Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 16. Kekhawatiran


__ADS_3

Sebelum menghabiskan waktu akhir tahun di Singapura, Manda meminta Zidan untuk membawanya ke Villa Anggrek. Ingin melepaskan rindu dengan suasana Villa yang membuat tenang hatinya, lagi pula sejak Manda hamil, mereka tidak pernah ke sana.


Ahkam langsung berlari menuju taman belakang, ada kolam renang baru, sengaja Zidan buatkan untuk Ahkam. Bahkan Ahkam sudah punya kamar sendiri, lengkap dengan kebutuhannya, mulai dari baju, celana, dan beberapa buku dongeng.


Sementara dua anak manusia itu sedang menikmati udara sore, menghadap ke arah barat, pancaran matahari senja menghiasi langit. Manda menyandarkan kepalanya di bahu Zidan, matanya menatap lurus ke depan.


"Sayang?"


"He'em?" Manik Manda beralih menatap pemandangan yang tak jauh lebih indah dari senja, guratan senyum di wajahnya tak jauh lebih cerah dari matahari pagi, tatapannya tak jauh lebih indah dari sinar rembulan.


"Abang masih di sini!" Zidan mengerti dan paham betul apa yang sedang menganggu pikiran istrinya, tiga hari lagi mereka akan melakukan penerbangan ke Singapura, kemarin Ahkam baru selesai bagi rapot, bocah itu mendapatkan peringkat pertama. Tentu Zidan dan Manda sangat bangga.


Tapi sekarang, bukan itu yang sedang Manda pikirkan, Zidan tau betul. "Ada Mama, Mama nggak mungkin biarin orang lain menyakiti putrinya. Percayalah, kita juga masih punya Allah, Allah selalu bersama kita!"


Bukan, Manda tidak sedang memikirkan tentang dirinya saja, mungkin jika hanya dia dan Zidan yang akan pergi, Manda pasti akan jauh lebih tenang, tapi ini, ada Ahkam di tengah-tengah mereka! Apakah kehadiran Ahkam bisa diterima dan disambut baik di sana?!


"Hei, jangan terlalu dipikirin, kasian Adek Kecilnya!" Zidan mengelus perut Manda yang mulai sedikit membuncit. Ini sudah memasuki minggu ke 14.


Manda tersenyum, dia sadar, tidak seharusnya dia terlalu memikirkan hal seperti ini, dia memikirkan terlalu berlebihan, Manda terlalu takut Ahkam terluka! Manda tidak ingin kehadiran Ahkam disambut dengan tatapan benci, sindiran pedas dan omong kosong yang membuat luka mental anaknya!


Zidan menatap wajah Manda lekat, dipindainya mulai dari alis, mata, hidung, lalu terhenti di bibir ranum yang sudah menjadi candu tersendiri bagi Zidan. Tak jauh berbeda dengan Manda, tatapannya kini tertuju pada bibir Zidan yang semakin mendekat.


Senja menjadi saksi bagaimana kedua anak manusia itu menyalurkan perasaan mereka, menguatkan ikatan suci yang mengikat erat keduanya, dalam do'a selalu meminta agar mereka di takdirkan untuk selalu bersama, memilih kematian yang akan menjadi pemisah mereka, dan masih berharap juga dipertemukan di dalam Surga-Nya.

__ADS_1


Zidan mengecup kedua pipi dan kening Manda, menjauhkan diri, takut tidak bisa mengontrol jika terlalu jauh dan hanyut dalam manis dan lembutnya Manda.


"Hahaha, maaf!" Manda ikut tersenyum, mengelus pelan lengan Zidan. Mereka sama-sama saling merindukan, tapi demi sang buah hati, keduanya mencoba untuk menahan gejolak hasrat yang berkobar. Kandungan Manda masih terlalu muda.


Tidak ada yang bisa Zidan lakukan selain tersenyum, cukup seperti ini saja sudah mengobati kerinduannya, lagi pula tidak selamanya Zidan akan berpuasa, ada waktu dan saat di mana dia dan Manda bersatu lagi, dalam satu perasaan yang sama!


Matahari mulai tenggelam, Ahkam menyusul mereka, mengajak untuk segera masuk ke dalam Villa. Tangan Manda menggenggam jemari Ahkam, begitu pula Zidan, Ahkam berjalan tepat di tengah keduanya, menjadi bagian penting juga dalam hidup mereka.


"Jadi kapan kalian akan ke sini?" tanya Mama Melinda di seberang sana. Sudah tidak sabar untuk menyambut kedatangan anak dan menantunya, terlebih lagi Manda sedang mengandung cucunya. Tapi meskipun begitu, Ahkam tetap cucu pertama. Itu yang berusaha Mama Melinda tanam dalam hatinya.


