Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 25. Final - 1


__ADS_3

...Singapura...


Gilang mengejar langkah Ayu yang berjalan menuju lift. Sudah satu bulan berlalu setelah kejadian malam tahun baru itu, mereka juga sudah baikan, Ayu memaafkan Gilang, tapi dengan syara ; ini benar-benar yang terakhir!


"Gimana, jadi pulang ke Indo?" tanya Gilang, pintu lift tertutup, hanya ada mereka berdua.


"Jadi, kemarin aku udah telpon Ibu!"


"Udah beli tiketnya?"


Ayu menatap Gilang lalu tersenyum. "Udah."


"Untukku ada?"


"Emmm---"


"Jadi aku nggak diajakin pulang nih?"


"Hahahaha, ada kok ada, tenang aja!"


Gilang tersenyum, pria itu bergeser selangkah, lalu menyandarkan kepalanya di pundak Ayu. "Makasih ya, Ay."


"Untuk?"


"Semuanya!"


"Iya, iya, sama-sama, Lang!" Ayu mengelus kepala Gilang yang masih nyaman bersandar.


"Udah udah, sekarang kamu packing dulu, aku siapin makan malam di---"


"Dinner di luar yuk, udah lama loh kita nggak pernah keluar! Gimana?" ucap Gilang.


"Kamu yang bayar ya?!"


"Hahaha, siap!"


"Ya udah kalo gitu aku mandi dulu!" Ayu sudah berbalik badan, hendak kembali ke apartemennya.


"Emm, tunggu, Ay!"


"Iya kenapa?" Ayu menoleh.


"Jangan terlalu cantik ya dandannya!"


"Hahahaha, aku nggak secantik itu kali, Lang!!" Ayu menggeleng sebelum keluar dari apartemen Gilang, sementara pria itu senyum-senyum sendiri lalu merebahkan tubuhnya di atas sofa. Gilang masih bisa tidur sembari menunggu Ayu mandi dan bersiap-siap!


...**********...


Senyum tak pernah hilang dari wajah Manda sejak mobil Zidan masuk ke halaman, sampai Zidan turun dari mobil dan sekarang berdiri di hadapannya.


Dengan wajah lelah Zidan mencoba tersenyum, ia merangkul bahu Manda, mengajaknya untuk masuk ke dalam rumah.


"Abang mandi dulu ya!"


"Iya, Bang!"


Manda memperhatikan Zidan yang membuka kemeja dan celana kotornya, Manda mengambil alih untuk ditaruh ke dalam keranjang cucian, sementara Zidan sudah masuk ke dalam kamar mandi, dengan membawa handuk di pundaknya.


Setelah menyiapkan baju ganti untuk suaminya, Manda pun turun lagi untuk mengambil air dan mengecek Ahkam, apakah bocah itu sudah pulang dari rumah tetangga? Karena biasanya kalau sudah melihat mobil Zidan, Ahkam pasti juga langsung pulang!


"Mama!"


Eh bocah yang mau dicari sudah duduk aja di depan kulkas, ada botol air dingin di tangannya.


"Loh, ini kenapa, Sayang?" Manda langsung meraih tangan kiri Ahkam, ada luka di sikunya, hanya saja darahnya sudah kering.


"Tadi main kejar-kejaran sama Bastian, terus jatuh deh, tapi nggak apa-apa, Ma---" Ahkam menepuk dadanya sambil tersenyum lebar. "Ahkam kuat kok!!"


Manda hanya tersenyum, dia sebenarnya sangat khawatir, tapi melihat anaknya baik-baik saja membuat Manda lebih sedikit lega.


"Ya udah, sekarang Ahkam mandi, setelah itu Mama obatin ya lukanya."


"Siap, Ma!" Ahkam kembali memasukkan botol air dingin tadi ke dalam kulkas. Tapi bocah itu tak langsung beranjak, dia malah menatap Manda.


