Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 07. Ngombalan Ahkam


__ADS_3

Ahkam segera merapikan semua barang-barang yang ia keluarkan dari tasnya. Memasukkan lagi, karena bel pulang sudah terdengar. Ahkam hanya menghabiskan waktu sekitar 2 jam di sekolah, mulai masuk kelas di jam 8. Dan pulang tepat di pukul 10. Ada jeda lima belas menit untuk istirahat di antara 2 jam mata pelajaran.


"Mama?" sapa Ahkam sambil menghampiri Manda yang duduk di kursi tunggu. Manda pun segera menoleh begitu mendengar panggilan Ahkam.


"Udah boleh pulang?" tanya Manda sembari merapikan sisiran rambut Ahkam.


Ahkam hanya mengangguk pelan.


"Minum dulu, Nak!" Manda memberikan botol minum ukuran 100 mililiter pada Ahkam. Ahkam menerima botol itu, sebelum minum, ia pun ikut duduk di samping Manda. Membiarkan Manda memangku tasnya.


Beep


"Aku sudah sampai di parkiran, Sayang!" Pesan dari si Suami Tampan. Manda hanya membaca tanpa berniat membalas.


"Mbak Desi, saya duluan ya, Papanya Ahkam udah jemput soalnya!" Pamit Manda sembari membantu Ahkam turun dari kursi. Ahkam kembali mengambil tasnya, memakainya karena tidak ingin merepotkan sang Mama.


"Oh ya, Manda. Hati-hati ya!" jawab Mbak Desi. Maniknya mengikuti langkah Manda, memperhatikan sampai Manda dan Ahkam masuk ke dalam mobil yang dibukakan oleh Zidan.


"Itu Papanya Ahkam ya, Mbak?" tanya seseorang yang duduk berseberangan dengan Mbak Desi. Ia juga ikut memperhatikan Manda dari kejauhan.


"Iya, Mbak!" jawab Mbak Desi membenarkan.


"Yang tadi itu? Kakaknya? Tapi kok Ahkam manggil Mama?" tanya si Mbak penasaran.


"Lah emang Mamanya, Mbak!"


"Mama sambung gitu?" Dahinya berkerut, karena di pikirannya, ia menganggap Manda menikahi seorang Duren. Duda keren.


"Hust, saya juga awalnya mikir gitu, Mbak. Tapi ternyata Manda dan Suaminya mengangkat Ahkam menjadi anak mereka!" jelas Mbak Desi.


Si Mbak hanya ber-oh ria sambil manggut-manggut saja.


"Udah ya, Mbak, saya juga duluan, Suami saya juga udah jemput tuh!" Mbak Desi menggenggam tangan anaknya menuju lapangan, untuk menghampiri sang Suami yang ternyata jauh terlihat lebih muda darinya.


"Aduh, yang satu nikah sama yang lebih tua. Dan yang satu lagi nikah sama yang lebih muda ternyata!" Si Mbak Kepo memukuli jidatnya. Bisa-bisanya Mbak Desi dan Manda mempunyai suami setampan dan se-mempesona itu. Dilihat dari kejauhan saja mampu membuat imamnya bergetar.

__ADS_1


"Sabar, sabar, kamu juga udah punya suami di rumah. Ya walaupun tidak setampan suami mereka!" Ia mengelus dadanya. Bersabar atas musibah yang menimpa. Baginya menikah dengan sang Suami adalah sebuah musibah, namun tidak bisa dipungkiri ia bahagia dilanda oleh musibah itu.


...****************...


"Ahkam, titip Mama ya? Papa masih ada kerjaan di kantor soalnya!" ucap Zidan. Ia hanya mengantar Manda dan Ahkam pulang, lalu akan kembali lagi ke kantor.


"Sayang? Kiss dulu!" Zidan menunjuk pipi kirinya. Sementara Manda melotot, karena masih ada Ahkam yang berdiri di tengah-tengah mereka.


"Ahkam nggak liat kok, Ma. Ahkam tutup mata!" ucap Bocah yang sedang menutup wajahnya dengan kedua tangan. Sungguh menggemaskan.


Sambil tersenyum Zidan kembali menunjuk pipinya. Karena sudah tidak ada lagi celah untuk menolak, Manda memberikan satu kecupan ringan di sana.


"Semangat, Suamiku Sayang!" bisiknya.


"Terimakasih, jangan terlalu memaksakan tenagamu! Istirahat sebelum kau lelah!" tegas Zidan lalu balas memberikan satu kecupan hangat di kening untuk Manda dan tak lupa juga kecupan sayang untuk Ahkam.


