Om Posesif Itu, SUAMIKU!

Om Posesif Itu, SUAMIKU!
DIA, ISTRIKU! - 19. Singapura (1)


__ADS_3

...Singapura...


Melinda tersenyum begitu melihat mobil hitam yang dikendarai oleh salah satu sopirnya memasuki halaman depan. Bukan tanpa alasan ia tersenyum, pasalnya mobil itulah yang ia siapkan untuk menjemput Zidan dan Manda di bandara, dan setelah kurang lebih satu jam menunggu, akhirnya mereka sampai juga!


Senyum Melinda makin merekah begitu pintu mobil terbuka. Putra yang sudah lama ini ia rindukan keluar dari sana. Ada menantu dan juga cucunya.


"Manda!" Pelukan hangat mendarat di tubuh Manda. Bukannya menyapa Zidan terlebih dahulu, dia malah langsung memeluk Manda! Zidan dan Ahkam harap maklum saja. Manda kan kesayangan semua orang?!


"Mama." Manda mencium punggung tangan dan pipi Mama Melinda. Wanita paruh baya itu tersenyum sembari menyentuh perut Manda.


"Sehat?"


"Alhamdulillah sehat, Ma. Berkat doa Mama juga!"


Setelah puas melepas rindu pada Manda, barulah perhatian Melinda teralih pada Zidan.


"Aku selalu dinomer duakan!" Zidan mencium punggung tangan Melinda, diikuti oleh Ahkam. Melinda tidak menghiraukan ucapan Zidan, ia tetap mengutamakan dan prioritas Manda!


"Cucu Oma, apa kabar sayang?!"


Setelah Manda, barulah Ahkam. Zidan bukan diurutan kedua lagi! Sekarang dia urutan terakhir!


Melinda mengajak mereka untuk segera masuk dan istirahat, mereka pasti sangat lelah sekarang. Ini adalah kali keduanya Manda menginjakkan kaki di rumah ini. Tidak banyak yang berubah, bahkan tata letak semua perabotan rumah masih sama seperti Manda datang ke sini, sekitar 2 setengah tahun yang lalu.


"Ahkam tidur sama Papa dan Mama dulu ya!" ucap Melinda sembari mengelus kepala Ahkam pelan. Bukannya Melinda tidak ingin menyiapkan kamar khusus untuk Ahkam. Tapi ini permintaan langsung dari Zidan, yang tidak ingin Ahkam jauh dari pengawasannya.


"Kalian istirahat dulu, Mama mau siapin makan siang spesial buat kalian."


Suasana rumah saat Manda dan Zidan datang sangat sepi. Para Om, Tante dan sepupu Zidan bahkan tidak kelihatan. Biasanya mereka sering berkumpul di sini.


"Duduk dulu, Sayang. Jangan tegang gitu, ada Abang!" Zidan membelai pipi Manda lembut, Ahkam yang memang sedikit pusing langsung naik ke kasur, memeluk bantal guling dan tidur. Bocah yang tidak tau apa-apa itu bersikap seperti biasa. Menganggap rumah ini sebagai rumahnya juga.


"Mama sekarang tinggal sendiri di sini?"


Rumah yang mereka tempati sekarang merupakan rumah peninggalan dari Kakek dan Nenek Zidan. Dulu memang beberapa sepupu Zidan memilih untuk tinggal di sini, tapi sejak satu tahun terakhir ini hanya Mama Melinda dan Dea, anak dari saudara Papanya saja yang benar-benar menatap di rumah dengan luas sekitar 2250 meter.


Ada tiga kamar utama, dan lima kamar tamu. Biasanya rumah ini akan ramai di akhir pekan, karena pasti ada acara kumpul keluarga, atau akan digunakan sebagai tempat perayaan ulang tahun para sepupu Zidan atau acara lainnya.


"Ada Dea juga, tapi kayaknya dia lagi kuliah sekarang!" jawab Zidan. Tangannya tak lepas dari mengelus pipi Manda.


"Gantian dong!" Kini kepala Zidan yang jatuh di pangkuan Manda, pria itu meletakkan tangan Manda di atas kepalanya. Minta dielus dan dimanja.


"Nanti kalo Ahkam udah bangun, pasti semua orang bakalan lupain Abang!"


