
Aku tidak pernah menyangka. Kalo hari-hariku akan kembali ditemani oleh kesepian. Sendiri. Tanpa ingin mengharapkan seseorang untuk bisa menemani.
Lembar demi lembar buku sudah kubaca. Tapi tidak ada satu pun kalimat yang bisa aku ingat. Atau bahkan aku fahami apa maksudnya.
Pikiranku terpenjara pada sebuah sel tahanan yang dipenuhi oleh semua hal tentang Om Zidan. Kenapa dia? Ada apa dengannya? Aku salah apa? Apakah aku sudah tidak sebeharga dulu lagi di matanya? Apakah dia tidak mencintaiku lagi? Ataukah dia sudah bertemu dengan wanita yang lebih dariku?
Semua pertanyaan itu terus berputar memenuhi pikiranku. Aku menarik selimut, mencoba untuk melupakan betapa sepinya suasana saat ini.
Aku pikir setelah semua ujian berlalu. Aku tidak akan pernah diuji lagi. Ternyata aku salah. Kesabaranku kembali diuji. Bahkan terus diuji, sampai kapan? Mungkin sampai aku benar-benar bisa bersabar dan tidak pernah mengeluh lelah lagi.
Dering Handphone ku memecahkan kesunyian ini. Aku bergegas meraihnya. Berharap itu adalah panggilan dari Suamiku. Dan aku salah lagi. Tenyata bukan Om Zidan. Tapi Mama.
Aku menarik napas panjang. Mencoba untuk membuang semua aura sedih. Aku tidak mau Mama sampai curiga padaku.
"Assalamu'alaikum, Ma?"
"Wa'alaikumussalam, Sayang. Mama kangen banget sama kamu."
"Manda juga kangen sama Mama." ucapku terharu.
"Gimana ujiannya hari ini?"
"Alhamdulillah lancar, Ma. Mama gimana di sana? Semuanya sehat kan Ma?"
"Alhamdulillah. Mama sehat. Oh ya. Mama punya kabar bahagia buat kamu...."
"Kabar bahagia? Kabar apa Ma?"
"Insyaallah. Lusa kita bisa ketemu lagi."
Aku tersenyum mendengar ucapan Mama. "Jadi, Mama mau ke sini?"
__ADS_1
"He'em. Mau ketemu sama kedua anak Mama." Aku bisa merasakan ada kasih sayang yang begitu tulus dari nada bicara Mama. Aku benar-benar bisa merasakannya. Bukan hanya sekedar sandiwara.
"Jadi nggak sabar, Ma!"
Senyumku kembali merekah. Setidaknya sekarang ada orang yang kehadirannya bisa kuharapkan. Setidaknya ada orang yang bisa menemaniku. Tidak membiarkanku dalam kesepian seperti ini. Walaupun untuk saat ini orang itu bukanlah Om Zidan lagi.
Aku sudah tidak tau lagi. Bagaimana caranya aku menghadapi Om Zidan. Aku bingung harus bersikap seperti apa padanya. Haruskah aku marah? Atau haruskah aku mengalah lagi? Membiarkan dia terlebih dahulu menyelesaikan semua urusan pekerjaannya. Lalu mendengarkan penjelasannya. Kenapa dia selalu bersikap cuek padaku?
Entahlah, aku tidak ingin terlalu memikirkan hal itu. Tugasku saat ini belajar, agar aku bisa menjawab soal ujian besok. Dua hari lagi. Setelah itu aku bisa menunggu sampai ijazahku jadi.
...----------------...
Aku tersenyum miris ketika menatap menu makan malamku. Menu favorit-ku. Tapi kenapa rasanya aneh seperti ini? Apakah karena menu ini dihidangkan di waktu yang tidak tepat. Dihidangkan di saat aku tidak sedang bersama orang Favorit-ku?
Sayang sekali. Menu seenak ini menjadi hambar, tak berasa hanya karena tidak hadirnya Om Zidan bersamaku saat ini. Aku menatap kursi kosong di hadapanku. Kursi yang bisa Om Zidan duduki.
"Masih sibuk ya? Sampai harus lembur lagi malam ini?" lirihku. Pandanganku kembali jatuh pada piring di hadapanku. Bahkan isi dari piring ini tidak pernah berkurang. Kecuali satu sendok yang aku cicipi tadi.
"Jangan lupa Sholat dan makan malam ya Sayang✨."
