
Muachhhh.
Satu kecupan di kening mendarat untuk Manda. Gadis yang sedang merapikan meja makan itu sedikit tersentak. Karena tiba-tiba saja Zidan menarik tubuhnya dan mencium keningnya cukup lama.
"Lepasin dulu, Bang. Nanti Ahkam liat lo!!" Decak Manda sembari menepuk tangan Zidan yang mulai bergerak lincah menelusuri tubuhnya.
"Ahkam udah tidur, Sayang!" Bisik Zidan parau.
Zidan tak kuasa menahan dirinya. Malam ini sudah memasuki malam ke-2 Minggu ia dan Manda menikah. Tapi sampai malam ini ia belum pernah mendapatkan haknya. Bukan tanpa alasan, pada Minggu pertama pernikahan mereka Manda sedang dalam keadaan haid. Dan sejak dua hari terakhir ini kondisi kesehatan Ahkam memang kurang baik, bahkan Ahkam sempat mengalami demam tinggi setelah mereka pulang dari Pantai beberapa hari yang lalu.
Di saat Ahkam sedang demam, di saat itu juga Zidan benar-benar melihat sisi lain dari istrinya. Manda dengan telaten merawat Ahkam, menjaga Ahkam sepanjang malam, sampai-sampai Zidan merasa dinomer duakan. Tapi terlepas dari itu semua, rasa sayang Zidan pada Ahkam juga tak kalah besarnya jika dibandingkan dengan rasa sayang Manda pada Ahkam.
"Iya, sabar, sabar. Manda selesain ini dulu, ya?" Gadis itu kembali menepuk tangan Zidan. Mau tidak mau Zidan pun melepas pelukannya. Ia menarik kursi makan. Mengamati gerakan tangan Manda yang membersihkan noda kotor di atas meja.
"Oh ya, Minggu depan Ahkam mulai masuk sekolah, 'kan?" tanya gadis itu, ia melirik ke arah Zidan.
"Iya, semua perlengkapan sekolah Ahkam juga udah kamu siapin, 'kan?"
"Udah dong!"
Manda mencuci tangannya setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan dapur. Netra hitamnya menatap Zidan yang juga menatapnya dengan seringai tajam.
"Gendong!"
Zidan menggeleng sambil terkekeh pelan, namun ia tetap saja berjongkok di depan Manda. Membiarkan gadis itu menempel di punggungnya.
Tangan Manda melingkarkan di leher Zidan. Derap langkah Zidan saat menaiki tangga terdengar begitu pelan dan hati-hati. Salah mengambil langkah saja, keselamatan istrinya yang menjadi taruhan.
"I Love You!" Bisik Manda pelan. Gadis itu memiringkan kepalanya, menatap wajah Zidan yang berjarak beberapa centimeter dari wajahnya. Zidan tak langsung membalas ucapan Manda, ia memberi jeda beberapa saat sebelum menurunkan Manda di tepi kasur.
"Cintaku terlalu mahal jika hanya diucapkan oleh bibir saja!" ucap Zidan sembari menarik pelan jarum pentul dari hijab segi empat yang Manda kenakan. Ia melepas hijab hitam itu, meletakkan di sisinya kanan Manda.
Tangan kekarnya menarik pelan ikat rambut yang mengumpulkan helai demi helai rambut hitam panjang istrinya. "Rasanya terlalu murah jika ungkapan cinta tidak disertai dengan pembuktian, bukan?"
Manda mengangguk pelan, membernarkan ucapan Zidan.
"Jadi menurutmu, sudah sejauh mana aku mencintaimu, Sayang? Apakah hanya sebatas ucapan?" Jemari Zidan menyisir pelan rambut hitam itu. Begitu pelan, seolah takut sang pemilik rambut merintih kesakitan saat Zidan memainkan rambutnya.
__ADS_1
Kali ini Manda menggeleng keras. Ia menghentikan gerakan tangan Zidan yang masih menyisir pelan rambutnya. Tangan kekar itu Manda genggam cukup lama, sebelum tangan itu menempel di pipi kirinya.
"Terlalu sulit untuk diuraikan dengan kata-kata." Manda terpejam saat kepala Zidan mulai tertunduk. Manik hitam indah itu menatap wajah menggemaskan yang minta untuk segera dieksekusi.
Zidan sedikit memiringkan kepalanya, "Dua ronde?"
Hening. Tidak ada jawaban dari gadis yang masih memejamkan matanya itu. "Tiga ronde?"
"Auu---" Zidan menggenggam tangan Manda yang mencubit perutnya. Mata gadis itu melotot, seolah ingin memakan Zidan bulat-bulat sekarang juga.
"Kebanyakan nawar!! Gas yok!! Mulai aja!!"
Pria yang akan menginjak usia 30 tahun itu menggeleng pelan melihat kelakuan bar-bar Istrinya. Manda memang berbeda dari gadis lain, jika sudah menyangkut pembahasan 21+ seperti saat ini.
Padahal ya umurnya belum cukup untuk hal seperti itu, tapi mau bagaimana lagi? Sejak awal menikah dengan Zidan dialah yang selalu mengambil tindakan, sering menjahili Zidan, bahkan Zidan masih ingat betul bagaimana gadis itu merenggut keperjakaannya saat di Villa. Tapi di satu sisi Zidan bersyukur karena dia tidak perlu membujuk ataupun merayu istrinya. Yang ada istrinya yang akan duluan peka!
...****************...
Matahari masih malu-malu untuk menampakkan sinarnya. Ia masih bersunyi di ufuk timur sana, hembusan angin pagi yang segar menerpa permukaan dedaunan, menggoyangkan beberapa bunga kecil yang tertanam di taman.
