Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 21. Singapura (3)


__ADS_3

...Singapura...


Suara dari indahnya ledakan kembang api memenuhi langit malam, di bawah langit malam itu, ada satu keluarga yang berkumpul dalam keadaan bahagia, saling melempar senyum, menikmati indahnya suasana malam tahun baru.


Zidan memeluk Manda, ada perasaan bahagia yang tak bisa dijelaskan di hatinya, sekarang tidak ada lagi kebohongan dan keterpaksaan, semua menerima kehadiran istri dan anaknya dengan ketulusan.


"Tante tau, selama ini Tante lah yang banyak menuntutmu untuk melakukan ini dan itu, sampai Tante lupa, kalo kamu juga punya hak untuk bahagia dengan pilihanmu sendiri. Tapi mulai sekarang, giliran Tante yang akan membuatmu tetap merasa bahagia, Tante akan selalu mendukung setiap keputusanmu, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan Tante juga!" ucap Tante Qiara, selaku adek kandung dari Tuan Tarmidzi, Papanya Zidan.


Senyum Zidan makin mengembang saat melihat Ahkam tersenyum dan tertawa bersama Luna dan Dea. Anak itu memiliki aura positif yang membuat semua orang menyukai dan menyanyinya.


"Ahkam nanti akan menjadi Abang yang disayangi oleh adik-adiknya, emm, kira-kira adik buat Ahkam berapa, Sayang?" bisik Zidan.


"Dua? Satu cowok dan satu cewek!"


"Kalo 11? Bisa nggak?"


Ucapan Zidan membuat Manda memukul lengan pria itu. Cukup keras. "Abang kirain buat hamil dan ngelahirin anak segampang bikin adonan kue?!"


"Hahaha, ya udah, tiga aja, supaya pas empat!"


"Tergantung rezekinya!"


"Tergantung usaha juga, dong, kalo Abang sih paling suka bagian usahanya, hahahaha!"


"Ish, ngomongnya loh, Bang!"


"Ayo, Sayang!"


"Apaan?!"


Bukannya menjawab, Zidan malah senyum-senyum tak jelas sambil memainkan alisnya.


"Kok aku baper ya liat Kak Zidan dan Kak Manda!" ucap Puspa yang diam mengambil video dua orang itu.

__ADS_1


"Aaaa, besok aku mau cari calon suami kayak Kak Zidan aja deh, tapi masih ada nggak ya?"


Puspa sibuk sendiri memikirkan di mana dia bisa menemukan pria seperti Zidan. Sepertinya Zidan satu-satunya stok yang tersisa, dan malah Manda mendapatkannya!


Sementara masih di negara yang sama, tapi di tempat yang berbeda, sekumpulan remaja sedang merayakan malam tahun baru. Perayaan di sini malah berbanding terbalik dengan perayaan di kediaman Zidan, terdengar suara musik DJ yang cukup keras, gumpalan Asep rokok mengotori udara, botol dan gelas-gelas yang berisi minuman keras ada di mana-mana.


Seorang gadis berjalan cepat, memasuki kerumunan. Menoleh ke kanan dan kiri, mencari seseorang yang dia kenal, dan bisa ditanyai di mana keberadaan orang yang sedang ia cari.


"Rafly! Rafly!!" Ia menarik lengan seseorang pria yang sedang asik berjoget, mengikuti alunan musik DJ.


"Hei, Ayu, kenapa?!!" ucapnya sedikit keras, agar gadis itu bisa mendengar suaranya.


"Kamu liat Gilang nggak?!"


"Hah, siapa?!"


"Gilang, pacarku! Ada liat nggak?!"


"Oh, Gilang? Dia di sana!" Rafly menujuk ke arah timur, di mana ada banyak pria yang sedang duduk dan entah apa yang sedang mereka minum.


Ayu segera berjalan ke arah timur, melewati beberapa orang yang terus memperhatikannya. Setelah mencari dan melihat ke seluruh penjuru ruangan, akhirnya Ayu menemukan Gilang. Pria itu duduk di pojok ruangan, memegang gelas di tangan.


"Astaghfirullah!" Ayu menghampiri Gilang dengan hati yang berdebar-debar kencang, takut kecewa dengan kelakuan Gilang kali ini.


"Apa-apaan ini?!" Ayu merebut gelas yang Gilang pegang, menjauhkannya. Gadis itu menatap Gilang dengan tatapan kecewa, apa yang pria itu pikirkan? Kenapa dia sampai bisa ada di tempat seperti ini sekarang! Dan minuman ini? Kenapa harus minum minuman seperti ini!!


