
...06.42...
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh......
...Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kabar Duka datang dari saudara sekaligus teman kita Gilang Ramadhani....
...Telah meninggal dunia Ibunda dari Gilang Ramadhani, pada pukul 02.30 WITA. Dan akan dimakamkan Ba'da Sholat Dzuhur, di pemakaman Linggarjati. Untuk sahabat, kerabat dan handai taulan di mana saja berada, diharapkan kehadirannya....
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
Tangan Manda bergetar setelah membaca pesan yang dibagikan oleh Vino di Grup WhatsApp. Beberapa detik kemudian tubuhnya jatuh di atas kasur, Hp yang dipegangnya juga ikut tergeletak di lantai.
Bibirnya bergetar saat mengucapkan kalimat "Innalillahi wa inna ilaihi raji'un."
Beberapa potongan memori kembali terputar di ingatan Manda, saat di mana Gilang menceritakan bagaimana kehidupan yang ia jalani selama ini, bagaimana hari-hari yang ia lewatkan tanpa kasih sayang dari seorang Ayah. Bahkan Manda sempat mendengarkan bagaimana cerita Gilang tentang sosok Ibunya.
Sosok Ibu yang selama ini berjuang untuk membesarkan dan merawat dirinya. Walaupun tanpa belaian kasih sayang yang nyata, tapi perjuangan sang Ibu untuk Gilang terlihat begitu nyata. Hanya saja Gilang yang sempat menutup mata dan tidak ingin melihat itu semua.
Membayangkan rasa kehilangan orang yang begitu kita sayangi membuat isak tangis Manda tak tertahankan lagi. Kehidupan Gilang sewaktu Ibunya masih ada saja sudah mulai berantakan, bagaimana setelah Ibunya tidak ada?
Bagaimana perasaan Gilang sekarang? Siapa yang berdiri di sampingnya? Siapa yang menenangkan dan menguatkan dia? Apakah dia bisa mengikhlaskan kepergian Ibunya?
"Hei, kamu kenapa Sayang?" Zidan yang baru masuk kamar dibuat kaget dan panik karena mendengar isak tangis Istrinya.
"Sayang? Kenapa? Ada apa?" Secara pelan Zidan menyentuh tubuh Manda, merengkuh tubuh itu ke dalam pelukannya.
"Sayang?" Tangan kekarnya mengelus kepala, mencoba menenangkan walaupun Zidan belum tau apa yang terjadi, dan apa yang menyebabkan Manda menangis seperti ini.
"Coba cerita, ada apa?" tanyanya setelah tangisan Manda tak terdengar lagi. Manik hitamnya menatap Manda, air mata gadis itu masih berlinang, namun berusaha ia tahan.
Manda tak kuasa untuk menjelaskan semuanya. Ia hanya menyerahkan HP-nya pada Zidan. Menunjukan pesan yang Vino bagikan.
"Innalillahi wa inna ilaihi raji'un." Kali ini Zidan menyamping ego-nya. Ia masih memiliki peri kemanusiaan, tidak memandang siapapun, entah itu Mantan, Teman, atau sekali pun Musuh. Kabar Duka tetaplah Kabar Duka! Terutama Gilang adalah saudara seagama baginya.
"Kamu tau di mana alamatnya?"
Manda menggeleng. Ia tidak tau pasti di mana alamat Gilang, tapi tadi ia sempat melihat Vino mengirimkan lokasi rumah duka.
"Kita ke sana?" Zidan membuka lokasi yang Vino kirim di Grup WhatsApp. Ternyata lokasinya memakan waktu sekitar empat puluh lima menit perjalanan dengan mobil, itu pun jika tidak terjadi macet di jalan nanti.
Zidan mengembuskan napas pelan, ia menyentuh pipi Manda, menghapus jejak air mata dari pipi Istinya. "Abang faham, apa yang buat kamu nangis kayak gini. Abang juga nggak bakalan larang, andai kata kamu memang nangis karena mikirin perasaan Gilang."
__ADS_1
"Abang tau, hati kamu lemah kalau udah menyangkut kehilangan seseorang seperti ini---" Zidan tersentak saat Manda tiba-tiba saja memeluk tubuhnya, begitu erat.
"Manda cuman nggak mau ada orang lain yang ngerasain sakitnya kehilangan orang tua, kalau bisa, cukup Manda aja, cukup Manda yang ngerasain sakitnya. Jangan ada Ahkam, jangan ada orang lain lagi yang merasakan kehilangan!"
