
Setelah kesulitan pasti ada kemudahan . Dan setiap makhluk yang hidup di bumi ini. Pasti akan mengalami kedua pase itu.
Jadi, bersabarlah bila kau dalam kesulitan. Dan bersyukur jika kau dalam kemudahan.
"Sayang, cepatlah! Ada kejutan untukmu!" teriak Om Zidan dari halaman depan.
"Sebentar..." Aku segera merapikan hijab. Dan melangkah untuk menemui suami tercinta.
"Surprise!!"
Ayu, Qonita dan Arina tersenyum sambil merentangkan tangan mereka. Dengan penuh kerinduan, aku pun berlari. Berhambur memeluk ketiganya.
"Kangen guys....."
Hampir 4 bulan tidak melihat mereka membuatku terus berpikir. Bagaimana cara untuk menemui ketiganya. Tapi ternyata hari ini, ketiganya yang malah menemuiku.
"Makin ngembang aja!" sindir ayu begitu melepaskan tubuhku.
"Aduh, jangan-jangan?"
Ayu dan Qonita langsung menatapku dengan menyipitkan mata mereka.
"Udah anu?" bisik Ayu.
"Anu apa?" Aku bertingkah seperti orang yang nggak tau apa-apa. Padahal aslinya mah. Khemmm.
"Itu loh--" Qonita menusuk-nusuk telapak tangan kirinya dengan jari telunjuk. "Udah itu?"
"Hah. Itu apa?" Dengan muka yang bener-bener sok polos aku bertanya.
"Nah. Kalian lagi bahas apa?" Suara Om Zidan, membuat kaget kita semua. Tak terkecuali Arina.
Berbeda dengan Qonita. Dia malah buru-buru menyembunyikan tangannya. Dan melangkah mundur. Bersembunyi di balik tubuh Ayu.
"Hahahaha.... kenapa?" tanya Om Zidan. Dia menahan tawa jahatnya. Mungkin ekspresi kita terlihat lucu di matanya. Ia menggeleng pelan lalu berkata lagi :
"Manda? Ajak mereka masuk, ngobrolnya di dalem aja."
Aku mengiyakan ucapan Om Zidan.
"Ayo masuk!" Aku menarik tangan Qonita, mengajaknya untuk masuk. Begitu pula dengan Ayu dan Arina.
"Eh, jadi yang tadi gimana?" Ayu bertanya lagi. Seolah belum puas jika belum mendapatkan jawabannya.
"Emmm, menurut kalian?"
"Udah?!" Serentak Ayu dan Qonita.
"Nah itu tau!" Aku memalingkan wajahku menghadap Arina.
Arina malah mengerutkan dahinya. "Ini lagi bahas apa, ya?" tanya gadis polos tulen itu.
"Itu, tanyain Om Zidan. Udah nanem singkong atau belum?" jawab Qonita sambil menahan tawa.
"Oh.... emang Om Zidan nanem singkong di mana?"
Ayu, Aku dan Qonita saling menatap. Bingung juga harus jawab apa.
__ADS_1
"Di kebunnya Manda lah, Arina cantek!" jawab Ayu. Mungkin dia bermaksud dengan menjawab begitu, bisa lebih mudah dicerna oleh logika Arina.
"Emmmm.... Manda? Kebun singkongmu di daerah mana?"
"Allahumma Sholli Alaa Sayyidina Muhammad!" Aku menepuk jidat. Menggeleng pelan karena kehabisan kata-kata lagi untuk jawab pertanyaan horor dari Arina.
"Ada yang salah, ya?" Tanya Arina dengan tampang wajah tanpa dosa.
"Nggak ada kok. Kita yang salah. Karena bahas masalah bercocok tanam sekarang!" jawab Qonita.
"Gitu, ya?" Gadis itu mengangkat kedua bahunya. Mungkin memilih untuk melupakan masalah kebun singkong yang membuat dia berpikir keras.
Arina... Arina.
...****************...
Tepat pukul 5 sore. Ketiganya pamit untuk pulang. Kedatangan mereka bukan tanpa alasan. Yang paling utama memang untuk menemuiku, sekalian juga mereka menyampaikan surat panggilan dari sekolah untuk mengikuti ujian susulan. Kepala sekolah ternyata masih memberikan kebijakan untukku.
Dan aku juga baru sadar satu hal. Qonita ternyata sudah tau tentang pernikahan ini. Tapi anehnya. Dia tidak pernah membahas atau menanyakan tentang itu. Tapi syukurlah, responnya ternyata baik seperti ini.
"Sayang?" Aku menyerahkan surat yang Ayu berikan tadi pada Om Zidan.
"Dari sekolah?"
"He'em."
Om Zidan menggeser tubuhnya. Lalu menepuk ruang kosong di sampingnya. "Duduk dulu!"
Aku patuh. Duduk dan menyandarkan kepalaku pada bahunya.
Dia mulai membuka dan membaca surat itu dengan seksama.
"Udah." Aku menunduk. Mataku mengikuti gerakan tangannya yang meletakan surat tadi di atas meja.
"Terus gimana?" tanyanya pelan sambil memainkan rambutku.
"Manda mau ikut." Aku mengetuk-ngetuk dadanya. "Tapi kalo Om Zidan nggak bolehin. Nggak apa-apa juga."
