
"Mama...." Ahkam berlari menuju dapur. Di balik punggungnya ia menyembunyikan sesuatu untuk sang Mama. Sebuah hadiah yang ia dan Zidan bawa setelah pulang jalan-jalan.
"Jangan lari-lari, Ahkam!" Manda menatap Ahkam, memperhatikan apa yang sedang bocah itu sembunyikan di balik punggungnya.
"Maaf, Mama. Ahkam janji nggak lari-larian lagi!" tegas Ahkam. Lalu ia maju dua langkah, dengan wajah yang tersenyum tulus ia menyerahkan setangkai mawar merah pada Manda.
"Ahkam sayang Mama!"
Manda menerima mawar yang masih terlihat sangat segar itu, lalu menunduk untuk memberikan ungkapan terimakasih pada Ahkam. Ia mengecup pucuk kepala Ahkam penuh kasih sayang.
"Mama juga saaayang banget sama Ahkam!"
"Sama Papanya Ahkam?" sahut Zidan dari ambang pintu dapur.
"Sayang juga, tapi sedikit!"
"Ah sudahlah, Mamanya Ahkam pilih kasih!" Zidan tersenyum kecut lalu membalik tubuhnya, ia melangkah mendekati tangga.
"Ahkam, mandi dulu Nak... baru sarapan!" ucap Zidan sebelum akhirnya ia benar-benar menghilangkan, menaiki tangga menuju kamar.
"Mandi dulu, ya. Setelah itu sarapan!"
"Iya, Ma."
"Anak pinter!" Manda mengusap kepala Ahkam pelan, ia menatap haru punggung Ahkam yang juga mulai menjauh dari dapur. Masuk ke dalam kamarnya yang memang terletak di lantai bawah. Manda dan Zidan sengaja memilih kamar itu, karena itu satu-satunya kamar yang luasnya cocok untuk anak seusia Ahkam.
"Ini pasti kerjaan si Abang!" Manda menghirup aroma segar dari mawar merah yang ia pegang. Warna merahnya begitu cantik, ditambah dengan tangkai yang kuat yang sudah dibersihkan durinya, tangkai menopang bunga agar terlihat tetap tegak.
"Bisa-bisanya dia masih sempat memikirkan oleh-oleh untukku!" Walaupun begitu, Manda sebenarnya merasa begitu senang, karena Zidan begitu pintar dalam mencari celah dan kesempatan untuk membuatnya bahagia. Walaupun dengan cara sederhana.
Bunga mawar merah itu sendiri Zidan dapatkan dari salah seorang tetangga sebelah, kebetulan tadi dia sedang merapikan kebun bunganya dan sedang merapikan pohon bunga mawar juga. Awalnya Zidan becanda tentang dirinya yang ingin membeli satu tangkai mawar merah itu untuk ia bawa pulang. Tapi sang pemilik bunga malah memotongkan langsung satu tangkai yang paling cantik untuk Zidan. Dan menyuruh Zidan membawanya pulang tanpa harus membayar.
Baginya membayar satu tangkai mawar terlalu aneh untuk ukuran tetangga seperti mereka. Terlebih lagi, ia sudah lama mengenal Manda dan Zidan, jadi anggap saja itu adalah hadiah kecil dari tetangga.
...****************...
Manda meletakkan sepiring anggur merah segar di samping Ahkam yang sedang sibuk mewarnai di depan TV. Ahkam lebih suka menggambar dan mewarnai dibanding harus menonton TV. Ia bahkan tidak terlalu mengenal kartun-kartun yang seharusnya anak seusia dia kenal dan sedang menonton kartun itu sekarang.
"Ahkam gambar apa?" tanya Manda sambil ikut duduk, menemani Ahkam. Sedangkan Zidan sudah berangkat ke kantor setelah sarapan. Ada beberapa hal penting yang harus ia selesaikan di sana. Nanti juga dia akan pulang untuk makan siang seperti biasa.
