bener, baik, nak)
Mira mengemasi barang bawaannya dan bersiap pergi. "Ayo siap-siap Adara, kita pulang. Tanaman di kebun belum di obat." Adara tidak berani berbicara, gadis kecil itu mendadak menjadi gadis manis yang penurut, seolah-olah tidak tahu urusan Ibu dan Mbak-nya.
"Ibu maaf, Spica tidak pernah lupa nasehat Ibu. Sumpah." Spica menggapai lengan Mira dan langsung ditepisnya.
"Ibu ndak suka kamu bicara sumpah-sumpah. Ibu yakin kamu tidak lupa nasehat Ibu, tapi Ibu tidak yakin kamu menjalankannya."
"Itu diluar dugaan Bu. Spica tidak tahu."
"Tapi dia tahu dan bilang cinta ke kamu ndukk. Ibu tidak masalah jika ada laki-laki yang suka kamu, itu manusiawi. Tapi Ibu ndak suka kamu mepet-mepet seperti itu sama dia. Kamu juga sepertinya biasa saja, seperti sudah biasa." Setelah mengatakan itu, Mira pergi bersamaku Adara.
Mira malu dengan kelakuan Spica yang seperti itu. Gadis baik-baik dan kebanggaannya ternyata berperilaku seperti gadis murahan di belakangnya. Astagaa, semoga saja tidak ada kenalan atau saudara mereka yang melihatnya. Atau akan menjadi buah bibir jika sampai terjadi. Biar bagaimanapun. Kehidupan di kota dan desa itu berbeda, tidak ada gadis mudah yang pacaran sampai nempel-nempel seperti itu di desa. Kelakuan nyeleweng sedikit sudah jadi bahan gunjingan tetangga. Tidak seperti di kota yang individual, tidak mengurusi kehidupan orang lain. Mira dengan pemikiran khas orang desa itu tidak akan sanggup menerima kejadian beberapa waktu lalu. Menurutnya itu amat sangat memalukan, merendahkan harga diri. Mira kecewa, sungguh kecewa.
Di lain sisi, Spica juga merasa kecewa. Spica merasa dirinya begitu bodoh dan tidak bisa melindungi diri. Spica memukul dadanya yang sesak, di benci Ibu ternyata semenyakitkan ini. Spica tidak pernah tahu rasanya di tusuk pisau tepat di hati, tapi mungkin rasanya hampir sama seperti dibenci ibu seperti saat ini.
Harusnya tadi Spica mengatakan bahwa mereka teman satu sekolah dan Bara tiba-tiba menarik dirinya untuk dimanfaatkan. Untuk mengusir Sena. Harusnya Spica berkata jika dirinya sudah memberontak dan tenaga Bara begitu kuat untuk dirinya lawan. Spica membenci mulutnya yang mendadak diam dan tak bisa menjelaskan. Benci dirinya yang seperti orang bodoh karena terlalu takut dan gugup.
Spica berjongkok dengan tangan menangkup di depan dada, terasa dingin karena musibah yang datang terlalu tiba-tiba dan beruntut. Tadi itu menelungkupkan kepala, menangis dalam kesendirian.
Tidak semua kejadian yang menurut masyarakat sepele juga sepele dimata masyarakat lainnya. Semua punya kepercayaan, budaya, dan prinsipnya masing-masing. Di mata Bara mungkin memeluk lawan jenis yang tidak ada hubungan darah adalah hal biasa dan wajar, tapi tidak bagi Spica dan Keluarganya. Itu adalah perbuatan memalukan yang dapat mencemari nama baik seseorang atau keluarga.
__ADS_1