
Pertikaian ini masih belum usai. Seolah Dewi Fortuna tak berada di pihak pasangan baru ini. Haeya terus saja melempar kelakar hingga Matthew harus bertindak atas semua ulahnya untuk mendinginkan suasana.
Sebelum benar-benar bicara dengan kekasihnya, Matthew lebih dulu menyuruh Joseph dan Cayla pulang ke apartemen, serta Matthew menyuruh Jordan untuk membawa Sarah jalan-jalan.
Sekarang hanya ada Matthew dan Haeya di dalam ruangan bernuansa coklat dengan dominan aroma kopi. Ya, Matthew terpaksa menutup kafe karena berdebatan yang tidak ada ujungnya serta memulangkan para barista lain.
Solusi yang terpikirkan Matthew hanya satu, yakni membahas secara tenang dan empat mata. Sebelum memulai percakapan, Matthew memandang gadis sedang duduk di depannya. Namun sedetikpun gadis yang ditatap, tidak menatap Matthew. Dia malah memalingkan wajahnya ke arah tak menentu.
"Tidak ada yang dibahas, 'kan?"
Padahal Matthew baru saja berniat angkat suara, tetapi gadis itu mengambil tasnya dari atas meja dan hendak beranjak pergi. Dia seolah tak memiliki niat untuk sekadar mendengar penjelasan kekasihnya. Tentu hal tersebut tak bisa dibiarkan, dengan cepat Matthew mencengkram tangan Haeya untuk menghentikan langkah sang gadis, hingga sekilas Haeya meringis sakit.
"Duduk!"
Bariton dengan penuh tekanan, tak segan-segan Matthew lontarkan saat situasi serius.
"Ak—"
"Kubilang duduk Jeon Haeya!"
Kesabaran Matthew sudah habis, alhasil ia terpaksa meninggikan suara agar gadis ini menuruti apa yang dia ucapkan. Dan setelah mendengar suara yang menggelegar, gadis itu langsung menuruti perintah Matthew, dengan kepala yang tertunduk dan air mata yang tidak lagi terbendung.
Matthew menghela napas berat. Ia kembali memijat pelipisnya dan berdecak keras ketika melihat air mata Haeya menetes secara intens.
"Sekarang berbeda. Apa kamu bangga melakukan itu? Ini hanya salah paham Hae, apa pun yang aku lakukan buat Sarah hanya tentang balas budi."
Mengetahui Haeya sangat takut dibentak, maka Matthew berusaha menjelaskan dengan nada dan tutur kata yang tidak membuat kekasihnya semakin salah paham.
"Kamu terlalu baik, gadis itu pergi dari apartemen kami untuk ke rumah bibinya. Lalu dia tersesat dan mengapa dia tidak kembali ke apartemen kami? Apakah dunia ini terlalu sempit sehingga dia bertemu denganmu? Dan kenapa kamu gak bantuin dia nyari rumah bibinya?"
Rupanya kekasih Matthew tak ingin menerima kekalahan beradu argumen. Dengan lantang, dia lontarkan semua prasangka yang ada dalam benaknya.
Niat murni Matthew hanya meluruskan salah paham, tetapi kini rasa kekesalan malah membabi buta kedua pihak.
"Kenapa? Kamu gak bisa jawab? Dari pada kamu kasih dia tempat tinggal layaknya simpanan, lebih baik kamu bantu dia ke tujuan awalnya, kan?"
Secara tersurat, Haeya menyebut Sarah sebagai 'kekasih gelap' Matthew. Keadaan semakin memanas, pun sesekali gadis itu melihat ke arah kepalan tangan Matthew semakin erat akibat emosi tak tertahankan.
"Siapa yang kamu sebut main belakang?"
__ADS_1
"Aku gak sebut kamu kayak gitu. Kamu merasa?"
Satu detik, dua detik, hingga tiga detik, tidak ada jawaban dari satu pihak. Emosi terus menyulut, bahkan tangan Matthew masih mengepal. Setelah saling membalas kalimat kontradiksi, tampaknya segala kesabaran Matthew sudah sirnah. Hingga akhirnya, ia memutuskan meninggalkan Haeya seorang diri di kafe.
Melihat pria itu bergegas keluar, Haeya hanya bisa menatap tak percaya. Antara rasa bersalah, kesal dan benci, semuanya bercampur aduk dalam benak Haeya. Dia bahkan sulit menjabarkan perasaannya saat ini. Padahal Haeya sendiri berniat untuk menyelesaikan perkara. Namun sifat cemburu dan posesif malah memperbesar perkara menjadi prahara. Dengan langkah penuh beban, gadis itu ikut meninggalkan kafe. Di saat bersamaan, dia menarik napas sekuat tenaga sebelum kemudian menyeka sisa-sisa airmata.
_________________________________________
Semua orang berlalu lalang penuh tawa di antara jalan berselimutkan salju. Sebagian dari mereka memakai senjata pakaian hangat lengkap, sementara sisanya hanya memakai sekadar jaket, dikarenakan cuaca sudah lebih baik. Sebentar lagi juga, bulan akan memasuki musim semi.
