
Hari ini Zidan ada janji dengan salah satu teman baiknya sewaktu kuliah, mereka terakhir bertemu sekitar empat tahun yang lalu, di hari pernikahan Zidan, temannya tidak bisa datang karena sedang merawat istrinya yang baru hamil anak pertama. Begitu pula di saat pernikahannya, Zidan tidak bisa datang karena waktu itu Zidan sedang menjalani perawatan di Singapura, setelah koma.
Ahkam terlihat begitu semangat, bocah itu sudah rapi dengan mengenakan kemeja putih, dipadukan dengan celana jeans berwarna coklat muda, sama persis seperti yang sedang Zidan pakai. Sedangkan Manda menggunakan gamis coklat dengan jilbab pashmina coklat muda yang menutupi dada.
Zidan tersenyum, memandangi wajah Manda. "Minum dulu!"
Sebagai seorang suami yang sayang dan cinta istri, Zidan tak pernah lupa memperhatikan semua kebutuhan Manda, terutama sejak hamil, Manda lebih banyak membutuhkan asupan gizi dari makanan dan minuman, Zidan yang selalu menyiapkan susu khusus ibu hamil untuk Manda.
"Mama!" Kini Ahkam yang membawakan sepotong sandwich yang Bik Jah siapkan. Dua minggu terakhir ini Manda memang sedikit pilih-pilih makanan, dia juga tidak bisa makan nasi, bawaannya ingin muntah saja.
"Terimakasih kasih ya, Sayang!"
Manda mengusap kepala Ahkam lembut, lalu memberikan satu kecupan hangat di pipi bocah itu.
"Abang juga mau!" Zidan menunjuk pipinya, sudah tidak menjadi hal aneh lagi bagi Ahkam, jika Papa selalu minta dicium juga. Cemburu katanya.
Tepat pukul setengah delapan mereka meninggalkan Villa Anggrek, melaju ke arah barat, teman Zidan juga kebetulan membangun Villa pribadi di sekitar sini, dia dan istrinya juga sedang menikmati waktu bersama, menjelang kelahiran anak pertama mereka.
Zidan juga merasa harus bertemu dengan temannya, dia butuh dukungan, jika sewaktu-waktu keluarga besarnya berulah lagi!
"Mama, lihat, ada kuda!" Ahkam menunjuk ke luar jendela mobil, ada beberapa pria yang sedang menunggang kuda, lebih tepatnya sedang berlatih naik kuda.
"Ahkam mau naik kuda juga?" tanya Zidan. Dia sedikit menurunkan kecepatan, supaya bisa mengobrol dengan Ahkam, sebentar lagi mereka sampai tujuan.
"Ada kuda yang kecil nggak, Pa?"
"Ada!" jawab Manda, sambil merapikan kancing kemeja Ahkam.
"Besok, kalau Ahkam udah 7 tahun, udah masuk SD, Papa daftarin buat latihan kuda, sama latihan memanah, mau?"
"Mau, Pa! Mau!" Jawab Ahkam antusias, Ahkam senang melihat orang memanah, beberapa hari yang lalu, dia sempat melihat Cila diajari memanah oleh Bundanya.
"Gimana kalo bela diri?"
Ahkam berpikir sejenak, masih mencerna dan mencari gambaran tentang bela diri di dalam otaknya. "Seperti apa, Ma?"
"Emmm, sejenis silat, Ahkam tau?"
"Ahkam mau juga, supaya Ahkam bisa jagain Mama, dan Adek Kecil!"
"Ahkam nggak mau jagain Papa?" tanya Zidan, mobil mereka sudah memasuki kawasan Villa. Pemandangan yang dipenuhi oleh warna hijau begitu memanjangkan mata.
"Kan Papa yang jagain Ahkam!"
Zidan tersenyum. Menoleh ke arah Ahkam dan juga Manda.
"Ahkam tetap jadi anak kebanggaan Papa sama Mama, ya, Sayang! Jadi Abang yang hebat juga buat Adek Kecilnya!"
Ahkam mengangguk penuh semangat. Zidan mengulurkan tangan saat Manda hendak turun dari mobil, uluran tangan itu disambut dengan lembut dan penuh senyuman oleh Manda.
"Zidan?!" Seorang pria melangkah mendekati mereka, langkahnya sedikit hati-hati, karena memperhatikan wanita yang berjalan di sampingnya, sedang dalam keadaan hamil besar.
"Albian Wijaya Saputra!"
Kedua pria itu saling berjabat tangan, memindai satu sama lain. Lalu sama-sama tertawa, ternyata tidak banyak yang berubah, wajah mereka masih tetap sama! Hanya saja aura bahagia terpancar jelas dari wajah keduanya, berbeda jauh sejak terakhir mereka bertemu.
"Ini, Zeeviana, istriku!" Pria itu mengenalkan wanita yang berdiri di sampingnya, sebagai seorang Istri. Tidak ada yang mengulurkan tangan, baik Zidan ataupun Zeeviana. Zidan tidak ingin menyentuh seseorang yang bukan mahramnya, sedangkan Zeeviana tidak akan menyentuh pria manapun, yang bisa membuat cemburu suaminya!