"Papa udah pulang, Ma?"


"Udah, sekarang lagi mandi, kenapa? Tumben tanyain Papa?"


"Nggak ada, Ahkam kangen aja sama Papa!" Ahkam pergi setelah mengatakan itu, padahal mereka bertemu setiap hari! Bahkan Zidan hampir setiap malam menemani Ahkam belajar!

__ADS_1


...*******...


"Loh, ini jagoan Papa kenapa?" tanya Zidan saat melihat Manda mengobati siku Ahkam di ruang tengah. Zidan ikut duduk di samping kanan Manda.


"Nggak apa-apa, Pa. Sakit sedikit aja!" timbal Ahkam, bocah itu meniup sikunya setelah selesai diobati oleh Manda.


"Bang, tadi katanya ada yang kangen sama Abang!"


Zidan tersenyum ke arah Ahkam, "Orangnya yang mana, Sayang?"


"Hehehe." Bocah itu tertawa, lalu berpindah duduk, minta dipangku oleh sang Papa.


"Papa?"


"Iya?"


"Kata Bastian, kalo Adek Kecil udah lahir, pasti Papa sama Mama nggak sayang Ahkam lagi!"


"Loh, kok Bastian ngomong gitu?" tanya Manda.


"Iya, soalnya dulu sebelum ada Adek Ola, Papanya Bastian sayang banget sama Bastian, setelah Adek Ola lahir, Papanya jadi nggak sayang lagi deh!"


"Khemmm!" Zidan mengusap kepala Ahkam.


"Denger Papa ya, Papa sama Mama akan tetep saya sama Ahkam, tapi mungkin nanti Mama atau Papa akan lebih sering perhatiin Adek Kecil, kenapa? Karena Adeknya masih kecil, belum bisa jalan, belum bisa ngomong, belum bisa makan sendiri, belum bisa mandi sendiri, kan beda sama Ahkam yang udah besar dan pintar!"


"Jadi, Ahkam nggak boleh mikirin apa kata Bastian lagi, Ahkam tetep kok jadi anak kesayangan Mama dan Papa!"


"He'em!" Ahkam mengangguk paham.


Manda mendekat lalu memeluk tubuh Ahkam yang masih di atas pangkuan Zidan. Bocah itu tersenyum saat Zidan juga ikut memeluknya.


...********...


Masih pagi, Manda sudah mendapatkan kabar gembira dari Dea, katanya gadis itu akan melakukan penerbangan hari ini ke Indonesia, rencananya Dea akan menghabiskan waktu liburan di Bali, sekalian liburan dengan keluarga dari Ayahnya yang memang akan liburan ke sana.


Manda juga mendapatkan kabar yang sama dari Ayu, hari ini dia dan Gilang akan pulang ke Indonesia juga. Manda sangat senang, karena bisa berkumpul lagi dengan sahabat tercinta. Qonita sudah mau membuat acara, katanya mau ngumpul-ngumpul, mumpung Arina sedang libur kuliah juga.


Setelah melalui berbagai proses, akhirnya rencana untuk ngumpul bareng lagi terwujud juga, kali ini lokasinya di rumah Qonita, kebetulan Ayah dan Ibu gadis itu sedang di luar kota, jadi suasana rumah cukup sepi, Bahkan Adik dan Kakaknya sedang tidak ada di rumah.


Kali ini Ahkam hanya ikut mengantar dengan Zidan, kedua pria itu memilih untuk pergi mengunjungi salah satu tempat latihan berkuda, menanyakan apakah di sana ada latihan khusus untuk anak-anak? Zidan ingin mendaftarkan Ahkam, walaupun sebenarnya umur Ahkam belum genap 7 tahun sekarang, kurang 2 bulan lagi.


"Cowok atau cewek nih?!"


"Belum tau, si Abang nggak mau USG, katanya supaya jadi kejutan!"


