Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 12. Happy Birthday, Ma


__ADS_3

Manda mengerjap pelan, meraba kasur di sebelahnya. Kosong, dengan sedikit malas ia membuka mata. Manda tersipu saat melihat Zidan sedang memandanginya.


Manda melirik ke arah jam dinding. Jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi. Zidan sebenarnya baru bangun juga, tapi ia masih enggan untuk ke kamar mandi. Memandang wajah Manda yang tertidur pulas lebih menarik, dan bisa menghilangkan rasa kantuknya.


"Bangun yuk, nanti keburu subuh!"


"Kiss me, please!"


Kecupan bertubi-tubi di wajah Zidan berikan, Manda tersenyum puas setelah mendapatkan apa yang ia inginkan.


Manda menempel memeluk tubuh Zidan dari belakang, berjalan malas menuju kamar mandi. "Mau ikut masuk nih?!"


Zidan menggoyangkan tubuhnya. Namun tetap saya, Manda menempel, masih enggan untuk melepas pelukan. Tubuh Zidan terlalu nyaman untuk dipeluk.


"Sayang, keburu subuh loh!"


"Iya-iya!"


Pintu kamar mandi tertutup. Manda berjalan mendekati laci, mengambil Handphone. Hari ini adalah hari ulang tahunnya yang ke 19 tahun. Tidak terasa waktu berjalan begitu cepat. Pernikahan sahnya dan Zidan juga sudah memasuki bulan ketiga. Hari demi hari mereka lewatkan dengan penuh suka cita.


Manda segera menutup laci, menggantikan Zidan yang baru keluar dari kamar mandi. Pelan Zidan membuka lemari, mengambil baju dan juga sarungnya. Tak lupa menyiapkan mukena dan sajadah untuk Manda.


Suasana malam yang sunyi, dengan cahaya lampu tidur seadanya menemani sujud panjang keduanya. Ketenangan malam sudah menjadi candu, rasanya ada yang kurang jika ditinggalkan sehari saja.


"Barakallah fi umrik, Sayang!" Zidan tidak lupa, hanya saja ia memilih untuk memberikan hadiah terlebih dahulu sebelum mengucapkan kata selamat ulang tahun. Hadiah spesial pertama sudah ia berikan dalam bentuk do'a. Hadiah lain nyusul nanti aja.


"Harapanmu adalah harapan Abang, Abang terbatas, kamu juga terbatas, ada beberapa harapan yang nggak bisa Abang wujudkan buat kamu, tapi doa Abang akan selalu menyertai, mengiringi setiap proses untuk mewujudkan harapan itu!"


Zidan memeluk Manda, sebagai seorang manusia biasa ia juga memiliki keterbatasan. Zidan tidak seterusnya bisa memberikan apa yang Manda inginkan, tapi setidaknya dia sudah berusaha, hasilnya terserah pada Tuhan. Apakah Tuhan mentakdirkan harapan Manda terwujud atau tidak?


"Terimakasih karena udah hadir, terimakasih karena udah berusaha menjadi Istri dan Mama yang hebat."


Sedari tadi Manda hanya diam, menangis haru dalam pelukan Zidan. Bibirnya terasa begitu kaku, otaknya juga tidak bisa merangkai kata-kata untuk membalas ucapan dan perlakuan sang Suami.


"Happy Birthday, Mama!" Ahkam mengecup pipi Manda, lalu menyerahkan sebuah album foto ukuran besar. Hadiah spesial dari Ahkam, yang dibantu oleh Zidan.


Album itu berisikan foto sejak awal pertemuan Manda dengan Ahkam di Panti, foto pernikahan Zidan dan Manda, foto liburan ke pantai, taman bermain, foto saat Manda pertama kali mengantar Ahkam sekolah, foto saat mereka mengantar Arina ke Bandara, dan masih banyak foto lainnya lagi. Yang penuh akan kenangan berharga.

__ADS_1


"Terimakasih ya, Jagoannya Mama!" Manda menunduk untuk mengecup kening dan pipi Ahkam, semakin berganti hari, semakin bertambah pula rasa sayangnya pada bocah ini.


Zidan membuka pesan yang baru saja masuk di HP-nya. "Mama On The Way ke rumah."


Pria itu tersenyum, ia sudah mengatakan pada Mama kalau do'a saja udah lebih dari cukup bagi Manda. Tapi Mama tetap ngotot dan tetap membeli tiket penerbangan, lagi pula dia sudah kangen berat pada Anak dan Menantunya. Apa salahnya jika Mama ingin mengunjungi mereka?


Sebagai seorang Anak, Zidan juga merasa bersalah, seharusnya dia yang datang mengunjungi Mama. Tapi karena waktu dan kesempatan belum mengizinkan, jadilah begini, selalu Mama yang mengunjungi mereka.


"Mama??" Manda berteriak kegirangan begitu melihat Mama Melinda datang, ia berlari memeluk Mama. Melepas rindu, selama ini mereka hanya saling melihat dari dunia virtual saja. Tapi sekarang?


Ah, rasanya Manda begitu bahagia. Sampai air mata tak henti-hentinya mengalir membasahi pipi.


"Ahkam? Apa kabar, Sayang?" Mama Melinda mengusap kepala Ahkam lembut, tidak ada jarak canggung di antara mereka. Karena hampir setiap hari Zidan mengirimkan foto Ahkam pada sang Mama. Membangun kedekatan di antara mereka.


