
Di hari berikutnya, aku bekerja lagi dengan kostum boneka. Rasanya tidak seperti kemarin yang membuatku sesak napas. Hari ini jauh lebih baik, mungkin karena aku juga sudah terbiasa.
Setelah mendapat upah, aku pulang kerja seperti jam kemarin. Dan entah mengapa, aku dan Joseph selalu bertemu di tempat yang sama, yaitu tempat pertama kali kami bertemu. Pria itu selalu saja mengantarku, padahal aku tidak pernah meminta hal itu.
Kali ini, ia membawa kotak putih kecil. Sambil berjalan seiringan, aku bertanya, "Apa yang kamu bawa?"
Ia melihat kotak yang kumaksud, "Oh, ini untukmu. Aku bekerja di kedai roti, dan tadi siang aku sengaja membuat beberapa Caramel Dacquoise untukmu."
Joseph menyerahkan kotak itu kepadaku, yang segera kuraih. "Terima kasih, ya."
Biar bagaimanapun, rezeki tidak boleh ditolak. Sangat jarang aku bisa makan makanan seperti ini, untuk membeli saja tidak sanggup.
"Kembali kasih," ucapnya.
"Kembali kasih? Aku baru dengar kata itu."
"Eh? Aneh ya?"
"Enggak sih. Tapi, kan, biasanya orang-orang bilang 'sama-sama' bukan 'kembali kasih'," tuturku tanpa melihat dirinya.
"Aku diajarkan begitu sama Bu El," ujar Joseph.
"Mama kamu?"
"Bukan, sih. Tapi beliau sudah kuanggap ibu kandung sendiri. Beliau ibuku di panti asuhan," terangnya.
"Jadi, kamu ga punya orangtua?" selidikku tanpa henti.
"Kata Bu El, ada seseorang yang mengirimku ke panti asuhan." Ia memegang dagu sembari mengedarkan pandangan "Hm ... Entahlah. Aku juga kurang tahu," sambungnya penuh ragu.
Aku sempat mengernyitkan dahi sebagai bentuk terkejut. "Kamu masih tinggal di panti?"
"Aku memutuskan untuk hidup mandiri dari sekarang. Kasihan kalau merepotkan Bu El terus."
Aku hanya mengangguk paham. Ia hampir sama sepertiku. Namun, kupikir ia masih lebih beruntung.
"Oh iya! Temanku ingin bertemu denganmu, loh!" serunya, sukses membuyarkan lamunanku.
"Siapa?"
"Namanya Cayla. Dia temanku dari kecil saat di panti asuhan. Tapi, sekarang dia sudah diadopsi sama orangtua yang kaya raya."
Aku menautkan kedua alis. "Kenapa mau ketemu aku?"
Joseph menggidikkan bahunya. "Entahlah. Mungkin karena aku menceritakan soal kamu ke dia," jawab Joseph sekadarnya.
Tepat setelah itu, kami sampai di kediamanku. Kami bersamaan menghentikan langkah, dan ia berkata, "Tidak terasa sudah sampai. Besok juga udah mulai musim gugur, aku mempunyai rencana berlibur bersama Cayla dan temannya. Sebenarnya bukan rencanaku sih."
"Berlibur?"
"Iya! Apa kau mau bergabung bersama kami?" tanyanya dengan nada riang.
Mendengar itu, aku langsung menoleh dan kami saling bertatapan, di samping itu, aku juga berpikir sejenak. Upahku selama dua hari bekerja menjadi SPG sudah cukup untuk melunasi bayaran kos. Jadi, besok aku harus pergi ke Texas.
"Aku ga bisa, Joseph. Maaf, ya."
"Eh? Kenapa?" Ia bertanya dengan nada merajuk.
"Aku harus pergi ke Texas," jawabku singkat.
"Sama siapa?"
"Mungkin sendiri?" sahutku dengan ragu, bahkan aku tidak tahu aku ke sana naik apa?
Joseph menatap pupil mataku dengan rasa khawatir dan mengintimidasi, aku tidak tahu alasannya seperti itu. "Berapa hari di Texas?"
"Untuk selamanya, mungkin?" jawabku ragu.
Matanya membulat, begitu juga mulutnya yang terbuka. "Jangan bercanda, Sarah!" Ia mulai bereaksi dan menganggap perkataanku sekadar gurauan.