"Oke oke, untuk saat ini yang terpenting sehat dulu aja, uh, jadi nggak sabar liat kamu lahiran!!"


Hiks, Ayu dan Qonita jadi ikut gemas, mereka bertiga bergiliran mengelus perut Manda.


"Eh, tau nggak, kemarin aku dichat sama Vino!" ucap Arina memulai cerita, terlihat raut wajahnya sangat bahagia.


"Terus, dia bilang apa?" tanya Qonita.


"Emmm, nggak ada sih, cuman nanyain kabar aja, setelah itu aku yang bingung harus ngomongin apa!!"


"Yah, kirain bakalan ada yang wow gitu!!"


Manda tertawa melihat ekspresi kecewa Qonita yang sudah semangat mendengar cerita, ternyata ceritanya sampai situ aja!


"Ya mau gimana lagi, aku juga malu kalo dianya nggak ngechat duluan!!'


"Ih, giliran udah dichat, malah bingung mau ngomong apa? Gimana sih!!" Qonita sudah kesal duluan.


"Ya udahlah, biarin kayak gini aja, lagian aku juga lebih nyaman kalo dia seperti biasa! Jadi aku masih bisa leluasa mengangumi dia!!"


"Uhuk, uhuk, terserah Anda saja!!"


"Nah, kamu gimana nih?" tanya Ayu pada Qonita.


"Ya nggak gimana gimana, aku sibuk sama kerjaan di butik, seharian juga di sana, atau kadang cuman di rumah, aku jarang keluar sekarang!"


"Jadi?"


"Ya jadi begitu, lagi nggak naksir siapa-siapa!"


"Emm, lumayan mengejutkan sih, seorang Qonita bisa ya ternyata nggak naksir siapa-siapa dalam jangka waktu setengah tahun!"


"Bisalah!! Kamu sama Gilang gimana, aman?!"

__ADS_1


"Apanya yang aman?!" tanya Ayu. Manda dan Arina hanya menyimak saja, sambil mengunyah camilan sehat yang Qonita sediakan.


"Ya hubungan kalian lah!"


"Emmm, sejauh ini aman!"


"Kalian udah pernah ngapain aja?" Pertanyaan keluar dari mulut si polos Arina! Ayu langsung melotot mendengarnya.


"Nggak ada!" jawab Ayu, gadis itu mengalihkan pandangannya, lagian pertanyaan Arina ada ada saja!


"Ciuman?"


"Hustt!" Manda memukul lengan Qonita.


"Mereka nggak kayak gitu ya! Aku kenal Gilang sama Ayu, jadi mereka nggak mungkin sampai tahap itu!!"


Qonita hanya mengangkat bahunya. Yang dituduh malah diam tanpa mau memberikan penjelasan apa-apa, toh Manda sudah mewakilinya tadi.


Di pertemuan kali ini, tidak ada hal yang terlalu penting yang mereka bicarakan, bisa dibilang, mereka hanya ingin melepas rindu yang sudah lama tertahan. Sebelum akhirnya mereka kembali dipisahkan oleh jarak dan kesibukan mereka masing-masing, Ayu dan Arina sibuk dengan urusan kuliahnya, Qonita dengan pekerjaannya, sedangkan Manda sibuk mengurus rumah tangga dan kehamilannya, melakukan segala persiapan menyambut kelahiran anak pertama mereka.


Sejak kandungan Manda sudah memasuki usia delapan bulan, Manda mulai mempersiapkan segala kebutuhan bayinya, mulai dari tempat tidur, beberapa baju dengan warna dan motif yang netral, Zidan dan Ahkam adalah orang yang paling semangat saat memilih pelengkapan bayi.


"Adek Kecilnya nggak apa-apa kan Ma?" tanya Ahkam pada Manda dan Zidan yang baru pulang setelah melakukan pengecekan kesehatan, sesuai jadwal kunjungan mereka.


