NYCTOPHILIA

NYCTOPHILIA
[37 : Nostalgic Night]


__ADS_3

"AAAAAAAA!!"


"Hei Joseph! Diamlah! Kita sedang di bioskop. Apa kau tidak malu?!" Adalah Cayla yang penuh penekanan memperingati pemuda di sampingnya.


Tampaknya Joseph amat ketakutan ketika menonton salah satu film bergenre horor di bioskop. Padahal ini sesuai pintanya sendiri, bertingkah seolah berani, ternyata teriak paling histeris.


Semua orang di studio merasa terganggu. Mereka berulang kali mengumpat pada Joseph untuk tidak berisik. Mereka pun menatap penuh kekesalan atas tingkah lakunya bak anak kecil.


"Duh Cay! Aku berusaha malu, tapi film ini menyeramkan!" gertak Joseph dengan volume kecil.


"Iya, pada akhirnya malu-maluin! Kamu ga berubah dari kecil. Bahkan saat dulu kita ke pasar malam, kamu teriak seperti ini juga, 'kan?"


Flashback on.


Pada malam Minggu, Cayla kecil dan Joseph kecil pergi ke taman hiburan. Di sana bisa dibilang seperti pasar malam, hanya saja lebih modern. Beberapa wahana seperti bianglala, kora kora, dan halilintar mereka naikki.


Joseph kecil selalu bertingkah berani dan bilang akan melindungi Cayla kecil apabila wahana tersebut berbahaya. Namun faktanya, Joseph sendiri lah yang sampai teriak sarkas seolah akan dihempas dari bumi ke pluto saat naik halilintar dan kora kora.


"Tenang aja, kak Cayla, aku akan melindungimu."


Tak lama setelah wahana itu bergerak, teriakkan nyaring pemuda terdengar.


"AAAAAAAKKKHH!!! HENTIKAANNNN!"


"Jo? Kau baik-baik saja?"


"Ti-tidak apa-apa, kak. Aku akan menjagamu!"


Sekali lagi wahana mengguncang, Joseph kembali berteriak sarkas, "TOLONG HENTIKAN! KALIAN BISA DITUNTUT PASAL MENCELAKAI ORANG LAIN!!"


Ini bukan atas keinginan Joseph, tentu nyalinya hanya sejumput untuk memiliki keberanian. Namun ia sendiri tidak bisa menolak kalau ini permintaan Cayla yang dulu ia sebut dengan 'kakak'. Ia juga akan bertingkah paling berani jika di depan gadis itu.


Flashback off.


"Woah! Aku jadi kangen dipanggil kakak sama kamu," seru Cayla sambil terkekeh pelan.


Joseph mencebik jengkel. "Ini Amerika. Kau bahkan boleh panggil orangtuamu dengan nama aja," protesnya.


Cayla mendengus kasar. Menatap pemuda itu sambil mengerucutkan bibir. "Biar bagaimanapun aku lebih tua darimu." Lalu menyilangkan tangan di depan dada dan kembali fokus pada layar bioskop yang terpampang besar.


"Bangga ya, jadi tua? Nanti cepet ubanan, loh," goda Joseph, menusuk-nusuk pipi gadis itu layaknya anak kecil tengah cari perhatian.


Dengan cepat Cayla menepis pelan tangannya. Tentu Joseph tak terima begitu saja. Kedua manik matanya menatap gadis itu lebih serius, sementara yang ditatap merasa enggan. "Kita memang tidak seumuran. Tapi aku mau seumur hidup sama kamu," ungkap Joseph.


Cayla mengerjap berulang kali. Dia terkejut tetapi masih tak berkutik. "Aku bisa mati mendadak kalau seumur hidup sama kamu," sahutnya ketus lalu memalingkan wajahnya.


Mendapat respon tak sesuai harapan, membuat Joseph mendengus kesal. Ia tidak tahu harus dengan cara apa lagi untuk mendapat perhatian dari perempuan yang memiliki selisih 3 tahun ini.


Tiba-tiba Cayla menghembuskan napas. Namun masih fokus pada layar film. Joseph melihat ada sesuatu yang dipikirkan gadis itu, mulai bertanya, "Ada masalah?"


Cayla menengok ke asal suara. Dia memberi gelengan sebagai jawaban. "Tidak. Hanya saja aku kasihan sama Sarah."