"Insyaallah besok lusa, Ma."


Zidan mengusap kepala Manda, istrinya itu tidur setelah mendapatkan apa yang ia inginkan, meminta bertukar pakaian dengan Zidan. Jadilah sekarang Manda tidur menggunakan baju kaos yang akan Zidan masukan ke dalam keranjang cucian. Katanya aroma tubuh Zidan melekat jelas di baju kaos itu, dan Manda menginginkannya!


"Iya, Nak?"


"Gimana dengan Ahkam nanti?"


Tak bisa dipungkiri, Zidan pasti memikirkan bagaimana tanggapan keluarga besarnya tentang Ahkam? Terlebih lagi Zidan tau betul bagaimana keluarganya, yang sangat minus dalam tata bicara.


"Udah, semuanya aman, Mama juga udah siapin kamar buat kalian, kalian tinggal berangkat aja, serahin semua sama Mama! Percayalah, Mama nggak akan membiarkan kejadian yang pernah dialami Manda, dialami juga oleh Ahkam!"


Penolakan keras dari keluarga besar Zidan saat kedatangan Manda tentu masih teringat jelas dalam ingatan semua orang, bahkan Mama Melinda termasuk orang yang menolak dengan terang-terangan Manda dalam keluarganya.

__ADS_1


Tapi sekarang, dia sendiri yang akan melindungi menantu dan cucunya, bahkan jika dia harus kehilangan semua harta, dia akan tetap berada di pihak Anaknya. Zidan terlalu banyak berkorban untuk keluarga, bahkan sampai mengorbankan dirinya sendiri, hanya demi melanjutkan semua beban yang ditimpakan di pundaknya.


Sambungan telepon terputus setelah Mama Melinda berhasil meyakinkan Zidan. Mama Melinda juga berpesan, agar tidak terlalu menggubris omongan siapa pun itu, mereka memang keluarga, tapi mereka tidak memiliki hak untuk mengatur setiap kehidupan dan keputusan seseorang. Ini adalah hidup Zidan, Zidan yang lebih berhak dan lebih tau apa yang membuat dirinya bahagia!


"Maaf ya, Sayang. Kamu harus berada di sekitar orang-orang itu lagi, tapi aku janji, aku akan melindungimu dan Ahkam, aku janji!"


Zidan mengecup kening Manda, sangat lama. Di hari pernikahan Zidan memang menyaksikan langsung bagaimana mereka meminta maaf pada Manda, tidak bermaksud berprasangka buruk, hanya saja kemungkinan mereka menolak kehadiran Ahkam juga sangat besar, terlebih mereka orang-orang yang gila akan harga. Pasti mereka akan berpikir bahwa kehadiran Ahkam bisa mempengaruhi harta warisan keluarga!


Sementara itu, di negara yang berbeda, dengan suasana yang berbeda juga, Gilang menatap wajah lelah gadis di hadapannya, lelah seharian bergelut dengan tugas kuliah. Senyum tipis menghiasi sudut bibir Gilang, tangannya melayang, menyentuh pipi gadis itu.


"Istirahatlah, good night, Ay!"


Satu kecupan hangat di kening, gadis itu hanya membalas dengan senyuman. "Good night too!"


Dengan wajah yang merona dia masuk ke dalam apartemen, Gilang yang masih berdiri di depan pintu hanya menggeleng pelan. Kehadiran gadis itu membawa banyak pengaruh besar dalam hidupnya. Ia menoleh sekali lagi, menatap pintu apartemen di samping apartemen miliknya.


Gilang sengaja memilih tinggal bersebelahan, agar dia dan gadis itu selalu dekat, agar dia bisa menjaga dan mengawasi gadis yang sekarang berstatus sebagai kekasihnya, gadis itu memiliki arti yang sangat penting dalam hidupnya!


"Dia akan ke sini, ya?" Tatapan mata Gilang sekarang tertuju pada langit malam. Remaja itu berdiri di balkon, ingatannya tertuju pada kabar yang Ayu---kekasihnya sampaikan. Besok lusa Manda akan ke Singapura, satu negara lagi dengan mereka!


"Nggak, nggak boleh kayak gini terus, Lang!" Gilang menggeleng keras, dia tidak boleh lagi memikirkan Manda, ini sama saja dengan Gilang semakin mengikat Manda dalam hatinya! Dia harus benar-benar memastikan jejak Manda tidak tertinggal lagi di sana!


Manda sekarang hanya ibarat bintang di langit, dia ada, hanya untuk dilihat, bukan untuk diraih dan dimiliki lagi oleh Gilang!

__ADS_1


__ADS_2