"Kabar Ahkam baik, Oma. Kabar Oma gimana?"


"Alhamdulillah Oma baik juga, mau liat hadiah yang Oma bawa nggak?" Ahkam dengan antusias membuka tumpukan kotak di depan kamarnya. Melihat Mama Melinda sesayang itu pada Ahkam membuat Manda kembali menyeka air. Satu harapannya mulai terwujud secara perlahan.


Beranekaragam makanan sudah tersaji, siap dinikmati. Para tamu undangan mulai menyentuh makanan, setelah mereka melakukan doa bersama. Ada perayaan ulang tahun sederhana di rumah Manda. Yang hanya didatangi oleh beberapa tetangga dan teman-teman Manda.


"Selamat ulang tahun ya, Mama Manda. Ini hadiah dari Cila!" Cila ikut serta memberikan hadiah, yang sebenarnya dari sang Bunda. Tapi tidak apa-apa, anggap aja dari Cila.


"Terimakasih ya Cila, Mama Manda juga punya hadiah untuk Cila!" Manda menguapi potongan kecil kue ulang tahun untuk Cila.


"Jangan pernah kapok ya buat main ke sini lagi!"


"Oke, Mama Manda!" Cila pun berlalu setelah mendapatkan panggilan dari Ahkam. Kedua bocah kecil itu bermain ayunan di taman depan.


"Cieee, ada yang makin tambah tua nih!"


Qonita menghampiri Manda. Meletakkan kado yang ia pegang di atas meja.


"Makasih ya udah sempetin diri buat dateng!"


Mengingat jadwal pemotretan Qonita yang begitu padat, membuat Manda terharu karena sahabatnya itu masih sempat untuk datang menemuinya.


"Apasih yang nggak buat Manda!"

__ADS_1


Semua yang datang bergiliran mengucapkan selamat, tumpukan kado di atas meja semakin menjadi-jadi. Padahal yang orang datang tidak terlalu banyak, tapi kenapa bisa kadonya bertumpukan sebanyak ini?


Belum lagi kado dari teman-teman Zidan yang sudah dipindahkan ke kamar. Karena tidak muat jika harus ditaruh di atas meja.


"Titipan dari Vanessa!" Manda memangku kotak pink dengan pita biru muda itu. Ia tersenyum saat membaca surat kecil yang terselip di sana.


...Happy Birthday Kesayanganku....


...Maaf tidak bisa pulang ke Indo, tapi setidaknya doaku selalu menyertai langkahmu. Bahagia selalu kesayangan semua orang❤️ Senang pernah bertemu dan mengenalmu....


...Vanessa....


Hubungan Manda dan Vanessa masih terjalin baik sampai sekarang, bahkan Manda sering mendengarkan cerita Vanessa tentang calon Suaminya. Mereka sudah bertunangan dan akan segera menikah beberapa bulan ke depan.


Vanessa sudah menemukan pria yang tepat dalam hidupnya. Pria yang mencintai dia tanpa syarat, tanpa keterpaksaan dari keluarga, tanpa melibatkan bisnis, benar-benar tulus, seperti yang Vanessa harapkan.


"Baguslah kalau begitu!" Begitulah respon Zidan saat Manda memberitahu tentang kisah cinta Vanessa. Zidan nampak tidak peduli, mau Vanessa tunangan, menikah dan punya anak pun. Itu bukan lagi urusannya! Urusan Zidan hanyalah apa-apa yang menyangkut Manda dan Ahkam.


"Tapi ngomong-ngomong, hadiah dari Abang mana?" Manda mengulurkan tangannya, semua orang sudah memberikan hadiah tinggal Zidan saja.


"Memang ada hadiah yang lebih spesial selain Abang?"


Manda menggeleng. Ya, tidak ada hadiah termahal, terbaik, teristimewa selain Zidan. Zidan masih ada sisinya saja itu sudah sangat berharga dan membuat ia bahagia. Andai kata Manda disuruh memilih segunung hadiah atau Zidan? Maka Manda akan tetap memilih Zidan.


Segunung hadiah tidak bisa menggantikan posisi Zidan. Tapi Zidan, bisa memberikan berjuta-juta gunung kebahagiaan dalam hidup Manda.


"Aku bercanda, maaf hanya bisa memberikan tiket ini untukmu!"


Tiga tiket umroh jatuh di tangan Manda. Manik gadis itu, berkaca-kaca. Zidan bilang hanya bisa memberikan ini? Hanya?


"Terimakasih, Sayang.... Ini luar biasa!" Tubuh Manda bergetar, tak kuat menahan perasaan bahagia, air mata terus mengalir. Manda bahagia, sangat bahagia!


"Oma, Mama kenapa nangis? Papa marahin Mama ya?"


"Nggak, Sayang. Mama nangis karena bahagia!" Mama Melinda membawa Ahkam ke pangkuannya. Melihat Zidan dan Manda yang sedang berpelukan, kebahagiaan datang secara bersamaan. Menghujani mereka, sehingga mereka kehabisan kata-kata, hanya senyum dan air mata yang mulai mengering yang bisa menjelaskan betapa bahagia mereka.


Dia berhak bahagia. Gadis hebat itu berhak bahagia!

__ADS_1


__ADS_2