"Emang siapa yang nggak bolehin, khemm?" Dia mencubit pipiku. "Emang aku pernah bilang gitu?"
Aku menggeleng. "Nggak pernah."
"Dan nggak akan pernah, Sayang. Aku nggak mungkin ngelarang kamu. Nggak akan mungkin!" Dia tersenyum.
"Jadi boleh ikut?" tanyaku girang.
"Tentu. Mulai besok, aku akan menjadi guru lesmu!"
"Aaaa.... Makasih Sayang!" Aku memeluknya dengan gemas. Berterimakasih padanya. Dengan cara yang aku bisa. Dan aku yakin. Dia pasti akan suka.
MUACH. MUACH. MUACH.
Aku menghujani pipinya dengan ciuman. Dia malah tertawa dan minta ciuman lagi di bagian lainnya.
...----------------...
Aku memutar kunci pintu Villa. Menguncinya. Ada rasa sakit yang tiba-tiba muncul di benak ini. Tapi mau gimana lagi, kami harus kembali lagi ke kota. Aku harus fokus belajar untuk persiapan ujian. Begitu pula Om Zidan. Dia juga harus kembali lagi ke kantor. Tanggung jawabnya menunggunya di sana.
__ADS_1
"Ayo, Sayang!"
Dengan langkah yang berat aku mendekati mobil. Rasa nyaman, aman dan damai yang ada di Villa ini membuatku berat untuk pergi. Sekali lagi, aku menatap seluruh area Villa. Yang setiap sudutnya memiliki kenangan yang begitu indah.
"Bawa Manda ke sini lagi ya nanti!" pintaku pada Om Zidan.
"Iya, Sayang. Setiap akhir pekan, aku akan mengajakmu ke sini!" Dia mengelus pipiku pelan. "Udah, Villanya nggak bakal di ambil orang, kok. Jangan sedih. Senyum dong, Manis!"
"Hemmm...." Aku mencoba tersenyum. Walau hati ini masih belum rela untuk meninggalkan Villa.
Kembali lagi ke kota. Oh, males banget rasanya. Harus ketemu sama banyak orang lagi di sana.
Hari-hari yang dipenuhi oleh kesibukan pun dimulai. Aku sibuk dengan persiapan ujian. Om Zidan sibuk dengan pekerjaannya. Kadang saking padatnya jadwal Om Zidan, dia tidak bisa untuk sekedar makan siang bersama seperti dulu.
Dan hampir satu Minggu ini juga dia pulang lebih lama dari biasanya. Tapi aku mencoba untuk mengerti kesibukannya. Dia sudah memberikan begitu banyak waktunya untukku. Tanpa memikirkan pekerjaannya. Jadi wajar aja sekarang dia sesibuk ini. Pasti banyak pekerjaannya yang ia tunda.
Aku menutup buku Matematikaku. Jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan malam. Tapi Om Zidan belum pulang juga. Aku tadi sudah mengirim pesan dan belum dia balas sampai sekarang.
Karena tidak mau berburuk sangka. Aku pun menghubungi Kak Henny. Menanyakan keberadaannya.
"Assalamu'alaikum, Kak. Kakak masih di kantor?"
"Wa'alaikumussalam, Manda. Nggak Manda. Udah di rumah. Kenapa?"
"Emmm, udah di rumah, ya. Manda kirain masih di kantor." Aku meremas kertas bekas di atas meja. Om Zidan ini ke mana coba?!
"Ya udah Kak. Maaf ya udah ganggu!"
"Manda?" Panggil Kak Henny pelan.
"Iya, Kak?"
"Semua cinta Kak Zidan udah kamu miliki. Jadi jangan khawatir, dia nggak mungkin berpaling di belakangmu!"
Aku tersipu malu mendengarnya. Ternyata Kak Henny tau apa alasanku menghubungi dia.
"Ya udah. Kamu istirahat. Besok pagi kamu mau ujian, kan? Tetep semangat ya Manda Sayang!"
"Iya, Kakak cantek. Makasih ya! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam!"
Aku menutup sambungan telepon. Melempar Hp ke kasur. Lalu berjalan menuju kamar mandi. Untuk berwudhu. Agar hatiku lebih tenang.
Entah, aku tidak tau sampai jam berapa aku menunggu Om Zidan pulang. Sampai aku ketiduran. Dan di saat aku bangun lagi untuk tahajjud. Om Zidan ternyata udah berbaring menghadapku. Tangan kanannya ia letakkan di atas perutku.
Aku diam. Menatap wajahnya. Setelah puas, aku pun mengangkat tangan Om Zidan. Bermaksud memindahkannya.
"Lima menit lagi!" gumam Om Zidan. Dia malah menggenggam tanganku. Dengan mata yang masih terpejam.
"Sayang..." Aku mencoba untuk menarik tanganku. Karena sudah lebih dari lima di genggamannya.
"Nanti keburu subuh loh," ucapku. Dia pun tersenyum dan membuka mata.
"Ayo bangun. Kita jama'ah ya?"
Om Zidan mengganggu' setuju. Dia mengecup tangan dan keningku terlebih dahulu. Tanpa mengatakan satu kata pun. Setelah itu, dia malah masuk duluan ke kamar mandi.
__ADS_1
Hah? Ini si Om Zidan kenapa?