Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
Episode Spesial : Ayu & Gilang (1)


__ADS_3

Setelah menjalin hubungan kurang lebih 5 tahun, Gilang dan Ayu sering mendapatkan pertanyaan, kapan mereka akan melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi?


Saat mendapatkan pertanyaan seperti itu, Ayu hanya bisa menatap Gilang, keputusan ada di pria itu. Ayu sendiri tidak ingin terlalu menuntut, takut membuat Gilang merasa terbebani. Apalagi Ayu tau betul, kalau pria itu sedang fokus mengelola semua bisnis yang Almarhumah Mamanya tinggalkan.


Ayu sendiri sibuk dengan pekerjaannya, sejak lulus kuliah ia langsung diajak bergabung di perusahaan yang berada di bawah pimpinan Zidan.


Ayu meletakkan tas kerjanya, melirik ke arah jam, pukul setengah 6 sore, dan masih belum ada pesan atau kabar apapun dari Gilang. Pria itu sepertinya masih sibuk dengan pekerjaannya?


"Kak?"


Gempita, adik kandung Ayu meletakkan air dingin yang ia bawa untuk sang Kakak di atas meja.


"Terimakasih, Dek." Ayu menenguk hingga setengah gelas, dahaganya sehabis pulang bekerja terbayar sudah. Beruntung ia memiliki adik yang begitu menyayanginya.


"Kakak jangan terlalu mikirin ucapan Ibu, biasalah, Ibu kan emang gitu dari dulu, selalu mau yang terbaik buat kita!"


Ayu mengangguk, dia juga paham, setiap Ibu pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Jadi wajar saja Ibu terus memintanya untuk segera memikirkan tentang masa depannya.


Terutama tentang hubungannya dengan Gilang, Ibu hanya ingin meminta kepastian. Dia tidak ingin anaknya terus menerus terikat hubungan yang belum tau arah tujuannya, terlebih hubungan mereka sudah berjalan cukup lama. 5 tahun.


"Kakak juga bingung, Dek. Apalagi akhir-akhir ini Gilang sering nggak ada kabar. Ya, Kakak paham dia juga sibuk dengan semua pekerjaan, apalagi villa yang di Bali lagi dalam tahap renovasi!"


Tatapan Ayu lurus ke depan. Membayangkan semua momen yang dia dan Gilang pernah lewati bersama. Mulai dari kuliah bersama di Singapura, banyak masalah yang menghantam hubungan mereka, tapi mereka masih bisa bertahan. Sampai saat ini, Gilang berhasil mengelola semua bisnis yang Almarhumah Mamanya tinggalkan, dan seiring berjalannya waktu, hubungan mereka pun mulai sedikit renggang karena terhalang jadwal pekerjaan.


"Kemarin Kak Arzia dateng, dia ngobrol sama Ayah dan Ibu di ruang tamu!"


"Mereka ngomongin apa?" tanya Ayu.


"Adek kurang tau, Kak. Tapi kemarin Kak Arzia sempet nanyain kabar Kakak!"


"Hemmm."


Ayu menyandarkan punggungnya. Arzia adalah sahabat kecilnya. Ibu Arzia juga teman dekat Ibunya. Minggu lalu Tante Ana juga berkunjung ke sini. Basa-basi menayangkan kabar Ayu. Entahlah, apa yang sedang mereka sembunyikan dari Ayu sekarang!


"Perasaan Kakak ke Kak Gilang gimana?"


Ayu menoleh. "Nggak pernah berubah, masih sama."


"Adek selalu doain yang terbaik buat Kakak." Gempita memeluk Kakak Perempuan yang telah banyak berkorban untuknya itu. Gempita juga hanya menginginkan yang terbaik untuk Kakaknya! Siapapun dia, Gempita harap pria itu bisa membuat Kakaknya tetap tersenyum bahagia.


*********


^^^Ayu :^^^


^^^Lang, jangan lupa makan dan istirahat, ya!^^^


Ayu mematikan lampu kamar setelah mengirim pesan ke Gilang. Sebagai seseorang yang telah menemani setiap langkah Gilang, Ayu paham betul sifat kekasihnya itu. Dia memang terlihat cuek, tapi sebenarnya dia sangat peduli pada pasangannya!


Gilang :


Iya, kamu juga istirahat, ya.


Ayu meraih kembali HP-nya. Hatinya terasa sedikit lega sekarang, tadinya dia pikir pesannya tidak akan dibalas.


^^^Ayu :^^^


^^^Bisa ketemu nggak hari Minggu?^^^


Gilang :


Nanti aku usahain, ya.


^^^Ayu :^^^


^^^Ya udah.^^^


^^^Semoga bisa.^^^

__ADS_1


Gilang :


Kalau emang bisa, nanti aku jemput ke rumah.


^^^Ayu :^^^


^^^Iya, Lang.^^^


^^^Kamu jangan kemalaman tidurnya!^^^


Gilang :


Iya, Nona Cantik


Udah, tidur sana!


^^^Ayu :^^^


^^^Good night, Lang!^^^


Gilang :


Night too, Ay.