"Ya sudah. Aku juga tidak memaksamu untuk percaya," celetukku.
"Baiklah, naik apa kamu ke sana?"
Pertanyaan Joseph hanya kujawab dengan mengangkat bahu.
"Haduh! Kamu ini bagaimana? Bahkan kamu tidak tahu ke sana naik apa. Bagaimana aku bisa percaya kamu akan tinggal di sana selamanya?"
Joseph mendengus kasar. Lalu suasana menjadi hening selama beberapa saat, tidak terlalu lama, namun keheningan ini membuat kami sama-sama merenung.
"Bagaimana kalau kamu pergi bersamaku saja? Tujuan kita sama, jadi apa salahnya memanfaatkan situasi yang ada?"
Pria ini memberi tawaran dengan sungguh-sungguh, dilihat dari gerak-geriknya, ia selalu mencoba untuk meyakinkanku.
"Apa tidak terlalu merepotkan? Apalagi ... aku hanya orang asing untuk temanmu."
__ADS_1
Aku memang sangat bersyukur akan tawaran Joseph tadi, akan tetapi, aku juga tidak ingin membebani siapa pun mulai saat ini.
"Kau tahu? Aku tidak pernah ingin mendengar kata 'tidak' dari seseorang dan aku pun benci akan penolakan."
Ia menarik napas singkat, lalu melanjutkan ucapannya, "Dan apakah kau tidak ingat yang kukatakan di awal? Temanku ingin berkenalan denganmu, jadi jangan menyebut dirimu sebagai orang asing."
Setelah beberapa detik, aku mulai bereaksi. "Baiklah. Kapan kamu ingin berangkat?"
"Em ... seminggu lagi mungkin? Aku juga tidak tahu pasti, nanti akan kuhubungi Cayla lagi."
"Aku akan bersiap-siap kalau begitu."
"Jangan coba untuk kabur!" tangkasnya dengan wajah khawatir, bahkan dia sampai berdiri dari tempat duduknya.
"Aku, kan, hanya bilang bersiap-siap bukan pergi," sahutku untuk meyakinkan pria ini.
"Ok! Sampai ketemu minggu depan Sarah."
Pria itu sangat kekanakan ...
Aku penasaran berapa usianya?
Ia mengucapkan itu sebagai salam perpisahan, kutatap tubuhnya yang semakin jauh, semakin mengecil dan hilang dari tangkapanku. Setelah itu aku kembali melihat ke atas langit, mengembuskan napas sekuat-kuatnya. Suasana malam ini akan sangat disayangkan jika dilewati tanpa bulan.
_________________________________________
Author POV
Tidak terasa musim gugur akan segera usai. Ternyata rencana yang direncanakan oleh Joseph diundur begitu lama, sehingga Sarah harus lebih lama tinggal di California. Walaupun begitu, dia sangatlah cerdik memanfaatkan kurun waktu dua bulan untuk bekerja. Hitung-hitung agar menambah ekonominya, dia gadis yang pandai dalam menata keuangan, bisa diartikan dia tipikal gadis yang hemat.
Beberapa hari lagi akan memasuki musim dingin. Dia harap disaat salju pertama turun, dia bisa merasakan ketenangan dan menikmati butiran es yang turun secara perlahan bersama seseorang yang dia sayang. Tanpa prahara yang menerjang.
Saat ini, dia sedang mengemas baju dan barang lainnya, setelah kemarin mendapat pesan dari Joseph bahwa mereka akan pergi besok. Bagaimana Sarah bisa bertukar pesan, bukannya dia tidak mempunyai ponsel? Keadaan itu sudah berubah sekarang. Dua bulan yang lalu Joseph memberikan Sarah ponsel, jika kalian ingin tahu ponsel itu bukan dari Joseph melainkan Cayla. Joseph selalu menceritakan keadaan finansial Sarah, dan itu berhasil membuat hati Cayla tergerak.
Mungkin mereka belum saling kenal satu sama lain, namun Cayla bilang bahwa ponsel itu sebagai tanda awal pertemanan mereka. Salju pertama diperkirakan akan turun lusa, oleh karena itu mereka sangat tidak sabar untuk berlibur.