"Hati-hati, Papa!" Ahkam dan Manda menatap mobil Zidan yang mulai melaju keluar dari halaman rumah.


"Ahkam juga kau Kiss, Ma!" Ahkam menujuk pipinya, persis seperti apa yang Zidan lakukan tadi.


"Terimakasih, Mama!"


Dengan polosnya Ahkam mengucapkan kata Terimakasih, lalu ia beranjak masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan seuntai senyum yang menghiasi wajah Sang Mama.


"Lama-lama sipat mereka sama, ya?" gumam Manda. Mengingat beberapa kelakuan dan sifat Zidan sedikit demi sedikit mulai menurun ke Ahkam. Diawali dengan sifat posesif-nya. Menjadikan Manda sebagai satu-satunya milik mereka. Dan akhir-akhir ini juga mereka seolah sedang berebut kasih sayang. Sama-sama haus perhatian dari gadis itu.


"Permisi, Non. Ini tadi ada titipan!" ucap Bik Jah --- Asisten Rumah tangga Zidan dan Manda. Ia menyerahkan sebuah keresek hitam yang dititipkan oleh seseorang untuk Manda.


"Dari siapa, Bik?"


"Kata Pak Dody itu dari Istrinya Ustadz Agam!" jelasnya. Karena memang itu yang Pak Dody katakan saat memberikan titipan ini pada Bik Jah.


"Terimakasih ya, Bik." Manda tersenyum lalu duduk di meja makan. Membuka keresek hitam itu untuk melihat apa isinya. Satu kotak kue brownies coklat, terlihat begitu lezat dan menggugah selera.


Tanpa diminta, Bik Jah mengambil sebuah piring, memberikannya pada Manda. Dengan hati-hati Manda memindahkan beberapa potong ke atas piring, sisanya tetap ia letakkan di dalam kotak. Meminta Bik Jah untuk ikut mencicipi juga.

__ADS_1


Sedangkan yang ada di atas piring Manda bawa ke kamar Ahkam. Saat baru membuka pintu kamar, Manda melihat Ahkam sedang duduk di meja belajarnya, memperhatikan sebuah buku diary yang Ellya berikan.


"Ahkam?" Manda meletakkan piring di samping meja belajar, ada lemari kecil di sana.


"Ahkam kangen banget ya sama Kak Eya?" tanya Manda karena Ahkam terus memperhatikan poto yang Ellya tempel di buku diary-nya. Di dalam poto itu ada Ahkam, Ellya, Fatah dan teman-teman yang lain.


"Kira-kira Kak Eya kangen juga nggak sama Ahkam, Ma?"


"Mungkin---" Manda berpikir sejenak. "Kalo Ahkam tiba-tiba kangen sama Kak Eya, itu tandanya, Kak Eya juga lagi kangen sama Ahkam."


Ahkam tersenyum mendengar jawaban Manda. "Mama bawa apa tadi?" tanyanya sambil melirik ke arah piring yang Manda letakan di atas meja.


"Ini, ada titipan dari Bundanya Cila. Ahkam cobain deh. Mama jamin Ahkam bakalan ketagihan!"


Manda menyuapi satu potong Brownies kecil pada Ahkam. Bocah itu nampak mengunyah, mencoba menikmati dan merasakan kelembutan dan rasa manis di mulutnya.


"Enak, Ma!" pujinya lalu mengunyah lagi satu potong kecil yang Manda suapkan.


"Nanti kalo Ahkam ketemu Cila, jangan lupa bilang terimakasih ya buat Brownies dari Bundanya!" pesan Manda, Ahkam mengangguk mengiyakan.


"Mama, Browniesnya manis---" Ahkam menatap Manda sebelum melanjutkan ucapannya. "Tapi lebih manis senyum Mama!"


Aaa. Tolong siapa saja, selamatkan Manda!


Manda memalingkan wajahnya, tidak dipungkiri bahwa ia salah tingkah mendengar ngombalan dari sang Anak.


"Heh, siapa yang ngajarin Ahkam?" Manda mencubit pipi Ahkam, karena gemas sekaligus heran anak seusia Ahkam sudah bisa aja main ngombal menggombal.


"Papa yang ngajarin!"


Huh. Manda menggeleng pelan, anaknya masih kecil tapi sudah diajari hal semacam ini oleh sang Papa! Awas ya, kali ini Zidan tidak akan lolos dari persidangan Manda!


...****************...


Ada yang masih nungguin Om Zidan update, nggak?😅

__ADS_1


__ADS_2