"Alhamdulillah, adek kecilnya sehat kok, berkat doa Ahkam juga!"


Ahkam tersenyum, ia turun dari sofa, lalu memijat kaki Manda, Ahkam sering melihat Zidan melakukan hal itu, jadi dia pikir dia juga harus melakukan hal yang sama untuk sang Mama.


Manda hanya tersenyum, menikmati pijatan penuh kasih sayang dari anaknya. Akhir-akhir ini Manda memang sering merasa pegal-pegal, mungkin efek dari kehamilannya, bahkan tubuhnya saya sudah terasa begitu lebar sekarang, ditambah lagi dengan kondisi perut yang semakin membesar, tapi jauh dari semua keadaan dan kondisinya sekarang, Manda sangat bersyukur dan bahagia, karena sebentar lagi, ia bisa melihat dan mengendong sang buah hati tercinta!


Memasuki bulan ke sembilan, Mama Melinda langsung melakukan penerbangan ke Indonesia, sebenarnya sejak satu bulan yang lalu, tapi Stella juga sedang membutuhkannya di Singapura, gadis itu sedang mengidam, dan minta dirawat oleh sang Mama. Jadi Mama Melinda baru bisa ke Indonesia setelah kondisi Stella membaik dan sekarang sudah bersama suaminya lagi.


Beberapa hari terakhir ini, Qonita juga jadi sering berkunjung ke rumah Manda, gadis itu kadang membawa beberapa setel pakaian bayi, tak sabar juga menyambut kelahiran anak dari bestiehnya.


Sejak bangun tahajjud, Manda sudah merasakan sakit yang tak menentu di perutnya, tapi walaupun begitu, ia tetap menyempatkan diri untuk melaksanakan sholat yang sudah menjadi kebiasaan sejak menikah dengan Zidan. Dan sampai saat ini masih sama, Zidan masih menjadi imam untuknya.


"Kita ke rumah sakit ya, Sayang?" ucap Zidan sambil mengelus kepala Manda, wanita itu hanya mengangguk, ia berusaha untuk tenang dan mengatur pernapasannya.


Perasaan Zidan sebenarnya sudah tak karuan lagi, namun melihat Manda dan Mama Melinda berusaha tenang dan tidak panik, ia pun mencoba untuk melakukan hal sama. Sementara Ahkam langsung melek begitu dibangunkan oleh Oma Melinda tadi. Kini bocah itu duduk di pangkuan sang Oma, menunggu Mama dan Papanya yang sudah masuk ke dalam ruang bersalin.


"Kita nggak boleh masuk ya, Oma?" tanya Ahkam yang sedang dihantui perasaan takut, takut kehilangan Mama dan Adik untuk yang kedua kalinya.


"Kita tunggu di sini aja, Sayang. Kita bantu do'ain Mama dan Adek Kecil, ya. Ahkam tenang, ada Oma di sini!"


Wanita paruh baya itu memeluk tubuh Ahkam, sangat erat, berusaha menyampaikan sebuah pesan, kalau dia masih ada untuk Ahkam, cucunya tidak sendiri!


Zidan tak pernah merasa setegang, setakut, sepanik, dan sekhawatir ini sebelumnya. Bahkan sampai keringat dingin bercucuran dari pelipisnya, air mata sudah berusaha ia tahan sekuat tenaga, melihat Manda berjuang melahirkan anak mereka adalah momen yang begitu menegangkan bagi Zidan. Terutama saat Manda sempat menggeleng, antara ingin menyerah atau tetap lanjut melahirkan secara normal, tapi melihat Zidan dan membayangkan hidup bahagia dengan pria itu, membuat nya kembali tersenyum dan menarik napas lebih dalam lagi.


"Ya Allah, sesungguhnya, hidup dan mati kami ada pada-Mu, engkau yang menghidupkan dan mematikan kami, kepada-Mu kami kembali dan hanya kepada-Mu kami bertawakal!"


