Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
Episode Spesial : Ayu & Gilang (END)


__ADS_3

Ayu sudah tak mengharapkan apapun lagi dari Gilang, sepanjang hari ia menunggu kabar dari pria itu. Namun, sampai acara perayaan ulang tahunnya selesai pun, Gilang tak kunjung menampakan batang hidungnya juga. Sudah tak terhitung berapa puluh kali ia mengecek Hp. Berharap ada notifikasi masuk dari pria itu. Tapi hasilnya tetap saja zonk. Tidak ada kabar apapun darinya.


Ditengah menikmati sakit yang Ayu rasakan, Ayah tiba-tiba memangilnya agar ke ruang tamu. Sekilas sempat terlintas dipikiran Ayu, bahwa Gilang akan datang menemui dirinya. Tapi tak ingin kecewa lagi, Ayu segera menepis pikiran itu, dan bergegas menuju ruang tamu.


"Sini, duduk!" ucap Ayah saat melihat putrinya hanya mematung di depan pintu ruang tamu. Jam dinding sekarang sudah menunjukkan pukul 11,47 malam.


Dengan tatapan yang terus tertuju pada satu arah, Ayu duduk di sambil kanan Ayahnya. Bu Dewi juga ikut bergabung setelah meletakkan nampan yang berisi teh dan susu hangat.


"Emmm, apa kabar, Ayu?" ucap pria yang telah hilang kabar berhari-hari itu, dan sekarang tiba-tiba saja muncul lagi, dengan menggunakan pakaian yang sedikit formal. Sebuah kemeja putih lengan panjang dengan setelan celana hitam. Jas hitamnya ia buka dan letakan di atas sopa, tepat di sebelah kiri. Ayu sedang memperhatikan penampilannya.


"Alhamdulillah baik." Ayu menatap Ayah dan Ibunya bergantian, sepertinya pertemuan ini sudah mereka bicarakan sebelumnya, kan? Tidak mungkin ia mengizinkan Gilang hanya sekedar bertamu di jam segini, kan?


"Yah, ada yang Ayah dan Ibu sembunyikan?" lirih Ayu. Ayah dan Bu Dewi malah saling menatap satu sama lain. Tak berikan jawaban.


"Emm, Ay. Sebelumnya aku mau minta maaf, karena nggak ngabarin kamu akhir-akhir ini," ucap Gilang menyesal.


"Aku ngerti kok, kamu kan sibuk ngurusin kerjaan di Bali."


"Maaf, seharusnya aku ikut ngerayain ulang tahun kamu, tapi kamu lihatlah, bahkan sekarang aku orang yang terakhir, yang akan ngucapin selamat ulang tahun ke kamu." Gilang menatap Ayah sejenak.


"Em, selamat ulang tahun gadis baik dan cantikku-" Gilang tersenyum. "Seharusnya momen ini berlangsung saat perayaan ulang tahunmu, tapi karena ada beberapa kendala, jadi maaf--"


Gilang meletakkan sebuah kotak cincin di atas meja, sedikit mendorongnya ke arah Ayu. "Menikahlah denganku." Tanpa basa-basi langsung ke inti.


Bukanya langsung memberikan tanggapan atau jawaban. Ayu malah meminta Ibunya untuk mencubit lengannya sekeras mungkin. "Kakak nggak mimpi, kan, Bu?"


"Nggak, Nak. Ini bukan mimpi lagi."

__ADS_1


Ayu lalu menoleh ke Ayah. Pria paruh baya itu tersenyum sembari mengangguk pelan.


"Please, terima-"


Ayu menarik napas dalam, lalu menatap Gilang. "Maaf, Lang, aku udah nggak bisa-"


Semua yang ada di dalam ruangan itu tak percaya mendengar apa yang Ayu katakan. Bahkan Gilang tak bisa menyembunyikan wajah kecewanya, tidak mempan lagi ditutupi oleh senyum terpaksa.


"Kenapa?" lirih pria yang sudah menunduk lemas itu.


"Maaf sudah banyak mengecewakanmu," lanjutnya.


Ayu meraih kontak cincin yang masih terpajang cantik di atas meja ruang tamu.


"Tolong pakaikan untukku, Bu. Maksudku, Aku tidak bisa menolak lamarannya!"


"Jadi?"


"Aku mau menikah denganmu, kalau bisa secepatnya!"


"Secepatnya!"


