Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
BERSAMAMU


__ADS_3

Karena terus didesak oleh Qonita dan Arina, aku pun mau membuka mulut untuk menceritakan kejadian di kantin, yang membuatku sampai berteriak pada Gilang. Aku bercerita sembari duduk menunggu jemputan datang.


"Hah? Kamu marah sama Gilang cuman gara-,gara dia megang tanganmu?" tanya Qonita setelah aku selesai bercerita. Mulutnya sedikit terbuka, seolah tak percaya.


"Kamu bilang hanya?!" Aku balik bertanya. Sementara Arina mengangguk paham. Mungkin karena dia mengerti apa yang aku rasakan, dan tau seperti apa posisiku sekarang.


"Ya, mungkin Gilang melakukannya karena refleks. Dan dia mungkin bermaksud untuk menghentikanmu saja, kan?" ucap Qonita. Sebenarnya dia di pihak siapa sih? Aku atau si Gilang?


"Aku udah minta dia untuk lepasin tanganku. Tapi dia malah memperkuat pegangannya. Apakah itu disebut refleks juga?" Kedua alisku terangkat saat bertanya pada Qonita. Qonita diam tak mampu memberikan jawaban.


Menarik napas pelan, aku mencoba untuk sedikit menjelaskan lagi. Agar Qonita sedikit paham!


"Dia bukan siapa-siapa, Qon. Dia ngagk punya hak untuk nyentuh tubuhku, walaupun hanya sekedar tangan. Aku tetap aja nggak bisa nerima itu! Dan aku, aku nggak akan biarin laki-laki manapun untuk menyentuhku, kecuali dia suamiku!" Tegasku. Qonita dan Arina mengangguk paham.


"Aku suka dengan prinsip barumu, aku mendukungmu!" Arina memegang kedua pundakku. Dia tersenyum memberikan dukungan.


"Baiklah, sekarang aku ngerti! Terimakasih karena udah jawab rasa penasaranku!" ujar Qonita tersenyum malu.


"Sama-sa----"


Belum selesai aku berucapa, Qonita malah terlebih dahulu memotong ucapanku.


"Aku mau ketemu sama Om-mu, Manda! Tuh, dia udah dateng!" Dia menujukkan ke arah mobil Om Zidan. Di detik berikutnya, tangan kanannya sudah mulai memegang kaca, sembari tangan kirinya merapikan rambut bergelombangnya. Tak lupa juga untuk menambah lipstik di bibirnya yang sudah merah.


Ya, Qonita memang belum siap untuk berhijab. Aku yakin, dia pasti punya alasan tersendiri. Dan aku hanya bisa berdo'a untuknya. Semoga Allah memberikan kemantapan hati, agar dia bisa menjalankan kewajibannya!


"Nggak ada, nggak ada! Om Zidan lagi sibuk!" Buru-buru aku menyambar tas punggungku, lalu meraih tangan Arina untuk bersalaman. Dia menahan tawa melihat aku yang berusaha menghalangi Qonita!


"Sebentar aja. Cuman nyapa dan liat senyum manis Om Zidan aja!" Qonita terus memaksa. Dia menggandeng tanganku. Menatapku dengan tatapan memohon. Terpaksa, aku pun mengajaknya melangkah mendekati mobil Om Zidan.


"Om?" Aku mengetuk kaca mobil, membuat Om Zidan menurunkannya.


"Assalamu'alaikum, Om?" Sapa Qonita seketika itu juga. Dia bahkan mendahuluiku!


"Wa'alaikumussalam!" jawab Om Zidan sambil menatapku. Seolah bertanya. "Temanmu kenapa?"


Aku hanya menjawab dengan mengangkat bahu saja. Karena aku juga tidak tau, si Qonita kenapa?


"Om Zidan makin ganteng aja! Om mau nggak jadi suami aku?! Aku nggak papa kok jadi yang kedua, Om!" ucap Qonita tanpa tau malu! Ingin rasanya aku memukul kepalanya sekarang juga!


Om Zidan tak menjawab apapun. Dia hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Qonita.


"Udah ya, aku mau pulang dulu! Sana.... Hush.... Hush...." Aku mendorong tubuhnya menjauh! Dia malah sempat-sempatnya melambaikan tangan pada Om Zidan, Suamiku!


"Dadah, Om! Sampai jumpa di pelaminan!"


Astagfirullah, anak gadis siapa ini?!


Membuang napas, aku langsung membuka pintu mobil, dan duduk sambil memejamkan mata. Hari ini begitu melelahkan bagiku!


"Kasihan istriku... Pasti pusing lagi ya gara-gara MTK?"


Kaca mobil aku naikkan, lalu menoleh ke arah Om Zidan. "Lebih dari itu, Om! Kepalaku rasanya mau pecah hari ini!"