"Siap?" Zidan menepuk pelan pundak Ahkam, dibalas anggukan kepala oleh bocah itu. Menandakan ia sudah siap untuk mengayuh sepedanya mengelilingi kompleks.
Melihat Zidan dan Ahkam hendak keluar, Pak Dody --- Selaku satpam segera membukakan gerbang. "Selamat pagi, Pak, Dek Ahkam," sapanya tersenyum.
"Pagi, Pak. Saya keluar sebentar. Titip Istri saya, seperti biasa, jangan bukakan gerbang, kecuali yang datang Henny. Selain dia, jangan pernah buka gerbangnya!" Tegas Zidan sebelum mengayuh sepedanya menjauhi rumah bersama Ahkam. Belum beberapa meter dari rumah ia sempat menoleh sekali lagi, memastikan kalo Pak Dody langsung menutup gerbang setelah ia pergi.
"Ayo kita balapan, Pa!!" Seru Ahkam, bocah itu mengayuh sepedanya mendahului Zidan. Namun ia masih mengingat pesan Zidan agar tidak terlalu kencang dalam melaju.
Zidan membututi Ahkam, walaupun raganya sedang bersama Ahkam. Tapi pikirannya masih berkeliaran di sekitar Manda. Terlebih semalam ia baru saja mendapatkan asupan vitamin dari gadis cantik itu. Membuat aura bahagia terpancar jelas di wajahnya.
Tak henti-hentinya Zidan tersenyum saat membayangkan wajah tengil Manda. Rasanya ia ingin memutar arah, kembali ke rumah lagi dan memandang wajah Manda sepuasnya. Tapi apa boleh buat, Manda sendiri yang meminta untuk menemani Ahkam jalan-jalan, sekalian juga agar Zidan tidak menjahilinya saat sedang menyiapkan sarapan.
"Aduh, jagoan Papa udah capek ya?" Sepeda hitam milik Zidan ikut berhenti di samping Ahkam. Mereka berhenti tepat di taman, kondisi taman tampak sepi karena hari ini bukanlah hari libur, hanya beberapa anak kecil seumuran Ahkam yang bermain di sana.
"Papa? Kenapa dia duduk sendirian di sana?" tanya Ahkam sambil menunjuk ke arah seorang gadis kecil yang duduk sendirian di bangku taman. Sementara teman-teman yang lain sedang asik bermain Barbie-barbiean.
"Coba kita tanya!"
__ADS_1
Ahkam menggenggam jari tunjuk Zidan, mengikuti langkah Zidan yang mulai mendekati gadis kecil itu.
"Assalamu'alaikum?"
Gadis kecil itu mendongakkan kepalanya. Menatap Ahkam dan Zidan secara bergantian.
"Wa'alaikumussalam, Om!" jawabnya pelan. Ia sedikit bergeser menjauh, mungkin merasa tidak nyaman karena kedatangan Zidan dan Ahkam.
"Kenapa kamu nggak ikut main?" tanya Ahkam. Gadis kecil itu hanya menggeleng pelan, lalu menunjuk jilbab coklat mudah yang ia kenakan. Senada dengan baju gamisnya.
"Mereka tidak mau bermain denganmu? Hanya karena kamu menggunakan ini?" tanya Zidan. Zidan berjongkok di hadapan gadis kecil itu. Sementara Ahkam dengan polosnya duduk di kursi taman, tanpa permisi terlebih dahulu.
"He'em." Gadis kecil itu mengangguk. Memang benar, teman-temannya tidak mau lagi berteman dengannya setelah Bunda memakaikan kain penutup kepala ini padanya.
"Ya udah, jangan sedih lagi. Nggak apa-apa, kamu cantik kok pakek ini, iya kan, Ahkam?"
"He'em. Kamu cantik pakek jilbab, sama seperti Mamaku!" sanjung Ahkam.
Gadis kecil itu pun mulai tersenyum. Untuk pertama kalinya ia mendengar ada orang yang mengatakan bahwa ia cantik dengan penutup kepala ini. Selain Ayah dan Bundanya.
"Terimakasih, Om. Terimakasih---"
"Ahkam!" ucap Ahkam memberitahukan namanya.
"Terimakasih, Ahkam. Namaku Cila!"
Zidan tersenyum sambil memperhatikan kedua bocah di hadapannya. Sahila Nuzula, bocah cantik yang baru berusia 6 tahun. Lebih mudah 3 bulan dari Ahkam. Dia adalah anak salah seorang ustadz di kompleks ini. Bundanya juga seorang guru ngaji, jadi wajar saja apalagi orang tuanya sudah mulai membiasakan ia mengenakan hijab sejak kecil. Walaupun sejatinya ia belum faham apa fungsi dan hukum hijab yang sebenarnya.
Zidan menatap jam tangannya, jam sudah menunjukkan pukul enam lebih empat puluh lima menit, waktunya untuk segera kembali ke rumah, sebelum Istrinya khawatir dan menanyakan keberadaannya.
"Ahkam, ayo pulang, Nak." Zidan mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Ahkam, "Om sama Ahkam pulang dulu ya, Cila, kapan-kapan kita ketemu lagi ya, Nak!"
"Dadah, Assalamu'alaikum!" Kali ini Ahkam yang mengucapkan salam terlebih dahulu. Bocah itu mulai melangkah mengikuti Zidan setelah mendengar jawaban salam dari Cila.
Cila menatap dua sepeda yang mulai menjauh dari taman. Mata bulatnya terus mengamati sepeda itu, sampai sepeda itu hilang di persimpangan.
"Dia temen Cila!"
__ADS_1