Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 05. Jangan Sentuh Mamaku!


__ADS_3

Mobil hitam yang Zidan kendarai berhenti tepat di depan sebuah supermarket. Tak lama, Manda dan Ahkam turun, karena mereka memang memiliki kebutuhan di dalam sana. Sedangkan Zidan kembali memutar arah, untuk mengambil barang yang ketinggalan di rumah.


Sesuai rencana, mereka akan mengunjungi panti ketika Zidan libur kerja. Melepaskan rindu Ahkam pada temen-temennya. Sekalian juga, Zidan ingin mengajak keduanya untuk mengunjungi makan Ayah dan Ibu Manda.


Tangan kecil Ahkam tak lepas dari genggaman Manda. Khawatir jika Ahkam nanti hilang dari pengawasannya.


"Ahkam, jalan di dekat Mama ya!" ucap Manda sebelum ia memutuskan untuk mengambil troli, karena kebutuhan mereka ternyata cukup banyak juga.


Ahkam pun mengangguk patuh. Ia berjalan persis di samping kanan Manda. Memperhatikan setiap barang yang Manda masukan ke dalam troli.


Setelah semua kebutuhan lengkap, keduanya pun mengantri untuk membayar di kasir, karena akhir pekan, antrian juga cukup panjang. Banyak pengunjung lain yang mengantri menunggu giliran untuk membayar.


"Manda?" sapa seorang pria yang tiba-tiba saya langsung menepuk pelan pundak Manda. Manda yang kaget pun langsung memutar tubuhnya. Menghadap pria yang telah lancang menyentuh pundaknya!


"Benar Manda, 'kan? Ini aku, Sigit!" ucapnya memperkenalkan diri.


"Sigit?" Manda berpikir sejenak. Mencoba untuk mengingat wajah Sigit di dalam memori ingatan. Yeh, ternyata Si Sigit sialan, yang pernah Manda sukai jaman SMP dulu, sebelum ia dan Gilang pacaran.


"Inget, kan?"


Manda hanya mengangguk pelan. Ahkam yang memperhatikan ekspresi Manda sejak tadi pun memutuskan untuk berdiri di tengah-tengah Manda dan Sigit, walaupun terbentang jarak setengah meter di antara keduanya, tapi tetap saja, Ahkam tidak suka ada orang yang membuat tidak nyaman Mamanya.


"Ini siapa, adikmu, ya?" tanya Sigit sambil melempar senyum pada Ahkam. Buru-buru Manda menarik pelan bahu Ahkam, membuat Ahkam tepat berdiri di depannya.


"Ini anakku!"


"Hah? Anak?" Sigit tertawa, sehingga beberapa pengunjung lain menatap ke arah mereka.


"Sejak kapan kamu punya anak, Manda? Atau jangan-jangan, kamu nikahnya sama duda anak satu?" Tawa kembali keluar dari mulut sialan itu. Ingin rasanya Manda menutup mulut itu menggunakan Bon Cabe sekarang juga.


"Jangan sentuh Mamaku!" Ahkam menatap tangan Sigit yang hendak menepuk pundak Manda. Bocah itu benar-benar menatap Sigit dengan tatapan tajam, seolah mengisyaratkan, jika kamu menyentuh Mamaku, matilah kamu!


"Oh, maaf!" Sigit menurunkan tangannya. Menyembunyikan di balik punggung, "Aku tidak akan menyentuhnya!"

__ADS_1


"Huh!" Ahkam mendengkus kesal.


"Jadi benar? Kamu udah nikah sekarang?" tanya Sigit, Manda hanya menunjukkan tangannya, ada cincin pernikahan yang tersemat cantik di jari manisnya.


"Dengan duda?" tanyanya tak percaya. Sigit tak habis pikir, bagaimana ceritanya gadis semuda Manda bisa menikah dengan duda anak satu, pakai pelet apa duda itu? Bisalah spil supaya Sigit bisa menggunakan pelet yang sama!


"Bukan! Ini Ahkam anak angkat kami!" tegas Manda. Agar pikiran buruk Sigit sedikit mendapat cahaya kebenaran.


"Oooh, kirain. Btw, Kamu tambah cantik lo sekarang, tapi sayang, udah jadi istri orang!" Sigit tersenyum simpul, ia mengurungkan niatnya untuk mengajak Manda mampir ke restoran, melihat sifat anak angkatnya saja Sigit sudah ketar ketir duluan. Bagaimana kalau sampai Sigit bertemu dengan suaminya?!


"Ya udah kalo gitu aku duluan ya! Dah Manda, Dah Ahkam!" ucapnya lalu melangkah menjauh dengan perasaan sedikit kecewa. Niat hati ingin melepas rindu, eh tau-tau si do'i udah punya pawang dan anak aja. Gagal sudah misi mengejar cinta Manda.


"Makasih ya, Ahkam. Udah bantuin Mama!" Manda mengelus kepala Ahkam lembut. "Tapi Mama boleh minta tolong nggak?"


"Iya, Mama mau apa?"