Entah mengapa, akhir-akhir ini aku mulai berasa malas untuk berdekat atau pun memancing emosi Om Zidan lagi. Aku lebih memilih untuk diam dan menunggu sampai kapan semua sandiwara cuek-cuekan ini berakhir. Atau tetap diam dan bungkam saja. Kecuali bicaraku memang diperlukan.
Aku terlalu lelah dengan semua ini. Tapi aku juga tidak ingin menyerah. Aku tidak ingin ada kata mneyerah di antara kami. Aku ingin tetap bertahan dan memperjuangkan pernikahan ini. Apapun resikonya. Sesakit apapun yang akan kurasakan nantinya. Aku akan tetap bertahan. Aku akan tetap berdiri tegak untuk mempertahankan ini semua.
...****************...
"Nggak pulang?" Lirihku saat melihat tempat tidur yang kosong di sampingku. Dengan cepat aku mengecek Hp ku. Siapa tau Om Zidan mengirim pesan tentang alasan kenapa dia sampai tidak pulang seperti ini?
__ADS_1
"Kosong?" Aku melempar Hp ku ke kasur. Kesal karena tidak ada satu pun pesan masuk dari Om Zidan.
"Nggak mungkin sampe nggak pulang rumah kan? Sesibuk apa sih dia?!!" Aku terus menggerutu sambil menuruni tangga. Mengecek apakah mobilnya ada di halaman depan atau tidak?
"Alhamdulillah." Aku mengelus dadaku begitu melihat mobil kesayangan Suamiku itu terparkir rapi di depan rumah. Dengan langkah cepat aku pun kembali menaiki tangga. Menuju ruang kerjanya.
"Huh, di sini rupanya!"
Pelan, aku melangkah mendekati Om Zidan yang ketiduran di depan komputer yang masih menyala.
"Sibuk banget ya?" Aku mengusap rambut hitamnya yang sudah lama tidak pernah kusentuh ini.
Jemariku turun menyentuh pipi, hidung dan bibirnya. Semarah apapun. Sekesal apapun aku padanya. Tapi tetap saja. Dia adalah pemenang di hati ini.
Mataku berlarih menatap HP-nya. Ragu-ragu aku untuk menyentuh benda pipih itu. Apakah harus aku melakukan ini?
Dengan tarikan napas pelan. Aku pun mengambil benda pipih itu. Membuka sandinya yang sudah di luar kepalanya.
"Maaf, Sayang." Aku membuka WhatsApp terlebih dahulu. Ternyata pesan masuk dari kontak atas nama 'Mandaku' tersematkan di sana. Tanpa dibuka. Di bawahnya apa pesan masuk dari Kak Henny. Isinya tidak ada yang penting. Hanya percakapan di mana Om Zidan meminta tolong pada Kak Henny untuk menjemputku. Begitu saja.
Sedangkan satu pesan yang sudah di baca dari nomor yang tak di kenal, yang berhasil membuatku terdiam.
"Cincin pernikahan? Apa maksudnya?" Aku menatap lekat-lekat foto sepasang cincin pernikahan yang dikirim oleh orang itu. Aku tidak tau pasti dia wanita atau pria. Karena foto profilnya hanya sebatas logo dengan tulisan D'N.
"Cincin pernikahan siapa? Dan dengan siapa?" Aku meletakkan HP Om Zidan pada tempat semula. Cukup. Aku tidak ingin melihat lebih jauh lagi. Ini hanya akan menimbulkan prasangka yang buruk saja tentang suamiku. Sebaiknya, aku bertanya langsung dan meminta dia jujur saja tentang semua hal yang sudah dia rahasiakan dariku.
"Aku percaya banget sama kamu, Sayang. Jadi aku mohon. Jangan hancurkan kepercayaanku. Aku nggak punya siapa pun lagi yang bisa kupercaya selain kamu!" Sekali lagi aku menyentuh pipi Om Zidan. Melepas jaket yang kukenakan untuk menyelimuti tubuhnya.
"Selamat malam!"
Aku menutup pintu ruang kerjanya. Bersamaan dengan air mataku yang tiba-tiba saja menetes. Aku tidak tau lagi harus berkata apa? Harus bertindak seperti apa? Tapi jika faktanya memang ada orang lain di antara kita. Maka dengan penuh kehormatan aku akan berterimakasih pada Om Zidan. Atas semua kehancuran yang dia berikan.
__ADS_1
"Ya Allah. Hamba berserah pada-Mu. Sungguh, Engkau lebih mengetahui apa yang terbaik untuk Hamba-Mu ini."
Aku tidak bisa tidur lagi setelah itu. Sampai adzan subuh terdengar dan Om Zidan masuk ke dalam kamar.