Aroma butir salju dan segarnya udara dingin menjadi kombinasi yang sempurna untuk menenangkan pikiran. Gadis berambut pendek hanya menunduk, melihat ke arah kedua kakinya yang bergoyang seiring dengan usaha dari ayunan. Saat ini, tidak ada kata 'sendiri' dalam kamus Sarah, dan semoga akan begitu sampai akhir.
"Kamu gak duduk? Aku jadi merasa tambah tegang."
Betul sekali, sedari tadi Jordan hanya berdiri di depan gadis itu. Ia sama sekali tidak berkutik bahkan berpindah beberapa sentimeter saja tidak. Yang dilakukan hanya menatapi Sarah.
"Apa karena wajahku, kamu menjadi merasa tegang?"
Sarah tertegun akan pertanyaan konyol Jordan. Pasalnya, ia sama sekali tidak mengikuti topik pembicaraan Sarah, hingga gadis tersebut memutar bola matanya penuh jengah.
"Tidak. Matthew hanya berkata itu adalah suatu kepercayaan diri."
Memang benar faktanya, kalau Jordan memiliki wajah bahkan fisik tak bercela. Sarah juga tak segan-segan memasukkan pria itu dalam list pria tertampan nomor satu setelah list pria teraneh. Namun, sepertinya Jordan salah menangkap ajaran Matthew perihal 'kepercayaan diri' yang berujung arogan.
"Ya itu benar sih, tapi kamu harus mengendalikan kepercayaan dirimu."
"Tidak perlu, jika sudah banyak yang mengakuinya."
Tanpa rasa ragu, Jordan menjawab apa adanya. Gadis itu menepuk dahi untuk kesekian kali. Meskipun Jordan terkenal dengan sifat es alias beku dalam berperasaan, bukan berarti ia tidak bisa mengerti perasaan orang lain. Karena ia belum paham soal jenaka, maka ia hanya memberikan pertanyaan dan pernyataan yang terkesan bodoh, tetapi sesekali hal itu membuat gadis yang ada di sebelahnya tertawa.
"Tadi ... kamu menangis, ya?"
Sarah hampir terkejut atas pertanyaannya, lantas dia mengulas senyum dan menjawab, "Tidak. Aku baik-baik saja, kok."
"Padahal aku tidak bertanya tentang keadaanmu ... tapi karena Sarah menjawab itu, aku jadi yakin kamu tidak baik-baik saja."
Sarah masih setia dengan senyum yang bertengger. "Berpura-pura tidak merasakan apa-apa, adalah caraku untuk menjaga harga diriku."
__ADS_1
Mendengar itu, si gadis manis mengatup bibirnya rapat-rapat sambil menunduk frustasi.
"Jo, kalau kamu bulan, berarti kamu selalu mendengar setiap kisahku?" tanya Sarah tanpa mendongak ke arah Jordan.
"Aku mendengar setiap katanya, bahkan aku bisa melihat bagaimana kamu menyampaikan kisah itu kepadaku."
Jordan tidak tahu ini adalah suatu kebetulan atau takdir yang diciptakan Dewa Surya untuk dirinya. Jika hanyalah kebetulan, maka itu adalah suatu kekuatan semesta yang memperbolehkan dirinya bertemu dengan seorang gadis yang selalu menghiasi setiap malam dengan beribu kisah hidup layaknya ombak di laut.
"Terus ... kenapa kamu ke sini?"
Sejujurnya Sarah tidak ingin membuat pertanyaan seolah-olah dia pengin tahu urusan pribadi orang lain. Dia juga sudah merasa sangat bahagia bahwa semesta mempertemukan dirinya dengan Jordan, tetapi ada rasa bingung dan khawatir terselip untuk masa yang akan datang.
"Sembilan belas tahun yang lalu, Bintang turun ke bumi salah jadwal. Sekarang dia sudah berumur 18 tahun, umurnya tersisa satu tahun lagi, dan sebelum dia mati di umur ke-20, aku harus membawanya kembali ke semesta."
"Berarti kalau alasan itu udah kamu tempuh, kamu akan kembali lagi?"
Tidak ada niat sama sekali untuk mengubah suasana menjadi serius. Bahkan setiap insan, mata mereka kini saling menyapa, satu pihak memberi tatapan penuh tanya dan pihak terakhir memberi tatapan tenang.
"Semesta akan memberi waktu untuk alasan itu. Jangan memikirkannya cukup ikuti alur saat ini saja."
Beberapa detik berlalu, Sarah masih menatap Jordan sembari menggigit bibir bawahnya, bukan karena terpesona, akan tetapi pikiran Sarah sibuk mencerna setiap kata Jordan. Dia sangat bingung maksud arah topik mereka, sementara pria tersebut masih berdiri tegak lurus di depan Sarah tanpa ekspresi. Durasi tinggal di bumi masih sangat lama, ia hanya memikirkan soal masa sekarang bersama Matthew dan Sarah. Tampaknya sang pria Bulan juga tidak ingin tahu akhir tujuannya ke Bumi.
☆☆☆
Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya^^
Karena sekecil apa pun apresiasi kalian, sangat berharga untuk Caramel♡
.
.
.
to be continued...
__ADS_1