"Hm? Apa sesuatu terjadi?" tanyanya polos.


"Kejadian dia dipermalukan ini bukan kali pertama. Kau ingat saat aku bilang pernah bertemu dengannya?" tanya Cayla sengaja menggantung kalimat hingga mendapat anggukkan dari pemuda itu.


"Dia sempat bekerja di kafe. Di sana ada salah satu pelanggan yang mempermalukan Sarah hanya karena kesalahan kecil. Padahal dia udah minta maaf, tapi pelanggan itu malah bersikap kurang ajar. Dan kebetulan sekali aku ada di sana, jadi segera kuhentikan," terang Cayla begitu rinci.


Entah karena apa, mendadak Joseph mendesah kasar. Ia tampak kesal dan tidak terima teman perempuannya selalu mendapat kesialan. Terlebih, Sarah selalu bersikap seolah baik-baik saja, padahal tidak begitu.


"Lama-lama hidup ini hanya tentang balas budi," celetuk Joseph.

__ADS_1


"Maksudmu?"


"Kadang orang-orang bersikap baik supaya orang melakukan hal yang sama. Tapi di saat orang berbuat salah, mereka sulit memaafkan. Bu El pernah bilang, 'Senang lihat orang susah. Susah lihat senang.'"


Mata Cayla yang sipit membelalak. "Dari tadi kamu kenapa, sih? Kamu salah makan, ya?" tanya gadis itu sambil meletakkan punggung tangannya di kening Joseph yang segera disingkirkan.


"Kau ini! Tidak pernah menganggapku serius," gerutu Joseph. Rupanya ia sudah kehilangan kesabaran dengan gadis itu.


_________________________________________


Sarah POV


"AAAAAAAA!!"


Mendadak aku terkesiap penuh waspada dengan cara berteriak. Tentu teriak hanya sebagai pertolongan pertama bila saja di depanku benar-benar orang jahat.


"Hei! Hei! Ini aku!" Suara bariton yang terdengar khas sontak membungkam teriakanku.


Aku mulai menatapnya lebih tenang, meski deru napas masih tidak teratur karena ketakutan. Ia memasang wajah bingung atas reaksiku yang berlebihan, tetapi masih sempat mengulas senyum gigi.


Setelah tahu orang itu adalah orang yang kukenal, aku pun menghela napas lega.


"Kau ini terlalu waspada, ya."


Entah itu ejekan atau pujian, yang pasti aku masih sibuk menormalkan napas. Hingga dirasa cukup, aku mulai berujar, "Aku hampir mengira kau itu hantu, tahu!"


"Mana ada hantu setampanku," selanya bercanda. Aku mengangguk setuju, mungkin aku hanya paranoid saja.


"Ah, maafkan aku," kataku, tak berani menatapnya.


“Guk-Guk-Guk!”


Serentak fokus kami teralihkan pada seekor anjing yang dituntun Theo dengan tali. Anjing itu memang imut, tetapi sedikit menyeramkan ketika menggonggong.


"Tenang saja. Jenis anjing Pekingese ini memang keras kepala dan agresif, tapi dia akan menambah mood ketika diajak main bersamanya," jelas Theo.


Aku ber-oh ria seraya memanggut-manggut paham. Kemudian menatap pria itu dan bertanya, "Kau habis dari mana?"


"Aku dokter di salah satu klinik hewan," jawabnya.


"Oh? Kau dokter hewan?!" seruku sedikit terkejut sampai membulatkan mata. Lalu ia hanya tersenyum sebagai jawaban.


"Woah! Pantas saja kau paham banyak tentang hewan."


Aku sekilas memberi gerakan tangan berlebihan karena kagum dan menatap anjing itu yang seolah melihatku geram. Anjing itu membuatku takut, lalu beralih ke Theo. "Ya, aku sangat suka hewan. Keberadaan mereka sangat menghiburku, sampai kadang lupa kalau tinggal sendirian."


"Ah, begitu ...." Aku mendongak ke kepala pria itu. Melihat warna rambut merah mudanya alias pink yang sangat anti-mainstream bagiku.


"Kau suka mengubah warna-warna rambut, ya?" tanyaku sembari menunjuk rambutnya.