Gadis yang baru bertukar pesan itu tersenyum, meletakan kembali HP-nya di atas meja. Dia seakan lupa dengan semua persoalan yang memenuhi pikirannya. Dia yakin, pasti semua persoalan itu akan menemukan jalan keluar mereka, dan Ayu berharap, jalan keluar itu bukanlah sesuatu yang akan memisahkan dirinya dengan seseorang yang dia cintai selama 5 tahun ini.


********


Jam sudah menunjukkan pukul tujuh pagi, Ayu segera bergegas mengambil berkas penting yang harus ia bawa saat meeting siang nanti.


"Kak? Sarapan!" ucap Bu Dewi pada anak perempuan pertamanya itu. Ayu menatap jam tangan sekali lagi, masih tersisa setengah jam, itu pun semoga jalan tidak macet.


"Ini, susu anget buat Kakak Tersayang!" Gempita meletakkan segelas susu hangat di dekat tangan Ayu, lalu mendorong sepiring nasi goreng spesial lengkap dengan telur mata sapi dan juga mentimun yang di potong tipis.


"Supaya semangat kerjanya!" imbuh Bu Dewi. Ayu tersenyum, gadis itu sangat beruntung karena memiliki keluarga yang begitu sayang dan penuh perhatian padanya.


"Iya, Yah?"


"Besok weekend ada acara?"


"Emmm, mau jalan sama Gilang. Kenapa, Yah?"


"Nggak ada, Ayah cuman nanyak aja."


Ayu mangut-mangut. Sebenarnya dia curiga, seperti ada yang Ayah sembunyikan darinya!


"Ayu pamit ya, Ibu, Ayah. Kakak duluan, Dek. Assalamu'alaikum!"


"Wa'alaikumussalam. Hati-hati, Kak!!"


Mobil gadis itu melaju menuju perusahaan, tanpa ia sadari sudah ada dua pesan masuk dan satu panggilan tak terjawab dari Gilang.


*******


"Kak Ayu?" panggil seorang resepsionis saat melihat Ayu memasuki gedung perusahaan.


"Iya, saya?"


"Ada titipan."


Hah. Ayu mengambil tote bag yang resepsionis itu berikan.


"Dari siapa?"


"Biasalah!" jawabnya sembari tersenyum malu.


"Emmm, ya udah, makasih ya."

__ADS_1


Ayu ikut tersenyum saat membuka isi Tote Bag, ada surat kecil di sana.


..."Susu sama coklat dimakan ya, supaya tambah manis!"...


...~Gilang...


Ayu mengeluarkan Hpnya, saat itu juga ia baru sadar, kalau Gilang sebelumnya sudah mengirim pesan dan menelponnya, mungkin saat Ayu sedang sarapan.


Gilang :


Masih di rumah, ya, Ay?


Kalo gitu, coklat sama susunya aku titip di Nayla, ya.


(1 panggilan tak terjawab)


^^^Ayu :^^^


^^^Terimakasih ya, Lang.^^^


^^^Titipannya udah aku ambil.^^^


Gilang :


Jangan lupa dimakan, ya Manisku😘🤣


^^^Ayu :^^^


^^^Iya, Pahitku🤣^^^


^^^Kamu juga, jangan lupa sarapan. Inget, tetap jaga kesehatan, ya. Ya udah aku mau kerja dulu. Love you<3^^^


Gilang :


Iya, Ay. I love you too.


Muachhhh.


Ayu senyum-senyum sendiri, gadis itu menatap coklat batang dan susu kotak yang Gilang berikan.


Inilah salah satu sebab, kenapa Ayu tidak pernah meragukan pria yang menjadi kekasih hatinya itu, mungkin sebagian orang sering menilai bahwa hanya Ayulah yang memperjuangkan hubungan ini, tanpa mereka tau, sebenarnya Gilang juga sangat takut kehilangan wanita yang selama ini selalu ada untuk mendukung setiap langkahnya!


Gilang tau, mana wanita yang memang harus ia perjuangkan dan pertahankan!


*********


Ayu menatap mobil yang terparkir di halaman depan rumahnya, dari warna dan platnya Ayu sudah bisa menebak, siapa pemilik mobil itu.


"Dia ngapain lagi sih ke sini?!" gerutu gadis yang masih dengan setelan rapi sehabis pulang kerja itu.


"Assalamu'alaikum?"


"Wa'alaikumussalam." Bu Dewi menyambut anaknya yang baru pulang, Ayu melirik ke arah ruang tamu, benar saja Arzia ada di sana, sedang mengobrol dengan Ayahnya.


"Ada Arzia, ya, Bu?"


"Iya, nggak mau nyapa orangnya?"


"Nanti aja, Bu. Ayu mau mandi terus ganti baju. Gempita mana?"


"Di rumah Dinda, katanya ada tugas kelompok."


"Emmm, ya udah, Ayu ke kamar dulu, ya?!"


"Iya, Sayang."


Bu Dewi memperhatikan punggung anak gadisnya itu, ia menghembuskan napas pelan, selama ini dia tetap mendukung setiap keputusan anak-anaknya dalam semua hal, tapi entah mengapa, akhir-akhir ini dia mulai khawatir tentang masa depan Ayu. Lebih tepatnya tentang pernikahan gadis itu, sampai kapan dia akan menjalin hubungan pacaran dengan Gilang?

__ADS_1


"Hemmm, semoga saja tahun ini ada peningkatan dalam hubungan mereka!"


__ADS_2