Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 11. Masa Depan


__ADS_3

"Ahkam, duduk sini, foto sama Kakak!"


Setelah sekian lama berencana, akhirnya Qonita bisa juga bertemu dan berkunjung lagi ke rumah Manda. Kali ini dia tidak datang sendiri, dia datang bersama si Queen Jomblowati. Siapa lagi kalau bukan Arina.


Sambil tersenyum, Ahkam pun duduk di samping Qonita, berpose sesuai apa yang Arina contohkan. "Selfi dulu!"


Ketiganya menatap kamera, tersenyum setelah hitungan ketiga. Mereka mengambil beberapa foto selfi dengan berbagai gaya. Qonita segera merebut benda pipih itu dari tangan Arina, menggeser beberapa foto baru, lalu memilih dua poto yang paling bagus untuk dia upload di Story Instagram-nya.


"Lihat ini!" Qonita menunjukan Insta Story milik Ayu, yang hanya dibagikan pada temen dekat saja.


"Oh pantes dia nggak bisa ikut, lagi ngebucin sama Gilang ternyata!" ucap Arina. Seketika Qonita melotot, tapi sudah telat, Manda sudah mendengar ucapan Arina.


"Siapa yang lagi ngebucin?" tanya Manda sembari meletakkan nampan yang berisi jus jeruk, disusul oleh Bik Jah yang meletakkan beberapa toples cemilan juga.


"Ada yang kalian sembunyiin ya dari aku?"


Qonita langsung menggeleng. Mereka tidak bermaksud menyembunyikan apapun. Hanya saja Ayu yang meminta mereka untuk tidak memberitahu Manda, tentang hubungan Ayu dan Gilang sekarang. Dengan beberapa alasan dan pertimbangan.


Mau tidak mau, Qonita ataupun Arina menutup mulut, sama seperti saat mereka menutup mulut tentang pernikahan Zidan dan Manda.


"Ya udahlah, aku nggak bisa paksa kalian buat cerita, 'kan?" Manda menganggukan kepala saat Ahkam izin untuk bermain di luar. Lalu ia kembali menatap Qonita dan Arina.


"Santai, aku nggak bakalan maksa kalian kok. Udah, lupain aja!"


Qonita mengembuskan napas lega. Setidaknya Manda tidak menuntut kejelasan atas ucapan Arina barusan.


"Maaf ya, Manda. Kami hanya menjaga amanah!" jelas Arina. Karena merasa tidak enak, bagaimanapun Manda dulu begitu mempercayai dia dan Ayu. Tapi sekarang, dia harus merahasiakan tentang Ayu dari Manda.


"Nggak apa-apa, aku ngerti kok!"


Ketiganya berganti topik, memilih untuk membicarakan tentang rancangan masa depan, rencananya Minggu depan Arina akan memulai hidup barunya. Ia sudah mendaftar kuliah di salah satu Universitas ternama, dan memilih untuk masuk Asrama Khusus, karena sang Ayah tidak mengizinkannya untuk tinggal di kost atau kontrakan.


Sementara Qonita memilih untuk menekuni karir barunya, akhir-akhir ini ia sering ikut dengan sepupunya untuk melakukan pemotretan, sebagai model di salah satu butik, dengan modal wajah cantik dan tubuh ideal, Qonita bisa saja melanjutkan karirnya sebagai seorang model ternama.


Dan kabarnya, Ayu juga sudah mulai mendaftarkan diri untuk kuliah, tidak main-main ia langsung mendaftarkan diri di Singapore Management University (SMU). Spesialnya lagi, ternyata Ayu tidak sendiri, dia mendaftarkan diri bersama Gilang, di jurusan yang sama pula.

__ADS_1


Lalu bagaimana dengan Manda? Gadis itu tersenyum, dengan wajah ceria ia menceritakan semua rancangan masa depannya.


Pertama-pertama dia ingin fokus mengurus Ahkam dan Zidan, dia ingin agar keluarga besar Zidan bisa menerima kehadiran Ahkam sebagai anak mereka, lalu menyekolahkan dan mendidik Ahkam dan adik-adiknya agar menjadi seseorang yang bermanfaat, membuat dia dan Zidan bangga. Sederhana saja, Manda ingin hidup bahagia dengan keluarga kecilnya.


"So cute, nanti kamu udah punya anak lima, kita baru nikah!" ucap Qonita, ia memasukkan satu keping keripik singkong, lalu kembali menatap Manda.


"Kira-kira, siapa ya yang akan menjadi jodohku?"


Arina merebut toples keripik yang Qonita pangku. "Mungkin Mamat!" jawabnya.