Kalau kalian penasaran mengapa mereka menghabiskan libur musim dingin di Texas? Ada beberapa skenario yang dibuat oleh Cayla untuk teman baiknya. Dan Texas memiliki suhu yang tidak terlalu rendah.
Hari ini mereka akan mengisi tenaga untuk perjalanan yang ditempuh besok. Karena besok mereka ingin menikmati perjalanan dengan suasana yang nyata, maka mereka memutuskan untuk menggunakan mobil. Yang artinya, mereka akan menempuh perjalanan selama dua puluh satu jam lamanya.
Untungnya Cayla, Joseph dan Haeya dapat mengendarai mobil dan tentunya umur mereka sudah legal untuk mengendarai suatu kendaraan.
Sebelum terlelap, Sarah menutup matanya dan menarik udara sebanyak-banyaknya dan melepaskan secara perlahan. Tangannya yang lentik mengayun di atas kertas kosong.
Aku ingin di hari pertama butiran es itu turun
Bahwa dia bersedia menjadi orang yang selamanya akan di sisiku
Dalam setiap keadaan dan selama waktu berjalan
Dia juga bersedia menjadi salah satu orang yang kusayang
Sarah, 30 November 2016
_________________________________________
Di sisi lain, Haeya menginap di rumah Cayla, dan kini, keduanya sedang memikirkan apa yang mereka persiapkan besok.
"Hae, besok aku pakai apa, ya?" tanya Cayla sambil mengobrak-abrik lemari pakaiannya.
"Daster."
Sontak gadis yang dari tadi fokus dengan lemari pakaiannya itu melempar bantal kecil di sampingnya ke arah gadis yang hanya memperhatikan televisi dan sibuk memakan beberapa snack di sampingnya.
"Otakmu udah duluan ke Texas?" ucap Cayla kesal.
"Bercanda sayang. Nih, pakai hoodie sama training aja!"
"Ta—"
"Kita berangkat jam satu pagi. Sebentar lagi juga akan musim dingin, cuacanya udah lumayan dingin. Walaupun di Texas ga terlalu dingin kayak di California, tapi bisa aja suhu tiba-tiba turun drastis."
Terkadang Haeya merupakan gadis yang dingin dan cuek, namun dia tipikal orang yang menaruh perhatian secara diam-diam. Hal itu membuat Cayla merasa tersentuh, dia menatap gadis itu dengan hangat.
"Kamu udah telepon Joseph?"
"Udah, sebentar lagi dia sampai."
"Mama kamu ga masalah, kan, dia dateng?" ucap Haeya khawatir.
"Ga, nanti kita langsung keluar aja. Mobilnya juga udah siap kok."
Cayla meyakinkan Haeya dengan lantang, bahwa tidak akan ada halangan untuk liburan mereka kali ini. Dia pun melanjutkan kegiatan mengemas pakaian. Ketika dirasa cukup, Cayla menutup koper ungunya yang berukuran cukup besar.
"Kita di Texas nginep di mana?" tanya Haeya masih beratensi pada televisi.
__ADS_1
"Di rumah Matthew."
Mendengar jawaban Cayla, alhasil Haeya menoleh ke arahnya. Sementara yang ditatap hanya menunjukkan deretan gigi putihnya. Sekarang, Haeya malah berpikir macam-macam tentang maksud ucapan Cayla. Sungguh, dia seperti menunjukkan wajah mesum atas pertanyaan-pertanyaan batinnya. Dia hampir menganggap sahabatnya sudah gila.
"Ada rasa ngarep, 'kan? Ha-ha-ha."
"Cay, mau mati dengan cara apa?" murka Haeya. Dia tidak tahan dengan kalimat godaan Cayla. Wajahnya berubah menjadi tomat matang sehingga dia harus menutupinya dengan bantal.
"Bercanda! Kita nanti nginep di hotel. Tapi tempatnya dekat sama apartemen Matthew."
Setelah dirasa puas menggoda sahabatnya, Cayla menjawab serius untuk menenangkan Haeya yang sedang dilanda oleh malu. Dan Haeya sekadar menganggukan kepala.
Ting!
Terdengar bunyi pesan masuk dari ponsel Cayla. Cepat-cepat ia meraih ponsel dengan logo buah apel, dan membuka pesan tersebut. Pesan itu berasal dari Joseph, ia memberitahu Cayla bahwa ia sudah berada di depan rumahnya. Setelah membaca pesan tersebut dua gadis ini segera pergi ke garasi, untuk memasukkan barang-barang mereka ke bagasi mobil.