"Zidan, ini Manda, Istriku, dan Ahkam, anak kami!"
__ADS_1
Pria yang bernama lengkap Albian Wijaya Saputra itu sedikit menunduk agar bisa menyapa Ahkam.
"Om?" Ahkam mengulurkan tangannya, Bian melirik Zidan, lalu memberikan tangan kanannya, Ahkam mencium punggung tangan Bian. Penuh rasa hormat.
"Ah, manis sekali!"
Zeeviana ikut mengulurkan tangan, melirik suaminya, "Dia masih kecil Lho!"
Ahkam menyentuh tangan Zeeviana, mencium punggung tangan itu seperti yang dia lakukan tadi.
"Panggil Aunty Zee, ya?!"
Manda tersenyum saat tatapan Zeeviana teralih padanya. Wanita itu maju selangkah. "Zeeviana."
Bukan uluran tangan lagi yang Zeeviana dapat, melainkan pelukan hangat dari Manda. "Manda."
Manda mengatupkan kedua tangannya di depan dada saat Bian menatapnya. "Manda."
Pria itu tersenyum melihat ke arah Zidan. "Ayo, silakan masuk, kita ngobrol di dalam!"
Zidan melangkah duluan bersama Bian, membiarkan Manda dan Zeeviana saling mengenal lebih dekat lagi. Ahkam ikut dengan Papanya.
"Hati-hati." Manda membantu memegang tangan Zeeviana saat wanita itu duduk di sofa, dengan kondisi perut yang sedang hamil 8 bulan lebih membuat Zeeviana sedikit kewalahan.
Dua orang pelayan bergantian mengantar berbagai jenis makanan dan minuman, mulai dari buah-buahan segar, kue kering, roti gembong, roti sobek, donat, jus jeruk, jus mangga, bahkan dua boks besar es krim aneka rasa.
"Seriusan, Manda baru umur 19 sekarang?" tanya Zeeviana tak percaya setelah mendengar cerita dari Zidan tentang istrinya, sebenarnya Zidan sedang bicara dengan Bian. Zeeviana mencuri-curi obralan mereka saja.
"Hehehehe, iya."
"Hah, aku berasa main sama anak SMA sekarang!"
"Boleh boleh, Kak Zee, huhuhuhu, lucu kan?"
Bian dan Zidan menatap heran ke arah kedua wanita itu. Baru kenal aja bisa seheboh dan seakrab itu, ya?
"Suka roti ini nggak, Manda?" Zeeviana menunjuk roti sobek di atas meja, masih utuh. Belum disentuh oleh siapapun. Manda berdehem, sedikit mendekati Zeeviana, lalu berbisik.
"Manda lebih suka yang original sih!"
"Hahahaha, sama dong!" Zeeviana melirik ke arah Bian yang sedang tersenyum sambil memperhatikannya.
"Kak Zee tau istilah gituan?"
"Dulu sih nggak, tapi sahabatku penggemar terberat roti sobek, akhirnya tau deh istilah kayak gitu!"
Sifat kalem Manda hilang begitu bertemu Zeeviana, ternyata ngobrol dengan Zeeviana tidak sekaku yang dia kira. Masih nyambung dan asyik juga.
"Masih dipanggil Om?" tanya Bian pada Zidan, tapi tatapannya masih tertuju pada Zeeviana, istrinya bahkan tidak pergi kemanapun sejak tadi, masih di tempat yang sama.
"Nggak lagi lah! Tapi jujur aja, aku nggak pernah masalahin dia mau manggil apa!"
"Kebahagiaan dia yang lebih utama, 'kan?"
Zidan tersenyum sambil mengangguk pelan, netranya ikut menatap Zeeviana dan Manda. Keduanya terlihat begitu asyik sejak tadi. Entah sedang membicarakan apa lagi sekarang!
"Kirain cuman aku aja yang tergila-gila dengan Zee, ternyata ada yang lebih parah lagi!"
"Dia terlalu berharga, Bian. Susah buat nemuin yang kayak dia lagi!"
__ADS_1
"Zeevianaku juga sangat berharga! Nggak ada yang bisa nandingin dia!"
"Yang terbaik buat kamu, belum tentu yang terbaik buat aku, kita nggak bisa ngebandingin takdir kita!"
"Masih bijak juga ya!" Bian menepuk pundak Zidan. Mereka dulu sangat akrab, bahkan Bian selalu meminta pendapat dan nasehat dari Zidan. Bahkan hanya untuk masalah sepele, Bian tidak pernah malu untuk meminta pendapat Zidan, yang menurutnya jauh lebih dewasa dan lebih mengerti tentang segala hal.