Huks. Jus jeruk yang Qonita minum hampir saja menyembur wajah Arina. Jika Manda tidak buru-buru memberikan tisu padanya.


"Na'udzubillah Ya Allah!"


Qonita menggeleng keras, membayangkan wajah Mamat saya ia sudah takut, apalagi sampai---Na'udzubillah, Qonita tidak ingin menyebutnya.


"Hust, nggak boleh ngomong gitu, loh Arina. Ngomong yang baik-baik aja!"


Manda juga ikut berkidik geri. Pasalnya ia juga baru melihat Mamat beberapa hari yang lalu. Dia melihat Mamat di bundaran sedang duduk tanpa mengenakan baju, hanya mengenakan sarung kotor yang sudah robek di sana sini.


"Aamiin ya Allah, Aamiin!" Arina langsung menghadap kiblat, mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Gadis itu ternyata sudah lama menyimpan perasaan pada Vino. Cinta Dalam Diam, ceritanya.


"Oooo, jadi Vino ya yang selama ini naklukin hari Arina!" Manda menggoda Arina, karena selama ia sama sekali tidak mengetahui kalau sahabatnya itu menyimpan perasaan pada Vino.


"Aku aja tau karena nggak sengaja nemuin foto Vino di dalam----" Arina segera membungkam bibir Qonita, ia malu jika Manda harus mendengarkan cerita cintanya. Cinta yang masih bertepuk sebelah tangan.


"Sussst, jangan cerita!"


"He'em. He'em!"


Arina menjauhkan tangannya dari bibir Qonita.


"Pih, tanganmu asin!!" Qonita menarik beberapa tissue, membersihkan bibirnya. Manda hanya tersenyum sambil menggeleng pelan melihat tingkah mereka.


Selang beberapa menit, Bik Jah kembali muncul. Sembari membawa dua kotak brownies yang baru saja datang. Manda sengaja memesan untuk Qonita dan Arina. Bahkan ada dua kotak spesial lagi untuk mereka bawa pulang nanti.

__ADS_1


"Cobain deh, Ahkam aja sampai ketagihan!"


"Emmm---" Qonita mengambil potongan kedua, menguyah tanpa ingin memberikan komentar apa-apa.


"Yang ini buat aku semua!" Arina menarik satu kotak, sebelum tangan Qonita menjamahnya.


"Udah-udah, kalian jangan rebutan, tuh malu diliatin Cila sama Ahkam!"


"Cila?" Qonita dan Arina langsung menoleh, mendapati Ahkam sedang berdiri di belakang mereka dengan seorang gadis kecil berhijab biru muda.


"Assalamu'alaikum, Cila. Cila tadi ikut ya sama Bunda?" tanya Manda. Cila mengulurkan tangannya, bermaksud untuk salim dengan Manda.


"Wa'alaikumussalam, Mama Manda. Iya, Cila tadi ikut ma Bunda. Tapi Cila sekarang mau main sama Ahkam, boleh ya?"


"Boleh, boleh, Cila mau main apa?"


"Ahkam mau ajak Cila liat buku gambar dan pensil warna Ahkam! Kita mau main lomba menggambar, Ma!" Sahut Ahkam. Manda pun mengiyakan, ia menggelar karpet kecil di ruang TV. Membiarkan kedua bocah itu bermain di sana.


"Mereka gemesin banget sih! Tadi siapa namanya?" tanya Qonita sembari memperhatikan Ahkam dan Cila.


"Cila, dia anak guru ngajinya Ahkam. Emm, brownis ini juga buatan Bundanya!"


"Aaaa, aku kalo beli brownis di sana. Mau gratis sama Cilanya boleh nggak? Gemesin banget!"


"Ih." Arina merinding sendiri melihat tingkah Qonita. Tapi untung saja tidak ada orang lain selain mereka, jika ada, maka dia tidak mau mengakui Qonita sebagai temannya.


"Hai, Kakak boleh ikut main nggak?" Karena tak tahan, Qonita pun menghampiri mereka. Ikut bergabung bermain coret-coret buku gambar di sana.


Beruntung Cila dan Ahkam mau bermain dengannya.


"Sayang, Abang makan siang di kantor, ya. Kamu jangan lupa makan siang juga. Titip salam buat Ahkam. I Love You, Sayangnya Abang❤️"


"Iya, makan yang banyak ya Suamiku Sayang❤️"


Manda senyum-senyum sendiri setelah meletakkan kembali Hp-nya di atas meja, lalu ia mengajak Ahkam dan Cila untuk makan siang bersama. Sedangkan Qonita dan Arina sudah duduk cantik di meja makan. Benar-benar definisi dari kata 'Anggap aja rumah sendiri!'

__ADS_1


__ADS_2