Zidan menggeleng pelan, karena bagaimana pun setiap manusia pasti akan merasakan yang namanya kematian, dan setiap dari kita pasti akan merasakan yang namanya kehilangan, siap tidak siap, kuat tidak kuat, rela tidak rela, suka ataupun tidak, kita semua pasti akan merasakannya!
""Abang akan nemenin kamu ke sana, kita akan ke sana!" tegas Zidan.
"Ahkam ikut?"
"Nggak, Ahkam nggak bakalan ikut, nanti dia di rumah Ustadz Agam, kasian dia kalo dipaksa ikut!"
Manda setuju dengan keputusan Zidan. Terlebih lagi Ahkam belakangan ini sering mimpi bertemu dengan Ayah dan Ibunya. Manda tidak bisa membayangkan jika Ahkam ikut dengan mereka, apalagi mereka berniat untuk ikut memakamkan juga. Pasti Ahkam merasakan hal yang sama lagi, seperti apa yang Manda rasakan. Perasaan sakit, perih, dan sedihnya kehilangan kedua orang tua.
Dering panggilan masuk bergantian dari Qonita, Arina, dan Ayu. Ketiganya menanyakan hal yang sama, apakah Manda sudah membaca pesan di Grup? Apakah Manda akan ikut pergi melayat juga? Jika iya, mereka bisa pergi bersama rombongan teman-teman yang lain.
"Kalian jalan duluan aja, aku nanti nyusul sama Bang Zidan!" jawab Manda.
"Emmm, ya udah Manda. Kita jalan nih, kamu nanti kabarin aku atau Arina ya kalo udah jalan!"
"Iya, kalian hati-hati ya!"
Manda dan Zidan memang sengaja menunda perjalanan sampai Ahkam pulang sekolah terlebih dahulu. Setelah mengamankan Ahkam, barulah mereka akan berangkat.
...****************...
"Iya, jangan khawatir, Ahkam aman kok di sini. Mama dan Papanya Ahkam juga hati-hati di jalan, ya!"
Bunda Aisyah menitipkan selembar amplop pada Manda. Walaupun ia tidak mengenal siapa yang sedang berduka, tapi ia tetap melakukan hal itu. Selama mereka masih sesama saudara seagama.
Mobil mereka mulai melaju setelah berpamitan pada Ahkam. Dari sorot matanya, Ahkam sempat tidak mengizinkan Papa dan Mamanya untuk pergi jauh, tapi setelah Zidan meyakinkan kalau dia pasti akan balik dan menjemput Ahkam lagi, Ahkam pun mulai melepaskan tangannya, dan membiarkan mereka pergi.
"Ya Allah, lindungi Papa dan Mama Ahkam, Ahkam sayang Papa dan Mama."
Setelah mobil Zidan tidak terlihat lagi, barulah Ahkam mau masuk ke dalam rumah dan bermain dengan Cila. Sejenak fokusnya tidak tertuju pada Papa dan Mamanya lagi. Tapi pada gadis berjilbab ungu, yang cantik dan manis seperti ulat bulu.
...****************...
Pukul 09.45 rombongan Vino, Ayu, Qonita, Arina dan teman-teman yang lain sampai di rumah duka. Kedatangan mereka disambut oleh Bu Diah, di mana Bu Diah langsung mengantarkan mereka menuju Gilang.
"Lang!" Vino menepuk pundak Gilang, remaja itu tersenyum saat teman-temannya berusaha menguatkan. Tapi matanya tidak bisa berbohong lagi, jelas tergambar kalau dia sudah menangis cukup lama sehingga membuat bengkak kedua matanya.
__ADS_1
Diam-diam Gilang memperhatikan satu persatu teman-temannya, helaan napas pelan terdengar saat ia tidak melihat sosok Manda di antara mereka.
"Dia bakalan dateng kok!" bisik Ayu yang berdiri di samping kanan Zidan. Ayu faham betul apa yang Gilang pikiran.
"Kamu datang aja udah lebih dari cukup!" ucap Gilang pelan.
Ayu hanya menganggapi dengan senyuman. Lalu dia pamit pada Gilang untuk membantu semua persiapan, jenazah sang Ibu sudah mulai dimandikan, Ayu dan teman-teman yang lain pun ikut membantu mempersiapkan kain kafan. Sedangkan teman-teman cowok sibuk mengurus persiapan untuk pemakaman.
Mirisnya, di saat seperti ini Ayu tidak melihat satu pun keluarga Gilang kecuali Bu Diah sejak tadi. Yang ada malah para tetangga yang ikut turun tangan membantu ini dan itu.