Secara refleks ia menyentuh rambutnya menggunakan tangan kiri, sementara tangan kanan sedang memegang tali anjing miliknya. "Seringkali aku bosan sama warna rambut. Jadi, kuputuskan mengganti cat rambut dengan berbagai warna," terangnya.


Kesekian kalinya aku menganggukkan kepala setelah ia menjawab semua pertanyaanku. Kemudian tatapanku kembali melekat kala Theo tersenyum gigi. "Kalau diperhatikan ... wajahmu terlihat sama seperti seorang aktor yang kulihat di situs web, tapi siapa ya?"


Aku mulai berusaha mengingat sosok wajah aktor yang kumaksud. "Oh! Kalau tidak salah namanya Iqbal. Ia aktor asal Indonesia seingatku."


"Sepertinya kamu suka mencari hal yang random." Theo sekilas terkekeh pelan.


"Tapi sungguh kau sangat mirip! Apa mungkin kau saudara kembarnya?" tanyaku lagi dengan wajah menyidik.


Ia mendengus tak terima. "Huh! Kalau kau menyamakanku dengannya, aku sedikit risih. Aku ini mirip Jaemin NCT, tahu!" protesnya begitu lantang.

__ADS_1


Keningku mengerut. Karena aku tidak mengenal nama yang barusan ia sebut. "Jaemin?"


"Iya! Na Jaemin! Aku bahkan mengikuti warna gaya rambutnya," ucapnya yang entah mengapa mengundang tawa saat melihat raut wajahnya sedikit emosi.


"Iya, deh, iya. Aku percaya."


Kebetulan kami sudah sampai di kediaman masing-masing. Rumah kami berhadapan, jadi sangat dekat apabila sebagai tetangga saling meminta pertolongan.


Namun beberapa menit berlalu, Theo bersama anjingnya masih mematung di tempat. Mereka hanya menatapku intens tanpa pergerakan. Aku heran, mengapa mereka tidak masuk?


"Kau masuk duluan, Sarah."


Mendengar intruksi Theo, aku pun meloloskan senyuman. Ia sangat rendah hati dan ramah. Bahkan untuk hubungan kami yang sekadar tetangga baru. Ya, kuharap anjing miliknya juga bersikap baik denganku.


"Baiklah ...."


Akhirnya aku memutuskan masuk lebih dulu ke rumah. Masih terasa agak asing, terlebih tanpa kehadiran Jordan. Tiap kali kami bercengkerama, hanya ia yang selalu menyebut namaku. Sepertinya ia tak pernah menyebutku dengan 'kau'.


Hufftt .... Aku harus membiasakan diri.


Drrrtt-Drrrrtt!


Suara dering telepon baru saja masuk. Aku mencari asal barang itu dan hendak mengecek siapa gerangan yang meneleponku malam-malam begini?


Tepat ketika aku masuk kamar, bersamaan juga aku mengangkat telepon tak asing itu.


Panjang umur sekali ....


"Halo Sarah?"


Aku menaruh tasku di atas nakas dan duduk di sisi ranjang. "Halo. Kenapa telepon?" tanyaku sambil tersenyum simpul, meski ia tak melihatku.


"Memangnya salah kalau aku meneleponmu?"


Sontak aku mengernyit lantaran mendengar Jordan tidak menyebut namaku. "Eh? Kenapa kau tiba-tiba tidak sebut namaku?"


"Memangnya aku harus memberi alasan setiap kali melakukan ini dan itu? Aku meneleponmu karena ..... Ah, sudahlah! Kalau kau ingin tahu, cari saja di internet!"


Pip!


Aku tertegun. Tidak tahu harus beri komentar bagaimana?


Sepertinya spekulasiku perihal Jordan tengah pubertas itu benar.


"Aku memang mengajarkannya untuk cari informasi di internet, tapi 'kan, internet bukan Tuhan yang tahu alasan dia seperti itu!"


"Memangnya aku salah apa sampai dia memutus telepon sepihak begini?" debatku pada angin-angin guna meluapkan emosi sendiri. Helaan napasku berulang kali terdengar sebab masih merasa jengkel.


.


.


.


to be continued...


Secara tidak langsung pembicaraan di atas memberi tahu visual Theo yang sebenarnya^^


Ayo tebak~ Hehe


Btw, ada apa dengan pria Bulan?;;

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan kesan manisnya♡


__ADS_2