"Hahahaha, lagian masa cemburunya sama Ahkam sih!"


Zidan tetap tidak terima, mau Ahkam sekalipun! Siapapun yang berhasil mengambil alih perhatian Manda adalah saingannya! Bedanya, jika dengan Ahkam, Zidan masih bisa sedikit mengalah dan sabar.


Tok .... Tok...


Suara pintu kamar diketuk. Manda memberi isyarat agar Zidan bangun dari pangkuannya.

__ADS_1


"Biar Abang aja!" Pria itu berjalan dengan malas untuk membuka pintu. Seorang pelayan tersenyum, dia membawa nampan yang berisi apel, anggur merah, mangga dan beberapa potong melon.


"Nyonya yang meminta saya membawakan untuk Istri Anda, Tuan."


Zidan mengambil alih nampan tersebut. "Namanya Manda, sekali lagi, nama istriku Manda!" tegas Zidan.


Pelayan itu tersenyum canggung. "Maaf, Tuan, saya---"


"Ya sudah, silahkan lanjutkan saja perkejaanmu!"


Pintu kamar tertutup, pelayan itu menggigit bibirnya. Dia baru bekerja 2 minggu di sini. Bahkan dia tidak pernah tau seperti apa wajah Zidan sebelumnya, apalagi sampai tau nama istri pria itu!


"Kenapa?" tanya Manda saat melihat ekspresi wajah Zidan. Sepertinya ada yang membuat pria itu tidak nyaman sekarang!


"Nggak apa-apa, kok, Sayang. Sini, makan buah dulu!"


Zidan duduk di sofa abu yang terletak di pojok ruangan, menghadap ke arah jendela kamar. Pria itu menepuk pahanya. Meminta Manda duduk di sana.


"Biar Abang yang suapin!"


Manda hanya tersenyum dan menurut, mimpi apa coba suaminya, kenapa tiba-tiba ingin bermain drama suap-suapan?!


"Aku keren kan, di sana!" Zidan menunjuk foto pernikahan yang terpajang di dinding kamar. Manda mengalihkan pandangan, mengikuti arah pandang Zidan.


"Emmm, gimana ya. Jauh lebih keren yang ini sih, menurutku!"


Wanita itu menatap wajah Zidan lekat. Jauh lebih keren dan tampan yang ada di hadapannya sekarang ini!


"Huh, tapi pesonanya cukup buat Manda aja deh! Soalnya nggak mau bagi sama siapapun lagi! Cukup Ahkam aja yang ikut-ikutan terpesona sama Papanya!"


Zidan menyentuh dagu Manda, maniknya dan manik Manda sekarang saling menatap, tersisa jarak 5 cm.


"Sampai kapanpun, Abang akan tetap jadi milikmu. Dan---" Zidan sedikit memiringkan kepalanya, berbisik tepat di depan telinga Manda.


"Abang nggak akan pernah biarin istri Abang melirik pria lain, atau dilirik oleh pria lain!"


Manda menelan ludahnya saat merasakan sensasi hangat dari bibir Zidan yang menyentuh lehernya.


"Khemmm!"


Zidan menjauhkan bibirnya. Tersenyum tanpa dosa, lalu pria itu menggigit potongan melon. Menawarkan Manda sisa melon yang belum masuk ke dalam bibirnya.


"Sini sini!"


Saat tangan Manda hendak menyentuh sisa melon di bibir Zidan. Suaminya itu malah mencegah tangannya, kemudian tangan satunya lagi menyentuh tengkuk Manda.


Tatapan mereka kembali bertemu, Zidan semakin memajukan wajahnya, tangannya melepaskan tangan Manda dari genggaman, berpindah memegang pinggang Manda. Menjaga agar Manda tetap aman dalam pangkuannya.


Sebagai istri yang memang memiliki jiwa liar dan sedikit bar-bar, Manda mengerti apa yang Zidan inginkan. Ia menggigit sisa melon di bibir Zidan. Mengunyahnya sambil memejamkan mata.


Saat bibir Zidan sedikit lagi menyentuh permukaan bibir Manda, tiba-tiba saja---

__ADS_1


Tok... Tok...


Ketukan pintu kembali terdengar, Zidan langsung menjauhkan wajahnya, menatap pintu dengan tatapan tajam.