"Ayo, kita pulang!" Ayu menarik tangan Gilang, ia menyampingkan perasaan kecewa, ia harus segera membawa Gilang pulang sekarang juga!


"Mereka yang mengundangku, aku hanya memenuhi undangan mereka!" gumam Gilang, pria itu menurut saja saat Ayu membantu memapah tubuhnya.


Ayu diam, tak tau harus menjawab apa. Untung tadi Jenny---teman kelasnya memberitahu, kalo gadis itu melihat Gilang ada di acara yang digelar oleh Hito.


Jenny cukup mengenal Ayu dan Gilang, Jenny juga mengkhawatirkan Gilang, karena Jenny cukup tau juga seperti apa pergaulan Hito dan teman-temannya. Jenny takut Gilang terserat jauh oleh Hito.

__ADS_1


"Kenapa harus melanggar janji? Bukannya kamu janji nggak bakalan deketin minuman seperti itu lagi?" Ayu hanya bisa membatin.


Dulu saat mengetahui Manda sudah menikah dengan Zidan, Gilang memang sering meneguk minuman beralkohol, beruntung ada Vino yang selalu mengingatkannya dulu, lalu Ayu yang selalu memberikan pandangan, dan membantu Gilang untuk melupakan dan mengikhlaskan Manda. Bahkan pria itu sempat berjanji pada Ayu, dia tidak akan minum alkohol lagi. Tapi sekarang?


"Ayu!" panggil Jenny saat melihat Ayu keluar dari ruangan. Gadis itu segera menghampiri Ayu. "Dia mabuk?"


Diamnya Ayu cukup menjadi jawaban. Jenny langsung menawarkan bantuan untuk mengantar mereka pulang.


"Maaf merepotkanmu, Jenn!" ucap Ayu, ia merasa tidak enak pada Jenny. Gadis itu sangat baik padanya.


"Tidak apa-apa, ayo, mobilku ada di sana!"


Kedua gadis itu membawa Gilang ke parkiran, memasukkan Gilang ke dalam mobil, membiarkan pria itu duduk di kursi belakang sendirian. Ayu duduk di depan, di samping Jenny.


"Maaf, maafkan aku, Ay. Aku selalu mengecewakanmu! Kamu boleh marah, atau pukul, pukul saja aku, tapi jangan pernah tinggalin aku, aku nggak mau ditinggalin sendirian lagi!!" Gilang merancau tak karuan.


"Sepertinya dia sangat mencintaimu," ucap Jenny. Ayu enggan menjawabnya, gadis itu hanya tersenyum miris.


Sampai di apartemen, Jenny dan Ayu dengan susah payah memapah tubuh Gilang hingga depan kamar, Ayu membuka pintu, kata sandi apartemen Gilang sudah di luar kepalanya.


"Kamu nggak apa-apa, Yu. Aku tinggalin?"


"Ya, nggak apa-apa, Jenn. Ini aja aku udah makasih banget sama kamu!"


"Yang sabar ya, dia butuh kamu selalu ada untuknya!"


Ayu menatap Gilang yang kini terbaring di atas kasur. Gadis itu keluar setelah membuka sepatu, dan mengunci kamar Gilang, itu ia lakukan sebagai bentuk penjagaan untuk dirinya sendiri, jangan sampai Gilang malah bangun dan mampir ke apartemennya nanti!


"Mungkin sekarang, aku masih bisa bertahan, Lang. Tapi jika kamu terus begini, dan melakukan kesalahan-kesalahan lain lagi, aku nggak tau harus apa?!"


Ayu selama ini sudah banyak bersabar menghadapi Gilang, bahkan Ayu sama sekali tidak pernah mempermasalahkan tentang perasaan Gilang pada Manda, kemarin Gilang menolak keras saat Ayu mengajaknya untuk bertemu dengan Manda. Mumpung jarak dari apartemen mereka dengan tempat tinggal Manda tidak terlalu jauh. Ayu juga sudah sangat merindukan sahabatnya itu.


"Bahkan di saat kamu belum sepenuhnya menghilangkan Manda dari hatimu, aku masih bisa memaklumi itu, tapi jika kamu sudah seperti ini, mengingkari janji dan menyakiti dirimu sendiri, aku tidak bisa terima lagi!"

__ADS_1


Gilang satu-satunya orang yang belum bisa Ayu tebak seperti apa kepribadiannya. Jika dilihat sekilas, dia memang terlihat begitu baik, tapi semakin Ayu dekat dengannya, maka semakin banyak pula rahasia tentang Gilang yang terbuka.


__ADS_2