__ADS_1
"Gambar taman, Ma!" Ahkam menunjukkan kertas yang ia pegang pada Manda. Terlihat di atas kertas itu ada sebuah sketsa, yang Ahkam sebut 'Taman'. Ada dua pohon di sisi kiri dan kanan. Lalu ada sebuah kursi di tengah kedua pohon itu --- ya sebut saja kursi, walaupun Ahkam hanya menggambarkan garis panjang yang memiliki dua kaki.
"Mama, Mama!" Ahkam menatap Manda dengan penuh antusias.
"Iya, Sayang? Kenapa?" Manda meletakkan kertas tadi di atas meja. Lalu kedua maniknya fokus menatap Ahkam.
"Tadi Ahkam sama Papa pergi ke taman. Terus di sana Ahkam ketemu temen baru, namanya Cila. Dia cantik seperti Mama!" celoteh Ahkam dengan raut wajah polosnya.
Ahkam menceritakan apa yang ia dan Cila lakukan di taman tadi, ia juga menyebutkan ciri-ciri Cila. Ahkam menerangkan sosok Cila adalah gadis mata bulat, berpipi chubby dan terlihat cantik seperti Mama karena memakai jilbab.
Manda senyum-senyum sendiri setelah mendengar cerita Ahkam. Membayangkan seorang bocah kecil bermata bulat, dengan pipi chubby saja sudah membuat ia cukup gemas. Apalagi membayangkan bocah kecil itu memakai jilbab.
"Ahkam seneng nggak main sama Cila?" tanya Manda dibalas anggukan cepat oleh Ahkam.
"Seneng, Cila baik!"
"Emmm, ya udah. Kapan-kapan Mama cari tau ya rumah Cila di mana. Supaya Ahkam bisa main ke sana!" Goda Manda yang malah membuat Ahkam kembali mengambil sebuah anggur dan mengunyahnya. Bahkan bocah itu berhenti membahas tentang Cila lagi.
"Mama, Ahkam kangen Kak Eya!" keluh Ahkam sembari meringsut mendekati Manda.
"Ahkam kangen temen-temen Ahkam?"
Ahkam mengangguk pelan.
"Besok tunggu Papa libur dulu, ya. Baru kita ketemu sama temen-temen Ahkam lagi, sama Kak Eya juga!"
"Terimakasih ya Mama!" Ahkam memeluk Manda erat, seolah ia sedang melampiaskan perasaan rindunya pada pelukan sosok Ibu yang sudah lama tidak ia rasakan lagi. Namun sejak bertemu dengan Manda, Ahkam mulai menemukan apa yang selama ini hilang darinya. Manda benar-benar berhasil menggantikan peran Ibu bagi Ahkam. Bahkan jauh lebih baik dari yang Ibu Panti lakukan selama ini untuknya.
...****************...
Setelah selesai Sholat Magrib berjama'ah, Zidan mengantarkan Ahkam ke tempat ngajinya. Ia sudah mendaftarkan Ahkam beberapa hari yang lalu. Namun karena Ahkam sempat sakit, dan baru benar-benar pulih malam ini, jadilah malam ini pertama kalinya Ahkam menginjakkan kaki di sebuah rumah yang memang digunakan sebagai tempat belajar mengaji bagi siapapun yang mau belajar mengaji di sini. Terutama anak kecil seumuran Ahkam.
Di dalam rumah tersebut terdapat dua ruangan yang tersekat, ruangan yang Zidan masuki saat ini adalah ruangan khusus untuk murid cowok, sedangkan ruangan sebelahnya khusus cewek.
"Assalamu'alaikum, Ustadz." Zidan dan seorang pria yang kira-kira berusia 45 atau 46 itu berjabat tangan. Tak sungkan keduanya saling bertukar senyum, tanda mereka memang sudah akrab sejak dulu.
"Masyaallah, ini Ahkam yang Antum ceritakan?"
"Iya, Ustadz." Zidan memperkenalkan Ahkam sekali lagi, dan memberitahu juga pada Ahkam kalau mulai malam ini ia akan dititipkan di sini untuk belajar mengaji dan mempelajari ilmu Al-Qur'an secara lebih mendalam.