Tangis bayi laki-laki itu memenuhi ruangan yang sempat sunyi, semua orang yang ada di dalam sana pun ikut menghembuskan napas lega, sang Mama Muda terpejam dengan bibir yang tersenyum bangga, dia berhasil melakukan tugas pertamanya sebagai seorang Ibu! Sang Papa tak langsung melihat bayinya, Ia malah ambruk memeluk tubuh Manda, mengusap peluh yang membasahi dahi sang istri tercinta.


"Bang, Manda berhasil!" lirih Manda, terdengar ia begitu bangga saat mengatakannya. Zidan tersenyum, ia mencium pipi, kening dan hidung Manda. Tak tau harus mengatakan apa lagi sekarang, intinya dia lebih bahagia dan lebih bangga!


Suara adzan dari sang Papa membuat bayi mungil itu tenang, sepertinya ia menikmati sekali suara Papanya, lalu dilanjutkan dengan kehangatan yang diberikan oleh sang Mama saat kulit bayi Tampan itu bersentuhan dengan kulit Mamanya.


10 Juni menjadi hari yang begitu bahagia bagi mereka semua, tak terkecuali Ahkam, bocah yang tak pernah mau mengalihkan pandangannya dari wajah sang adik kecil, dia yang selalu membiarkan tangannya dalam genggaman sang Adik, bahkan dia sudah berjanji, tidak akan pernah melepaskan genggaman tangan mereka, apapun yang terjadi, dia akan selalu ada untuk adiknya!


"Abang?!"


Ahkam dan Zidan langsung menoleh begitu mendengar panggilan Manda, tanpa peduli siapa yang sebenarnya sedang dipanggil sekarang, Bang Zidan ataukah Abang Ahkam?


"Iya, Ma!" Tanpa pikir panjang, Ahkam yang langsung berlari ke arah Manda yang berdiri sambil menggendong si Adek Kecil yang belum mau tidur sejak tadi.


"Mama, duduk sini Ma!" Ahkam menepuk sofa, dia mau melihat wajah sang Adek!


"Aduh aduh, ada Adek juga ya di sini?!" Zidan ikut nimbrung, dan langsung mengambil alih Abhizar dari gendongan Manda.


"Abang mau cium, Pa!"


Bayi Kecil itu tersenyum saat mendapatkan ciuman hangat di pipi dari Abang Ahkam, lalu Papanya yang gemas pun ikut mencium, tangannya gatal, ingin mencubit pipi gembul itu. Andai tak ada Manda di sampingnya, mungkin Zidan sudah dari tadi menggigit pipi Abhizar!


"Muhammad Abhizar Albiru," begitulah Zidan menamai bayi laki-laki hasil fotokopian dari wajahnya.


Ahkam dan Zidan menjadi jauh lebih posesif semenjak kehadiran Abhizar. Hanya orang orang tertentu yang boleh menyentuh bayi kecil itu, bahkan orang ukuran Qonita saja harus sembunyi-sembunyi hanya untuk memegang dan mencium pipi Abhizar.


Pernah saat Qonita datang, dan hendak menggendong bayi kecil itu, Ahkam tiba-tiba saja menarik tangannya, dan mengajak Qonita untuk mencuci tangan terlebih dahulu. Bahkan bocah itu terus melotot saat melihat Qonita akan mencium adiknya!


"Siapapun yang buat Adek nangis, berarti dia nantangin Abang buat turun tangan!"

__ADS_1


Ahkam mengeratkan genggaman dengan tangan mungil Abhizar. Rasa sayangnya pada Abhizar sangatlah dalam dan tulus. Membuat Abhizar tumbuh dalam balutan kasih sayang yang melimpah ruah dari Papa, Mama, Abang dan Omanya! Bahkan kedatangan Abhizar menjadi hal yang selalu dinantikan oleh keluarga besar di Singapura!


__ADS_2