"UPS!" Manda menahan tawa, raut kecewa tergambar jelas di wajah suaminya! Buru-buru Manda menghadiahkan kecupan ringan di pipi, sebelum akhirnya dia turun dari pangkuan Zidan dan membuka pintu kamar.


"Maaf, Nona, em, Nyonya maksud saya, ini untuk Anda."


Masih dengan pelayan yang sama. Kali ini ia membawa perlengkapan mandi, yang lupa Mama Melinda siapkan di kamar mereka.


"Terimakasih ya!" Manda mengambilnya sembari tersenyum, pelayan itu ikut tersenyum lega. Awalnya dia pikir istri dari anak majikannya itu akan memasang wajah sombong dan jutek. Ternyata tidak!


"Sama-sama, Nyonya."


Mata Zidan mengikuti langkah Manda yang hendak menuju kamar mandi. "Stop! Berhenti di situ!" ucap Zidan cukup lantang. Sampai Manda langsung diam di tempat. Tidak berani bergerak.


"Sini, biar Abang yang taruh!"


Zidan merebut pelengkap mandi dari tangan Manda. Manda berkedip heran. "Kenapa, Bang?"


"Abang belum cek kamar mandi, kalo lantainya ternyata licin, gimana? Jadi kamu duduk di sini, nikmati buah-buahannya saja!" Tegas Zidan kemudian masuk ke dalam kamar mandi. Memastikan kalau lantai kamar mandi benar aman untuk istri dan anaknya!


Manda kembali duduk di sofa, menaruh piring di pangkuannya, sekilas dia tersenyum ketika mengingat bagaimana cara Zidan memperlakukannya sejak hamil, suaminya itu semakin posesif, dan juga sangat hati-hati dengan apapun yang bersangkutan dengan keselamatan Manda dan calon bayi mereka.


Bahkan lantai kamar mandi di rumah mereka selalu dipastikan dalam keadaan tidak licin saat Manda masuk, Zidan selalu menyikat lantai sebelum dan sesudah memakai kamar mandi!


"Lihatlah, Papa sangat sayang padamu, Nak. Jadi, Kamu sehat-sehat ya di sana, biar bisa ketemu Papa, bisa digendong Papa, bisa main sama Abang Ahkam juga!"


Manda mengelus perutnya, sembari mengunyah anggur merah sampai tersisa beberapa biji lagi saat Zidan keluar dari kamar mandi.


"Makan yang banyak, kalo bisa habisin semuanya!" ucap Zidan, ia kembali duduk di samping Manda.


"Anak Papa suka anggur merah, ya?!"


Kepala Zidan kini berada tepat di depan perut Manda. Ia mencium perut Manda yang masih dilapisi oleh baju. Merasa gemas sendiri.


"Sehat-sehat ya, Adek Kecil kesayangan Abang Ahkam!"


Manda tersenyum, tangannya tergerak untuk memainkan rambut Zidan. "Papa juga jangan lupa sama kesehatannya, supaya besok, pas Adek Kecilnya lahir, Papanya yang begadang tiap malam, Mama bisa tidur dengan tenang deh! Hahahaha!"


Zidan mendongak menatap Manda yang masih tertawa. "Tanpa dikodein pun Abang pasti lakuin itu, Kamu tenang aja, Abang nggak bakalan biarin kamu ngerasain lelah sendiri, sama-sama, pas buatnya aja sama-sama!"


"Ish!" Manda mencubit lengan Zidan, entah mengapa pipinya terasa panas ketika mengingat hal-hal yang berbau ranjang. Ah, ternyata sudah cukup lama mereka berpuasa!


"Lanjutin yang tadi!" Zidan sudah siap dengan posisinya. Tapi kali ini--


"Papa, Ahkam haus!" ucap Ahkam yang baru bangun. Zidan berdehem, menarik diri dari hadapan Manda. Menatap Ahkam yang duduk di atas kasur. Dengan sekuat tenaga Zidan mencoba tersenyum, ini sudah kedua kalinya dia gagal menikmati manisnya bibir Manda!


Sedangkan Manda hanya tersenyum tanpa mampu berkata apa-apa.


"Awas ya, di lain waktu nggak bakalan lolos lagi!"

__ADS_1


__ADS_2