__ADS_1
Ustadz Agam mempersilahkan Zidan untuk duduk, tapi jika Zidan ingin langsung pulang juga tidak apa-apa, biar Ahkam nanti ikut ke Masjid untuk Sholat Isya' bersama Ustadz Agam dan murid lainnya.
"Nggak apa-apa, Ustadz. Saya tunggu di sini aja!" Sembari menunggu, Zidan mengambil sebuah Al-Qur'an dari rak buku di sudut ruangan. Lalu kembali duduk dan membaca beberapa halaman dari Juz 14.
Sedangkan Ahkam yang sedang disimak' iqro' satu di dalam sana ternyata sudah mulai mengenal huruf-huruf Hijaiyah sebelumnya. Jadi bisa dibilang, Ustadz Agam tidak terlalu sulit mengajarkannya, tinggal membernarkan beberapa pelafalan huruf saja.
Ketika adzan Isya' berkumandang, seisi ruangan pun langsung sepi. Tidak ada suara teriakan anak-anak lagi. Bahkan beberapa bapak-bapak yang sedang berbicara tadi pun ikut terdiam, begitu mendengar adzan. Zidan yang melihat dan merasakan hal itu pun langsung menutup Al-Qur'an yang ia pegang, dan mengembalikannya lagi ke tempat semula.
Begitu adzan selesai, mulai terdengar lagi suara anak-anak yang menggema membaca do'a setelah adzan. Terdengar bacaan mereka seirama. Tidak terlalu cepat dan tidak terlalu lambat juga.
"Papa!" Ahkam menghampiri Zidan setelah selesai membaca do'a. Bocah itu menunjukkan iqro' dan buku rekapitulasi yang Ustadz Agam berikan.
"Disimpan baik-baik ya, Nak!" pesan Ustadz Agam.
Karena sudah memasuki waktu Isya', semua orang yang berada di dalam ruangan pun berhamburan keluar, baik itu dari ruangan khusus cowok dan juga cewek.
"Ayah!" panggil seorang bocah perempuan begitu melihat Ustadz Agam keluar.
"Anak Ayah, sini!"
Bocah itu mengikis baju yang ia kenakan, berjalan mendekati Ustadz Agam, Zidan dan juga Ahkam.
"Loh, Cila. Cila ngaji di sini juga?" sapa Zidan begitu mengenal wajah bocah yang gini sudah menempel dengan Ustadz Agam---Ayahnya.
"Iya, Cila ngaji sama Bunda di sana!" Menunjukkan ruangan yang ada di sebelah kanan mereka.
"Cila kenal sama Om ini?" tanya Ustadz Agam.
"He'em."
"Kita sempet ketemu di taman tadi pagi!" ucap Zidan menjelaskan.
"Namanya Sahila Nuzula, anak buntut saya!" ucap Ustadz Agam sembari mulai melangkah keluar dari pekarangan rumah. "Cila mau ikut Ayah ke masjid atau sholat sama Bunda di rumah?"
"Mau ikut Ayah!" jawab Cila sambil melirik ke arah Ahkam yang berdiri di sisi kiri Zidan. Ahkam juga ikut menengok ke arahnya.
"Ya udah, minta dulu mukena sama Bunda sana!"
Cila berlari mengambil tas mukena, lalu kembali menghampiri sang Ayah dan ikut berjalan menuju Masjid. Di perjalanan menuju masjid, sempat-sempatnya Cila berceloteh dan berusaha untuk mengajak Ahkam berbicara, namun hanya ditanggapi singkat oleh bocah itu.
__ADS_1
"Dia lagi marah ya sama Cila?" gumam Cila, karena Ahkam sama sekali tidak mengajaknya berbicara. Padahal Cila tidak tau, kalau Ahkam juga ingin berbicara dengannya, tapi Ahkam sedang mengantuk saja. Jadi tidak mood untuk bicara.