Om Zidan malah tertawa! Dia seneng banget, ya liat aku menderita?!

__ADS_1


"Uh, kasiannya!" Tangan kekarnya mengelus kepalaku pelan dan lembut. Tak lupa juga dengan netranya yang memandangku dengan pandangan yang penuh kasih sayang. Sama seperti saat Ayah memandangku dulu!


"Sampai rumah kita langsung makan dan tidur siang, ya? Nanti sore kita jalan-jalan! Kamu mau beli Al-Qur'an juga, kan?"


"Mau... mau...." Rasa lelahku seolah menguap dan hilang entah kemana. Setelah mendengar kata jalan-jalan. Hehehe.


"Nah, kalau gitu, pakai dulu sabuk pengamanmu. Kita pulang, makan siang dan juga istirahat dulu!"


"Siap, Komandan!" Dengan semangat aku memakai sabuk pengaman. Tak lupa juga batinku berteriak begitu senang.


Horee..... Setelah sekian purnama, akhirnya aku diajak jalan-jalan juga sama Om Suami tercinta!


----------------×


Sesampainya kami di rumah. Aku segera naik ke lantai atas, sambil membawa tas dan juga jas milik Om Zidan. Om Zidan sendiri sibuk di dapur, menyiapkan menu makan siang yang tinggal dipanaskan. Dia memintaku untuk mengganti baju sekolah. Sementara dirinya sendiri masih memakai kemeja kerja!


Begitulah Suamiku, selalu mementingkan aku dari pada dirinya sendiri! Dan aku suka dia yang seperti apapun itu, entah dia di saat lagi sayang, kesal, cemburu ataupun marah. Aku tetap menyukainya! Karena dia suamiku, karena dia cintaku, dan karena dia hal yang begitu penting dalam hidupku!


Bucin, ya? Nggak apa-apa, Bucin sama suami sendiri nggak dapat dosa, kan?


"Duduklah!" Om Zidan langsung menarik kursi begitu melihat aku datang. Dia mengelus kepalaku sambil bertanya. "Mau makan apa, Sayang?"


Aku berpikir sejenak. Di hadapanku sudah tersaji beraneka sayuran. Mulai dari sup yang berisi wortel, kentang, sayur kol, buncis, brokoli dan juga bakso. Ada tumis kangkung dicampur taoge. Dan terakhir, ada tahu dan juga tempe goreng.


"Om sendiri mau apa?" Aku balik bertanya sambil menatap ke arahnya.


"Aku mau kamu!"


Hahaha. aku menggeleng pelan. "Manda milik Om, tenang aja!" Tegasku kemudian menarik mangkok dan kembali menatap Om Zidan yang malah melempar senyum jahilnya padaku. "Om!"


"Hahaha, maaf." Dia menahan tawanya dengan menutupi bibirnya menggunakan tangan. "Oke, aku mau sup, tolong ambilkan untukku, Sayang!"


Hiks, sekarang aku yang malah menahan tawa karena mendengar panggilannya. Sudah ku bilang kan, kalau panggilan sayang darinya itu terdengar lucu di telingaku!


"Ini, Suamiku!" Aku terkekeh sembari meletakkan satu mangkok sup di hadapannya. Bukannya berterimakasih dengan ucapan, Om Zidan malah berterimakasih dengan ciuman terlebih dahulu.


Muach!


"Terimakasih, ya!" ucapnya setelah satu ciuman dia berikan di pipi kananku. Aku pun mulai tersipu malu!


MALU-MALU MEONG!


"Sudah, jangan terus menatapku seperti itu, Manda! Kamu nggak akan kenyang jika hanya menatap wajahku!"


"Apasih, Om!" Aku kembali tersenyum malu sembari menarik piring milikku.


"Hahaha, cantiknya istriku saat sedang malu!!" Kan dia malah menertawakanku! Awas aja Om! Tunggu pembalasan dariku!


Aku pun mulai makan tanpa banyak bicara ataupun menatap Om Zidan lagi! Setelah kenyang, aku langsung merapikan meja makan. Membawa semua alat makan yang kotor ke dapur, untuk ku cuci! Sedangkan Om Zidan hanya mengamatiku dari meja makan.


"Om?!" Aku tersentak kaget ketika merasakan tangan kekar Om Zidan tiba-tiba saja melingkar memeluk pinggangku. Tak lupa juga, dagunya ia letakkan di ceruk leherku! Beruntung piring yang ku pegang tidak jatuh dari tangan!


Dia memeluk tubuhku dari belakang!