"Tolong jangan cerita ke Papa ya, kalo kita ketemu sama Kakak tadi. Bisa-bisanya Papa marah besar nanti!"


"Iya, Mama nggak bakalan kasih siapapun pegang Mama lagi. Kecuali Ahkam dan Papa!"


Ahkam tersenyum puas mendengar ucapan Manda.


Manda mendorong troli sedikit lebih maju, masih ada satu antrian lagi sebelum gilirannya.


Beep


"Masih lama, Sayang?" Pesan masuk dari Zidan.


"Sebentar lagi, kok."


"Aku susulin ya?" Tanpa menunggu jawaban, Zidan langsung keluar dari mobil. Ia melangkah masuk ke dalam Supermarket, saat hendak masuk tadi Zidan sempat berpapasan dengan Sigit, namun karena mereka tidak saling mengenal, jadi mereka acuh tak acuh satu sama lain.


Setelah selesai melakukan proses pembayaran, mereka bertiga pun keluar, Zidan menenteng dua tas belanjaan ukuran sedang. Sedangkan Manda cukup menggenggam tangan Ahkam, dan menyemangati Zidan saja.

__ADS_1


Dalam hati Manda berdo'a. Semoga ia tidak dipertemukan lagi dengan orang semacam Sigit, cukup bertemu Sigit saja ia sudah geregetan, apalagi bertemu dengan beberapa orang lagi yang mulutnya seperti pria itu. Manda akan siap sedia Bubuk Cabe yang banyak di kantong baju dan roknya.


...****************...


Anak-anak Panti berhamburan keluar begitu melihat kedatangan Ahkam dengan kedua orang tuanya. Mereka berbaris rapi untuk bersalaman dengan Zidan dan Manda, tak lupa senyum bahagia menghiasi wajah-wajah mereka.


"Ahkam Ahkam!!" Seorang bocah berusia sekitar 10 tahun itu menghampiri Ahkam sembari membawa sebuah buku diary berwarna pink di tangannya.


"Dari Eya, dititipin buat Ahkam!" ucapnya sambil menyerahkan diary itu.


"Kak Eya mana?" Ahkam celingak-celinguk mencari keberadaan Ellya yang sudah ia anggap seperti Kakak kandungnya. Tapi ia tidak menemukan Ellya, bahkan Ellya tidak terlihat sejak awal kedatangannya.


"Eya dibawa pulang sama Papanya!"


Guratan kecewa dan sedih terlihat jelas di wajah Ahkam. Padahal niat utamanya ingin berkunjung ke Panti adalah untuk bertemu dengan Ellya. Tapi sekarang, gadis itu malah pergi tanpa berpamitan padanya.


"Kak Eya jahat!" kesal Ahkam. Namun ia tetap saja mendekap buku diary yang Ellya titipkan.


"Ahkam?" Zidan yang memperhatikan percakapan Ahkam sejak tadi pun mendekati kedua bocah itu. "Ahkam kenapa, Nak?"


"Kak Eya ninggalin Ahkam! Padahal Kak Eya udah janji nggak akan lupain Ahkam!!" Zidan membawa tubuh kecil itu ke dalam pelukannya. Ia menenangkan Ahkam. Meyakinkan Ahkam kalau dia dan Ellya akan bertemu lagi suatu saat nanti.


"Jangan sedih lagi ya, Jagoannya Papa! Kak Eya juga rindu sama Papanya. Kak Eya ingin tinggal juga sama Papanya. Jadi, Ahkam nggak boleh lagi katain Kak Eya jahat, ya?"


Ahkam hanya mengangguk pelan. Melihat betapa sedihnya Ahkam saat mengetahui Ellya tidak tinggal di Panti lagi, membuat Zidan menanyakan keberadaan Ellya pada pengurus Panti. Dan memang benar, dua hari setelah Ahkam keluar dari Panti, Keluarga Ellya pun datang untuk menjemput Ellya lagi.


Memang dari awal Ellya hanya dititipkan sementara di sini. Karena saat itu pihak keluarga Ellya tidak ingin Mama dan Papanya berebut hak asuh, yang mungkin akan membuat Ellya semakin trauma untuk tinggal bersama mereka. Dan setelah keputusan dari pengadilan ditetapkan, maka hak asuh Ellya jatuh di tangan sang Papa. Yang memang bisa menjamin kehidupan Ellya untuk ke depannya.


"Ahkam kangen Kak Eya!"


Ahkam tertidur saat mobil melaju menuju pemakaman Ayah dan Ibu Manda. Jadi bocah itu tidak ikut serta menghadiahkan do'a untuk kedua orang yang begitu berharga dan istimewa di dalam hidup Mamanya.


Tapi walaupun begitu, Manda tetap memperkenalkan Ahkam sebagai anaknya. Dan dia begitu bangga saat mengatakan kalau dirinya sudah menjadi seorang Mama sekarang. Tenyata menjadi seorang Mama di usia Muda tidak semudah yang Manda kira, tapi tidak apa-apa, Manda ikhlas menjalani setiap proses. Karena masih ada Zidan yang selalu menemani setiap langkahnya.

__ADS_1


__ADS_2