Zidan dan Bian memiliki nasib yang sama, sama-sama berkorban demi keluarga, Zidan mengorbankan cita-citanya menjadi seorang Dosen karena sang Kakek meminta untuk meneruskan jabatan di perusahaan keluarga, Zidan yang tidak memiliki kemampuan apapun dalam bidang bisnis terpaksa harus menempuh ulang pendidikan di bidang bisnis. Benar-benar dari nol.
Merasakan pahitnya berjuang dan mempelajari sesuatu yang tidak ia sukai, tertarik pun tidak. Begitu pun dengan Bian, sama-sama belajar dan berjuang mati-matian agar dia pantas dan layak untuk duduk di kursi jabatan yang Neneknya inginkan.
Bedanya, semua orang setuju dan mendukung langkah Bian, sedangkan Zidan? Para paman dan Bibinya menentang keras, karena menganggap Zidan hanya bocah kemarin sore yang belum pantas untuk mengambil jabatan tertinggi di perusahaan!
Zidan tertawa kecil saat mengingat beberapa momen bersama Bian dulu, sekaligus tidak menyangka mereka akan dipertemukan lagi dengan kondisi seperti ini, Bian sudah menemukan gadis kecilnya yang sempat hilang!
"Kalian berjodoh ternyata!"
Bian tersenyum bangga. "Kita memang sudah ditakdirkan sejak kecil! Dia milikku!"
"Lebih tepatnya, kamu yang mengikat Zeeviana dalam takdirmu! Membuat janji dengan anak bayi, siapa coba yang terpikir untuk melakukan hal seperti itu, selain kamu!"
Bian malah tertawa, dia sering menceritakan tentang perjanjiannya dengan bayi kecil bernama Zeeviana pada Zidan. Saat itu Zidan hanya merespon dengan mendoakan yang terbaik untuk mereka. Mungkin pertemuan Bian dan Zeeviana juga berkat doa Zidan?
"Siapa juga yang bakalan menyangka, pria dewasa seperti Anda malah menikahi seorang gadis di bawah umur!!"
Zidan menyunggingkan senyum. "Itu tandanya, nggak ada satu pun dari kita yang bisa menebak dan melamar takdir, kan? Apalagi lagi sampai melawan takdir!"
Bian mengiyakan. Untuk urusan debat, Zidan memang tidak bisa dikalahkan oleh Bian!
"Cicipin yang ini, Manda!" Zeeviana mengarahkan sesendok es krim rasa strawberry, Manda menerimanya.
"Manda lebih suka yang ini deh!"
Zeeviana menyendok es krim yang sedang Manda pegang, rasa cokelat dan susu. "Enak!"
Manda meletakkan cup di atas meja, setelah menangkap bayangan tubuh Zidan yang sedang berjalan mendekati mereka, Zidan dan Bian tadi sempet ke lantai atas, katanya ada hal penting yang harus mereka bicarakan.
"Mau dong!" Bian duduk di samping Zeeviana, tangan kekar itu bergelayut manja memeluk tubuh Zeeviana. Hancur sudah kehormatannya jika berhadapan dengan istri tercinta sejagat raya.
"Kak!" Zeeviana melirik Manda dan Zidan yang malah terlihat tidak terlalu memperhatikan mereka, Manda sibuk menyuapi Zidan es krim, walaupun Zidan terus menolak dan meminta Manda berhenti menyuapinya.
"Lebih parah bucinnya Zidan, kan?"
Zeeviana tidak membenarkan ataupun menantang ucapan Bian. Tapi memang jika diperhatikan, Zidan mencintai istrinya dengan cara yang berbeda, dari cara Zidan menatap Manda saja terlihat betul seistimewa apa Manda! Caranya berbicara, begitu lembut, tidak dengan nada tinggi.
"Tapi Kak Bian tetap yang terbaik!"
Zeeviana mengalihkan pandangannya, Sekeren apapun dia melihat Zidan sekarang, tapi tetap saja, tidak ada yang sekeren, setampan, sebaik, semahal, seistimewa Bian di dalam hati dan pikirannya.
"Suamimu memang yang terbaik, Zee!"
Zidan merinding mendengar ucapan Bian, tingkat percaya dirinya semakin menjadi-jadi ternyata!
"Mereka lucu ya?" bisik Manda. Melirik sekilas ke arah Bian yang masih menempel pada Zeeviana layaknya prangko. Memeluk Zeeviana begitu posesif, padahal tidak ada satupun orang yang berani merebut Zeeviana darinya! Secara dia seorang Albian Wijaya Saputra!
"Setiap orang punya cara tersendiri untuk mengutarakan cintanya, dan begitulah mereka!"
"I love you, Bang!"
Zidan mengusap pipi Manda lembut, bukannya tidak ingin menunjukkan sesayang apa dia pada Manda, tapi menunjukan hal seperti itu di hadapan orang lain rasanya tidak terlalu pantas dan sangat tidak nyaman. Cukup Manda tau bahwa perasaan Zidan tertanam begitu dalam. Tidak pernah berkurang, tidak pernah ada kata bosan!
__ADS_1