"Maaf, ya, seperti aku nggak bisa nemenin kamu tidur siang, Manda. Masih ada kerjaan yang harus ku kerjakan," bisiknya. Napasnya yang hangat menerpa kulit leherku. Membuat bulu-bulu leherku berdiri seketika itu!

__ADS_1


Hanya begitu, tapi aku sudah merinding saja!


"Nggak papa, Om. Manda ngerti kok." Aku membersihkan busa-busa sabun dari tanganku. Lantas memutar tubuhku menghadap Om Zidan.


"Jadi Om mau balik ke kantor lagi?" Tanyaku sambil merapikan rambut hitamnya. Padahal tadi aku sudah kesal padanya. Tapi anehnya, rasa kesal itu hilang dan menguap entah kemana?!


Om Zidan tersenyum sejenak. "Nggak harus ke kantor juga. Aku masih bisa kerja dari rumah!"


"Oke, kalau gitu Manda tidur di sofa ruang kerja Om aja? Gimana?"


Mataku menatap mata Om Zidan dengan penuh harapan. Berharap aku masih bisa tidur sambil melihat wajahnya. Ya, walaupun wajahnya sangat terlihat serius saat bekerja. Tapi aku suka!


"Baiklah!" Om Zidan tersenyum jahil sebelum akhirnya ia mengangkat tubuhku ke dalam gendongannya. Spontan, aku pun mengalungkan tanganku pada lehernya, agar tidak terjatuh.


"Kamu harus kasi vitamin dulu sebelum aku berkerja, Manda!" Bisiknya. Bibirnya yang jahil itu sudah terlebih dahulu memberikan sentuhan lembut pada leherku.


"OM?" Aku menahan Om Zidan ketika teringat sesuatu. "Aku malu, OM. Tadi Arina liat stempel cantik di leherku. Aku malu harus bilang apa?"


"Bilang aja, kalau ini adalah hasil kerja kerasku! Hahaha...." Om Zidan malah tertawa dengan kejamnya!


"Ish, Om! Aku serius!" Aku memukul lengan Om Zidan dengan pelan sampai ia menghentikan tawa kejamnya itu. Tapi nyatanya, dia malah semakin tertawa dan sesekali mencubit pipiku gemas!


"ISH, OM!!"


"HAHAHA, IYA, IYA. AKU HANYA BERCANDA, SAYANG!" Dia menghentikan tanganku yang masih memukul lengannya, dengan cara menggenggam tanganku dan meletakkannya tepat di depan dada. Matanya menatapku, seolah meminta agar aku tenang saja.


"Kamu bisa ngerasain detak jantungku?"


Aku mengangguk. "Ya, aku merasakannya, Om!"


"Dia berdetak seperti itu HANYA ketika aku sedang bersamamu, Manda!" Dengan pintarnya Om Zidan memancing suasana. Kini, bibirnya kembali jatuh menyentuh kulit leherku.


"Aku nggak pernah merasakan jantungku berdetak seperti ini, sebelum aku mengenalmu, Manda. Nggak ada satupun wanita yang pernah membuatnya berdetak tak karuan seperti saat ini..... Kamu berhasil membuatku gila, Manda!"


Aaaa. Sudah, Om! Aku sudah tidak tahan lagi! Hentikan bibirmu itu!


"Om....." Napas tiba-tiba saja memburu. Oh, tidak! Apa yang terjadi padaku?!


"Om? Om kan harus----"


Ucapanku terhenti, ketika bibir jahil Om Zidan malah menyambar bibirku. Membuat tubuhku benar-benar terasa begitu menegang dan juga terasa memanas. Padahal, hal seperti ini bukanlah hal yang baru bagi kami.


"Om? Gimana sama kerjaannya?" Aku masih mencoba untuk mengingatkan masalah pekerjaan itu.


"Akan ku kerjakan, Manda. Setelah pekerjaan ini tentunya!"


Huaaa. Kalau begitu, apa boleh buat, Om! Nikmatilah aku, aku milikmu! Hahaha!


-------------


...BERSAMAMU memberikan sebuah kenyamanan dan ketenangan dalam jiwaku, Om. Aku juga nggak bisa merasakan hal itu jika tidak BERSAMAMU. Hanya ketika BERSAMAMU lah aku merasa kalau kebahagiaan sedang berpihak pada diriku!...


...Jantungku pun hanya berdebar kencang saat sedang BERSAMAMU. Saat kau menatapku, saat kau menyentuhku, saat kau mengatakan kalau kau mencintaimu. Dan saat yang paling aku sukai adalah, saat di mana jantungku berdebar ketika mendengar TAKBIR terucap darimu. Aku paling suka saat itu. Saat kau menjadi Imam Shalat untukku!...


...Muhammad Zidan Al-Ghazali, aku mencintaimu!...

__ADS_1


__ADS_2