Di mana Ayah Gilang?
Satu pertanyaan itu yang terus menghantui pikiran Ayu. Di mana kah sosok Ayah yang seharusnya sekarang ikut berdiri di samping anaknya?! Karena setau Ayu, Gilang memang masih memiliki sosok Ayah. Remaja itu sempat bercerita, kalau dia mempunyai satu keinginan yang belum terwujud sampai sekarang, yaitu bertemu dengan sang Ayah dan memarahinya karena sudah memilih pisah dengan Ibunya dan tidak pernah muncul lagi di hadapan Gilang!
Saat jenazah sudah selesai dikafani, saat itulah Zidan dan Manda datang, keduanya langsung menghampiri Gilang. Bahkan Zidan tanpa canggung menepuk pundak Gilang, memberikan semangat.
"Aku turut berduka atas kepergian Ibumu," ucap Manda. Kepalanya tertunduk, tidak berani menatap Gilang.
"Terimakasih, karena udah menyempatkan diri untuk datang!" ucapan itu Gilang tujukan Zidan dan juga Manda. Keduanya pun mengangguk, "Kembali kasih, Lang."
"Silahkan, yang mau sholat jenazah bisa masuk ke dalam!" ucap Bu Diah, ia sempat menatap ke arah Manda dan Zidan, lalu tersenyum dengan wajah yang sudah sangat kelelahan.
"Yang mau mengambil wudhu' bisa di sana!" Vino menunjukkan tempat wudhu' kebetulan juga ia baru habis dari sana.
Sholat jenazah untuk yang pertama kalinya diimami langsung oleh Zidan. Karena Vino atau Gilang sama-sama menolak untuk menjadi Imam. Tak disangka, air mata Gilang menetes ketika sholat, membayangkan Ibunya sekarang hanya berbaring dan tak dapat bergerak lagi, di balik balutan kain kafan.
Entah, Gilang tidak tau dari mana semua orang-orang datang berhamburan untuk menshalatkan Ibunya. Bahkan hampir semua teman-temannya hadir di sana. Mulai dari teman SD, SMP dan SMA.
Gilang memang tidak memiliki keluarga yang utuh, tapi dia memiliki banyak orang-orang baik di sekitarnya. Ya, dia beruntung karena dipertemukan dengan orang-orang seperti mereka.
Bahkan penilaian Gilang tentang Zidan langsung berubah 360 derajat. Zidan terlihat begitu tulus, bahkan tanpa diminta pria itu memajukan dirinya untuk membantu mengangkat keranda jenazah, yang di mana Gilang sempat bingung harus minta tolong pada siapa.
Tapi faktanya, tanpa Gilang mengucapkan kata tolong pun semua orang sudah mempersiapkan diri mereka sendiri untuk membantu Gilang. Vino dan teman-teman yang lain juga tidak tinggal diam, mereka semua sudah mengambil posisi masing-masing, ada yang sudah siap siaga di pemakaman, menunggu kedatangan jenazah.
Ayu, Qonita, Arina, Manda dan Bu Diah berdiri sedikit jauh dari liang lahat. Mereka sama-sama tertunduk, tidak saling mengetahui siapa yang sedang menahan tangisan, dan siapa yang sudah menangis duluan.
Liang lahat sudah mulai ditimbun tanah, sedikit demi sedikit semua terkena timbunan tanah, dan hanya menyisakan gundukan tanah basah. Jenazah sudah tenang di dalam sana, karena semua haknya sudah dia dapatkan. Do'a terus terlantun untuknya.
Sementara dari kejauhan, seorang yang masih terlihat gagah walaupun sudah berusia tua hanya bisa menangisi semuanya. Menyesali semua perbuatan yang pernah ia lakukan, menyesal karena tidak sempat mengucapkan kata maaf pada wanita yang sempat menemani perjalanan hidupnya. Tapi semua sudah terlambat sekarang, wanita itu tidak lagi ada di sisi anaknya. Wanita itu telah pergi meninggalkan dunia dan segala kehidupan di dalamnya.
"Maafkan aku, Karin. Maaf karena aku telah gagal menjadi suami sekaligus Ayah untuk Gilang!"
__ADS_1
...****************...
...💌 Selamat malam tahun baru. Semoga semua hajat, cita-cita dan harapan yang belum bisa terwujud di tahun ini, terwujud di tahun 2022 nanti. Dan semoga bahagia selalu menyertai ♥️🤧...