"Pagi, Jo!" sapa Cayla dengan semangat dan tentu tidak lengkap jika tidak berpelukan.
"Hai, Jo!"
Kali ini Haeya memberi sapaan dengan senyum andalannya yang terulas kepada Joseph dan dibalas hangat.
"Semuanya udah siap? Ga ada yang ketinggalan, kan?" tanya Joseph untuk memastikan bahwa tak ada kekurangan sedikit pun.
"Ga ada kok."
Cayla membalas Joseph setelah mengamati barang bawaan mereka.
"Siapa yang mau nyetir dulu?"
Joseph bertanya kembali, sambil melihat dua gadis di depannya. Kebetulan sekali, mereka bertiga sama-sama bisa mengemudi.
"Aku aja," tawar Haeya.
"Yakin? Kamu ga ngantuk?" risau Cayla.
"Santai aja, toh kita mau jemput Sarah dulu, kan?"
Mendengar nama Sarah, Joseph terkejut, bagaimana gadis ini bisa tahu? Biasanya dia tidak peduli tentang orang baru, walaupun orang itu dekat dengan sahabatnya sendiri.
"Tapi, kan, kamu ga tau di mana rumahnya?"
"Banyak nanya ih! Kan bisa Joseph tunjukkin."
Haeya pun mengambil alih kursi kemudi, Joseph duduk di kursi sampingnya, guna menunjuk lokasi rumah Sarah. Dan Cayla duduk di belakang.
Ini masih pagi, lebih tepatnya dini hari dan jalanan masih sangat sepi. Dengan penuh percaya diri, Haeya membawa mobil seperti melesat. Bahkan Joseph berkali-kali menegur gadis ini untuk menurunkan kecepatan mobil. Sedangkan Cayla hanya bisa berdoa dalam hati bahwa mereka akan selamat sampai tujuan.
Akhirnya mereka sampai di kediaman Sarah. Joseph segera menelepon Sarah bahwa mereka telah sampai, tidak lama pria ini bisa melihat gadis yang membawa banyak bawaan di tangannya. Dengan segala inisiatif, pria ini membantu gadis tersebut dan memasukkan barangnya ke dalam bagasi.
"Hai!"
Sarah melihat kedua gadis yang memiliki bentuk badan ideal itu keluar dari mobil, dan dengan penuh rasa canggung, dia memberanikan diri untuk menyapa. Karena ini baru kali pertama dia bertemu dengan teman-teman Joseph.
"Hai juga, kamu Sarah ya?" tanya Cayla dengan senyum sambutan.
Belum sempat Cayla melanjutkan perkenalannya, Sarah dan Cayla secara kompak menunjukkan raut kaget ketika keduanya saling bertamu pandang.
"Eh? Kamu gadis di kafe itu, kan?"
"I ... iya," jawab Sarah sambil menunduk. Fakta dunia itu sempit ternyata benar. Siapa sangka? Sekarang dia dipertemukan kembali dengan perempuan yang menolongnya saat berhadapan dengan Angel.
Melihat reaksi Cayla, Joseph ikut bertanya-tanya, "Loh? Kalian udah saling kenal?"
Akan tetapi, rasa kebijaksanaan Cayla muncul. Dia rasa kejadian awal pertemuan mereka yang tidak disengaja itu, tak perlu diumbar.
"Ya begitulah," jawab Cayla sekadarnya.
"Kenalin aku Cayla." Dia langsung mengulurkan tangannya untuk Sarah yang segera dijabat.
"Ah iya, salam kenal."
"Aku Haeya." Gadis ini juga melakukan hal yang sama seperti Cayla dan dibalas hangat oleh Sarah.
Sarah sangat terharu melihat kejadian ini, dalam hati dia terus melontarkan ucapan syukur, bahwa semesta telah mendengarkan permohonannya.
Selama perjalanan banyak sekali memori indah yang terukir. Dari tertawa bersama, bermain bersama dan berbagi cerita. Di wajah mereka hanya terbentuk suatu kebahagiaan yang sederhana, segala beban seketika hilang. Sepertinya mereka tidak akan membiarkan masalah datang untuk saat ini.
.
.
.
to be continued...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