Malam itu menjadi malam yang tak pernah Ayu lupakan dalam hidupnya. Malam dimana akhirnya Gilang berani melangkah lebih jauh lagi untuk hubungan mereka, membawa ke jenjang yang lebih serius. Sepanjang malam, gadis dengan nama lengkap Ayu Sintya Dewi itu tak kunjung berhenti memandangi sebuah cincin manis yang tersemat di jarinya. Perasaan bahagia menyeruak kembali, melenyapkan setiap perasaan sedih dan kecewa yang ia rasakan.


"Gilang, makasih telah hadir, dan makasih untuk setiap kisah kita."


*********

__ADS_1


//Flashback - Gilang


Sesuai dengan rencana, pesawat yang Gilang tumpangi mendarat 2 jam sebelum acara ulang tahun kekasihnya dimulai. Gilang bahkan sudah mengecek semua persiapan, dan semua sudah lengkap. Sebelum berangkat ke Bali, Gilang sempat membicarakan beberapa hal serius dengan kedua orang tua Ayu.


Gilang meminta waktu untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan di Bali. Dan setelah semuanya selesai, ia akan melamar Ayu, tepat saat gadis itu berulang tahun yang ke - 24. Ayah dan Ibu tidak masalah, bahkan keduanya ikut membantu agar semuanya berjalan sesuai rencana.


Namun, saat Gilang melajukan mobilnya ke arah rumah Ayu, sebuah telpon masuk datang dari Kakak sepupunya, yang tiba-tiba saja meminta untuk pulang ke rumah lama (Rumah peninggalan Ibu Gilang, yang memang ditempati oleh sepupu Gilang) Sedangkan untuk menempuh perjalanan ke sana butuh waktu sekitar 1 jam lebih.


Karena sepupunya mengatakan ini penting dan ada seseorang yang sangat ingin bertemu dengan Gilang. Gilang pun dengan berat hati dan terpaksa memutar arah. Tapi sebelum itu, Gilang tak lupa mengabarkan pada orang tua Ayu, bahkan menjelaskan dengan pelan alasan kenapa ia tak bisa datang tepat waktu, sesuai rencana sebelumnya.


"Gilang?" Seorang pria paruh baya yang sedang duduk di sofa itu menatap wajah Gilang penuh makna. Gilang yang tak mengenal sosok itupun kebingungan saat sosok itu tiba-tiba saja langsung memeluk tubuhnya, erat.


"Maafkan, Ayah, Nak!"


"Ayah?"


Mendengar kata itu, Gilang langsung terpejam, perlahan ia menggerakkan tangannya, membalas pelukan pria itu. Terakhir mereka bertemu saat Gilang masih berumur 5 tahun. Yang membuat Gilang benar-benar kehilangan bayangan tentang wajah sang Ayah.


Dulu, Gilang sangat membenci pria yang sedang duduk di sebelahnya ini. Namun semakin menginjak usia remaja dan dewasa, Gilang mulai menerima setiap apa yang sudah dilaluinya selama ini, rasa cemburu karena tidak mendapat kasih sayang penuh dari orang tua yang lengkap sudah ia kubur, dan buang jauh dari dirinya. Bahkan Gilang juga pernah mencoba mencari tau kembali tentang hubungan ayah dan Ibu, apa yang menyebabkan keduanya harus berpisah, dan dimana ayahnya sekarang.


Dan dari hasil pencariannya, ia semakin faham, bahwa dia tidak perlu membenci siapapun, Ayah dan Ibunya tidak salah, keduanya sama-sama memiliki ego dan gengsi yang tinggi.


Gilang sudah memaafkan sang Ayah, jauh sebelum pertemuan mereka ini. Dan di saat Gilang memberitahu bahwa ia akan melamar gadis yang ia cintai, Ayahnya tersenyum bahagia, namun ia juga meminta maaf karena tidak bisa mendampingi Gilang, ia harus kembali ke rumah sakit dan harus kembali menjalani perawatan yang semestinya. Jiwanya tak akan pernah tenang sebelum bertemu dan meminta maaf kepada anak laki-laki satu-satunya.


"Maafkan, Ayah."


Satu kata yang terus terucap dari sosok Ayah Gilang, bahkan kata-kata itu terus ia ucapkan sepanjang Gilang bersamanya, merawat dan menemaninya sampai menutup usia.

__ADS_1


...////...


__ADS_2